RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pesaingan Hitam Pedagang Sayur

“Yud, tolong ambilkan terong di dalam. ” ujar seorang ibu yang mengenakan bulang HJ pada seorang ABG berusia 12 tahunan yang tengah memainkan game online di smartphone nya 

Meski tengah asyik bermain game online, ABG laki2 yang bernama Yuda itu tetap sigap melakukan sesuatu yang di suruh oleh ibunya tersebut.

“Berapa ma?? ” ujarnya bertanya

“Bawa samua’an. (Bawa semuanya.) “

“Inggih ma. (Iya Bu.) ” 

Sekeranjang ukuran sedang terong ungu itu Yuda bawa keluar. Terlihat di luar, ibunya tengah melayani para pembeli yang sudah berjejer memilah sayuran segar.

“Bu, cabe rawit dan tomatnya 5k, sama kacang kecambahnya 2k, labu 2k dan jagung yang belum di kupas 1. ” ujar pembeli, wajah ibu penjual sayur itu tak pernah lepas dari senyuman ramah ketika melayani pembeli, dan lagi harganya lebih murah dari yang lain, mungkin sebab itulah toko sayurnya tak pernah sepi. 

Ketika toko sayur itu sudah hampir tutup, Hj. Mariyah di datangi oleh seorang bapak2 pemilik toko sembako di dekat pasar ikan di ujung. 

“Bagaimana Ji ? ” tanya bapak itu pada Hj. Mariyah si pemilik toko sayur

“Baru saja saya akan ke rumah pak Haji untuk membicarakan masalah toko itu. Saya sudah ada uang, dan kita bisa langsung mengurusnya hari ini. ” 

Lelaki itu mengangguk dengan bibir tersenyum.

Memang saat itu usaha HJ. Mariyah sedang naik2nya, ia juga berencana untuk membuka satu lagi toko sayur di dekat pasar ikan, toko milik pak Haji. Pak Haji sendiri menjual toko itu dengan harga yang sangat miring di karenakan beliau butuh biaya untuk pernikahan anak perempuan nya. Dan kesempatan tersebut tak disia2kan oleh HJ. Mariyah yang berkeinginan membuka toko sayur baru. 

Singkat cerita, 3 minggu telah berlalu..

Kini 2 toko sayur milik HJ. Mariyah semakin ramai, tidak jarang saingan2 nya di pasar sampai merengut ketika melihat beliau lewat. 

“Rajaki tu sudah di atur Allah, takarannya sudah pasti pas. Wan larisnya dagangan ku kadada mangurangi rajaki buhan ikam. (Rejeki itu sudah di atur Allah, takarannya sudah pasti pas, dan larisnya daganganku tidak akan mengurangi rejeki kalian.) ” ujar HJ. Mariyah 

Hari itu, HJ. Mariyah merasa kurang enak badan, sejak kemarin sore setelah pulang dari pasar kepalanya mulai terasa pusing.

“Pian kada bajualan kah ma? (Mama hari ini gak jualan? “Tanya Yuda

” kada nak ae. Sakit banar kapala mama nah. (Enggak nak, kepala mama sakit sekali.)” 

Yuda mengangguk, ia kemudian berjalan ke dapur, berniat untuk membuatkan ibunya bubur dan teh hangat.

Dua gelas teh hangat ia buat, dan 1 gelasnya Yuda bawa ke teras rumah di mana ayahnya sedang duduk berjemur.  Ayahnya Yuda ini mengalami stroke, dan sudah 2 tahun tak bisa bekerja walau sekarang keadaan nya sudah lumayan baik, beliau sudah mulai bisa berjalan meskipun masih sedikit kaku. Jadi setelah suaminya sakit, HJ. Mariyah lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Untungnya beliau memiliki seorang anak seperti Yuda yang mau membantu orang tua, berjalan2 bersama teman2 seumuran nya pun Yuda batasi, padahal ibunya sama sekali tak melarang. Pikiran Yuda lebih dewasa dari usianya. 

Keesokan paginya, HJ. Mariyah berangkat ke toko sayurnya di antar oleh Yuda.

“Belikan makanan untuk abahmu Yud. ” ujar HJ. Mariyah pada Yuda yang akan segera berbalik untuk pulang 

“Inggih. (Iya.) “

HJ. Mariyah berjalan menuju tokonya, ia lihat sebagian toko di sana belum buka, bahkan sebagian pedagang baru saja datang.

Kreeett.. Brak..

Suara pintu toko yang mulai di buka. Tiba2 saat ia sedang menyusun sayuran segarnya punggung HJ.Mariyah di tepuk dengan sangat keras oleh seseorang,

Plaaakkk.. 

Seketika HJ. Mariyah merasakan sesuatu yang aneh dan berbeda, apapun yang di katakan oleh orang yang berada di sampingnya itu, beliau dengan suka rela menuruti. Bahkan perhiasan dan uang cash yang berada di dalam tasnya untuk membayar sayur pada penyuplai pun ia berikan semuanya. Dan ketika orang itu pergi HJ. Mariyah hanya berdiri mematung tak sadar. 

“Kenapa ji?? ” tanya bapak2 penjual kue saat melihat HJ. Mariyah mematung dengan tatapan kosong

Barulah ketika di tegur oleh bapak2 itu, HJ. Mariyah seperti tersadar, dan langsung mencari2 orang yang tadi berada di sampingnya, yang meminta semua uang serta perhiasan nya. 

“Pak, lihat orang yang tadi berbicara sama saya?? Uang saya habis pak di bawa orang itu. “

“Saya baru datang ji, dan saya sama sekali tidak melihat siapa2 di samping haji. Bagaimana bisa semua uang di bawa orang begitu saja? Memangnya itu pembeli kah atau bagaimana? ” 

HJ. Mariyah tak menjawab pertanyaan si bapak, dengan tangan gemetar beliau mencari2 ke dalam tasnya berharap uang nya masih ada. Namun percuma saja, tak ada sepeserpun uang di dalamnya. HJ. Mariyah terduduk, wajahnya seketika seperti menahan tangis.

“Ya Allah. Uangku, emas ku habis. ” ucap HJ. Mariyah mulai terisak 

Beberapa pedagang yang baru datang mencoba untuk menenangkan HJ. Mariyah.

“Kena hipnotis sepertinya. Memang akhir2 ini kasus hipnotis sedang marak2nya terjadi. ” celetuk salah satu pedagang beras yang ikut menenangkan HJ. Mariyah. Setelah HJ. Mariyah sedikit lebih tenang salah satu pedagang di pasar yang mengetahui rumah HJ. Mariyah pun mengantar beliau pulang.

Yuda yang sedang memandikan ayahnya itu, kaget begitu melihat ibunya pulang di antar oleh seseorang. 

“Kenapa ma??? “

“Mama mu kena hipnotis. ” ujar orang itu memberitahu pada Yuda

“Astagfirullah.. Tapi mama gak kenapa2 kan?? ” tanya Yuda cemas seraya memeriksa kaki dan tangan ibunya 

“Tidak apa2 bagaimana? Semua uang dan emas mama habis Yud. Habis. “

“Harta dan uang bisa di cari lagi ma, yang terpenting sekarang mama tidak terluka atau di sakiti oleh orang tersebut. ” 

“Tapi Yud, uang itu juga yang akan membayar sayur2 mama, membayar tagihan, kau tau?? Mama rugi besar Yud. Mama akan lapor polisi.! “

“Mama tenang dulu, untuk kasus mama sekarang, rasanya sulit karena ini kasus hipnotis ma, mama yang menyerahkan barang2 berharga milik mama ke orang itu, dan lagi mama tidak punya bukti untuk melaporkan ke polisi. “

HJ. Mariyah memijit kepalanya yang terasa berdenyut2.

“Kalau tertangkap pun mereka tidak akan mengembalikan uang milik mama. Jadi sekarang mama harus tenang dan sabar, ini ujian Allah untuk mama, Yuda yakin InsyaAllah di balik semua ini ada hal terbaik yang sedang Allah persiapkan untuk Mama. Mamasabar ya. ” 

HJ. Mariyah menangis tersedu2. Memang jumlah kumpulan perhiasan dan uang yang hilang itu sangat banyak. Sehingga siapapun jika berada di posisi beliau pasti akan merasakan hal yang sama. 

3 hari telah berlalu, karena sekolah masih liburan, Yuda pun menggantikan ibunya untuk menjaga toko sayur. Meski awalnya ia sedikit kesulitan melayani pembeli yang mengantri, tapi Yuda cukup senang karena bisa membantu sang ibu. Sebelum menutup toko sayur ibunya, Yuda membersihkan sekeliling toko dari sayuran yang sudah busuk.

Ia mengumpulkan sayuran busuk ke dalam plastik agar nanti petugas kebersihan lebih mudah untuk membawanya. 

Namun ketika mengangkat tempat baskom air, Yuda menemukan gundukan tanah dan beberapa paku berkarat di dalamnya. Ia yang tak menaruh curiga apapun terhadap gundukan tanah dan paku berkarat itu lantas menyapu dan membuangnya. 

2 hari setelah itu, toko sayur milik HJ. Mariyah mulai di kerubungi banyak lalat, bahkan sayuran segarnya pun berulat, ulatnya kecil dan berwarna putih susu, ujung ekor berwarna kuning. Bentuk dan warna yang aneh, tidak seperti kebanyakan ulat sayur pada umumnya yang berwarna putih atau berwarna hijau.

Yuda yang saat itu menemani ibunya berjualan, merasa aneh karena sayur2 segar yang baru di petik itu terdapat banyak ulat, bahkan HJ. Mariyah terpaksa harus mencuci sayur2 tersebut agar ulat2 nya hilang.

“Terongnya banyak yang busuk ma. ” kata Yuda seraya memperlihatkan beberapa terong ungu yang sudah mulai membusuk itu pada ibunya 

HJ. Mariyah menarik nafas panjang, padahal ia membeli sayuran itu masih di petani sayur langganan nya. Ketika di cek sebelumnya pun sayur2 itu masih sangat bagus dan segar karena memang habis di petik langsung dari kebun. 

“Bagaimana ini ma? ” tanya Yuda

“Yang busuknya di buang saja Yud. “

“Tapi banyak sekali ini ma, lagian yang busuknya hanya separo, separo bagian lain nya masih bisa di makan. Jual murah saja ma. ” 

“Jangan Yud. Kamu buang saja. “

Yuda menghela nafas panjang, ia tau ibunya sudah pasti rugi hari itu.

Seorang pelanggan tetap toko sayur itu datang untuk berbelanja mingguan. 

Seperti biasa, HJ. Mariyah dengan wajah tersenyum dan ramah menyambut pembeli tersebut.

“Cabe rawitnya 5k, tomatnya 5k, kacang panjangnya 5k, kol nya 10k, sama daun bawangnya 5k, dan kangkungnya seikat… ” ujar si pembeli seraya memilih2 kangkung 

Yang berada di depan nya

Namun ketika salah satu ikat kangkung di angkat, ulat2 putih berekor kuning itu berjatuhan. Membuat kaget si pembeli. 

“Umaa, banyak banar ulatnya. Ulat napa nangini.. (Waduhh, banyak sekali ulatnya. Ulat apa ini..) ” ujar si pembeli seraya bergidik dan langsung menaruh kembali kangkung tersebut 

“Kada jadi gin ulun kangkungnya ma haji ae. Yang tadi ulun sambat ja. (Saya tidak jadi ambil kangkungnya bu haji. Yang tadi saya sebut saja.) ” 

Setelah membayar sayur2nya, pembeli itu berpindah ke toko sayur yang tak jauh dari toko HJ. Mariyah.

Pelan namun pasti, setiap pembeli yang tidak jadi berbelanja di toko HJ. Mariyah langsung lari ke toko sayur lain nya. Bahkan yang lebih parah, tidak hanya 1 tokonya yang mengalami hal seperti itu, tapi kedua tokonya sama2 mengalami kerugian.

“Kedua toko milik HJ. Mariyah beberapa hari ini benar2 mengecewakan dengan keberadaan ulat dan lalat di sayur2nya. ” ujar salah satu pembeli yang singgah di warung nasi Ma Aluy.

“Iya, padahal biasanya sayur di tempat HJ. Mariyah itu segar2 dan murah. “

“Murahnya tetap bu, tidak berubah harga. Cuma banyak ulat dan lalat di sayur2nya. ” 

“Nah ini, siapa yang mau beli sayur2 berulat dan busuk seperti itu iyakan? “

“Ehhmm.. Berapa jadinya bu? ” tanya Yuda pada ibu pemilik warung

Seketika membuat orang2 yang membicarakan tentang toko ibunya tadi langsung diam. 

“Tukar, terim kasih. ” ucap Yuda seraya berbalik dan berjalan menuju ke arah toko ibunya

Sesampainya di dekat toko sang ibu, Yuda melihat ada seorang ibu2 yang marah dan menunjuk2 ke sayuran ibunya. 

“Kalau tidak niat jualan, tidak usah jualan. Ini sayur busuk malah di jual!! “

Melihat ibunya sedang adu mulut dengan orang itu, ia lantas berlari menghampiri. 

“Ibu jangan seenaknya memarahi ibu saya! Kami pun tidak tau penyebab sayur2 cepat busuk seperti ini !! ” ujar Yuda berdiri di dekat ibunya 

“Kau anak kecil tau apa hah??! Jangan ikut campur urusan orang tua! “

“Saya tidak ada niat ikut campur bu, tapi ibu sudah keterlaluan sekali pada ibu saya! ” 

“Sudah Yud! Masuk!. ” ujar HJ. Mariyah

Yuda menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia masuk kedalam toko. 

“Mama mau kemana?? ” tanya Yuda ketika melihat ibunya sudah siap2 akan pergi meninggalkan toko

“Mama mau ke rumah petani sayur itu, mama tidak bisa begini terus2an. Mama rugi Yud. “

“Aku ikut ma. ” ujar Yuda 

“Kau disini saja Yud. Tidak usah ikut. “

“Aku harus ikut mama, aku takut mama kenapa2 kalau pergi seorang diri. “

“Yasudah kalau begitu Yud. Kamu tutup saja tokonya. ” ujar HJ. Mariyah 

Singkatnya setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mereka pun akhirnya sampai di rumah si petani sayur.

HJ. Mariyah melihat seorang wanita muda tengah menyiangi sayuran di teras rumah sambil menonton film dari Youtube. Ketika HJ. Mariyah mengucapkan salam, si wanita muda itu langsung mematikan layar hp nya.

“Mau cari siapa bu haji?? “

“Ayah mu ada?? ” 

“Ada, tapi beliau lagi di kebun. “

Sesaat setelah menjawab pertanyaan HJ. Mariyah, si wanita itu lalu memanggil nama seseorang, dan keluarlah seorang anak laki berusia 8 tahunan.

“Ding, coba kamu panggil abah di kebun. Katakan ada orang yang mencarinya. ” ujar si wanita pada sang adik

Tanpa disuruh 2 kali, anak laki2 itu lagsung berlari tanpa sendal menuju jalan setapak yang akan membawanya ke kebun.

“Mari masuk bu haji.. ” kata si wanita muda mempersilahkan

Rumah itu tidak terlalu besar, tapi sangat rapi dan wangi.

Seorang gadis berusia 12 tahunan keluar dari dapur membawakan 2 gelas es sirup. HJ. Mariyah memuji gadis itu, membuatnya seketika tersipu malu.

Tidak berapa lama, petani sayur dan anak lelaki tadi pulang, sebelum masuk kedalam rumah terlebih dulu petani sayur itu mencuci kaki dan mengganti bajunya. Setelah mengobrol basa basi ringan, HJ. Mariyah mulai mengatakan penyebab dirinya datang ke rumah itu. Si petani sayur tampak mengerutkan alisnya, 

“Sayur2 yang saya antar ke tempat ibu, adalah sayur2 segar semua bu. Dan kami sangat menjaga kualitas sayur yang akan di jual itu. ” 

“Tapi sungguh pak, ketika sayur2 itu sampai di toko saya, hampir semuanya rusak dan busuk. Saya juga heran, karena biasanya sayur di tempat bapak ini memang bagus2. “

Petani itu terdiam, beberapa kali ia menghela nafas panjang. 

“Ma, waktu mama habis kena hipnotis itu kan aku jualan sendiri. Saat aku membersihkan sekitaran toko, aku melihat ada gundukan tanah dan beberapa paku berkarat. Apa jangan2 itu?? ” 

“Kapan itu tepatnya di temukan? Setelah sayur2 ibumu cepat busuk atau sebelumnya? “

“Sebelum pak, dan 2 hari setelah itu sayur2 mama jadi berulat dan sekitaran toko juga banyak lalat bangkai. “

“Kenapa kamu baru cerita sekarang Yud?? ” 

“Maaf ma, tapi aku benar2 tidak tau saat itu, bahkan aku tidak curiga sedikitpun. Dan baru sekarang aku sadar. “

“Kalau memang benar2 usaha saya di ganggu orang, kira2 bagaimana ya pak agar bisa seperti semula lagi. Akhir2 ini saya rugi sekali. ” 

“Setahu saya kalau usaha kena guna2 seperti itu, cuma orang2 tertentu saja yang bisa membersihkan nya bu. ” ujar bapak petani tersebut

HJ. Mariyah menghela nafas panjang.

“Kalau ibu mau cek sayur2 saya di kebun, mari bu saya antarkan. Biar ibu juga tau bagaimana keadaan kebun saya. “

Yuda dan ibunya mengikuti si bapak petani, berjalan menuju ke kebun sayurnya. Sesampainya di sana mereka berdua tampak berbinar melihat perkebunan sayur yang cukup luas terpampang di hadapan mereka. Sayuran hijau di kebun itu sangat segar, dan buah tomat serta cabe rawit terlihat merah ranum menggantung di setiap dahan kecilnya.

“Waw. Banyak sekali. ” gumam Yuda 

Sayuran hijau di kebun itu sangat segar, dan buah tomat serta cabe rawit terlihat merah ranum menggantung di setiap dahan kecilnya.

“Waw. Banyak sekali. ” gumam Yuda 

HJ. Mariyah memeriksa beberapa sayur, dan sayur2 itu sama sekali tidak ada ulat seperti ulat yang ada pada sayur di tokonya. Walaupun ada, ulat yang berada pada sayuran di kebun itu berwarna hijau, dan itupun adanya cuma di dedaunan sawi dan kangkung. 

“Sama kah bu ulatnya dengan ulat di sayur ibu? “

“Beda pak, ulat di sayuran saya itu berwarna putih susu dan ujung ekornya berwarna kuning.”

“Ulat seperti apa itu ya bu? Tidak pernah melihatnya saja. ” 

Setelah itu Hj. Mariyah dan Yuda pun berpamitan untuk pulang. Disepanjang jalan mereka berdua mengobrol tentang guna2 tersebut. Yuda berusaha mencari tahu cara untuk menghilangkan guna2 di toko mereka melalui internet. Dan sebagian sudah di cobanya, tapi tetap saja tak ada perubahan.

“Loh bu haji, bukan nya kemaren2 itu bilang kalau rejeki sudah ada takaran nya, dan larisnya dagangan mu tidak mengurangi rejeki kami. Ya ibu bisa berkata seperti itu karena dagangan milik bu haji laris manis, tapi lihat sekarang sepertinya malah berbalik ya bu. “Ujar seorang ibu2 penjual sayur lain nya 

Hj. Mariyah tak menanggapi perkataan saingan nya tersebut, kini ia sadar perkataan nya dahulu mungkin sudah menyakiti hati para pedagang di sekitarnya. 

“Saya minta maaf atas perkataan saya dulu yang telah menyakiti perasaan kalian semua. ” ucap Hj. Mariyah

Salah satu penjual sayur itu mencibir. Toko yang baru saja di beli Hj. Mariyah pada pak haji itu pun terpaksa di tutup dan rencananya akan segera ia jual untuk mengembalikan modal yang hilang karena sayuran busuknya. Hj. Mariyah sampai ungut andam (melamun, pusing) memikirkan kelanjutan usahanya itu. Hingga suatu hari, ia bertemu lagi dengan pak haji di pangkalan ojek. Hj. Mariyah langsung menceritakan tentang usahanya yang hampir gulung tikar pada pak haji. 

“Memang pedagang di tempat kita ini bersaing secara hitam. Sebelum toko saya itu di jual, saya juga pernah mengalami sendiri. Berbulan2 sepi, bahkan saya harus beberapa kali pinjam uang untuk modal usaha. Sampai akhirnya saya mulai berikhtiar untuk membersihkan toko, Alhamdulillah setelah itu toko saya kembali laris lagi. “

“Bagaimana caranya pak ? “

“Saya di usulkan menemui seorang kenalan pejual beras di samping pasar itu ji. Kalau tidak salah nomornya masih saya simpan, sebentar saya cari dulu.. ” 

Pak haji memicingkan matanya menatap ke layar hp agar lebih jelas membaca biji perbiji huruf pada nama kontaknya.

“Nah ini ketemu, cepat catat ji. Kosong delapan lima enam……) ” ujar pak haji seraya mulai menyebutkan angka nomor dari orang yang dia maksud 

“Sudah pak haji, terima kasih. ” ucap Hj. Mariyah

“Sama2 ji. Kita sama2 pernah di jahili pedagang lain, jadi kita memang sudah seharusnya saling bantu. ” 

Yuda baru saja pulang sekolah saat itu, ia melihat sang ibu masih berada di dalam kamar, tubuhnya terserang demam tinggi. Ayahnya pun sudah kelaparan karena belum makan siang.

“Ma, ini bubur dan teh hangat, mama makan dulu ya. Setelah makan mama minum obat. Yuda mau masak dulu buat abah. ” 

“Yud, “

“Iya ma.? “

“Terima kasih. “

“Terima kasih apa ma? Kaya orang lain saja. Aku ini kan anak mama dan abah, sudah seharusnya aku berbakti pada orang tua, bukan hanya pada saat orang tuaku sehat, tapi di saat sakitpun aku harus merawat kalian semampuku. ” 

Hj. Mariyah tersenyum bangga mendengar jawaban sang anak.

Malam itu di saat Hj. Mariyah bermimpi buruk, ia bermimpi di kejar2 seekor anjing hitam ketika baru saja selesai sholat. Bahkan mukena nya pun masih lengkap terpakai. Anjing hitam itu bermata merah dan bertubuh besar, lebih besar jika di bandingkan dengan anjing2 pada umumnya. Ketika tertangkap oleh anjing tersebut, Hj. Mariyah langsung berteriak.

Teriakan nya yang melengking nyaring itu sampai membuat Yuda yang sedang lelap2nya tidur seketika terbangun. Ia bergegas lari kekamar sang ibu, dan mendapati ibunya sudah bangun dengan wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. 

“Mama kenapa?? ” tanya Yuda cemas

“Mama mimpi di kejar anjing Yud. Anjing hitam besar. “

“Gak apa2 ma, itu cuma mimpi. Mungkin tadi sebelum tidur mama lupa baca doa. ” 

Hj. Mariyah membenarkan perkataan Yuda, karena ia memang selalu lupa baca doa sebelum tidur.

Keesokan harinya, badan Hj. Mariyah sudah sedikit enakan, ia duduk di teras rumah bersama sang suami. Sekitar jam 8an, beliau menelpon nomor kontak yang di berikan pak haji yang tak sempat ia hubungi.

Obrolan nya bersama laki2 yang di seberang telepon itu tampak serius dan berjalan cukup lama. Hingga akhirnya, lelaki di ujung telepon itu menyanggupi untuk menemui Hj. Mariyah.

Sepulang Yuda sekolah, mereka berdua berangkat ke tempat yang di janjikan oleh Hj. Mariyah pada lelaki yang di telpon nya tadi. Sesampainya mereka di tempat itu terlihat seorang lelaki yang mengenakan sweater berwarna ungu muda tengah duduk di atas scoopy merah. Meskipun Hj. Mariyah yakin itu orangnya, tapi beliau tetap menelpon lagi untuk memastikan. 

“Maaf saya kira bukan kamu orangnya. Habisnya masih muda ternyata. “

Lelaki itu tersenyum,

“Maaf, memintamu bertemu disini. Karena di rumahku suasana nya tidak nyaman untuk mengobrol. Maklumlah setiap hari aku kepasar, jadi tidak sempat beberes dan ini saja baru sembuh dari demam. Mana anak2 sudah mulai masuk sekolah lagi, jadi Yuda ku ini juga sibuk. Biasanya memang dia ini yang bantu2 mama nya beberes rumah. ” cerita Hj. Mariyah 

“Oh ya. Tentang yang kita bicarakan di telpon tadi itu bagaimana? “

“Kalau mau itu ada prosesnya bu, dan saya bisa memindah namakan minyaknya hanya pada malam senin dan jumat. Di hari/di malam lain seperti ini tidak bisa. ” 

Hj. Mariyah mengangguk,

“Saya mau yang sama seperti pak haji untuk membersihkan toko. Dan juga untuk menjaga toko agar tidak di maling orang lagi. ” 

“Bisa bu. Saya hanya butuh nama lengkap ibu. Nanti jumat ini saya antarkan. “

Hj. Mariyah pun kemudian memberikan catatan nama lengkapnya pada lelaki itu.

“Oh iya ada satu hal lagi yang mau ku tanyakan. Apa kamu juga bisa membaca mimpi? ” 

Lelaki itu tertawa,

“Mimpi seperti apa itu bu? ” Tanya nya kemudian

“Dimimpi itu aku baru selesai sholat dan masih mengenakan mukena ketika seekor anjing hitam besar bermata merah mengejar2 ku. ” 

“Lalu apa di mimpi itu ibu lari menghindari kejaran anjing tersebut? “

“Ya, aku berlari dengan masih mengenakan mukena, tapi anehnya tak seorang pun yang mau menolongku dari kejaran anjing hitam itu. Sampai akhirnya anjing hitam tersebut berhasil menerkamku. ” 

“Aku terbangun dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhku. Benar2 mimpi yang mengerikan. “

“Dari yang pernah saya dengar mengatakan anjing hitam itu bermakna penyakit. Dan ibu bilang saat di kejar anjing itu ibu mengenakan mukena, mukena nya berwarna apa? ” 

“Mukena nya berwarna putih. “

Lelaki itu menghela nafas panjang,

“Maaf sebelumnya, bukan maksud saya menggurui ibu, tapi mulai sekarang ibu harus rajin2 beribadah. Usahakan ketika kita sudah berada di atas sajadah buang dan lupakan apapun pikiran2 yang mungkin akan terbawa 

dan terpikirkan sepanjang sholat yang mengakibatkan sholat menjadi tidak khusyu, saat sholat kita tidak khusyu sesuatu yang jahat akan sangat mudah masuk. Itulah kebanyakan ada yang mengatakan saya sudah sholat 5 waktu ibadah lancar 

Tapi tetap saja bisa terkena guna2, sihir, santet dll. Padahal sebabnya ada pada diri kita sendiri. ” ujar lelaki itu

“Benar sekali, aku kalau sholat itu malah sering memikirkan macam2, memikirkan segala tagihan, memikirkan mau masak apa dll. Aku sendiri pun sudah berusaha 

untuk tidak memikirkan apa2 tapi tetap saja terpikir. “

“Ibadah adalah kewajiban, tapi kalau di lakukan tanpa keikhlasan, atau setengah2, itulah yang mengakibatkan kita jadi kurang fokus/khusyu. Coba nanti ibu lakukan dengan ikhlas bukan semata2 hanya untuk memenuhi kewajiban 

saja, pasti ibu akan tau perbedaan nya. “

Setelah mengobrol panjang lebar Hj. Mariyah lalu berpamitan untuk pulang.

Hari jumat yang di nanti pun tiba.

Hari itu Hj. Mariyah sengaja tidak berjualan karena ingin bertemu si lelaki tempo hari. 

Karena sebelumnya sudah di shareloc oleh Yuda, sekitar jam 8an, ia datang ke rumah Hj. Mariyah.

“Nanti ibu lakukan seperti yang saya katakan waktu itu, rumah dan toko ibu bersihkan semuanya. ” ujar lelaki tersebut seraya memberikan 3 botol kecil minyak 

Hj. Mariyah menerimanya dengan senang hati.

“Baik, terima kasih banyak ya. Semoga usaha ku lancar lagi. “

“Aamiin.” 

Malam2, Hj. Mariyah ke tokonya untuk menyiramkan air yang sudah di campur dengan minyak itu di sekeliling toko. Setelah itu, sepanjang malam ia tak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi besok.

Keesokan harinya Hj. Mariyah pagi2 sekali sudah berangkat ke toko, 

Ia dengan penuh semangat menyusun sayuran ke atas meja.

Sepintas tak ada yang berubah, tapi sayuran yang biasa berulat ketika mulai di rapikan di atas meja, kinimasih terlihat segar dan bagus.  Tidak berapa lama datanglah beberapa orang yang ingin membeli sayurnya, orang2 itu tampaknya baru kali ini ke toko sayur milik Hj. Mariyah.

Mereka mengecek setiap sayur dan saling berbicara dalam bahasa jawa. Rupa2nya orang2 ini adalah pemilik rumah makan yang baru buka sekitar 3 km dari area pasar tersebut.

Setelah tawar menawar harga, mereka membeli banyak sekali sayur mayur segar dan cabe serta tomat untuk membuat sambal. Pagi itu Hj. Mariyah mendapatkan rejeki yang tak terduga banyaknya dari pelanggan pertamanya tadi.

“Semoga begini seterusnya. ” ucap Hj. Mariyah 

Sekitar pukul 8an, orang2 yang berbelanja mulai memadati pasar.

“Padahal saya ingin beli sayur di sana, tapi disini sepertinya lebih segar. ” ujar salah satu ibu2 yang membawa tas anyaman

“Iya, disini lebih murah dan sayur2nya juga segar2. ” sahut yang lain 

Alhamdulillah hari itu ulat dan lalat yang sebelumnya ada di sayur dan di toko sudah tidak ada lagi. Meskipun ada ulat hijau di beberapa sayur, tapi itu wajar dan masih bisa di maklumi. 

Sejak saat itu perlahan2 toko Hj. Mariyah mulai kembali laris lagi. Hingga sampai di suatu hari, Hj. Mariyah jatuh sakit, dan dibagian punggung nya muncul bisul sebesar permukaan piring yang di gunakan untuk alas gelas kopi, ukuran yang lumayan besar untuk bisul. 

Beliau tak bisa berbaring dengan posisi telentang, karena bila telentang bisul dipunggungnya akan terasa sangat sakit sekali.

Sudah hampir 1 minggu lebih keadaan Hj. Mariyah seperti itu, beliau tak enak makan ataupun berjualan. Hari itu, lelaki yang tempo hari membantu beliau datang ke rumahnya karena di telepon oleh Yuda.

“Sudah berapa hari begini? “

“Sudah lebih dari seminggu. “

“Permisi ya bu kalau diizinkan, saya ingin melihat bisulnya. ” 

Hj. Mariyah mengangkat sedikit bajunya dan bisul besar itu terlihat jelas oleh si lelaki.

“Ini bukan bisul bu, tapi semacam kiriman orang, kami menyebutnya panah tarung. ” 

“Apa itu bisa di sembuhkan kak?? ” tanya Yuda

“Panggil amang saja. ” ujar lelaki itu

“Iya mang. “

“InsyaAllah bisa di sembuhkan. Kebetulan malam ini malam jumat, amang akan kemari lagi nanti malam. ” ujar si lelaki 

“Iya mang, terima kasih mang. ” ucap Yuda

Karena waktu yang begitu mepet, si lelaki itupun segera berpamitan untuk pulang.

“Yud, tolong kompres dengan air es Yud. Rasanya panas dan nyut2an. ” pinta Hj. Mariyah dengan wajah yang meringis meski saat itu Yuda sedang makan, ia tetap bergegas membuatkan kompresan untuk ibunya. Sekitar pukul 9 malam, Lelaki itu datang lagi ke rumah Hj. Mariyah.

“Ini namanya minyak seribu tawar, dan bisa untuk mengobati penyakit2 seperti ini. ” kata si lelaki itu 

“Dari tadi kata mama panas mang area bisul itu. Makanya aku kompres dengan air es. Barulah mama merasa sedikit nyaman. ” ujar Yuda

Yuda membantu mengangkat baju ibunya, agar lelaki itu lebih mudah untuk membaluri bisul ibunya dengan minyak yang dia bawa. Saat olesan pertama tubuh Hj. Mariyah seperti kaget. Dan pada olesan ke tujuh, ia tak merespon lagi.

“Besok pagi kamu oleskan lagi ya, bisa juga di campur dengan minyak urut atau air. ” ujar lelaki itu berpesan pada Yuda sebelum ia pergi 

“Baik mang. Sekali lagi terima kasih banyak. “

“Nanti kalau sudah kempes, kamu hubungi amang ya, biar amang kesini lagi untuk memagari ibumu. “

Yuda mengangguk cepat, dan tepat di hari minggunya, bisul Hj. Mariyah pun kempes karena setelah di oleskan dengan minyak itu, keesokan nya langsung pecah, tentu Yuda langsung menelepon si lelaki untuk memberitahukan kabar baik itu Hj. Mariyah sedang makan ketika lelaki tersebut datang.

Beliau menyambutnya dengan sangat baik.

“Yang kamu bilang panah tarung itu sudah kempes, cairan nya sudah keluar semua. ” ujar Hj. Mariyah

“Alhamdulillah kalau begitu bu, saya senang mendengarnya. Dan rencananya kalau 

ibu berkenan, malam ini saya akan memagari ibu. Agar yang menimpa ibu sekarang ini tidak terulang lagi. ” 

Lelaki itu berada di sana hingga malam hari, ia memandikan Hj. Mariyah sekaligus memagar dan membuat orang2 disekeliling beliau menjadi kasian, dan hilang niat jahat terhadapnya. 

“Rasanya segar dan tubuh seperti ringan tak ada beban, tidak pernah aku mandi dan merasakan seperti yang ku rasakan saat ini. ” ujar Hj. Mariyah 

Hj. Mariyah berangsur2 sehat kembali. Dan hari itu ia mulai berjualan lagi setelah cukup lama tutup.

“Kemana saja bu haji? ” tanya pemilik rumah makan yang sudah menjadi langganan di toko Hj. Mariyah 

“Aku sakit, dan baru beberapa hari ini pulihnya. “

“Aduh, kasian bu haji. “

Hingga cerita ini di tulis, toko sayur milik Hj. Mariyah masih seperti dulu, laris manis setiap hari.

–SELESAI–

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *