RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pesugihan Anak Yatim

Cerita ini berasal dari Ilham, orang yang selamat dalam kejadian tersebut

Ilham merupakan seorang anak yatim. Dia tinggal bersama dengan ibu dan juga saudaranya. Perekonomian keluarga Ilham tidak sebaik dengan perekonomian keluarga lainnya.

namun Ibu Ilham masih bisa bersyukur karena mereka bertiga masih diberikan kesehatan dan juga kebersamaan.

Ilham disuruh masuk panti asuhan oleh orang tuanya karena orang tuanya sendiri dibayar oleh pemilik panti tersebut.

Saat itu, desanya kedatangan dua orang tak dikenal yang sangat gencar untuk mencari anak-anak yatim. Tujuannya adalah untuk mensejahterakan dan memberikan pendidikan terhadap anak yatim yang akan diasuhnya tersebut.

Dua orang itu memiliki sebuah panti asuhan yang letaknya di tengah kota. Mungkin hal ini yang membuat orang-orang desa menaruh anaknya ke panti tersebut karena pendidikan dan kesejahteraan anaknya lebih utama dari pada kehidupan orang tuanya.

Pemilik panti tersebut bernama Pak Jaja dan Bu Tati. Mereka adalah pasangan suami isteri.

Pemilik panti asuhan tersebut bernama Pak Jaja dan Bu Tati. Keduanya merupakan pasangan suami-isteri yang kerap bergerak di bagian kesosialan.

Namun, Pak Jaja dan Bu Yati ini sangat pemilih. Ia akan memilih anak yang kebetulan memiliki potensi untuk mengikuti seluruh kegiatan yang ada di panti asuhan tersebut.

Hal itu dikarenakan karena panti asuhan yang dibadani oleh Pak Jaja dan Bu Tati ini seringkali mencetak anak-anak yang jenius. Begitulah kira-kira penjelasan yang dilakukan oleh Pak Jaja dan juga Bu Tati.

Ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan oleh si Ibu tersebut jika anaknya ingin masuk ke dalam panti asuhan. Pemilik Panti Asuhan akan memberikan surat perjanjian yang berisi beberapa poin dan di tanda tangani di atas materai.

Isi dari surat tersebut adalah :

1. Pihak orang tua menyetujui untuk memasukkan anaknya ke dalam panti. Dengan begitu, hal-hal yang terkait di panti tidak boleh diganggu gugat oleh pihak orang tua

2. Pihak panti akan memberikan sejumlah uang yang bertujuan sebagai uang persetujuan karena diperbolehkannya anak tersebut masuk ke dalam panti. Uang tersebut diperuntukkan sebagai keseharian orang tua anak tersebut

dan tidak diperbolehkan untuk mengirim ke anaknya yang berada di dalam panti asuhan.

3. Pihak orang tua dilarang menjenguk anaknya kecuali jika anaknya sakit. Itu juga diberlakukan ketika mendapat perizinan dari pihak panti.

4. Pihak orang tua boleh menemui anaknya jika anak tersebut sakit. Di sini, pihak panti akan memulangkan anak ke pihak orang tua.

5. Pertanggungjawaban akan dilepas jika anak sudah berada di pihak orang tua.

6. Pihak orang tua dan pihak panti berjanji untuk menyetujui persetujuan ini dengan resiko yang akan diterima.

Awalnya, Ibu Ilham sangat curiga dengan surat yang diberikan oleh Pak Jaja dan Bu Tati tersebut. Dia beranggapan, bahwa Ilham yang akan dibawa ke panti namun bersifat seperti adopsi.

Pak Jaja dan Bu Tati langsung memberikan segepok uang berisi ratusan ribu rupiah dengan kisaran jumlah adalah 10 juta rupiah.

Ibu Ilham terkejut melihat hal itu. Baru kali ini ia melihat uang 10 juta berada di hadapannya. Alih-alih keraguan nya menghilang. Nafsu dan keinginannya menambah besar.

Ibu Ilham pun segera menandatangani surat tersebut dan bersepakat bahwa Ilham akan di bawa ke panti asuhan yang dibadani oleh Pak Jaja dan juga Bu Tati.

Jawa Barat, tahun 2000

Ibu Ilham segera mempersiapkan seluruh barang-barang Ilham. Saat itu, mobil milik Pak Jaja dan Bu Tati telah berada di depan rumah Ilham.

“Sudah siap semua?”

Tanya Pak Jaja

“Sudah, pak. Oh ya, pak. Boleh saya meminta tolong?”

Tanya Ibu Ilham

“Minta tolong apa, bu?”

Tanya Pak Jaja

“Ilham ini orangnya susah tidur malam. Mungkin bapak bisa arahkan dia untuk tidur malam dengan cepat. Takutnya, dia malah gak bisa ikut kegiatan panti.”

Ucap Ibu Ilham

“Ooh, masalah itu. Tenang saja bu. Kami juga memiliki kegiatan khusus yang nantinya Ilham bisa tidur dengan cepat.”

Senyum Pak Jaja

Ilham pun keluar rumah. Dia memeluk ibunya dengan perasaan haru dan sedih.

“Bu, ibu nanti nengokin ilham gak?”

Tanya Ilham

Ibu Ilham ingat dengan surat perjanjian itu. Mana mungkin ia akan menengok Ilham karena surat perjanjian itu memang benar-benar membuat Ibu Ilham salah tingkah.

“Nanti ibu nengok kamu kok. Yang penting, sekarang kamu ikut bapak sama ibu tati ya?”

Senyum Pak Jaja

Selepas perpisahan antara Ilham dan ibunya berlangsung cepat, Pak Jaja menyuruh Ilham memasuki mobil.

Ibu Ilham masih memperhatikan Ilham dari luar mobil. Ilham dengan polosnya melambaikan tangan ke arah ibunya. Ibu Ilham merasa berat hati, namun ia tak tahu harus bagaimana. Uang 10 juta yang ia pegang itu benar-benar membuatakan dirinya.

“Bu, emang di sana banyak temannya ya?”

Tanya Ilham

Bu Tati yang berada di jok depan langsung menoleh ke belakang,

“Tentu banyak, dek.” Jawabnya dengan tenang

Ilham menatap jendela mobil. Ia melihat banyak sekali bangunan besar. Tidak seperti di rumahnya yang berada di desa, kota adalah tempat yang paling bagus untuk dilihat.

Mobil tiba-tiba berhenti di sebuah rumah hang berpagar. Rumah itu memiliki lantai dua dan berada di wilayah perumahan yang tidak terlalu padat penduduk.

“Kita sudah sampai.”

Ucap Pak Jaja

Ilham pun langsung turun dari mobil. Ia membawa tas yang berisi baju-baju dan beberapa buku yang ia bawa sendiri dari rumah.

“Rumahnya besar sekali … “

Ucap Ilham sambil melihat bangunan rumah yang akan ditempatinya.

Bu Tati langsung menyuruh Ilham untuk masuk ke dalam.

Singkat cerita, ketika Ilham masuk ke dalam rumah tersebut, ia melihat banyak sekali anak-anak seusia dengannya. Kira-kira berjumlah 10 orang.

Pak Jaja langsung menyuruh Ilham untuk memperkenalkan diri,

“Halo semua. Nama saya Ilham. Saya berasal dari desa.”

Ucap Ilham

Anehnya, anak-anak di sana hanya terdiam. Mereka hanya menatap ilham dengan tatapan kosong

Pak Jaja dan Bu Tati langsung menunjuk salah satu anak panti untuk menunjukkan kamar untuk Ilham

Namanya Nenda. Dia merupakan anak yang sama dengan Ilham. Nenda baru masuk 2 hari yang lalu. Bisa di bilang, panti ini baru mengambil anak-anak dari desa yang terpisah hanya berjarak 1 minggu saja.

“Nenda, tolong kerjasamanya. Ilham akan satu kamar dengan kamu.”

Ucap Pak Jaja

Nenda hanya mengangguk. Dia pun berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan Pak Jaja dan Bu Tati kembali keluar untuk membeli makanan dan buku-bukuan untuk kegiatan malam nanti.

Anak-anak yang lain masih asik dengan bermain di lantai bawah. Ilham melihat satu persatu anak-anak tersebut. Sepertinya, matanya sangat kelelahan dan kurang tidur. Tapi apa penyebabnya mereka kurang tidur?

Di lantai dua, Ilham langsung ditunjukkan letak kamarnya dengan Nenda. Di dekat kamarnya, ia melihat sebuah ruangan yang aneh. Ruangan itu seperti menariknya untuk menuju ke sana.

“Nenda, nama kamu nenda kan?”

Tanya Ilham

“Iya, kenapa?”

Tanya Nenda

“Kamu udah kama berada di sini?”

Tanya Ilham

“Ngga, baru dua hari. Ada apa?”

Tanya balik nenda

“Hmm gapapa. Kamu dari mana?”

Tanya Ilham

Nenda kemudian membukakan pintu kamarnya. Ilham terkejut ketika melihat kamar nenda yang penuh akan buku.

“Kamu belum jawab pertanyaanku loh.”

Ucap Ilham

Nenda hanya terdiam. Ia membantu Ilham untuk merapikan baju-baju yang berada di dalam tasnya untuk di pindahkan ke dalam lemari.

“Aku gak mau jawab pertanyaanmu.”

Jelas Nenda

Ilham terkejut mendengar hal itu. Ia pun melihat gerak-gerik Nenda yang sedang membereskan baju-bajunya.

“Oh ya, satu lagi. Jangan masuk ruangan dekat kamar Pak Jaja dan Bu Tati.”

Ucap Nenda

“Baru aku mau nanya ruangan itu.”

Tukas Ilham

“Kenapa? Kamu penasaran dengan kamar itu?”

Tanya Nenda

“Gak sih. Seperti ada yang narik ke tempat itu aja. Apa cuman perasaanku aja ya?”

Tanya Ilham

Benda berdiri dan menutup kamarnya. Ia mengunci sebentar dan berkata kepada Ilham,

“Kamar itu … “

Ucap Nenda

“Kenapa dengan kamar itu?”

Tanya Ilham

“Banyak setannya!”

Thread By @RestuPa71830152

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *