RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pulang Malam

Saat itu, untuk pertama kalinya aku harus rela pulang larut malam karena mall di tempat aku bekerja sedang ada event.

Perlu diketahui, aku bekerja sebagai sales administrasi di sebuah toko perlengkapan alat-alat rumah tangga, dan toko tersebut berada di sebuah mall kawasan Bintaro.

Selesai closing pukul setengah dua belas malam. Bisa dibayangkan betapa ramainya event tersebut, dan hanya bisa berharap rasa lelah pasti akan terbayar saat penerimaan uang gaji bulan berikutnya.

Hanya saja, rutinitas itu harus aku jalani. Beruntungnya, angkutan umum masih ada yang beroperasi. Meskipun begitu, aku tetap turun di pintu gerbang masuk komplek perumahan. Dan aku harus meneruskannya dengan jalan kaki untuk menuju ke rumah.

Komplek perumahan yang aku lewati biasa disebut dengan nama jalan Deplu. Hanya jalan inilah akses menuju rumahku yang berada di jalan swadaya.

Meskipun tidak begitu jauh jarak yang ditempuh, tapi suasana tengah malam berjalan di komplek itu mampu merubah perasaan yang kurang enak secara tiba-tiba.

Ditambah petugas keamanan juga tidak terlihat di pos, ataupun sekedar keliling komplek. Sekalipun aku tidak melihatnya. Aku hanya berpikir dan membedakan suasana saat biasanya aku pulang pukul setengah sepuluh malam, itu masih bisa dibilang cukup aman.

Perbedaan itulah yang membuatku terus memikirkannya. Karena ada yang bilang, berjalan di tengah suasana yang sunyi dan sepi, pikiran kita tidak boleh kosong. Waktu itu memang suasananya benar-benar sepi.

Tidak ada motor atau tukang nasi goreng yang lewat. Bahkan, setiap penghuni rumah juga seakan sudah beristirahat di kasur mereka masing-masing.

Setelah berpikir banyak hal di dalam perjalanan. Aku mulai merasa ada yang aneh. “Kenapa masih belum juga keluar dari komplek perumahan ini?”

Aku yakin tidak kesasar karena aku sering melewati akses jalan itu.

Rasa gelisah, panik, dan pikiranku juga sudah mulai bercabang. Ditambah badan juga sudah semakin lemah, begitu juga langkah kaki yang seakan memerintahkan ku untuk segera berhenti.

Aku sudah tidak bisa mengontrol rasa takut dalam diriku. Karena aku masih juga belum bisa keluar dari komplek perumahan itu. Aku sudah melewati portal, dan seharusnya sudah tidak begitu jauh menuju jalan swadaya.

Anehnya. Saat aku merasa tidak kunjung keluar dari komplek perumahan itu. Aku menyadari, tidak ada satu pun rumah yang aku kenal. Semuanya tampak berbeda saat aku biasa melewati jalan itu.

Aku berhenti sejenak. Mengatur nafas, dan melihat ke sekeliling. Detik berikutnya, terdengar sangat jelas suara langkah seseorang yang biasa kalau berjalan dengan menyeret sandalnya.

Srek! Srek! Srek! Srek!

Suara itu berasal dari arah belakang tempat aku berdiri. Saat aku menoleh, tidak ada siapa-siapa. Yang lebih mengejutkan, lampu yang berada di tiang pinggir jalan, dan di setiap rumah satu persatu redup.
Tanpa pikir panjang aku segera bergerak untuk melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan. Sayangnya aku tidak sanggup berlari.
Nafasku sudah mulai sesak. Hanya mampu lima langkah, aku berhenti. Dan menoleh kebelakang, suara langkah seseorang dengan nada yang sama masih terdengar jelas.
Begitu juga semua lampu yang tiba-tiba redup membuat jarak pandang semakin gelap.

Hingga sampai menyisakan satu tiang lampu tepat di tempat aku berdiri di bawahnya. Itu seperti, aku merasa seolah berada di antara kegelapan. Aku bahkan tidak yakin pada saat itu, apa aku berada di komplek perumahan yang biasa aku lewati atau bukan.

Saat suara langkah kaki itu tidak terdengar, aku memejamkan mata. Lalu mengatur nafas dengan baik. Kemudian berkata dalam hati.

“Aku mohon ijinkan aku lewat jalan ini. Jangan ganggu aku.”

Setelah berulang kali aku berkata seperti itu. Aku membuka mata perlahan, dan seketika langsung terbelalak. Karena wajah kakek-kakek dengan kedua matanya yang besar, dan bibir tersenyum melengkung tepat berada dekat dengan wajahku.

Butuh beberapa detik kedua mataku tidak dapat terpejam, seolah dipaksa untuk melihat wajah kakek-kakek itu. Bahkan aku tidak dapat berteriak, tapi jantung berdebar sangat kencang dan cepat.

Kemudian, aku merasa sudah mulai lemas. Kedua mataku pun perlahan juga sudah mulai tertutup. Saat itu, antara sadar dan tidak sadar. Aku mulai seperti sedang berjalan. Namun, dalam keadaan kedua mata terpejam.

Tiba-tiba aku membuka kedua mata, bersama dengan langkah kaki ku yang berhenti. Sadar apa yang aku lihat di depanku adalah pintu pagar rumahku.

Karena tidak di kunci dengan gembok, aku langsung membukanya, dan berjalan cepat untuk mengetuk pintu rumah yang sudah dikunci. Beberapa detik kemudian. Suara kunci pintu terbuka dari dalam rumah membuatku merasa ada kelegaan di hati.

Setelah pintu terbuka sepenuhnya, yang ternyata yang membukakan pintu adalah adikku yang berusia sepuluh tahun.Dia tampak mengucek mata kirinya. Yang membuatku langsung meminta maaf, karena pulang sampai larut malam.

Namun dia tidak membalas kata maafku. Dia terdiam sejenak. Lalu berkata, “Kakak diantar sama teman kakak ya? Kok tinggi banget.”

Seketika, aku terkejut dan spontan menoleh ke belakang. Awalnya aku melihat kedua kaki yang kurus tidak menyentuh tanah. Itu sudah membuat nafasku tersentak, dan mulai merasa mual.

Kemudian, perlahan aku mendongak sampai terlihat wajah yang menunduk melihat ke arahku. Benar kata adikku. Itu sangat tinggi. Apalagi wajah itu adalah kakek-kakek yang aku temui di jalan barusan.

Keesokan paginya. Aku sakit demam, dan terpaksa izin untuk tidak masuk kerja. Aku sempat berniat untuk melupakan kejadian malam itu bersama adikku.

Namun, adikku bersikeras menyangkal telah melihat sosok kakek-kakek tinggi saat aku pulang pada malam itu. Hanya saja, dia tidak menyangkal kalau ada yang mengetuk pintu rumah.

Dan saat dia membukanya. Dia melihatku sudah tergeletak dalam kondisi pingsan di teras rumah.

Sumber: @LazyGhost27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *