RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pocong sukowati 1975

Tragedi klasik memang mempunyai tempat tersendiri di hati saya, kali ini, Kisah nyata, di tahun 70an tentang sebuah desa yg diterror hantu Pocong yg “konon katanya” tengah mencari keadilan.    

Katanya sampe sekarang diwaktu tertentu Pocong ini masih menampakkan diri hingga menjadi urban legend di desa ini, Mau tau gimana sejarahnya?

    

Temanggung, sekira pertengahan November 1973,

Sukowati Pemudi 23 tahun, anak tunggal, Ayahnya baru saja meninggal 1 bulan yg lalu, sedang ibunya sudah lebih dulu meninggal ketika Wati umur 8 tahun, tinggalah wati sekarang bersama neneknya     

Dari kecil Bapak & ibu (keluarga) wati memang tinggal bersama neneknya, karena ibu wati juga anak tunggal, jadi wati pastilah cucu satu2nya, walaupun kini wati yatim piatu, tapi wati beruntung masih punya nenek, & wati juga termasuk keluarga yg ber’ada..     

Menurut saksi, Wati adl bunga di desa tersebut, selain cantik wati jg dinilai sebagai pribadi yg cerdas, Ramah, religius & santun, tahun itu wati baru saja lulus SMA, setelah lulus wati bekerja di kantor kelurahan desa tempat ia tinggal     

Sepeninggal ayah & ibunya, wati beberapa kali di lamar oleh pemuda, baik dari tetangga sampai dari kota, orang kaya dan biasa.. Tapi wati selalu menolaknya padahal neneknya semakin menua saat itu, yg berharap ada yg menopang wati ketika nenek nanti tiada..     

Yg orang2 tau, wati punya hubungan dengan Bondan sejak awal SMA, tapi nenek sepertinya tidak setuju, meski bondan anak orang kaya, tapi dia terkenal kasar dan urakan, dia seumuran wati, nenek sudah berulang kali mengingatkan tapi mereka berdua justru*** 

Malah menjalin hubungan dengan diam2, ayah bondan pun sepertinya juga tak setuju kalo anaknya dengan wati berhubungan, “Wes Seje Botoh” kalo istilah jawanya, jadi dulu itu kakek wati dan kakek bondan pernah menjadi lawan politik, sama2 calon lurah, kakek wati menang**** 

Saat itu, tapi kakek bondan yg kalah, merasa dicurangi, dan seakan dendamnya diwariskan ke anak cucunya, itu namannya “Wes seje botoh” sudah bersebrangan lah intinya     

Seperti kebiasaan orang jawa kuno, kalo udah berucap, pantang untuk diingkari begitulah kira2,

Hubungan asmara antara bondan dan watipun semakin menjadi, seiring menuannya nenek, wati sudah mulai kekurangan, karena harus bekerja sendiri menghidupi neneknya yg **** 

Mulai sakit2an, tapi..

Akhir tahun 1974, Bondan justru menikah dengan orang lain, wati sebenarnya tahu soal perjodohan bondan dengan wanita itu, tapi bondan sudah berjanji tidak akan menikah dengan wanita selain wati,     

Bukan masalah itu, tapi konon katanya, “Wati tengah hamil waktu itu”, warga tak pernah melihat wati lagi sejak pernikahan bondan, wati jg tak lagi bekerja, dan beberapa bulan kemudian, di pertengahan tahun 1975**** 

Wati di temukan Gantung diri di kamarnya, jasad wati baru ditemukan setelah 7 hari, karena tetangga yg sedang menjenguk neneknya..

sang tetangga yg mulai bertanya2 kenapa nenek tidak pernah terlihat berjemur di teras seperti biasanya, dan wati yg tak pernah terlihat**** 

Tetanggapun berbasa-basi menengok nenek wati, rumah diketuk tapi tidak ada jawaban, tapi karena dari depan rumah tercium bau busuk, dia urung, mungkin karena takut, dan kembali mengajak beberapa warga untuk masuk     

Pintunya tak terkunci, langsung saja warga masuk, dan menuju kamar nenek wati, disana beliau terbaring di ranjang, saat salah satu warga masuk, sebut saja bu “Santi” nenek Wati seperti ingin terperanjat dari ranjangnya,     

Sambil menggerakkan jemarinya, nenek wati berbicara namun tak jelas, 🙍(bu santi) 👵(nenek wati)

👵: Hmmmmmmhmmm (sambil menggerakan tangannya)

🙍: Pripun mbah, kok mboten nate ketingal, (gimana nek kok gak pernah kelihatan)

👵: hmmmm hmmmm hmmm ( dengan nada yg lebih tinggi) 

🙍: Lha Wati wonten pundi to mbah? (lha wati dimana to nek?)

👵: (Beliau menangis bak anak kecil, sambil menunjuk2 ke arah sebelah.. Yaitu kamar wati,)

Bu santi dengan segera keluar, ternyata warga sedang mencoba membuka kamar wati     

Yg terkunci, bau Busuk menyengat, setelah di dobrak, benar saja Wati gantung diri dengan kain sarung yg di kaitkan ke kayu penopang atap, jasadnya sudah menggelembung mengeluarkan cairan, perutnya seperti orang hamil +/- 6bln, dan …    

Gegerlah satu desa waktu itu, sang Bunga desa tewas Gantung diri, Dan setelah jenazah di makamkan, barulah kejadian2 seram terjadi, desa menjadi mencekam, kebanyakan warga tak berani keluar setelah maghrib     

3 Hari setelah kematian wati, banyak warga yg bersaksi, melihat Pocong yg mereka yakini itu adalah “Sukowati”, salah satunya (“Dedi” 👦) usia belasan tahun waktu itu     

👦: waktu itu 3 hari setelah kematian mbak wati, sekira pertengahan tahun 1975, listrik belum merata di desa sy, kebetulan rumah saya listriknya gabung di rumah pak karwo, jadi 1 meteran listrik di bagi 3 rumah, rumah saya, pak karwo, dan sebelah sy     

👦:Karena watt nya masih minim, kita cuma gabung sampai jam 9 malam, setelah itu ya pakai lampu minyak, jadi kebayang kan pencahayaan di depan jalan rumah saya..? Waktu itu sekira jam 12 malam, saya terbangun karena ingin buang air besar     

👦:Sebenarnya Saya tidak berani keluar, tapi sudah sy tahan sekuat tenaga, hasrat itu tetap tak bisa lagi di bendung, padahal dulu tidak semua rumah punya jamban, saya harus jalan kira2 50m menuju “MCK” di pinggir desa     

👦: Karena sudah di ujung tanduk, akhirnya mau tak mau sy harus keluar menuju jamban, sambil membawa senter & setengah berlari saya berjalan menuju jamban, sampai di sana ternyata ada Pak Sulam, tetangga saya..     

👦: rasa takut sy sedikit berkurang, kitapun jongkok saling membelakangi, Jadi jambanya ada 3 deret , saya di pojok tengah kosong dan pak sulam di pojok jg, penutupnya jg cuma sampai pinggul kalo kita jongkok, dan itu tak beratap, pokoknya khas jamban2 umum di desa lah*** 

👦: Pak Sulam diam saja, cuma terdengar suara hisapan rokok klembak kemenyannya yg menyengat, saya mencoba ngobrol dengan pak sulam,

“Wah njenengan kok wanen temen kang” (wah anda kok berani sekali pak)

👴Pak sulam menjawab “Wedi opo??”(takut apa?) *** 

👦: Mbak wati kui lho kang, (Mbak wati itu lho pak)

👴: …………. Pak sulam tidak menjawab…

Pas saya nengok, ternyata tidak ada siapa2, saya takut sekali, sampe lupa waktu itu apakah saya sempat cebok apa belum, saya langsung berlari menuju rumah     

👦:Tuluuuungggg!!!! Saya teriak kencang.. Sampe depan rumah saya terpeleset jatuh, dan diremang2 saat sy mencoba berdiri, saya melihat sosok putih di depan rumah tetangga sebelah saya, awalnya saya kira karung beras, tapi kok bergerak2 menghantami pintu,     

👦: saya raih senter di samping, pas saya soroti, ternyata Pocong kalo menurut saya, tapi posisinya setengah sujud, dan kepalanya di hentak-hentakan ke pintu rumah tetangga saya “Bruk..brukk..brukk”     

👦: saya langsung spontan berdiri masuk kerumah, dan masuk ke kamar, pikiran sangat kacau, seperti mimpi, saya hidupkan 5 lampu minyak di kamar biar suasana sedikit terang, dan saya tertelungkup di ranjang dengan menutup slimut     

👦:”BRUK..BRUKK..BRUKK!!” suara hentakan itu masih ada, tapi kelihatannya masih di rumah tetangga, sampe beberapa saat kemudian suara itu mulai semakin jelas !!!! Semakin keras..”DUG..DUGG..DUGG”     

👦:Sepertinya yg diketuk sekarang adalah pintu rumah saya..

“DUG…DUG..DUG..” dan ada suara hmmmmmmmm…hmmmmmm.. Seperti orang yg di bungkam mulut nya.. Suara itu bertahan 10menit mungkin dan kemudian pindah ke sebelah..     

👦:Keesokan harinya semua warga geger, mereka bersaksi pintu rumahnya di ketuk oleh sosok Pocong yg di duga Mbak Sukowati…

Masih ingat kan nenek wati yg sedang sakit? Nah selang 40 hari kematian wati, sang nenek sehat bugar, bahkan sudah bisa sedikit jalan2, bicaranyapun mulai agak lancar..     

Sepeninggal wati, nenek di urus keperluannya oleh warga sekitar, karena dulunya beliau juga orang yg dermawan dan baik, warga iba, dan mencoba membalas kebaikannya dengan saling bekerjasama mengurus keperluan beliau,     

Singkat cerita, di suatu sore, sekitar pukul 17.00, nenek berjalan tergopoh-gopoh menggunakan tongkatnya, berjalan menghampiri kerumunan warga yg sedang ngobrol-ngobrol di depan mushola     

Wonten nopo mbah?(ada apa nek?) sahut salah satu warga..

“Wati bali, nggowo bayi” (wati pulang, bawa bayi) kata nenek, warga kebingungan dong..

Wati sinten mbah?(wati siapa nek?)

“Sukowati!!!” putuku!!(Sukowati!! Cucuku!!) dengan nada meninggi     

“Njo tiliki nek ra ngandel!!”(ayo lihat, kalo tidak percaya) kata nenek lagi, berkerumunlah warga yg penasaran, bersama2 membuktikan omongan nenek, dan setelah dilihat memang tidak ada siapa2 di situ, Tapi warga tetap bergidik ngeri, pasalnya nenek ngotot sekali     

Bahwa Cucunya yg mati bunuh diri itu, kembali pulang kerumah dengan membawa bayi sore itu, sebagian warga juga menganggap mungkin nenek saking kangennya dengan cucunya sampe berhalusinasi seperti itu     

Sampe beberapa hari kemudian, mas sarjono, sesuai dengan namanya beliau adalah sarjana, pendidikannya tinggi, dan beliau adalah orang yg paling tidak percaya dengan hal2 mistis, beliau juga yg getol bilang kalo si nenek sudah pikun dan gila sehingga berhalusinasi     

Kejadiannya sore hari, hampir magrib, mas sarjono pulang dari desa sebelah, naik sepeda ontelnya, di jalan desa yg waktu itu sepi, mas sarjono melihat wanita dari kejauhan berjalan di depannya, pakaiannya dress batik, dgn slendang seperti sedang menggendong bayi     

Semakin mendekat, seperti bau anyir, dan dari belakang jarak kira2 5m, ada yg janggal, jadi pakaian area pantat wanita tersebut seperti basah, namun merah, seperti darah.. Dengan kaget mas sarjono menghentikan sepedanya,     

Sesaat, sosok itu berhenti berjalan, dan membalikkan badannya, sambil terus tersenyum jahat, sosok itu berbicara sekali “MASSSS!!!!” dan berjalan mundur cepat sekali.. Dan menghilang di kabut ujung desa.., mas sarjono berlari meninggalkan sepedanya     

Setelah bertemu warga, mas sarjono bersumpah bahwa yg dilihay itu adalah “Sukowati” dia hafal dengan tahi lalat di bawah matanya, kejadian itu sangat cepat.. Dan merubah cara berfikir mas sarjono dari tidak percaya menjadi sangat percaya     

Kembali ke “Nenek”,

Setiap beberapa hari sekali, warga bilang kalo nenek sering kali menghampiri warga di sore hari.. Dan kembali bersaksi kalo “Sukowati pulang ke rumah dengan membawa bayi” duduk di kamarnya     

Nenek bersaksi bahwa sukowati pulang itu, terus berulang-ulang hingga nenek menghembuskan nafas terakhirnya

Setahun terakhir banyak warga yg bersaksi melihat sosok yg diduga arwah dari Sukowati, ada yg berbentuk pocong, ada pula yg melihat dengan bentuk wanita berpakaian dress batik sambil menggendong bayi, tapi selain itu ada yg terlupakan….     

Yaitu “Bondan”, mantan kekasih sukowati yg diduga menjadi penyebab Sukowati bunuh diri, lantaran menikah dengan wanita lain.. Usia pernikahan bondan dengan wanita itu justru tak bertahan lama, terlebih setelah wati bunuh diri     

Sukowati bunuh diri hanya selang beberapa bulan saja setelah bondan menikah.. Setelah kejadian itu ternyata terjadi hal-hal aneh terhadap bondan, bondan mendadak stress dan suka mengamuk alhasil istrinyapun menceraikannya ***    

Dengan usia pernikahan yg tidak sampai setahun, dalam masa gilannya banyak warga yg sering melihat bondan berbicara sendiri di makam sukowati, kadang menangis, tubuhnya yg gagah menjadi kurus kering, keluarganya sudah mencoba berbagai cara     

Untuk mengobatinya, dari RSJ, sampai dibawa ke orang pintar, tapi tetap tidak ada perkembangan, pernah di malam hari, bondan berlari keliling desa, sambil berteriak “WATI!!!!! WATI!!!! AKU MELU!!!” (wati!!!..wati!!!…aku ikut)     

Pak Narso (nara sumber cerita ini) pernah melihat Bondan duduk di depan makam sukowati, bondan menggaruk kepalannya, sampai berdarah, mungkin sampai kulit kepalanya mengelupas, sambil tertawa terbahak-bahak,     

Bahkan pernah disiang hari, di jamban umum, lagi banyak warga nih, nah si bondan ini buang air besar, tapi kotorannya di tadah dengan tangannya sendiri dan dimakan..     

Entah apa penyebab bondan menjadi gila, tapi warga meyakini itu karena kesalahannya dengan Sukowati, bisa saja karena dia terlalu merasa bersalah karena bunuh dirinya Sukowati,     

Di tahun 1975 kegilaan bondan ini semakin menjadi-jadi, dan meresahkan juga, karena keluarganya mungkin malu bondan sempat juga di pasung kurang lebih 1,5 tahun, baru di tahun2 berikutnya bondan di biarkan berbaur,     

Tapi penyebab pasti kegilaan bondan ini beluk bisa dibuktikan, walau warga meyakini itu karena karma sukowati, Bondan tidak pernah benar-benar sembuh, dia tetap ling-lung sampai akhir hayatnya, Bondan meninggal di antara usia 64-65an di tahun 2004an     

Tapi dengan cara “GANTUNG DIRI”

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *