RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pocong Pendak Pahing

Sore itu dayat memandangi langit yang mulai mendung. Dibarengi suara cangkul yang bersautan disampingnya. Dayat mencoba mengatur nafas agar tidak berdetak cepat.

Baju yang dia lepas dan dia gantung dipundaknya menjelaskan bahwa dirinya sangat lelah dan juga ongkep (Kepanasan). 

“Durung mari tah rek, ayo wes ndang didudug. Selak teko engko mayit e.” ucap dayat kepada ketiga temannya yang sedang mencangkul tanah makam.

(Belum selesai kah teman, ayo cepat digali. Nanti mayatnya segera datang.)

Saat itu terdapat salah satu penduduk desa yang meninggal. 

Sebenarnya, sudah beberapa hari mereka menggali tanah satu ke tanah lainnya.

Bukan mau berburuk hati, cuma mereka lebih melaksanakan tugasnya saja. Hal yang penting bagi mereka adalah bayaran.

Ya, karena dibayar mahal saja jadi mereka mau menggali tanah yang bisa berlubang dan 

Tidak muncul keanehan lagi seperti sebelumnya.

Sebenarnya dalam hati mereka merasa bingung saja, mereka mendapati bahwa orang yang meninggal dan akan hendak dikubur tersebut sudah 3 hari lamanya tiada.

Namun, selama itu penggali kubur merasa kesulitan lantaran tidak ada tanah 

Satupun yang mudah digali.

Hal tersebut memang sudah terbiasa mereka alami. Tetapi untuk jangka waktu begitu lamanya. Mereka baru mengalaminya hari ini.

“Yat, koyok e gaiso mudun maneh. Akeh watu. Rompal kabeh iki paculku.” ucap salah satu temannya.

(Yat, sepertinya tidak bisa 

Turun lagi. Banyak batu. Rusak semua ini cangkulku.)

Dayat menghepa nafas yang sangat panjang. Dirinya dan teman-temannya pusing karena sudah seharian ini menggali namun tak menemukan galian yang bagus.

“Biyuhh… Biyuhh.. Sambat iki nyambut gawe. Gak sambat iki kudu mesoh ae.” 

(Haduh.. Haduhh.. Mengeluh ini sedang bekerja, tidak mengeluh ini pengen mengumpat terus)

Teman-temannya mengikuti dayat yang duduk diatas. Mereka melepas lelah dengan berbincang mengenai hal-hal aneh yang sedang terjadi.

Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor yang menghampiri 

Mereka.

“Loh rek, lapo iki kok podo turu-turuan ?! Gurung mari tah makam e ? Piye iki wes jam setengah limo.” ucap dedik yang turun dari sepeda motornya.

(Loh, kenapa ini kok tidur-tiduran ?! Belum selesai kah makamnya ? Bagaimana ini sudah jam setengah lima.)

Dayat memandangi 

“Coro nok kene onok siluman, aku ngongkon demit wae seng dudug. Ra mikir opo, sedinoan kene ora nemu lemah seng tepak haree.” jelas dayat

(Kalau ada siluman disini, aku menyuruh setan saja yang menggali. Gak mikir apa, seharian kita tidak menemukan tanah yang bagus.)

Hening. 

Sembari merapikan peralatannya dayat dan teman-temannya memutuskan untuk tidak lanjut. Bukan tidak mau, namun karena mereka tidak sanggup jika dipaksa untuk meneruskan. Lagipula cuaca saat itu akan turun hujan.

Sementara dayat beberes peralatan, dedik langsung pulang utk segera 

Mengabarkan kejadian tersebut kepada keluarga dirumah duka.

Sesampainya dirumah duka, dedi segera menemui keluarganya. Disana terlihat pak galih beserta keluarga yang sedang susah. Apalagi ibu pak galih yang tertunduk sayu disamping mayat almarhum.

“Assalamualaikum wr wb pak” 

“Waalaikumsalam wr wb. Iya dek dedik. Bagaimana ? Apa sudah siap ?” tanya pak galih.

Dedik mencoba memberanikan diri untuk mengucapkan apa yang terjadi. Wajahnya yang terlihat terpaksa tersenyum sudah disadari oleh pak galih saat itu.

“Apa ada yang mau dek dedik sampaikan ?” 

“Anu, jadi begini mas galih. Ngapunten ingkang agung. Makamnya belum bisa selesai. Ada kendala kecil mas, sepertinya menunggu besok lagi. Penggali juga sudah pulang karena kelelahan.” ucap dedik pelan.

Pak galih hanya menghela nafas panjang. Dirinya sudah tahu apa yg akan.. 

Disampaikan dedik waktu itu, pasti hal yang sama seperti kemaren.

Pak galih hanya bisa menoleh pelan dan merasa kasian kepada ibunya. Sudah 3 hari ini penggali kesusahan mencari tanah yang bisa digali untuk ayahnya.

Jelas terlihat susah sekali wajah ibunya. Semasa hidupnya ayah 

-Nya hanya membuat susah ibunya saja. Pak galih hanya bisa pasrah untuk keadaan itu kepada Allah SWT. Hanya Allah yang dapat memberi jalan keluar saat itu kepada keluarganya.

“Monggo pak (ucapan permisi)” jelas dedik kepada pak galih.

Kemudian pak galih mendekati ibunya. 

“Bu, mboten dahar rumiyen ?” ucap pak galih. (Bu, tidak makan dulu ?)

Ibunya melihat galih dengan tatapan pasrah.

“Apa dedik sudah kesini le (nak) ? Mesakne tenan (Kasian sekali) bapakmu lih.. Kok harus nanggung hal seperti ini ? Ya Allah.” ucap ibunya seraya menangis. 

“Kita punya Allah bu. InsyaAllah pasti dibantu untuk menemukan jalan keluar. InsyaAllah.” ucap galih dengan menepuk halus kedua pundak ibunya.

Haripun berganti. Hingga hari kelima barulah mereka mendapat kabar baik dari penggali kubur.

Penggali kubur masih sama, dayat dan 

Teman-temannya. Dayat semalam sebelum hari itu bermimpi.didatangi lelaki tua agar jenazah dikebumikan ditanah paling ujung sendiri.

Saat dilihat dilokasi ada tanah yang bisa digali dan letaknya paling ujung tak berteman dengan kuburan lainnya.

Dayat dan teman-temannya sangat 

Mudah sekali menggali diarea tersebut. Meskipun wilayah itu lumayan singup.

Akhirnya, selesai menggali temannya yg bernama wanto bertanya kepada dayat “Yat, yo aku ora mikir elek ya. Sedo e pak kamto karo nemune makam e pendak pahing, coba itungen yat. Lak bener toh ?” jelasnya 

(Yat, ya tidak mau berpikir jelek. Meninggalnya pak kamto sama ditemukannya makamnya tiap pahing (nama tanggal pasaran jawa), coba hitungen yat. Benar kan ? )

Dayat menoleh kearah wanto dan melebarkan jarinya

“Pahing, Pon, Wage, Legi, Pah…. Iyo seh. (Benar sih)”. Saut dayat 

“Wes to, gausah dipikir. Ayo ndang di singkrihno disek. Mayit mariki teko.” ucap dayat.

(Sudah to, Tidak perlu dipikir. Ayo cepat bereskan dulu. Jenazah sebentar lagi datang.)

Wanto mendengus.

Mereka merapikan peralatan ke tempat yang agak jauh karena nantinya banyak orang. 

Ternyata benar, jenazah datang dan warga bertingkah agak mencurigakan.

Ternyata, telah terjadi sesuatu yang tidak diketahui dayat dan temannya dirumah duka.

Proses pemakaman berlangsung, dayat mulai risih dengan kedatangan lalat yang banyak sekali. Lalat hijau. 

Serta bau tak sedap yang sangat menyengat saat itu. Dayat memperhatikan jenazah yang dibuka kurung kerandanya.

Warga yang saat itu merasa kaget lantaran jenazah mengeluarkan cairan hitam dari bawah.

Tetapi, hal itu tidak menghalangi mereka untuk segera mungkin mengubur jenazah 

Hari berlalu. Kejadian itu menyisahkan beribu tanda tanya dibenak setiap orang. Maklum, jenazah sampai lima hari dirumah hanya menunggu tanah kuburannya.

Dayat yang saat itu ngopi diwarung sawah sedang mendengarkan kabar tentang penyebab kematian ayah dari pak galih. 

“Yungalah yu, bener. Percoyo o lah nang aku. Pak kamto iki mari medeni wong kampung sebelah. Aku gak goroh, wes tah rungokno ceritoku..” ucap ngatimin yakin.

(Oalah mbak, benar. Percayalah keadaku. Pak kamto ini habis menakuti orang kampung sebelah. Aku tidak bohong, sdhlah dgr 

Ceritaku.

Ngatimin saat itu menceritakan bahwa terdapat salah satu warga desa kampung sebelah yang telah didatangi oleh sosok menyeramkan yang mana sosok tersebut mirip pak kamto.

Sosok itu memperingati bahwa akan datang kepada seluruh warga yg datang ke pemakamannya. 

“Ndi enek, wong mati iki iso kondo ngunu cak… Ya Allah, lucu men riko iki.” saut dayat

(Mana ada, orang meninggal ini bisa bilanh begitu cak… Ya Allah, lucu banget kamu ini.)

Ngatimin hanya memandang dayat dengan serius. “Jajal tak delok, awakmu ditekani ra mariki.” 

(Coba kulihat, kamu didatangi apa tidak sebentar lagi.)

Dayat hanya menggerakkan bibirnya sembari mengejek ngatimin yang berkata diluar logika, baginya.

Dayat membayar kopi yang dipesannya dan kemudian pergi pulang.

“Disik yo ?!”

(Duluan ya)

“Wokeee” saut ngatimin santai. 

Malam hari saat itu terasa sunyi sekali. Dayat bingung mau melakukan apa. Dirinya duduk didepan rumah dan menatap ke langit.

Dirinya kemudian mengingat kejadian yang selama ini dia pendam sendiri.

Hal yang dayat akan ingat selama hidupnya. Tiba-tiba terdengar suara yang.. 

memanggilnya.

“Yat…. Yat… Dayat… Gawat ya..” ucap temannya wanto. Wanto berjalan tergesa-gesa mendekati dayat yang malam itu sedang asyik meminum kopi dan ngelamun.

“Aku wedi yat, pirang dino iki aku gaiso turu. Ono seng ngawasi aku.” ucap wanto

(Aku takut yat, beberapa 

Hari ini aku tidak bisa tidur. Ada yang mengawasi aku.)

Dayat hanya tersenyum ringan sembari menghisap batang rokok yang berada ditangannya.

“Ora usah khawatir to, timbang abot digowo mati.” ucap dayat pelan

(Tidak perlu khawatir to, daripada berat dibawa mati.) 

“Tapi yat, pasti awak dewe bakal celoko. Yakin aku, soale iki uduk perkoro sembarangan.” ucap wanto.

(Tapi yat, pasti kita akan celaka. Yakin aku, soalnya ini bukan perkara yang sembarangan.)

Dayat hanya tetap tersenyum dan menghisap sisa batang rokok ditangannya. 

“Tak enteni teko e.” ucao dayat pelan.

(Aku tunggu kedatangannya.)

Wanto yang saat itu merinding dengan perkataan dayat sungguh tidak habis berpikir dengan ulah dayat yang wanto ketahui.

Wanto menyesal karena memilih diam dan membiarkannya. Awalnya wanto membiarkan karena dia.. 

Juga memiliki perasaan kesal yang akan dia bawa sampai kapanpun. Tetapi, hal itu menjadi sebuah kesalahan terbesarnya saat itu.

Kini dia menyesal dan sangat takut sekali karena sudah 3 hari ini dirinya diganggu oleh sosok yang tak terlihat batang hidungnya.

Hanya suara aneh 

Yang selalu muncul dan terdengar oleh telinga wanto.

Wanto beranjak pulang dan memilih untuk berdiam diri saja dirumah. Dirinya sudah takut bukan main karena hal aneh yang selalu dialaminya.

Dalam pikirannya hanya terbayang saat diringa dan dayat memakamkan jenazah pak kamto 

Ternyata, mereka saat itu melakukan hal yang cukup gila, pasalnya kelakuan mereka sangat berani dan bisa tidak dicurigai oleh warga yang ikut ke pemakaman.

Dayat dan wanto diam-diam telah membuat kesepakatan bahwa mereka tidak akan membuka tali pocong pak kamto saat itu.

… 

..

Wanto merebahkan dirinya diatas kasur. Dia terlihat sangat tertekan sekali. Belum lama dia merebahkan badan. Wanto merasakan pukulan dibawah kasurnya.

Pukulan itu meskipun pelan tp sangat keras sekali. Hingga wanto merasa risih dan menengok apa yang berada dibawah ranjangnya 

Wanto merasa aneh, karena ranjangnya makin tak terkendali saat dirinya menelusuri lebih jauh apa yang berada dibawah.

Wanto mengurungkan niat untuk melihat kebawah ranjang dan mulai ketakutan.

Dia bergegas berlari menuju pintu. Namun, tiba-tiba.. 

Bau busuk yang menyengat muncul kemudian menyerang setiap sudut kamar wanto dan *Braaaakkkkk* pintu tertutup dengan sendirinya.

Wanto terkejut bukan main, hingga dirinya tidak sadar sudah kencing dicelana.

Wanto sadar dan sudah merasakan bahwa sosok tersebut sudah berada di 

Belakangnya.

“Akkkkkkkkghhhh, khakhhhhhhhh !” suara gerangan kecil berhembus dibelakang leher wanto.

Dirinya memilih untuk membuka pintu, memanggil istrinya yang menonton tv diruang depan.

Wanto dengan kencangnya menggedor pintu agar terdengar, namun semua itu mustahil 

Kemudian dia merasakan terdapat tali yang dengan pelan melilit lehernya. Tali itu seperti tali kafan.

Lilitan itu membuat wanto susah sekali bernafas dan menoleh kearah belakang. Namun, betapa terkejutnya wanto ketika melihat sosok pocong denga rupa yang tidak karuan. 

“hmmm (suara tangisan pocong yang khas) tulung…tulung..” suara lirih hampir tak terdengar dari sosok tersebut.

Wanto menyadari siapa sosok yang berada didepannya. Bukan lain adalah arwah kamto. Dirinya meminta pertanggungjawaban untuk wanto membuka tali pocongnya.. 

Wanto mengerang kesakitan karena lilitan tali itu semakin kencang dan kencang. Hingga tamparan keras dan siraman air membangunkannya dari mimpi buruk yang dia alami barusan.

Hal itu membuat wanto bangun dan ketakutan. “Ya Allah. Celoko.. Celoko..” ucap wanto panik. 

(Celoko : Celaka)

Istrinya cuma menghela nafas panjang. Kemudian menepuk pundaknya agar pelan-pelan sadar.

“Mas, samean iki kok mimpi buruk ya beberapa hari ini. Ada apa ? Kalau ada pikiran yang berat. Aku loh mau ngrungokno (dengerin).” ucap istrinya pelan.

Wanto mengelus… 

Dadanya.

Dia kemudian menangis sejadi-jadinya. Wanto menyesal dengan apa yang telah terjadi.

“Aku lek eruh bakalan koyok ngene, emoh aku. Wes cukup. Ra tenang uripku.” ucap wanto kepada istrinya.

…. 

(Aku kalau tahu akan seperti ini, tidak mau aku. Sudah cukup. Tidak tenang hidupku.)

Istrinya hanya kebingungan dengan perkataan wanto yang semakin hari semakin tidak jelas.

Istrinya sudah khawatir karena wanto diam-diam berbicara sendiri didepan cermin atau saat dia sendiri. 

Hari itupun berlalu, cerita mengarah kepada dayat.

Dayat selain tukang gali kubur dia juga berprofesi sebagai pencari belut disawah. Tiap malam dirinya selalu mencari belut disawah dekat kuburan.

Malam itu bertepatan dengan malam rabu pahing. Ternyata, dayat merasakan keanehan 

Dimalam itu. Dirinya merasa aneh saja, karena pada hari pahing sebelumnya dirinya mengalami kejadian yang aneh.

Saat tidur dayat merasa dipeluk oleh seseorang dari belakang. Namun, saat ditoleh tidak ada siapapun kecuali guling yang menemaninya. 

Hal itu dianggap angin berlalu oleh dayat. Namun, dalam sekejap dia tertidur lagi badannya tiba-tiba tidak bisa bergerak seperti tertimba sesuatu.

Ingin bangun namun tidak bisa. Dayat yakin bahwa dirinya sedang mengalami kejadian yabg disebut “Tindihen” katanya kalau tindihen 

Itu ada makhluk halus yang sedang duduk diatas tubuh kita saat tidur.

Untung kejadian itu hanya beberapa menit terjadi. Ternyata kejadian itu membuat dayat mulai sedikit takut.

Dia tidak pernah merasa khawatir seperti ini untuk hal apapun. 

Dayat bergegas untuk mencari belut. Dirinya berjalan kaki menuju sawah tersebut.

Sesampainya disawah, seperti biasa dayat menyetrum belut yang muncul pada genangan air.

Belut muncul saat malam hari, sehingga dayat untuk mencarinya harus menunggu malam.

Dgn dibantu penerangan 

Lampu senter dikepalanya. Dayat lebih tenang karena pandangannya saat itu bisa jelas.

Setengah jam dirinya mencari belum, tersengar suara benda berjalan dirumput. Entah apa itu, dayat berpikir bahwa itu adalah ular.

Namun, suara benda itu dibarengi dengan suara rintihan. 

Suara itu jelas sekali nyata dan terdengar olehnya berkali-kali. Hingga dayat berniat pulang dan berhenti untuk mencari belut.

Dayat merasa sudah tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Dia sedikit berlari saat pulang, tiba-tiba terdapat benda yang menyentuh rambutnya. 

Sentuhan itu memantul diatas kepala dayat. Dayat berhenti sejenak untuk melihat.

Ternyata sebuah pemandangan yang sebelumnya tidak disangka oleh dirinya.

Sesosok pocong yang berdiri melayang diatasnya dan posisi wajahnya menunduk kepadanya membuatnya takut.

Dayat terkejut. 

“Am….pun… Pakkk.. Ngap…ngapp…ngapuntenn.” ucap dayat sambil berlari.

(Ampun pak, mohon maaf.)

Dayat berlari sekencang-kencangnya dan dikejar oleh pocongan tersebut.

Hingga ditengah jalan, dayat mengalami sebuah kejadian yang merubah hidupnya.

Dia tersandung dan terjatuh 

Kepalanya membentur salah satu batu nisan yang dekat dengan jalan.

Kepalanya mengeluarkan darah yang sangat banyak dan kejadian itu berlalu. Hingga pagi harinya, dayat ditemukan warga yg hendak pergi ke sawahnya tergeletak tak bernyawa disana.

Kejadian tersebut membuat wanto 

Jiwanya semakin tidak terkendali. Karena hanya tersisa dirinya yang mengetahui kebenaran yang terjadi.

Wanto semakin tidak kuasa untuk bersembunyi dimanapun yang dia rasa tempat yang aman.

Istrinya menangis karena wanto hampir tiap pahing seperti orang gila. Dirinya seperti 

Sedang dihantui oleh sosok yang istrinya tak mengerti dan melihatnya.

Wanto sedang berada di kamar mandi. Dirinya berusaha menjadi manusia normal tanpa harus dihantui sosok yang selama ini mengganggunya, iya arwah pak kamto yang tidak tenang.

Dia menyiram air ke rambutnya 

Namun, saat dirinya mencoba tenang dengan mandi, wanto melihat kepulan asap yang masuk kedalam genteng.

Asap aneh berwarna hitam pekat, asap itu menggulung pelan dan menutupi kamar mandi tersebut.

Wanto mencoba tenang dan tidak panik. Tetapi dirinya menjadi tidak konsentrasi 

Ketika diatasnya terdapat wajah seram yang mengintip. Wajah berbalut kain yang masih terikat erat diatasnya.

Wanto hampir terjatuh karena sangat terkejut oleh kedatangan pocong pak kamto itu.

Wanto memandangi dengan wajah yang ketakutan. Manakala pocongan tersbut menganga dan 

Memuntahkan cairah busuk dari mulutnya.

Tiba-tiba pocong tersebut mengeluarkan darah yang tembus ke kain yang membalutinya.

Amis anyir, wanto yabg gugup segera mengambil handuk dan berlari keluar.

Dia memanggil istrinya dan menjerit bahwa ada pocongan ysng sedang melihatinya 

Istrinya menghampirinya dan melihat kedalam kamar mandi. Tetapi istri wanto tidak melihat apapun disana.

Wanto kemudian tertawa tak henti-hentinya. Istrinya kemudian bingung apa yang sedang wanto lakukan.

Dirinya semakin tidak waras saja. Wanto bertingkah seperti biasa 

Seperti tidak terjadi apapun barusan. Istrinya semakin bingung hingga suatu hari istri wanto dan keluarga sepakat membawa wanto ke rumah sakit jiwa.

Namun, sebelum dibawa ke rumah sakit jiwa, istrinya penasaran dengan apa yang dialami oleh suaminya.

Dengan wajah yang sedih 

Istrinya bertanya kepada wanto yang sedang tertawa terbahak-bahak tanpa diketahui alasannya.

“Mas, sebentar lagi kita pergi. Sebelumnya aku mau tanya ke mas wanto. Apa ada sesuatu yabg belum mas ceritakan ke aku ? Rahasia mungkin ?!” tanyanya.

Wanto hanya menjawab “Raenek.. 

.. Dibeleh kabeh wes.” ucap wanto (Tidk ada, disembelih semua saja.)

Mendengarkan jawaban wanto yang tidak jelas. Akhirnya istrinya menyebut nama yang membuat wanto kembali terdiam dan ketakutan.

“Pak kamto mas ?”

Wanto terdiam lama dan kemudian menjawab.

“Aku salah.” ucapnya 

“Aku salah, dayat tambah salah. Aku mung loro ati soale dilarani.” ucap wanto sembari menangis.

(Aku salah, dayat lebih salah. Aku hanya sakit hati karena disakiti.)

“Apa salahmu mas ?”

Wanto melihat istrinya tersenyum

“Tali pocong kamto durung tak cepot. (Blm aku lepas.)” 

Setalh kejadian itu, istrinya menemui keluarga pak kamto dan menjelaskan apa yang telah terjadi.

Akhirnya kuburan pak kamto dibongkar dan tali pocong dilepas.

Hingga haripun berlalu.

Istringa yang mengantar wanto kerumah sakit berpamitan kepada wanto yg sedang berdiri di lorong 

Suaminya hanya memandinganya dengan tataoan yang kosong.

Istrinya hanya melepasnya dengan perasaan yang berat. Istrinya menggendong anaknya yang masih kecil dan bergegas untuk pulang. Namun wanto tak berkutik sama sekali.

Wajahnya yang datar dan tatapan yang kosong membuat 

Istrinya semakin tak tega.

Istrinya berjalan jauh pergi.

Sesampainya di pintu keluar, daei kejauhan istrinya ingin melihat wanto untuk mengikhlaskan hatinya agar dirinya membiarkan wanto sendiri disana.

Istrinya menoleh dan suatu pemandangan yang tidak terduga. 

Istrinya hanya bisa menutup mulut dan matanya berlinang air mata.

Perasaan terkejut meronta didadanya.

Dirinya melihat sosok pocong yang menyeringai dengan tatapan tajam kearahnya. Pocongan itu berada persis dibelakang wanto. Ceritapun berakhir.

…. 

Terimakasih, selesai sudah cerita pocong pendak pahing. Terus dukung karya-karyaku.

Terimakssih yang selama ini selalu setia membaca tulisanku, mohon maaf jika selama penulisan terdapat kesamaan nama dan tempat. Aku akhiri

Wassalamualaikum wr wb.

SELESAI. 

Thread By @siskanoviw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *