RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Petaka Kuburan Cina

Dua bersaudara berusia 12 dan 10 tahun. Satu hari tak sadar diri karena menendang tempat stanggi / dupa di kuburan cina. Nyawa mereka terancam.

Terjadi di tahun 2006 di depan mata saya sendiri.

Jadi kejadiannya tidak terlalu jauh dari rumah. Itungannya masih tetangga. Semoga cerita ini nanti akan jadi pelajaran untuk saling memghormati dan tak saling mengganggu. Jangankan manusia,makhluk halus pun bisa murka.

Seperti biasa, nulisnya gak ngebut-ngebut amat yak. Nyambi ngerjain hal lain soalnya.

Jadi nama dua anak ini Jalal dan Habi. Mereka kakak beradik. Rumah mereka letakny cukup jauh dari rumah-rumah lain karena ada di tengah kebun. Walau berbeda umur, mereka sekolah satu kelas.

Ayah mereka petani dan juga dikenal sebagai preman. Ditakutilah di sekitar situ. Ibunya petani biasa dan sesekali berjulan di pasar.

Jalal dikenal sebagai anak yang nakal, makanya sampai dua kali tidak naik kelas. Begitupula Habi, tapi dia ini cenderung cuma ikut-ikutan abangnya.

Sekolah Jalal dan Rabi itu masuk siang. Jadi kalau pagi mereka berdua ini ya kerjaannya main. Nah siapa sangka “main” nya mereka malah jadi tragedi yang mengerikan.

Jadi di antara rumah dan sekolah mereka itu ada sebuah area pemakaman orang tionghoa. Nah karena mereka ini nakal, otomatis mereka sering main berdua aja. Anak orang diberantemin soalnya. Nah pagi itu mereka pergi mencari ikan cupang. Biasanya banyak di parit.

Nah parit tempat mereka mencari ikan cupang itu letaknya di samping pemakaman orang tionghoa. Dan mereka memang katanya sudah beberapa kali ngambil makanan yang ditinggal di kubur. Buah jeruk sih seringnya.

Di salah satu makam pagi itu dipenuhi makanan. Sepertinya keluarganya baru kelar upacara. Jadi pergilah mereka ke makam itu.

Ini gambar ilustrasi ya, biar kebayang aja.

Oh ya soal kuburan orang tionghoa ini saya sering dengar ada yang bahkan sampai di rampok. Karena banyak yang dikubur bersama penghiasan. Jadi digali dan diambil hartanya. Mungkin kalau ada sumber akurat saya cerita lain kali. Dan pagi itu, selain mengambil makanan, Jalal malah menendang wadah setanggi/dupa dengan sengaja. Mereka tertawa-tawa berdua.

Awalnya semua baik-baik saja saja sampai Jalal merasa tubuhnya menggigil. Ia lalu memgamati adiknya. Adiknya tampak pucat.

“Kamu merasa dingin Bi?”

“Iya bang, dingin sekali” kata Habi. Tubuhny gemetaran.

Maka buru-buru sekali mereka pulang. Mereka melalui jalan setapak yang sepi. Udara mendadak dingin. Pandangan berkunang-kunang. Lalu mereka seperti merasa hilang di tengah gelap.

Jalal dan Habi ditemukan seorang warga yang sedang menanam padi di sawah. Maka buru-buru ia menemui ayah dan ibu mereka berdua. Dibawalah Jalal dan Habi ke rumah dalam keadaan tak sadarkan diri. Apa yang terjadi dengan mereka? Ketika sudah sadar dan pulih, Habi bercerita.

Yang mereka rasakan adalah tubuh mereka melayang di udara bebas. Mereka merasa tubuh lebih hangat. Lalu perlahan tubuh mereka mendarat di tanah perlahan.

Mereka tidak tahu mereka ada di mana. Yang jelas di depan mereka ada sebuah bangunan tua dengan gerbang ciri khas cina. Dengan dia patung singa di sisi kiri dan kanan.

Saat mereka sedang kebingungan, gerbang terbuka. Dua orang keluar dan masing-masing menarik tangan Jalal dan Habi. Mereka berdua tak berwajah.

Namanya anak kecil. Mereka tidak tahu harus apa. Mereka menurut. Begitu masuk merek melihat kolam yang besar. Lalu ada bangunan tua dengan warna merah dan ornamen-ornamen tionghoa.

Kedua pengawal hanya menarik mereka ke depan pintu. Pintu terbuka. Kedua pengawal tak masuk. Udara dingin berhembus keluar. Habi menangis. Aroma setanggi menyeruak.

“Bang, Habi mau pulang” kata Habi.

“Jalal terlihat lebih tegar. Walau Dari wajahnya terpancar rasa takut.”

Mereka berdua didorong masuk, di dalam asap setanggi mengepul. Tampak sebuah kursi besar dengan meja penuh makanan. Beberapa buah tampak sudah dimakan. Terdengar isak tangis.

Seperti ada yang membuat kaki mereka terus maju. Suara tangis Habi bersahutan dengan suara tangis gadis kecil itu. Dibalik kabut tampak seorang pria tua bertubuh gemuk. Seorang gadis kecil mengenakan cheongsam menangis di pangkuannya. Pak tua itu menarik nafas dalam.

Sementara itu di rumah Jalal dan Habi warga sudah mulai ramai. Keduanya mengigau panas! Panas!

Ibu mereka panik dan menyiram tubuh mereka dengan air dingin. Namun mereka terus mengigau panas! Panas!

Anehnya suhu tubuh mereka berdua tidak panas sama sekali. Normal saja.

“Kita bawa ke rumah sakit saja” kata pak RT

“Jangan! Anak saya tidak sakit!” Kata bapaknya.

Bapaknya yang preman itu jelas merasa getir. Tak jelas anaknya kenapa. Tapi dia percaya itu bukan sakit biasa. Maka dipanggillah seorang kenalan yang punya kemampuan tak biasa. Mudahnya sih kita nyebut dukun.

Sementara itu kaki Jalal dan Habi terasa lemas. Mereka berlutut tak berani memandangi pak tua itu.

“Kalian tahu kenapa kalian saya ambil kemari?” Tanya bapak itu dalam bahasa Khek. Anehnya mereka berdua paham. Padahal mereka tidak tahu sama sekali bahasa itu.

Keduanya menggeleng.

Gadis kecil masih menangis.

“Bocah tak beradab. Tak sadar rupanya kalian telah melakukan kesalahan besar” kata Pak Tua itu.

Pak tua melempar dua buah jeruk ke hadapan mereka.

“Kalian lapar?”

Keduanya menggeleng.

“Oh ya kalian sudah makan. Tentu kalian sudah tidak lapar” kata Pak tua itu.

Dua jeruk melayang di udara. Lalu suara pak tua itu terdengar berat.

“Makan! Kalian tidak bisa melawan perintahku”

Jalal mengambil buah itu lalu memakannya. Habi dapat melihat Jalal berusaha melawan tapi tangannya seperti tergerak sendiri.

Lidah jalal terasa melepuh.

“Panassss!” Igau Jalal disaksikan orang-orang di sekitar. Saya waktu itu sudah SMP. Saya bersama Ibu ada di rumah itu. Masih jelas ingatan saya tentang rintihan Jalal yang meraung-raung. Tak lama kemudian dukun yang dinanti datang. Ia melihat Jalal dan Habi dengan meringis.

Lalu ketika jeruk itu sudah tertelah tiba-tiba perut Jalal membesar. Habi tambah menangis melihat Wajah Jalal berubah bagai seekor babi.

“Rakus kalian! Makanan itu bukan hal kalian” sergah pak tua.

“Ampuni kami pak, kami tak tahu” kata Habi.

Jalal menggeram saat pak dukun memegang kepalanya. Suaranya aneh.

“Anak-anakmu ini sudah tak di sini” kata pak dukun.

“Apa maksud sampean?” Tanya si bapak.

“Anakmu diambil oleh mereka. Yang kaga kuburan cina itu” kata si dukun.

Ibu mereka meraung.

“Sekarang giliranmu bocah” kata pak tua itu pada Habi. Habi dapat merasakan tangannya bergerak sendiri. Ia memakan buah jeruk itu. Lalu sekujurnya tubuhnya terasa seperti terbakar. Lalu dari tubuhnya muncul bulu-bulu lebat. Habi berubah menyerupai anjing.

“Kau, kau terlalu patuh pada abangmu. Tingkahmu seperti anjing bocah. Disuruh menggigit kau menggigit. Disuruh menggonggong kau menggonggong” kata pak tua itu.

Ini ada yang masi nyimak?

“Itu adalah hukuman karena kalian sudah seringkali lancang memakan makanan kami. Biasanya kami tak marah. Tapi ada hal yang membuat kalian kami ambil kemari. Karena kalian telah menyakiti dia” pak tua menunjuk gadis kecil yang menangis di pangkuannya.

Jalal dan Habi tak menyahut apa-apa. Dua bocah itu sudah tahu mereka tak ada harapan. Gadis kecil itu turun dari kursi dan berdiri di depan Jalal dan Habi.

Kembali ke rumah mereka.

“Saya hanya bisa melihat gerbang, ada dua penjaga. Saya tak dapat masuk” kata pak dukun. Ibu mereka sibuk menyiram tubuh kedua anaknya karena terus mengigau kepanasan. Sutra merah melayang di udara. Lalu melilit leher Jalal.

“Kau tahu stanggi yang kau tendang itu mengenai aku. Lancang sekali kalian manusia” kata gadis kecil itu.

Lalu Habi dapat melihat Jalal meringis menahan sakit. Habi berusaha menarik sutra itu agak tak mencekik Jalal. Lidah Jalal menjulur-julur.

“Maafkan kami” seru Habi.

Pintu rumah terbuka. Dua pengawal tadi masuk.

“Ada yang berusaha masuk ke sini. Singkirkan mereka dulu” kata pak tua. Lalu gadis itu melepas lilitan selendang sutra dengan wajah kesal.

Jalal dan Habi dalam bentuk Babi dan Anjing digiring ke sebuah ruangan.

“Mereka seperti membiarkak saya masuk” kata pak dukun menceritakan yang ia alami. Habi dan Jalal masih mengigau gelisah.

“Bawa pulang anak saya pak” kata Sang Ibu. Ia tak kuasa menahan sedih.

“Kita harus melawan!” Kata Jalal ketika ketika dua pengawal tanpa wajah meninggalkan mereka.

“Kita salah. Sudah minta maaf tetap saja dihukum. Mereka marah” kata Habi.

“Mereka itu setan dan iblis. Kita baca doa saja” kata Jalal.

“Memangnya abang hafal doa mengusir setan?”

Jalal menggeleng. Ia menyesal selalu kabur saat ibunya menyuruhnya pergi mengaji.

Laniut tipis-tipis. Yang mau baca sampai kelar mending maleman aja. Pak dukun membuka mata.

“Mereka ndak mau balikin Jalal dan Habi, kesalahannya besar”

Terus pak dukun cerita apa kesalahan Jalal dan Habi.

Saya percaya gak percaya waktu itu. Tapi ceritanya sama kayak cerita Habi pas dia udah sadar. Si Ibu udah nangis meraung-raung. Sementara pak RT tetap kokoh, mending dibawa ke rumah sakit aja. Terus bapaknya malah ambil parang

“Yang bawa mereka ke rumah sakit, lawan saya dulu”

Irama musik Tionghoa terdengar. Gadis ber-cheongsam berjalan diiringi 4 prajurit tanpa wajah. Aroma stanggi begitu tajam. Si gadis mendekati Jalal dan Habi.

“Sudah sering aku melihat kalian di sekitar sini. Kalian juga sering mengusili anak-anak lain bukan?”

“Ampun kak, Habi minta maaf. Habi gak akan begitu lagi” Tubuh Habi gemetar.

“Ngapain kamu minta maaf sama anak iblis. Mereka makhluk terkutuk” kata Jalal.

Lalu selendang sutra merah itu melayang dan melilit kaki Jalal.

“Bocah tak beradab. Sudah bosan hidup kamu ya?” Kaya gadis itu. Aroma parfumnya segar sekali. Lalu tubuh jalal dilempar ke tempat semacam kerangkeng. Kerangkeng itu dibawa oleh prajurit pergi.

“Kamu ikut saya” kata Gadis itu menarik tangan Habi. Habi hanya bisa menurut mengikutinya dari belakang.

Maaf ya teman-teman. Ini bener hari yang sibuk. Saya harus mengurus test Covid dan tiket untuk kembali ke Jakarta. Setengah jam lagi saya lanjut sampai selesai. Gas Pol!

Habi didudukkan di sebuah kursi. Sementara itu gadis tadi duduk bersama bapak tua.

Habi menahan tangis ketika Jalal dikeluarkan dari kerangkeng dan dilempar ke tengah kolam. Terdengar suara Jalal Menguik.

“Kasihan kamu sama abangmu Habi?” Tanya gadis itu

Habi tak merespon.

“Tak perlu kasihan, dia tak kasihan padamu. Kamu diajak berbuat nakal” kata si gadis itu.

Ah bagaimanapun Juga Jalal hanya anak-anak. Kami yang melihat Jalal dan Habi antara hidup dan mati hanya terdiam. Bapaknya tak mengizinkan kami mendekat.

Sementara itu Jalal masih menguik-nguik. Lalu tiba-tiba dua singa melompat melalui gerbang. Singa yang menurut Habi bentuknya agak aneh. Habi bergidik ngeri.

Dua singa melompat dan mencabik-cabik Jalal. Habi tak kuasa menahan rasa sedihnya. Ia berlari dan melompat ke dalam kolam.

Saat Habi membuka mata, ia melihat kami, para warga yang berkumpul. Kedua orang tuanya menangis. Badan Habi masih lemas. Sementara itu, Jalal berbaring tak bernyawa di sampingnya. Wajahnya tampak ketakutan, penuh kengerian.

Sejak awal, makhluk2 itu hanya menginginkan Jalal. Habi hanya diberi pelajaran. Pak Dukun juga tak dapat berbuat apa-apa. Hari sudah sore ketika Jalal wafat. Baru esoknya ia dimakamkan. Tapi malam hari Ibunya sempat bermimpi. Jalal datang dengan tubuh compang camping. Ia meminta maaf pada ibunya.

“Maafkan Jalal bu, sudah menjadi anak yang nakal. Sering menyusahkan ibu. Sekarang ibu tak perlu lagi susah. Jalal pergi”

Habi masih tak bisa bangun sampai seminggua. Ia masih sering dihantui mimpi2 buruk. Setelah sembuh perunahan karakter Habi terlihat jelas. Ia lebih suka diam dan menyendiri.

Habi sekarang jadi TKI di Malaysia. Peristiwa itu masih tak lekang di ingatannya.

Itulah mengapa kita tak boleh sembarangan. Mau kuburan siapapun. Hargai kepercayaan orang, jangan usil dan jahil. Kita tidak pernah tahu dampaknya bagaimana.

Saya bisa saja menganbil foto pemakaman tersebut. Hanya 5 menit dari rumah. Tapi untuk menghindari hal-hal tak menyenangkan saya urungkan.

Lagipula bagi keluarga Jalal dan Habi, peristiwa itu cukup memalukan. Ibunya merasa gagal mendidik anak. Padahal itu bukan kesalahannya. Tapi kehilangan telah menghancurkannya.

Demikian cerita “Petaka Kuburan Cina”. Semoga dapat diambil hikmah dan mafaat.

Sampai Jumpa di thread selanjutnya.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *