RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pilkades

Kita semua tahu jika pilkades itu punya daya tarik tersendiri. Bahkan ada yang berpendapat jika kesemarakannya melebihi pemilu presiden. Mungkin karena ruang lingkupnya yang lebih sempit, hanya satu desa yang membuat pilkades lebih seru dan lebih panas.  Jika kita menilik dengan mata telanjang, mungkin akan terlihat biasa saja. Pertarungan argumen diantara pasang calon, cara berkampanye, visi misi dan kontroversi adalah pelangi dalam politik.

Namun jika dilihat dari sudut pandang lain, itu akan jelas berbeda. Sudah tiga periode keluarga Pak Cahyo menjabat sebagai kepala desa. 2 periode pertama adalah Pak Cahyo, lalu satu periode kemarin adalah adiknya, Pak Karya. Banyak pro dan kontra selama masa kepemimpinannya, kini Pak Karya berencana mencalonkan kembali. Hingga beberapa hari kemudian, salah satu teman gue yang bernama Joko bertamu ke rumah.

“Nan, udah ada pilihan buat pilkades nanti?” Tanyanya to the point.

Gue menggeleng, “Gue aja gatau siapa aja calonnya.” Kata gue sambil nyengir. “Lagian gue gak peduli.” Lanjut gue. 

“Bantu gue ya, Nan?” Pintanya.

“Bantu ngapain nih?” Gue balik nanya.

“Em, paman gue nyalon nih, lo ikut jadi timses gue ya?” Joko menjelaskan.

Gue mengernyit bingung, “Kenapa harus gue? Gue aja gak punya kapasitas yang mumpuni untuk jadi timses.” Ucap gue jujur. 

“Halah ngerendah mulu.” Kata Joko.

Gue menimang-nimang sebentar, “Yaudah, gue ikut dah.” Kata gue mengiyakan. “By the way, calonnya siapa aja?” Tanya gue.

“Sejauh ini sih baru dua. Pertama itu paman gue yang namanya Pak Rama sama dari pertahanan, si Pak Karya.” Jawabnya. 

Gue cuma manggut-manggut.

“Tolong ya Nan, ikut pilih paman gue ya.” Pintanya sekali lagi sambil memohon.

“Iya-iya gue ikut. Lagipula memang waktunya ganti kades kok.” Jawab gue.

Beberapa hari kemudian, datanglah salah satu utusan dari Pak Karya. 

“Nan, udah ada pilihan?” Tanya orang suruhan pertahana tersebut.

“Emang kenapa, Pak?” Tanya gue.

“Kalo belum gabung kita ya, Nan.” Pintanya.

Namun gue menggeleng, “Sorry udah ada yang duluan ngajak saya, Pak.” Jawab gue menolak. Hari-hari telah berlalu, setelah melewati beberapa kali rapat timses, pos kemenangan dibagi menjadi 5. Gue biasa nongkrong di pos 2, mungkin karena lebih dekat dari rumah dan pos kemenangan itu berada di rumahnya Joko. Suatu malam, mungkin jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Saat itu hanya ada gue dan Joko yang sedang di pos. Tiba-tiba entah dari mana ada yang melempar batu ke arah kami. Suasana yang gelap disekitar rumah membuat kami menerka-nerka jika itu adalah orang yang iseng.  Mungkin di awal-awal hanya sebuah gangguan kecil yang tidak berarti. Itu alasan kita belum berpikiran buruk pada saat itu.

Pernah juga di suatu malam, saat itu sedang ramai pemuda yang nongkrong di pos. Awalnya hanya suara jangkrik dan katak yang saling bersahutan. Tak lama, terdengar suara cewek melengking yang kita ketahui adalah suara mba Dini. Suaranya sangat dekat. Seluruh pemuda di pos 2 berlarian, bahkan mereka semua pergi untuk pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan gue dan Joko yang tersisa berdua disana. 

“Ada yang aneh deh, Nan.” Ungkap Joko setelah keheningan yang lama menyelimuti kami.

“Aneh gimana?” Tanya gue kebingungan.

“Gini deh, gue tahu rumah gue itu berada di pojokkan desa, mepet ke sawah dan tetangga aja bisa dihitung jari.” Jelas Joko. 

Rumah Joko memang berada di pojokkan dan deket sawah, udah gitu masih banyak kebon di sekitar rumahnya.

“Cuma selama kita nongkrong disini, baru kali ini aja kita ngerasa terganggu, kan?” Lanjut Joko.

“Iya.” Gue mengangguk tanda mengiyakan. 

“Nah itu yang buat gue merasa aneh, Nan.” Terkanya. “Pokoknya semenjak kita jadi timses, dan rumah gue jadi pos kemenangan, itu semua menjadi di luar nalar.” Lanjutnya.

“Nanti kita coba tanya Pak Soleh, beliau kan yang lebih tau masalah yang begini.” Ajaknya.  Pak Soleh merupakan seseorang yang paham dengan hal-hal yang berbau begituan. Rumahnya beda kota dengan kami. Beberapa hari kemudian, gue dan Joko sowan ke rumah Pak Soleh.

“Assalamualaikum.” Salam kami berdua.

“Waalaikumsalam.” Jawabnya. 

Akhirnya Joko menceritakan maksud kedatangan kami dan beliau juga bersedia untuk mendengarkan keluhan kami.

“Masalah yang terjadi di rumah Joko itu memang benar, itu adalah kiriman dari mereka untuk sekedar menganggu kalian.” Kata Pak Soleh menjelaskan. 

“Terus gimana, Pak?” Tanya Joko.

“Boleh saya minta foto dari Pak Karyo dan Pak Cahyo?” Pinta Pak Soleh.

Akhirnya Joko memberikan foto mereka berdua lewat ponselnya. Pak Soleh melihat foto itu secara bergantian, dahinya mengkerut, seperti membaca sesuatu.  Tak lama, Pak Soleh bertanya lagi.

“Warga desa kalian banyak yang meninggal secara tidak wajar ya?”

Joko mengangguk, “Iya pak, ada yang tiba-tiba meninggal tanpa sebab, ada yang sakit tapi dokter gatau penyebabnya, ada juga yang meninggal karena kecelakaan.” 

“Tapi anehnya kecelakaannya di satu titik, yaitu tikungan dekat rumah Pak Karyo. Lebih aneh lagi, yang meninggal karena kecelakaan itu pasti warga desa kita, bukan warga desa lain.” Jelas Joko lebih lanjut.

“Kalian tau apa penyebabnya?” Tanya Pak Soleh. 

Gue dan Joko saling berpandangan, akhirnya saling jatuh cinta -eh bukan woi. Author goblog- Gue dan Joko saling berpandangan, seperti mencerna sesuatu.

“Kalo dari kata orang, saya tahu pak.” Ucap Joko ke Pak Soleh. 

“Katanya itu buat tumbal ya, Pak?” Terka Joko.

Pak soleh mengangguk, “Iya, itu kerjaannya mereka yang memelihara makhluk gaib. Dan tumbalnya adalah warga desa.” Jelas Pak Soleh.

“Kalo boleh tau, mereka itu apakah keluarga Pak Karyo?” Tanya Joko. 

Pak Soleh hanya mengangguk.

“Bapak bisa membantu kami?” Pinta Joko kepada Pak Soleh.

“Bisa, tapi untuk saat ini biar saya lihat dulu kekuatan mereka.” Tegas Pak soleh.

Akhirnya setelah itu, kami berpamitan dan dia berpesan agar menemuinya beberapa hari lagi. Hari berlalu, malam itu gue dan Joko sedang nongkrong disebuah warung kopi yang terletak di dekat kantor desa. Tiba-tiba datanglah salah satu teman satu tim main bola kami, sebut saja Eko. Berita yang tersebar adalah Eko merupakan timses dari kubu sebelah. Saat gue sedang ingin menyapanya, Eko malah membuang muka. Bagai orang yang tidak kenal. Akhirnya malam itu gue menyadari satu hal, gue sudah basah dalam berpolitik.

Kadang, teman akan menjadi musuh dan musuh bisa menjadi teman, itulah indahnya politik. Saat gue dan Joko sedang dalam perjalanan pulang ke pos 2, lampu depan motor mati seketika. Sampai saatnya, kami melewati tikungan jalan yang mematikan itu. Dari kejauhan, di dekat pohon pisang dipinggir jalan, ada pocong disana. Dan warnanya merah. 

“Jok, liat disamping pohon pisang.” Ujar gue sambil menunjuk arah itu, takutnya gue halu.

“Astagfirullah.” Joko beristigfar sembari melajukan motor dengan kekuatan penuh.

Sumpah itu pocongnya warna merah men, kain kafannya juga merah. Gue merinding parah pada saat itu. Saat kami sampai di pos 2, ternyata disana ada Pak Soleh.

“Banyak banget ya.” Ucap Pak Soleh sesaat kita menghampiri beliau.

“Wah iya pak, saya juga barusan diliatin pocong merah kok.” Curhat si Joko.

“Oh yang itu ya?” Kata Pak Soleh sambil menunjuk ke arah jalanan. 

Kita balik badan, dan ada pocong merah yang tadi kita lihat.

“Astaga, dia ngikutin pak?” Tanya gue.

Pas Soleh mengangguk, “Iya, cuma dia gak bakal mendekat.” Jelasnya.

Gue dan Joko hanya manggut-manggut tanpa mengalihkan pandangan dari pocong itu. 

“Ada apa pak, tumben ke rumah saya?” Tanya Joko.

“Em, Begini, saya bantuin calon kamu.” Tegasnya.

“Eh, makasih ya pak. Aduh maaf ngerepotin nih.” Kata Joko lagi.

“Iya gapapa, lagian saya diemin, merekanya malah makin menjadi.” Ujar Pak Soleh. 

Akhirnya gue, Joko dan Pak Soleh masuk ke kamar Joko. Soalnya diluar itu ramai, dan Pak Soleh mau cerita sama kita berdua.

“Mereka itu hitam. Mereka memeliharanya untuk mendapat jabatan.” Ucap Pak Soleh. “Dan pocong itu salah satunya.” Lanjutnya. 

“Untuk saat ini, saya bantu dengan doa ya. Saya juga buat pagar gaib untuk rumah ini. Ya walau tidak kuat, setidaknya untuk menghambat mereka agar tidak menganggu.” Jelas Pak Soleh. Namun Pak Soleh menatap gue, seperti ada yang aneh dari gue. 

“Pak, ngelihatinnya jangan gitu ih, serem ah.” Jujur gue. Soalnya dia liat gue serem banget dah.

“Eh engga, kamu menarik.” Ujar Pak Soleh sambil nyengir.

“Saya emang ganteng pak, tapi masih suka cewek kok.”

“Bajingan.” Umpat Pak Soleh disusul tawa kita bertiga. 

Setelah malam itu, memang keadaannya terasa lebih nyaman. Namun itu hanya terasa sewaktu kita berada di pos saja. Kalo udah diluar mah, masih aja serem. Bahkan waktu mendekati 1 bulan sebelum pemilihan, euforianya semakin panas, para calon sibuk mengurusi kampanyenya. Oh iya, saat itu sudah diputuskan hanya ada 2 calon, yaitu Pak Rama dan Pak Karya saja. Setiap malam, gue selalu nongkrong di rumah Joko, walau hanya sekedar ngopi dan bermain game. Suasana rumah Joko memang sepi kalo malam, mungkin hanya kita yang nongkrong disini. Gue sebagai timses juga sering debat dengan timses sana, dan entah mengapa gue selalu menang dalam debat.

Gue dan Joko tahu bahwa banyak yang tidak suka terhadap kami, soalnya para pemuda disana rata-rata mengikuti pilihan kami. Suatu malam Joko jatuh sakit, dia menggigil dan sesak nafas, bahkan susah berjalan. Waktu itu ada gue disana dan akhirnya gue putuskan buat bawa kerumah sakit. Sesampainya disana, dokter mengatakan bahwa si Joko tidak sakit apa-apa, bahkan bisa dibilang sehat. 

“Bener Nan, gue ngerasa engap, gak bisa nafas. Menggigil dan susah jalan.” Keluh si Joko.

“Mereka nyerang elo deh?” Terka gue.

“Bisa jadi, Nan.” Katanya. “Coba deh habis ini kita ke rumah Pak Soleh dah.” Ajaknya. 

Kita sampai dirumah Pak Soleh, lalu dia menghampiri kita.

“Wah kamu kena kiriman ya, hm.” Kata Pak Soleh yakin. “Yaudah habis ini saya obatin ya, cuma siapin barang-barangnya dulu.” Perintah Pak Soleh kepada gue dan salah satu temannya yang sedang berada disana. 

Setelah bahan-bahannya terkumpul, Pak Soleh melakukan ritualnya. Namun tiba-tiba suaranya sangat berisik diluar rumahnya. Seperti banyak orang yang ada disana. Namun ketika gue melihat keluar jendela, gue tidak melihat apa-apa, sepi banget saat itu. 

Bahkan teman Pak Soleh yang bernama Pak Dodi, menghampiri dimana tempat gue berdiri, dia ikutan melihat keluar rumah.

“Astagfirullah.” Ucapnya.

Gue melihat ke Pak Dodi sekilas, “Eh, kenapa pak?” Tanya gue kebingungan, lalu melihat lagi kearah luar dan masih tidak ada apa-apa. 

“Eh engga.” Kata Pak Dodi sambil nyengir.

Pak Soleh menghampiri kita berdua, beliau ikut-ikutan melihat keluar dan tiba-tiba wajahnya terlihat shock.

“Eh kalian kenapa dah?” Tanya gue kebingungan kepada kedua bapak-bapak di depan gue.  Pak Soleh dan Pak Dodi bersamaan memandang gue.

“Kamu tuh gak bisa lihat begituan?” Tanya Pak Soleh.

Gue menggeleng, “Kagak Pak.”

“Saya kira kamu bisa lihat begituan.” Ucap Pak Soleh sambil nyengir. “Kamu mau liat?” Tanyanya kembali. 

“Enggak pak, makasih.” Ucap gue menolak.

“Yaudah, itu Joko udah selesai, nanti waktu hari H saya ke desa kalian.” Titah Pak Soleh.

“Iya siap Pak.” Jawab gue sembari mengacungkan jempol. 

Hari berganti dan sudah mendekati hari H. Jika dilihat dari kacamata ghaib, mereka terus-terusan menyerang kami. Namun bisa ditangkal oleh Pak Soleh. Bukan gue dan Joko saja yang terganggu kok, bahkan beberapa timses yang lain pun merasa terganggu. 

Seperti ini semua memang sudah terencana oleh mereka. Entah motif apa dibalik itu semua. Calon kades kami, Pak Rama pun juga mendapat gangguan, hanya saja beliau mempunyai guru yang mengurusinya. Kondisi Joko akhir-akhir ini masih sama, walau sudah mendingan semenjak di obati oleh Pak Soleh.

Suatu malam, beberapa hari jelang hari pencoblosan, Pak Soleh datang kembali ke rumah Joko.

“Gimana sehatan?” Tanya Pak Soleh kepada Joko. 

“Mendingan Pak.” Jawab Joko.

“Sebenarnya, mereka mengirim buat kamu Nan. Tapi karena kamu ada yang ngelindungin, eh malah kenanya ke si Joko.” Jelas Pak Soleh. “Siapa yang ngelindungin kamu?” Tanya Pak Soleh.

“Allah pak, tuhan kita.” Ucap gue yakin. 

“Lagian jika memang ada yang menjaga saya, saya akan mengelak pak. Saya hanya percaya Allah yang menjaga saya.” Lanjut gue.

Pak Soleh kembali tersenyum, “Bagus. Saya setuju, semua kembali kepada Allah.” Ucap Pak Soleh sembari mengelus bahu gue. 

“Itu yang dulu saya bilang kalau kamu menarik, apalagi pas kamu bilang jika kamu gak bisa melihat yang begituan.” Jelas Pak Soleh.

“Ehm, yaudah nanti pas hari H kamu bantu saya ya.” Ucapnya lagi sambil memberi sebuah kertas berisi potongan surat Al-Quran. 

Saat ini adalah malam hari H. Entah mengapa desa ini lebih sunyi dari biasanya. Gue dan Joko sedang memutar desa untuk serangan Fajar.

“Oit itu apaan?” Tanya Joko sambil menunjuk ke arah kebun. Karena kita melakukan serangan fajar ini dan berjalan lewat kebun warga. Sumpah men, itu ada pocong merah yang malam itu gue liat.

“Anjirlah, itu lontong merah kenapa muncul lagi pas kondisi begini.” Ucap gue. “Gimana nih?” Lanjut gue.

Masalahnya itu pocong ada di depan kita, dimana kita jalan harus lewatin pocong itu. 

“Puter jalan aja, Nan.” Ucap si Joko. “Lewat jalan desa aja.” Sarannya kemudian.

“Mau ketahuan pihak musuh?” Kata gue sambil jitak kepala si Joko.

“Ya gimana lagi, itu lontong persis di depan kita. Kayak gak ada tempat lain aja buat nongol.” Ungkap Joko. 

Tiba-tiba gue teringat sama kertas yang dikasih sama Pak Soleh waktu itu. Akhirnya gue ambil kertas itu yang tersimpan di tas kecil gue.

“Itu apaan dah?” Tanya si Joko kepo.

“Kertas. Waktu itu dikasih Pak Soleh.” Jawab gue kemudian membaca potongan ayat tersebut. Setelah gue membacanya, gue liat lagi ke depan, pocong merah itu udah gak ada.

“Anjir, mujarab nih.” Ujar gue.

Si Joko membuka mata setelah sebelumnya gue suruh buat baca-baca surat pendek.

“Yaudah, lanjut yok, keburu pagi.” Saran si Joko. 

Waktu paginya, seluruh masyarakat berkumpul di lapangan untuk pemilihan, sedang gue dan Joko di belakang panggung.

“Jujur gue ngantuk, tinggal lima watt nih mata gue.” Curhat gue ke Joko mengingat beberapa hari ke belakang gue jarang tidur demi memantau kinerja timses. 

“Eh itu apaan dah?” Tunjuk gue ke salah satu sudut lapangan yang dipenuhi oleh pepohonan.

“Apaan pohon doang.” Kata si Joko.

“Itu item, tinggi besar, berbulu dan ada taringnya.” Kata gue mendeskripsikan apa yang gue lihat. “Apa efek ngantuk ya?” Lanjut gue. 

“Lo kecapean kali, Nan.” Kata Joko.

“Iya kali ya.” Ucap gue sambil mengangguk. Namun tiba-tiba ada tepukan dari belakang kami.

“Itu genderuwo, peliharaan mereka paling kuat.” Kata Pak Soleh tiba-tiba. “Kamu kecapean kayaknya, Nan.” Tanya Pak Soleh ke gue. 

Gue mengangguk, “Iya pak, belum tidur. Udah gitu diliatin lontong merah lagi tadi sebelum subuh.”

Pak Soleh ketawa lalu memegang punggung gue dan entah mengapa rasanya sangat dingin saat itu.

“Saya kasih sedikit tenaga ya.” Ucapnya kemudian. 

Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi dan warga semakin banyak yang berdatangan. Bahkan pencoblosan sudah dimulai.

“Nan.”

Ucapan dari Pak Soleh membuat gue menoleh ke arahnya dan tiba-tiba beliau memegang kepala bagian depan, persis di pelipis mata. Dia memijit bagian pelipis sebentar, lalu beralih ke kelopak mata. Jujur, mata gue berasa kesemutan atau kesetrum gitu.

“Sekarang buka.” Perintah Pak Soleh.

Gue menurutinya untuk membuka mata “Ga ada apa-apa.” Ucap gue.

“Nanti, itu baru DP.” Kata Pak Soleh sambil nyengir. 

“Kita harus ke tempat yang sepi nih, kalo bisa tertutup untuk menetralisir keadaan.” Kata Pak Soleh kemudian.

Gue dan Joko memandang heran, “Buat apa pak?” Tanya Joko.

“Nanti kalian tahu.”

Kemudian kita memilih rumah salah satu warga yang menjadi pendukung kami. 

Rumahnya juga dekat dengan lapangan, bahkan salah satu ruangan rumahnya itu bisa melihat ke arah lapangan. Setelah mendapatkan izin, Pak Soleh menelpon beberapa kawannya untuk datang ke rumah itu. Tentunya lewat pintu belakang agar tidak ada yang tahu. Akhirnya Pak Soleh melakukan gerakan semacam duduk bersila dan dia memanjatkan doa.

Gue, Joko dan Pak Dodi diminta untuk menemaninya disini, sedangkan teman-teman Pak Soleh yang lain menyebar disekitar lapangan. Namun tiba-tiba gue merasa pening. 

“Kenapa, Nan?” Ucap Joko.

“Pusing banget kepala gue.” Ucap gue jujur, namun kemudian Pak Dodi memberikan segelas air putih dan gue meminumnya.

Tiba-tiba Pak Soleh bergerak seperti orang yang kesurupan.

“Eh, kenapa itu?” Tanya gue dan Joko keheranan. 

Kali ini Pak Soleh bergerak seperti memperagakan silat, itu sih kalo yang orang biasa lihat. Tiba-tiba gue ditepuk oleh Pak Dodi, dia memerintahkan gue untuk melihat ke arah lapangan. Guess what?

Gue lihat semuanya, gue lihat apa yang orang lain gak bisa lihat. Gue lihat segala macam persetanan ada disana. Saking banyaknya, gue gak bisa sebutin satu-satu. Intinya mereka berkumpul dilapangan itu. Gue juga lihat Pak Soleh ada disana, tp raganya ada di ruangan ini. Gue cuma bisa melongo melihat pemandangan yg baru pertama kali gue lihat. 

“Heh lo kenapa, Nan?” Tanya Joko.

Gue gak bisa jawab apa-apa selain menunjuk ke arah lapangan.

“Gak ada apa-apa.” Jawab Joko.

“Berarti kamu belum diizinkan untuk melihat mereka, Ko.” Ucap Pak Dodi menjelaskan situasinya. 

Gue lihat mereka bertarung, ada juga harimau disana, mereka menerkam para setan yang ada disana. Ah, gue gak bisa jelasin dah. Intinya, is it real? Itu yang selama ini gue fikirkan sampai sekarang. Kalo nanya kok pagi-pagi ada begituan, gue juga gak bisa jawab anjir. Tiba-tiba rumah ini terasa gaduh, seperti ada angin ribut di dalam ruangan ini.

“Nan, kamu baca yang ada di kertas itu.” Kata Pak Dodi menyuruh gue.

Gue mengikuti perintahnya dan mulai untuk membaca ayat-ayat Al-Quran yang ada disana. Setelah itu suasana semakin mencekam, bahkan gue lihat keluar rumah, sudah ada banyak setan yang sepertinya mengerubungi rumah ini.

“Kenapa pada kesini pak?” Tanya gue ke Pak Dodi.

“Karena sumbernya dari sini.” Ucap Pak Dodi sambil menunjuk Pak Soleh. 

“Mereka ingin langsung menyerbu pusatnya, namun tidak bisa karena ada yang menghalangi.” Lanjut Pak Dodi.

“Wah kalo begini kita kalah dong pak?” Tanya gue polos.

Pak Dodi cuma ketawa, “Lihat saja nanti. Kamu jangan putus doanya.” Sarannya. 

Gue melihat ke arah Joko, namun dia mengendikan bahu, “Gue gak liat, jadi no comment.” Ucapnya.

Pak Soleh tiba-tiba sadar, lalu meminta air putih dan kami memberikan air kepadanya.

“Ko, kamu nyoblos ya, sambil nyari tahu mereka ada dimana.” Perintah Pak Soleh kepada Joko. Akhirnya si Joko pergi dan Pak Soleh menyuruh Pak Dodi untuk memberikan sedikit tenaga kepadanya.

“Kamu sini aja ya, Nan. Buat nyoblos nanti kamu akhiran aja ya.” Pinta Pak Soleh.

“Iya pak, lagian saya gak berani keluar.” Ucap gue jujur dan mereka berdua tertawa. 

Pak Soleh kembali ke posisinya, sedang gue melihat lagi ke arah lapangan. Pertarungan ghaib itu masih terjadi, bahkan lebih memanas. Teman-teman Pak Soleh yang berada dilapangan juga terlihat komat-kamit seperti memanjatkan doa. 

“Nan.” Tiba-tiba sebuah suara yang entah darimana berdendang di telinga.

“Iya saya, Pak Soleh. Saya panggil kamu lewat batin.” Katanya. “Saya minta tolong sama penjaga kamu ya.” Izinnya.

Jujur, gue bingung jawabnya gimana. Sumpah hari ini tuh di luar nalar banget. 

“Iya pak, pinjem aja pak, santuy.” Gue berteriak. Jujur gue gak tau gimana cara balas ngomong ke Pak Solehnya.

Tak lama, suasanya yang gelap dilapangan itu berubah menjadi cerah. Seperti sebelumnya mendung, tapi tiba-tiba cerah gitu. Gue lihat arloji itu sudah hampir jam 11 siang. Eh kok rasanya cepet banget, itu yg gue rasakan. Sehabis itu kepala gue pusing banget dan gue tertidur. Gue terbangun ketika gue rasa ada yang menyentuh dada gue. Pas gue buka mata, ternyata Pak Soleh dan kawan-kawannya. Gue duduk dan diberi segelas air putih. Pas gue lihat jam ternyata sudah pukul 2 siang. Pikiran gue saat itu adalah gue gak nyoblos alias golput. Hidup Golput!

“Eh gimana hasilnya pak?” Tanya gue.

“Belum tau, masih perhitungan suara.” Ucap Pak Soleh. 

“Makasih ya Nan, sudah membantu saya.” Ucap Pak Soleh lagi.

Gue cuma mengangguk, “Saya mah gak bantu pak. Saya bahkan makasih udah diberi kesempatan untuk melihat hal kayak gitu.”

“Semua orang bisa melihat hal itu, tapi dengan taraf yang berbeda.” Ucapnya. 

“Terus gimana sama pertempuran tadi?” Tanya gue kepo.

“Alhamdulillah kita menang secara gaib, tinggal tunggu pemungutan suara aja.” Jelasnya.

Tak lama Joko datang, “Eh udah sadar.” Katanya sambil cengegesan.

“Keluar yuk.” Ajak gue. 

Akhirnya gue, Joko dan Pak Soleh keluar rumah dan berjalan menuju lapangan.

“Inshaallah kita menang, walau hanya berbeda beberapa suara saja.” Ucap Pak Soleh.

Gue dan Joko hanya bisa mengaminkan doanya. “Amin pak, semoga menang.” 

Setelah dua jam akhirnya pemungutan suara itu diumumkan, Pak Rama menang dengan selisih sekitar 90 suara, gue lupa.

“Nan, Joko.” Ucap Pak Soleh kepada kami berdua.

“Iya pak?”

“Gimana perasaan kalian jadi timses?” Tanyanya. 

“Complicated sir. There is secret behind secret, right?” Ucap gue ke Pak Soleh.

Pak Soleh cuma ketawa, bahkan sampai ngakak, gue yang merasa bingung akhirnya bertanya, “Kenapa ketawa pak?”

Pak Soleh nyengir, “Saya gak tahu artinya.” Ucapnya polos. 

Gue nepok jidat sendiri. “Gak seenak yang kita pikirkan pak. Ternyata ada rahasia dibalik rahasia ya dibalik euforia pilkades.” Kata gue jujur.

Pak Soleh tersenyum, “Iya, kalo kita melihat dengan mata biasa mah seru, tapi kalo pake kacamata gaib mah kacau.” 

“Dan hampir di semua pemilihan pasti seperti ini. Tapi bagi mereka yang bisa melihat, pasti ada sesuatu dibalik setiap calon.”

“Dan kita harus bersyukur bahwa calon kita diberi kepercayaan dan semoga dapat diberi kemudahan dalam menjalankan tugasnya.” Lanjut Pak Soleh. 

Akhirnya Pak Soleh izin untuk pergi, sedangkan kita berdua, terutama gue diberi suatu pelajaran tentang hal dibalik pilkades ini. Mata batin gue kembali ditutup oleh Pak Soleh, soalnya gue yang minta. Gue lebih milih gak bisa lihat hal yang begituan. Dan pada akhirnya Pak Rama menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan desa itu maju secara pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Setelah hari pencoblosan, Pak Soleh diperintah untuk mengusir beberapa setan yang sekiranya mengganggu di desa itu. 

Pak Soleh juga berpesan kepada gue, Joko dan Pak Rama untuk tidak mengucilkan keluarga Pak Karya itu. Toh ini semua sudah berlalu. Biarkanlah hanya kita dan beberapa orang yang punya kelebihan yang tahu bahwa hal itu telah terjadi di desanya. 

Akhir kata, seperti biasa, jika ada kesalahan kata, human is tempatnya wrong, kan? Mohon dimaafkan. Selamat malam jumat bagi yang menjalankan.

Salam, Nan. 

Oh iya, ini adalah kisah dari seseorang yang akhirnya gue izin untuk disadurkan. Tapi dengan sudut pandang Nan ya.

Walau ada beberapa bagian juga yang gue alami sendiri dan gue gabungkan dengan cerita itu. Soalnya gue rada lupa dengan detail kisahnya orang tersebut. 

Thread By @NamaGueNan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *