RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pulang

(Cerita ini berdasarkan kisah nyata, semua nama tokoh dan tempat kejadian sudah di samarkan atas permintaan yang bersangkutan🙏)

Helaan nafas panjang terdengar dari seorang laki2 berusia 35 tahunan yang tengah duduk menatap kerumunan orang2 di seberang jalan, beberapa polisi yang tengah mengamankan tempat penusukan itu terlihat sibuk mengusir orang2 yang dengan hebohnya mengambil gambar dari sang korban. 

“Kau tak ikut ke sana?” Tanya seseorang dari arah belakangnya

“Buat apa? Untuk mengambil gambar2 korban dan lalu di jadikan status di grup whatsaap??” Ujar lelaki itu tanpa menoleh pada lawan bicaranya

“Haha.. Setidaknya itu bisa untuk meningkatkan kepopuleran mu bukan?” 

“Omong kosong.” Ujar si lelaki seraya menoleh ke belakang, namun tidak terlihat siapapun di sana, hanya dedaunan yang berterbangan di hembus angin yang terasa sangat dingin kala itu. Sirine mobil ambulance terdengar dari kejauhan, si lelaki itu langsung mengusap tengkuknya lalu beranjak dari duduknya, berniat pergi meninggalkan tempat itu.  Namun langkah nya seolah terhenti begitu mendengar suara seseorang memanggilnya dengan lirih.

Seorang lelaki dengan pisau yang menancap di bagian perutnya terlihat berdiri beberapa meter dari tempat kejadian. Lagi2 lelaki itu menarik nafas panjang, ia tau sosok itu bukan lagi manusia, dan dari pakaian nya, dialah korban terbunuh dari penusukan tadi.

“Tidak, aku tidak melihatnya.” Gumam si lelaki lalu melanjutkan langkahnya, meski saat itu seluruh tubuhnya terasa gemetar. Sekitar 5 menit berjalan, ia sampai di sebuah pangkalan ojek. Dan di sana tinggal seorang bapak2 tua yang kemungkinan berusia 50 tahunan yang tersenyum ramah menyambutnya. 

“Ke terminal pak.” Ujarnya tanpa basa basi, dan bapak2 tukang ojek itupun mengangguk sembari memberikan sebuah helm yang di beberapa bagian sudah terkelupas 

“Tujuan kemana pak?” Tanya si bapak

“Ke k**** pak. Mau pulang.”

“Oh.. Di sana tadi ada orang berkelahi. Ramai sekali orang2 ke sana.”

“Satunya sudah meninggal pak.” Jawab si lelaki itu

“Hah? Innalillahirajiun.” 

Obrolan pun terputus. Sampai beberapa saat kemudian, mereka berdua pun memasuki area terminal. Beberapa bus yang terparkir terlihat di sana, dan ada juga beberapa tempat bus yang kosong. Beberapa warung pun nampak dikerumuni pembeli. Setelah membayar ongkos ojeknya, si lelaki lantas berjalan ke arah sebuah warung kopi dan mie instan yang berada tidak jauh dari loket bus. 

“Kopi nya satu.”

Laki2 itu bernama Akim, ia sudah lebih dari 5 tahun merantau dan baru sekarang dia akan pulang ke kampung halaman nya. Setelah berhasil selamat dari kecelakaan yang hampir menewaskan nya 15 tahun silam, penglihatan akim menjadi aneh. Ia sering melihat sosok2 yang tidak diinginkan nya. Entah itu di tempat sunyi, ramai, atau bahkan di setiap persimpangan jalan. Seperti tadi contohnya, saat ia diajak bicara oleh sosok yang tak terlihat dan di panggil oleh korban penusukan yang tak selamat.

Suara gelas yang di letakkan di atas meja dan suara lembut si penjual kopi membuyarkan lamunannya. Akim menarik gelas itu pelan, lamunan nya kembali berlanjut. Kali ini dia memikirkan tentang sosok perempuan yang pernah di lihat nya beberapa hari lalu. Perempuan itu berambut panjang, kulitnya berwarna merah seperti habis tersiram air panas dan senyuman nya begitu sangat mengerikan.

(Gambar hanya ilustrasi)

“Mau kemana?” Tanya seseorang yang langsung duduk di sebelahnya

Akim sedikit gugup ketika beradu pandang dengan orang yang duduk di sebelahnya tersebut. 

“Saya mau pulang bu.”

“Pulang?”

“Iya.”

“Mati?”

“Hah?”

“Pulang artinya mati.”

“Mm. Maksud saya bukan itu. Saya mau pulang ke kampung halaman saya di daerah k*****.” 

Tak ada jawaban dari si ibu2 yang terlihat aneh tersebut. Akim yang merasa kurang nyaman dengan kehadiran wanita paruh baya itu pun lantas berpindah tempat duduk. 

Si ibu tak begitu mempedulikan kepindahan akim yang menjauhinya, ia tetap asyik meminum air mineral botol yang di belinya di warung tersebut. Setelah sekian jam menunggu, akhirnya bus yang akan membawanya ke terminal yang berada di daerah selanjutnya itu pun datang. Akim mencari2 nomor kursi yang sesuai dengan yang tertera pada karcisnya, dan setelah ia menemukannya, akim nampak terkejut begitu tau siapa teman duduknya. Ya. Itu adalah ibu2 aneh yang berada di warung tadi.

“Permisi bu.” Ucap Akim

“Silahkan.” Jawabnya terdengar dingin

Akim tak terlalu mengambil pusing dengan nada bicara nya si ibu2 aneh itu. Ia duduk dan menatap keluar jendela bus. Guruh suara mesin bus yang memulai perjalanan pada malam itu membuat beberapa penumpang terlihat bersemangat. Namun sekitar pukul 1 malam, si ibu2 aneh mulai berbicara aneh lagi.

“Sebentar lagi mati. Sebentar lagi rusak.” Gumam nya berulang2 

“Bu. Bu.. Sadar bu.” Akim berusaha menenangkan ibu2 itu yang rupanya dalam keadaan setengah sadar

Bruuukkk..

Kepala akim terseruduk ke kursi penumpang lain karena sopir bus yang mengerem secara tiba2, setelah terdengar suara ledakan. Beberapa penumpang lain nampak berdiri dengan raut wajah kaget dan saling bertanya tentang apa yang terjadi pada bus itu.

“Ban nya pecah.” Teriak si sopir bus 

Seketika terdengar keluhan dari para penumpang. Akim berjalan keluar, meninggalkan ibu2 aneh yang sudah sadar. Si sopir bus nampak berusaha mengganti ban, dengan di bantu oleh akim dan juga sopir pengganti. Sementara penumpang yang lain terus menggerutu.

Setelah beberapa saat kemudian bus pun akhirnya bisa melanjutkan perjalanan kembali. 

Namun baru sekitar setengah jam perjalanan, bus itu malah mendadak mogok lagi. Kali ini bukan ban nya. Tapi entah kenapa bus itu tidak mau jalan. Mereka saat itu berada di depan kuburan yang terpampang jelas foto2 pemilik makam semasa hidupnya.

“Nampaknya parah kerusakan mesin ini. Dan sekrang kita berada di daerah ***********, di dekat sini ada penginapan. Kalau kalian mau kalian bisa menginap terlebih dulu 

Sampai menunggu bus ini di perbaiki.”ujar sang sopir

“Aduhh.. Apa tidak ada bus yang lain?”

“Tidak ada. Yang berangkat malam ini cuma bus ini saja. Besok malam baru ada.” 

Akhirnya mau tak mau mereka semua pun terpaksa harus berjalan kaki ke arah desa yang menyediakan penginapan untuk orang2 yang ingin bermalam di desa tersebut. 

Tinggal lah Akim bersama dengan si sopir bus yang masih berusaha menelepon orang2 yang bisa membantunya membenarkan mesin bus.

Suasana sangat hening dan sunyi. Si sopir masih sibuk mengotak atik mesin bus, sementara akim ikut membantu. Meski ia tak begitu paham tentang mesin. Sampai sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Sebuah biji getah seperti dilempar seseorang tepat mengenai kepala si sopir, hingga membuat nya meringis kesakitan. 

Akim dengan sigap mengarahkan senternya ke segala arah, bahkan ke area pekuburan. Dan jantung nya berdetak sangat cepat begitu melihat 2 anak kembar yang tak berpakaian tengah tertawa2 menatapnya dari pekuburan. Ia tau anak2 itu pasti bukan manusia. Tentu saja, anak2 manusia mana yang berani jam setengah 2 dini hari memasuki area pekuburan dengan tak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. 

“Kita masuk ke dalam saja. Perasaan saya sudah tidak enak.” Ajak si sopir bus

Saat akan mengambil minuman kaleng dan beberapa snack di dalam tas yang berada di kursinya, Akim melihat seorang perempuan duduk di bagian belakang kursi bus. Kepalanya menunduk dan rambut panjangnya pun menjuntai menutupi wajah. Akim tak ambil pusing, ia mengira itu adalah salah satu penumpang yang tak pergi meninggalkan bus. Namun dari cara berpakaian nya, yang masih mengenakan tapih bahalai untuk bawahan, terlihat sudah sangat kuno, apalagi bila dikenakan untuk bepergian menaiki bus yang tempat naiknya cukup tinggi, rasanya aneh saja kalau memang iya. Pikir Akim. 

Setelah mengambil minuman dan beberapa snacknya untuk dimakan bersama si sopir bus, Akim pun berjalan kembali menuju arah kursi depan di dekat sopir. Namun ketika ia menoleh ke arah kursi belakang, perempuan yang ia lihat tadi sudah tidak ada. Akim menarik nafas panjang. Lalu berjalan dengan cepat menuju ke depan.

“Ini pak, minum dulu.”

“Wah terima kasih, padahal saya juga punya minuman.” 

Cukup lama mereka mengobrol ke sana kemari, sampai dari arah kejauhan terlihat seseorang berlari menuju bus. Rupanya dia adalah sopir pengganti yang sebelumnya pergi mengantar para penumpang ke penginapan. 

“Ada apa?”

“Anu..” Nafasnya tersengal, sampai2 ia tak bisa menyelesaikan perkataan nya

“Ini pak, minum dulu.”

Glek glek.. Minuman kaleng itu habis seketika. 

Lalu setelah sedikit lebih tenang, dia pun mulai bercerita.

“Daerah ini rawan perampokan, makanya jarang ada mobil2 yang lewat sini. Kata yang punya penginapan, mending bus nya di tinggal saja, dari pada kita kenapa2.” 

“Begal?”

“Sejenisnya.”

“Kita tidak bisa pergi begitu saja, karena barang2 bawaan penumpang adalah tanggung jawab kita.”

“Tapi ini juga menyangkut keselamatan kita.”

“Sebentar lagi pagi, dan biasanya jam operasi begal ada di jam2 antara pukul 11 sampai 2. 

Jadi aku akan tetap di sini, silahkan saja kalau kalian berdua mau ke penginapan.”jawab si sopir bus.

Waktu terasa berlalu dengan sangat lambat di tempat itu, mereka bertiga akhirnya tenggelam dalam pikiran masing2. Hingga sekitar pukul 4 subuh rombongan truk singgah di dekat bus. Beberapa sopirnya turun dan terlihat saling berjabat tangan dengan si sopir bus.  Para sopir truk itu juga membantu memperbaiki mesin bus. Suasana yang semula hening, kini mendadak ramai dengan kedatangan sopir2 truk yang baik hati tersebut. Sementara mereka sedang sibuk memperbaiki mesin bus, Akim yang tak paham soal mesin itupun akhirnya mencoba tidur di dekat sebuah truk yang berada di depan bus. Akan tetapi, baru 5 menit terlelap, Akim sudah di bawa masuk kedalam mimpi yang terasa begitu aneh baginya.

Dalam mimpinya ia melihat seorang anak kecil perempuan tengah mengorek2 sebuah makam dan dari dalam makam itu keluar sebuah cahaya redup dan kemudian anak kecil itu seolah tersedot ke dalam. Akim terbangun, nafasnya tak beraturan.

“Apa arti mimpi aneh itu tadi?” Gumamnya

Setelah itu Akim tak berani lagi memejamkan mata, dan ia memutuskan untuk melihat para sopir yang saling membantu itu. Mereka bekerja sama tanpa seorang pun merasa di repotkan. Waktu terus berjalan, tak terasa matahari pun sudah menunjukkan sinar nya. 

Akim berjalan2 di antara pemakaman, melihat foto2 di pemakaman itu satu persatu. Hal yang sangat ingin ia lakukan tadi malam, namun ia cukup takut melakukan nya di malam hari.  Akhirnya sekitar pukul 7 pagi, mesin bus itu bisa diperbaiki.

Perjalanan yang harusnya sudah dari pukul 8 tadi sampai di terminal selanjutnya, sekarang pada pukul 9 mereka baru saja akan berangkat. Singkat cerita, bus itupun akhirnya memasuki area terminal. Si sopir bus secara pribadi mengucapkan terima kasih pada Akim sebelum mereka berpisah. Tidak lama menunggu, bus yang akan di tumpangi Akim pun berangkat. Ia melihat teman2 seperjalanan nya, tak banyak yang searah dengan nya dari teman2 satu bus dalam perjalanan pertama sebelumnya. Ibu2 aneh itu pun tidak ada di bus ini.

Akim tertidur. Dan sekitar 8 jam perjalanan mereka akhirnya sampai kembali di sebuah terminal. Namun kali ini akim tak menaiki bus lagi, ia menaiki ojek dan meminta diantar ke pelabuhan speed. Namun rupanya air sedang naik, dan banyak sekali ‘ampah’ (pepohonan, dan puing2 jamban, beserta bambu dan segala macam jenis tumbuhan yang hanyut memenuhi sungai.) Sehingga kapal, speed, mesin motor, tak bisa berangkat. Yang bisa melewati ampah2 itu hanyalah mereka yang mempunyai perahu cis, itupun harus sangat berhati2 agar baling2(atau yang kami sebut roda) cis nya tetap aman. Akhirnya Akim pun terpaksa harus menginap di salah satu penginapan lanting(rumah di atas air)

(Gambar hanya ilustrasi)

Hari sudah beranjak gelap ketika akim mencoba untuk tidur, namun dari sebelah kamarnya, terdengar suara 2 orang yang sedang bertengkar hebat. Dari apa yang akim dengar rupanya kedua orang itu bukanlah sepasang suami istri, melainkan pasangan selingkuh yang memalsukan pernikahan. Beberapa kali Akim memberi kan kode agar mereka tak terlalu berisik, namun suara pertengkaran itu masih terdengar. Walaupun tidak seberisik tadi. Tapi beberapa saat kemudian kamar sebelah terdengar hening, dan isak tangisan mulai terdengar begitu suara pintu kamar di banting. Akim pun mencoba untuk kembali tidur.

Keesokan harinya saat akim terbangun dan bermaksud untuk mencari sarapan, akim melihat ada beberapa orang2 di depan pintu kamar sebelah yang sedang mencoba memanggil2 orang di dalamnya yang tak kunjung keluar, padahal waktu nya sudah melewati batas sewaan nya. Akim juga mendengar ada seseorang yang mengusulkan untuk mendobrak pintu tersebut. Setelah beberapa saat di buka paksa, akhirnya pintu kamar penginapan itu terbuka. orang2 yang berada di sana nampak terkejut dan terdiam seribu bahasa. Seorang wanita sudah tergantung dengan ‘panding’ (ikat pinggang) yang mengikat lehernya.

Mereka tak ada yang berani menyentuhnya selain pemilik penginapan yang berusaha untuk menurunkan tubuh wanita tersebut. Dengan adanya seseorang yang bunuh diri di penginapan itu, tentu akan membuat penginapan tersebut menjadi sepi. Di dalam pojok kamar, Akim melihat wanita yang sama tengah berdiri dengan ikat pinggang di lehernya. 

Wajahnya terlihat begitu sedih. Sebagai orang yang berada di sebelah kamar pasangan itu, tentu Akim ditanya tentang apa yang ia dengar semalam. Dan dengan jujur ia menceritakan semua yang telah ia dengar tanpa mengurangi ataupun menambahkan cerita. Beberapa orang terlihat menyudutkan si pemilik penginapan yang kurang teliti pada identitas setiap tamu. Sehingga pasangan yang bukan suami istri pun bisa bebas tidur di sana melakukan hal yang tidak senonoh. Setelah menjadi saksi dan berhari2 tinggal di desa itu, Akim pun di perbolehkan untuk melanjutkan perjalanan nya. 

“Ada apa di akhir perjalanan ku ini, kenapa rasanya banyak sekali hal2 yang tak seharusnya ku lihat terjadi di sepanjang perjalanan pulang ku?” Ujar Akim membatin 

Sembari matanya menatap keluar mesin motor yang sedang berjalan melawan arus sungai tersebut.

“Mau kemana?” Tanya seorang laki2 yang lebih muda darinya 

“Mau pulang kampung.” Jawab Akim singkat

“Sama, saya juga. Oh ya, sesama teman perjalanan, kenalkan dulu nama saya Ari.”

“Muhammad Hakim. Panggil saja Akim.” 

Dalam sekejap saja mereka berdua mulai akrab.

“Sudah 5 tahun aku merantau, dan baru sekarang berani pulang.” Jawab akim atas pertanyaan Ari 

“Oh. Saya pun juga sama. Setelah setahun jadi buronan calon mertua, baru sekarang berani pulang.”

“Hah?”

Ari cuma tersenyum menanggapi Akim yang nampak bingung dengan perkataan dirinya tadi. Sekitar pukul 2 siang, mesin motor yang membawa mereka akhirnya sampai di pelabuhan kecil desa D. Dan dari desa itu, sekitar 100 km lagi merupakan kampung halaman nya Akim. 

Jalanan menuju ke atas (tempat menunggu mobil2 perusahaan yang bisa di tumpangi) di penuhi batu yang tajam2, sehingga beberapa kali ia hampir terjatuh. Akim berjalan pelan berdampingan dengan Ari yang terus mengoceh sedari tadi. Saat akim memegangi lututnya yang terasa sakit tiba2 tubuh Ari terjatuh di iringi dengan suara teriakan melengking dari seorang pria. Ari beberapa kali di bacok dengan sebuah parang, Akim terpaku dengan mata melotot kaget, ia bahkan tak bisa berteriak ketika melihat teman seperjalanan nya itu di bacok parang hingga darah nya mulai membanjiri batu2 tajam di jalanan tersebut. Teriakan orang2 dari kejauhan menyadarkan Akim dari ke terpakuan nya.

“JANGAAAAAAANNN !!!!” teriak Akim akhirnya

Craaaakkk.. 

Parang itu di tebas oleh si pelaku dan tepat mengenai tangan kanan Akim hingga mengakibatkan 4 jari nya putus seketika. Nafas akim tersengal, matanya melotot menatap tangan nya yang sudah berlumuran darah. Tak terasa sakit sama sekali saat itu, tapi Akim langsung terjatuh ke atas bebatuan tajam. Saat ia sadar, ia sudah mendapati dirinya berada di sebuah puskesmas dengan tangan yang sudah di perban. Saat dia sadar itu barulah ia mulai merasakan sakit dan nyeri pada tangan nya. Tubuhnya gemetar, meski sudah cukup tua, Akim menangis sesenggukan bagaikan anak berusia 5 tahun yang terluka. Di ujung ruang, ia melihat Ari berdiri dengan wajah pucat. Tubuh nya berlumuran darah.

Hampir 7 bulan Akim mengalami syok berat setelah kejadian pembacokan tersebut, setiap kali ia ingat itu, ia selalu menangis sesenggukan. Dan Ari, ia meninggal di tempat kejadian. Sementara pembunuhnya sudah ditahan dengan ancaman hukuman 15 – seumur hidup, kemungkinan. Karena pembunuhan itu sudah terencana berdasarkan dendam si pelaku terhadap korban nya. 

Itulah kisah PULANG yang di ceritakan oleh narasumber yang bernama Akim(samaran). Cerita yang merupakan pengalaman pribadinya sendiri. Pengalaman yang tentu tak diinginkan oleh banyak orang.–

SELESAI

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *