RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pring Mentelung

Pernahkah kalian mendengar atau tidak asing dengan kata pring mentelung? Ada apa sebenarnya? Dan bagaimana kisah itu? Pembaca sekalian, saya ingin menceritakan kisahnya, lets get started! 

Pring mentelung, adalah fenomena ghaib dimana tidak ada faktor cuaca apapun, bambu tersebut tiba tiba merunduk hingga tanah, kisah yang saat populer di tanah jawa.

Kali ini saya akan menceritakan tepatnya di tempat dimana saya dilahirkan. So…monggo mlebet ,ngati ati nggih 

Jadi ceritanya diambil tahun 90 an, tepatnya tahun 95, ini kisah dari pakde saya yang mengalami kejadian tersebut selama 3x dalam tahun itu.

Langsung saja …

Saat itu hujan deras mengguyur desa, tepat pada malam hari sekitar pukul jam 9 malam, Sunaryo berangkat menuju ke klinik dimana istrinya Erna dirawat karena akan melahirkan. Dia sudah siap dengan sepeda motor tuanya dan mantel kelelawarnya. Suasana saat itu tidak seperti biasanya, karena selain hujan deras disertai beberapa kali sambaran petir, malam itu juga mati listrik di desa itu. 

Sunaryo memang orang yang cuek dengan hal seperti itu. Ditambah kali ini ada hal yang harus ia prioritaskan ketimbang memikirkan cuaca saat itu. Mantel pun sudah dipakai, dan kemudian ia mulai melajukan sepeda tuanya melewati derasnya hujan dan sesekali sambaran petir yang seperti sedang menggunakan flash kamera. Sunaryo saat itu tidak berfikir aneh aneh sehingga dia memilih jalur kidul (jalur selatan) karena memotong jalan dan menghemat waktu kurang lebih 15 menit dari jalan yang biasanya. Hanya saja jika lewat jalan itu selain berlumpur, juga hampir tidak ada rumah warga, karena memang lokasi di sawah dan sumber air serta ladang warga.

“Ah yang penting cepat sampai” pikirnya kemudian memutuskan untuk memilih jalan kidul itu. Diperjalanan sesekali Sunaryo mengelap kaca helm fullface hitam polosnya dengan tangan. 

Sesekali sunaryo mengubah lampu sepeda motornya menjadi lampu jarak jauh untuk sekedar melihat jalanan yang becek karena terkena air hujan.

Ckkkkkiiittttt!!!!!!!!!!!

Sunaryo tiba tiba mengerem hingga ia terguling dari sepeda motornya, hal itu bukan tanpa alasan , 

“Ya Gustii……” ucapnya tatkala melihat ada satu dari sekian bambu yang bergerak melengkung ke bagian jalan yang seolah menghalangi Sunaryo untuk lewat.

Baru pertama kali itu sunaryo melihat, bambu seperti sedang dinaiki oleh sesuatu tapi tidak terlihat. Sunaryo memberanikan diri kemudian membangunkan sepeda motornya yang sebagian sudah bercampur dengan tanah liat akibat hujan. Bambu itu masih tetap ditempat itu, sunaryo pun mendekati setelah mestandardkan sepedanya. Ia melihat di area bambu, matanya melihat dari bawah hingga atas. 

Sraaaakkkkk!!!!!!!

Tiba tiba bambu itu melesat lagi ke atas dengan cepat, hingga Sunaryo pun melangkah mundur karena hempasan dari bambu tersebut. Kemudian sunaryo sudah mulai tak mau tau lagi urusan itu, dia mencoba meraih ke motornya dan kemudian bergerak melalui bambu itu… 

“Haah???!!” batin Sunaryo saat sepedanya seperti terjerembab oleh sesuatu sesaat setelah melewati bambu itu.

“Ada apa ini!” ucap sunaryo, tapi ia tak berani untuk menoleh ke belakang, apapun yang terjadi , perasaannya melarang ia menoleh ke belakang. Sunaryo mengiyakan itu 

Ia hanya menancap gas, sambil mengucapkan beberapa doa doa yang terlintas di kepalanya.

“Saya hanya lewat, saya tidak ada maksud mengganggu jadi jangan ganggu saya” batinnya disusul oleh beberapa doa doa yang ia hafal…

Beberapa belas detik sambil mengegas tiba tiba, motornya pun bisa jalan, seketika Sunaryo menancap gas kencang- kencang.

Sudah berjarak lebih dari 50meter tapi kaca spion sunaryo masih menghadap bawah, ia ragu untuk menghadapkan ke belakang, takut takut nanti seperti hal hal jelek yang ada difikirannya malam itu. Hati dan perasaan sunaryo yang tadi kalang kabut, sekarang sudah mulai mereda karena setelah melewati jalan kidul tersebut, sampailah ia di tembusan jalan utama.

“Alhamdulillah” ujarnya dalam hati, selain rasa tenang, hujan juga sudah mulai reda ditambah lampu lampu yang sudah bersinar ditiap tiap rumah, hanya saja celana sunaryo bekas tanah liat serta motornya amat sangat kotor, akan tetapi itu tidak dipermasalahkan agar tetap sampai. Dalam perjalanan Sunaryo samar samar mendengar suara tabuhan gamelan, yang tidak asing didengar ketika ada acara mantenan (nikahan)

“Siapa yang nikahan? Bukan musimnya sepertinya” batin sunaryo sambil terus menancap gasnya dalam kecepatan konstan 40-50km/jam

Yang membuatnya lebih aneh adalah suaranya yang menurut sunaryo berpindah pindah dari satu sisi ke sisi lain tetapi musiknya masih sama dan seakan akan bersahut sahutan.

Setibanya di depan Klinik,

“Pak nar!”

Sapa seseorang dari seberang jalan dengan payung biru gelapnya. Sunaryo hanya menoleh sekilas kemudian langsung menuju tempat parkir yang ada di belakang klinik. Sunaryo bergegas menuju ke depan klinik dimana disitu ada pos jaga dan kamar mandi, ia hendak berganti celana yang sudah ia bawa dari rumah.

“Pak nar?! Kok kek habis jatuh?” tanya orang yang membawa payung tersebut sambil mendekati Sunaryo

“Iyo mas Di, kepleset tadi….licin” 

Ucap sunaryo, sebenarnya sunaryo ingin menceritakan kejadian aneh yang ia alami tetapi niat itu diurungkan karena sunaryo memilih untuk melupakan dan dianggap fenomena alam saja. Singkat cerita Sunaryo pun berganti celana dan mengobrol di pos satpam dengan Rudi.

“Beh sek yo” 

Ucap sunaryo kemudian langsung menuju ke ruangan istrinya.

Ternyata istrinya belum mengalami tanda tanda akan melahirkan, dan disana sudah ada keluarga dari sang istri yang menunggu. Sunaryo pun ijin keluar ke pos satpam.

“Gimana mas?” tanya Rudi

“Ah sek belum, masih buka 3” 

Jawab Sunaryo

Kemudian mereka duduk di pos satpam sambil menghisap rokok ditemani dengan rintik hujan dan suara radio yang tidak begitu jernih.

“Sampeyan lewat mana kok sampai kepleset?” tanya Rudi menatap ke arah Sunaryo

“Lewat dalan Kidul mas aku”

“Wih gak takut?” 

“Eh tapi yo gak takut sih, kan gak sendirian to ya”

“Maksudnya mas? …” tanya sunaryo penasaran

“Lha mau sampeyan bonceng wanita, seperti adiknya Erna, cuma rambutnya di kuncir” jawab Rudi sambil menghisap rokoknya

“Jangan nakutin mas, saya dari awal sampai disini sendirian mas 

Ucap sunaryo serius.

Mereka berdua saling memandang satu sama lain, memastikan salah satu diantara mereka tidak berbohong.

“Sumpah mas aku tadi lihat berdua lo sampeyan” ucap Rudi serius

“Aku sendirian mas, ga ada siapa siapa” bantah Sunaryo dan kemudian sunaryo menceritakan kejadian yang ia alami tadi sebelum sampai di klinik dan alasan sebenarnya kenapa celananya kotor. Rudi pun awalnya meragukan cerita Sunaryo, tetapi setelah melihat ekspresi Sunaryo serius dan agak ketakutan, barulah Rudi percaya 100% dengan apa yang Sunaryo ceritakan. 

“Jabangbayik…!! Berarti yang aku lihat tadi hantu???” tanya Rudi kaget

“Ya apa lagi????” balas Sunaryo

“Eh tapi disekitar sini ada orang hajatan kah?” imbuh Sunaryo sambil menuang kopi ke cangkirnya

“Heh? Sak eruhku gaonok i mas…ada apa?”

“Ah gapapa, cuma bertanya kok” 

Sunaryo berusaha memutar ingatannya kembali , dan dapat sunaryo pastikan suara yang ia dengar bukanlah imajinasinya saja.

“Mas, gak pengen lihat ke belakang? Aku penasaran sama yang kamu bonceng” ajak Rudi yang seketika ditolak oleh Sunaryo

“Halah di, gausah aneh aneh, 

Kita ini gak menganggu, weslah lupakan..anggap saja tidak ada kejadian itu”

“Biasanya kalo pring mentelung yaa yang bikin kalo ga pocong yaa kuntilanak” imbuh Sunaryo kemudian beranjak dari tempat duduknya

“Aku mau ke dalam, nunggu Erna”

Kemudian Sunaryo pun masuk ke dalam. 

“Loh le, mana air hangatnya?” tanya ibuknya Erna sesaat setelah Eko masuk ke kamar Erna

“Air apa ya buk?” sunaryo bertanya balik sembari mendekati mereka

“Loh tadi kan tak suruh ambilin air anget, kamu diam aja terus malah keluar” jawab Ibu Erna sedangkan Bapak sedang tertidur dengan alas tikar

“Kapan buk? Saya habis tadi keluar baru balik barusan” ucap sunaryo yang membuat ekspresi ibuknya Erna yaitu Marni terkejut sekaligus tidak percaya.

“Lha gek mosok?! Terus tadi siapa?!” tanya Marni serius

“Ya saya tidak tau buk, sumpah”, jawab Sunaryo 

Mereka hening sejenak, mencoba menalar semua kejadian dari awal, bahkan akhirnya Sunaryo menceritakan soal pring mentelung.

“Astaga le?! Kamu tadi dihadang begituan?!” tanya Marni kaget

“Iya buk, sampai tergelincir motorku, terus saat bambunya kembali tegak aku lewat buk” 

“Kenapa gak muter aja le? Lewat jalan biasanya?”

“Awalnya saya pikir lewat situ itu lebih cepat, toh bambunya sudah gak menghalangi” sanggah Sunaryo

Marni pun menghembuskan nafas panjang.

“Wes gini le, kamu sekarang pulang, lewati tempat tadi, sebelum itu jok dibelakang kamu 

Ketok 3x, setelah sampai sana kamu berjalan mundur dari kamu seperti tidak bisa bergerak hingga sampai dimana kamu dihadang”

“Lha kenapa buk?!”

“Awakmu saiki diikuti!” jawab Marni yang sekejap membuat bulu kuduk Sunaryo berdiri

“Orang jaman dulu begitu kalo berurusan dengan Pring mentelung” imbuhnya

Sunaryo pun terdiam sejenak, mengumpulkan niat kemudian berpamitan untuk menuruti apa kata ibu mertuanya itu.

“Arep nandi mas?!” tanya Rudi yang tau Sunaryo pergi ke parkiran belakang

Rudi pun menghampiri Sunaryo yang berjalan melewati selasar gelap 

“Mau kemana?”

“Ah ini lo mau pulang aku…” jawab Sunaryo

“Lha kenapa?”

Sunaryo tak menjawab dan langsung berlalu, kemudian Rudi pun menepuk pundaknya.

Sunaryo berhenti kemudian terdiam

“Ada apa?” tanya sunaryo

“Kok ada sesuatu yang disembunyikan”

Kemudian Sunaryo berbalik badan menghadap Rudi, Tampak wajah sunaryo sedang menyeringai melihat Rudi

“Arek tadi cantik gak?!” tanya Sunaryo tiba tiba

“Cantik ??? Mana…kan itu……”

Ucap Rudi terpotong tatkala mendengar suara Sunaryo yang lain di belakang Rudi

“Di..napo di situ?!” tanya 

Sunaryo dan menghampiri Rudi.

Rudi reflek melihat ke arah sumber suara, dan benar saja itu memang sunaryo. Sekejap Rudi menoleh ke orang yang mirip sunaryo tetapi tidak ada tanda tanda apapun disana.

“Loh mas..kok….” ucap Rudi terbata bata

“Lah kenapa?..ngapain?” tanya Sunaryo penasaran melihat tingkah Rudi. Singkat cerita Rudi pun menjelaskan apa yang barusan ia alami. Rudi pun juga ketakutan dan meminta Sunaryo untuk mengantarkan ke pos satpam.

“Demit itu suka kalo ada yang ngomongin mereka…kamu sih..jadi digodain kan” tegur Sunaryo 

“Aku ya gak ngira sampe membo membo jadi sampeyan mas…ngeri ..kebayang pas senyum” sesal Rudi

“Yaudah aku ambil motor, mau balik ke tkp”, ucapnya

“Loh? Ada agenda apa mas?”

“Nganterin pulang yang dari tadi ngikutin aku dari awal” ucap Sunaryo kemudian berlalu meninggalkan Rudi dengan teko Kopinya. Beberapa menit kemudian sunaryo terlihat membawa motor lamanya itu lengkap dengan helm menuju ke Pos satpam.

“Aku balik sek ya, nanti balik lagi” ucap Sunaryo

“Ati ati mas” jawab Rudi sambil melihat rubrik di koran hingga tiba tiba matanya tertuju 

Pada sumber suara yang bilang

“Aku pulang dulu ya mas xixixixi” ucapan itu terdengar lirih, lembut dan jelas.

Sontak membuat Rudi melihat ke arah Sunaryo yang sudah berada lumayan jauh dengan pos satpam, dan Rudi melihat ada satu orang lagi…orang yang sama sedang dibonceng. 

Rudi hanya melihat dari pos satpam ketika sosok itu diam dibonceng lengkap dengan baju batiknya yang secara sekejap berubah warna menjadi Putih dengan bekas kotoran tanah di sekujur badan itu.

“Astahghfirullah!!!….” Ucap Rudi ketika melihat sesosok itu memutar kepalanya hingga 180 derajat dan menjauh mengikuti laju motor tua Sunaryo.

“Duuhh hawanya kok dinginnn” batin Sunaryo yang merasakan hawa saat itu begitu dingin, melebihi cuaca saat hujan tadi.

Sesampainya di tempat kejadian segera ia memarkirkan sepeda motornya dan sesuai perintah mertuanya. Tak ada cahaya apapun saat itu, sunaryo hanya mengandalkan seberkas cahaya dari bulan yang samar samar tertutup awan. Sunaryo mulai berdiri tepat dimana motornya tadi berhenti walau sudah di gas dengan kecepatan yang lumayan.

“Jadi aku harus berbalik seperti ini” Batin Sunaryo 

Sesaat setelah berbalik dan mengambil langkah pertama mundur, badannya terasa berat.

“Kok berat astaga…rasanya kaya ngangkat Gabah” batinnya sambil terus melangkah ke belakang.

“Badhe ngulehne aku to maaassss……” (mau mulangkan aku kah masssss…..) Suara itu tepat 

Terdengar di belakang telinga sunaryo. Pelan, seperti berbisik tetapi sangat jelas kata katanya.

Sunaryo terdiam, selain berat, badannya mulai mengeluarkan keringat dingin, dia tak berani menjawab ataupun menoleh ke belakang. Yang pasti dia harus melakukan hal yang diperintah mertuanya. Tiba tiba yang tadinya sepi, muncul kedua tangan, awalnya samar, perlahan namun pasti bentuknya semakin solid dan jelas, tangan pucat dengan kuku yang panjang dan hitam, sedang menyandar di kedua bahu Sunaryo.

Tangan itu dibentangkan ke depan dan jari jemarinya bergerak-gerak seolah sedang menari. Terilhat ujung kuku yang tajam tajam berwarna hitam itu.

“Mboten Nari kalih kulo mawon mas teng mriki???!” (tidak menari saja sama saya disini mas?) suara itu terasa dekat ,bahkan terasa menempel di bagian telinga dan leher belakang Sunaryo. Sunaryo hanya terus berjalan mundur, dan mundur hingga melewati tepat dibawah bambu yang tadi menghadang Sunaryo.

Mata sunaryo hanya fokus didepan, walaupun masih terlihat dengan jelas kedua tangan itu sedang menari tepat di depannya. Hingga muncul suara yang tak asing di telinga Sunaryo, suara Gamelan yang saling sahut bersahutan.

Perasaan Sunaryo makin tak karuan ketika merasakan perjalanan mundurnya sepertinya jauh, tapi ia tak berani memastikan dengan menatap di belakangnya. Ia hanya melihat kedepan, dengan sesekali memejamkan matanya. 

Dada Sunaryo semakin sesak, ia merasakan sangat penuh sesak disana , seperti saat ia berada di kereta menuju ke Kota Istrinya dulu, akan tetapi saat membuka mata tidak ada apapun, hanya Sunaryo dan tangan yang terus menari mengikuti irama gamelan.

Terdengar juga suara suara misterius, seperti orang orang berbisik, dan suara seperti orang yang menertawaakan sesuatu. Pikiran Sunaryo mulai kacau saat itu. Ia ingin agar semuanya cepat berlalu, ingin rasanya ia kabur saja karena memang yang ada tinggal rasa ketakutan yang menyelimutinya.

Sunaryo merasa tangan yang menari nari itu semakin dekat di wajahnya … Membelai lembut pipi sunaryo dengan ujung kukunya yang runcing. Suara bisikan terdengar jelas ditelinga Sunaryo, akan tetapi ia tidak tau bahasa apa yang digunakan.

“Hihihihi….mboten melu aku mas?” (hihihi tidak ikutan aku mas?) tanya sosok itu dari belakang dengan tangannya meraba raba muka Sunaryo, ia hanya diam dan terus berjalan

Hingga tiba tiba terdengar suara gaduh dari sesuatu seperti suara manusia tertawa, menjerit, menangis dan sebagainya. Dan tiba tiba hening seketika, hanya suara Jangkrik dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan.

“Hah….?” batin Sunaryo yang tidak terasa ia sudah ada di tempat dimana ia tergelincir.

Matanya menyapu ke semua arah di area situ tapi ia tak melihat apapun, dan tak mendengar suara suara apapun lagi setelah itu. Ia mulai mengambil motornya dan dihidupkannya. Bodohnya bagi Sunaryo, ia reflek membetulkan kaca spion sehingga memantulkan apa yang ada di belakangnya.

“Janc*****!!!” teriak Sunaryo sambil mengegas pol motornya menjauhi area tersebut.

Menurut Sunaryo, ia melihat ada sosok besar bungkuk seperti kura kura, dengan mata yang belo merah dan di sampingnya ada rambut panjang hingga menyapu tanah memakai baju lusuh putih, sedangkan yang lainnya berukuran seperti orang normal. Hanya saja matanya merah semua bulat sempurna akan tetapi berwarna gelap tubuhnya. Singkat cerita sunaryo kembali ke desanya dan lebih memilih memutar jauh untuk menghindari jalan Kidul itu.

(Fyi : nanti kalo ada waktu luang, saya akan fotoin tempat kejadian perkaranya, tapi mungkin sudah ada yang berubah ,karena memang dulu jalan di desa saya belum di aspal, terakhir di TKP itu sudah di cor, untuk bambunya aku juga ga begitu fokus …jadi nanti saya akan kirim fotonya jadi satu thread disini).

Semenjak malam itu Di desa saya terdapat Urban legend tentang pring mentelung dan satu lagi lupa istilahnya , pokoknya ketika hujan deras maka akan banyak bunyi gamelan lengkap dengan gong nya saling bersaut sautan. Dan ketika dihampiri suaranya berpindah pindah. (Sumpah aku lupa namanya , besok kutanyain sama ibuk dulu lah wkwkwkwk).

Nah untuk Sunaryo, dari dulu memang beliau terkenal tatag alias berani, apalagi urusan gitu gituan walaupun sebenarnya ia sendiri juga takut kalau kelihatan wujudnya. Pengalamannya yang dibagikan ke saya saat ini hanya sebatas diatas itu saja , waktu saya sedang makan di warung mie ayamnya.

Kata beliau kejadian itu gak berbuntut kemana-mana 

“Murni ganggu saya mungkin cheng(nama samaran)” begitu kata beliau

Anak dan keluarganya Alhamdulillah sehat semua hingga detik ini…

So… Cerita pring mentelung cukup sampai disini

Bila ada kurang lebihnya mohon maaf

Nih tempat kejadiannya, ternyata pohon bambunya masih ada sampai sekarang, yang berbeda hanya jalannya yang sudah di buat beton bertulang 🙂

Thread By @Gumballwee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *