RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Rawa Gaib

Tap, tap, tap,

kresek, kresek, kresek

Suara langkah berlari itu terdengar di tengah jalan setapak yang membelah hutan itu.

Seorang gadis berkain batik berkebaya putih berlari sembari terengah-engah. Ia berlari menjauhi sesuatu yang ingin ia hindari.

Hari semakin sore, 

sang surya semakin membenamkan wajahnya di ufuk barat. Sang gadis masih belum mencapai tempat yang ditujunya. Hutan itu terlalu luas untuk ia lalui. Jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering dan semak-semak yang condong, menghambat gerak langkah kedua kakinya yang tidak beralas.

Sembari terengah-engah ia terus melangkahkan kaki. Terkadang ia sedikit berlari. Ia merasa takut akan terkejar oleh seseorang atau sesuatu yang mengejarnya. Matahari pun akhirnya terbenam di ufuk barat. Kegelapan menyelimuti hutan luas tersebut. Si gadis terus berjalan  hingga kedua kakinya bertekuk di atas tanah karena sudah tidak kuat berjalan lagi. Sembari berlutut, si gadis celingukan saat menyadari hari sudah gelap. Ia tampak begitu waswas saat mendengar suara-suara aneh di dalam hutan.

Apakah itu suara-suara penghuni hutan? 

“Emak, bapak, cik tulungan abdi!” (Ibu, ayah, tolong aku) ucapnya memelas.

Sayup-sayup ia mendengar suara gemerisik di dalam hutan. Suara tersebut semakin terdengar jelas seolah sesuatu itu sedang mendekat. Si gadis mencoba berdiri untuk melanjutkan langkah, namun kemudian ia  terkesiap saat melihat sesosok putih berambut panjang sedang mengayun-ayunkan kedua kaki di atas dahan sebatang pohon di hadapannya.

Udara dingin menghembus meniup tengkuknya membuat bulu kuduk merinding.

Meski gelap, sosok tersebut dapat jelas terlihat. Sosok tersebut perlahan 

menengok ke arah si gadis.

Bammmmm…….

Seraut wajah dipenuhi belatung dengan kedua mata melotot keluar muncul pas di depan Wajah si gadis.

“Aaaaaaaaa…….” Si gadis menjerit kemudian berlari sekencang-kencangnya. 

Namun baru beberapa meter, ia sudah terjatuh karena tidak kuat menahan pegal di kedua kaki.

“Tulungan Rumsah, emak, bapak,” (Tolongin Rumsah, ibu, bapak) rintihnya dengan penuh ketakutan.

Gadis itu rupanya bernama Rumsah. Siang tadi ia baru saja kabur dari rumah majikannya. Rumsah melakukan itu karena sudah tidak tahan dengan majikan laki-lakinya yang mata keranjang serta perangai buruk majikan perempuan yang suka menyiksanya. Lokasi rumah majikannya berada di ujung barat, sangat jauh dari kampungnya. Ia harus melewati hutan lebat jika ingin pulang. Adapun jika ingin menggunakan transportasi umum ia harus melalui jalur memutar ke utara tepatnya ke kabupaten. Sedangkan jika melewati hutan hanya bisa dengan berjalan kaki atau naik kuda jika ada.

Kembali ke Rumsah yang sedang berjalan terseok-seok seraya merasakan kengerian yang luar biasa saat mendengar suara rintihan dari dalam hutan. Rintihan tersebut membuat ngilu di telinga. Bulu kuduk merinding. Suara rintihan terus berlangsung hingga Rumsah mencapai ujung hutan yang merupakan sebuah tanah lapang yang ia pikir sebelumnya tidak pernah ada. Rumsah mendengar suara-suara menyeramkan namun memilukan di sekitar tanah lapang misterius itu.

“Tulungan kuring!” (Tolongin saya!)

“Di dieu poek jeung loba jurig!” (Di sini gelap dan banyak setan!)

Rumsah yang sudah kadung ketakutan, tanpa pikir panjang menyeberangi tanah lapang itu. Sejenak Rumsah menahan nafas ketika kedua kakinya menginjak area lunak seperti lumpur. Tiba-tiba tubuh Rumsah terhisap tanah lapang itu hingga menghilang.

“Aaaahhhh, tulung……………..!” (Tolong!) 

(Suara musik tradisional dengan gending dan gesekan rebab terdengar mengalun di tempat tersebut)

Di atas panggung bercorak Jawa tersebut, para penari sedang berlenggak-lenggok mengikuti irama. Jika dilihat dari jauh kita akan mengira jika para penari tersebut sangat cantik. Namun jika kita mendekati mereka, kita akan terperanjat melihat para mereka yang ternyata sangat hancur seperti wajah orang yang baru mengalami kecelakan fatal. Bagaimana tidak, wajah mereka banyak yang sudah tidak berdaging dengan tulang tengkorak terlihat menonjol. 

Aduh kok ada kata ‘para’ ya. Sorry banget nggk ngeh.

Baiklah cerita berlanjut. Mungkin nanti baru dilanjutkan.  Pemandangan menyeramkan tersebut membuat Rumsah yang sedang terbaring telentang di atas tanah, terbangun seraya megap-megap.

“Hah, haah, haah, di mana ini?” ucapnya panik ketika menyadari dirinya tidak sedang berada di tanah lapang itu. Mendadak ia mendengar suara kecipak air di belakangnya. Saat menoleh, betapa terkejut dan takutnya ia ketika mengetahui apa yang berkecipak di belakangnya. Sesosok mirip makhluk dalam mitologi Yunani, yaitu Shireen sedang menatapnya dengan garang.

Ssssss……

Sosok tersebut mendesis seperti ular. Penampakan sosok itu begitu menakutkan. Rumsah pun tak kuasa untuk melihatnya. Ia pun bangkit dan lari secepat-cepatnya. Namun larinya terhenti ketika langkahnya dihadang oleh suatu rawa yang sangat luas dengan pepohonan aneh tumbuh di sana. Saat itu gelap, namun Rumsah masih dapat melihat keadaan. 

Maaf, yang benar Siren. wkwkwk 

Ia dapat melihat sekelilingnya adalah rawa-rawa yang sebagian dipenuhi tumbuha merambat dan pohon-pohon kecil yang meranggas. Ia juga dapat melihat asap putih yang menyelimuti tempat itu. Di mana pun ia berada saat ini, pasti sangat jauh dari kampungnya.  Sayup-sayup terdengar suara gending, kecapi, diiringi gesekan rebab, membuatnya bertanya-tanya, di mana sumber suara tersebut. Barangkali suara-suara tersebut berasal dari perkampungan yang sedang ada hajatan. Rumsah pun beranjak mencoba menuju ke arah sumber alunan musik itu.  Daratan tempat ia berpijak rupanya terhubung ke daratan lain melalui jalur sempit yang terdiri dari batu-batu kali yang disusun rapi di atas rawa.

Rumsah pun melewati jalur kecil tersebut hingga mencapai daratan yang jaraknya sekitar sepuluh meteran dari tempat sebelumnya. Ia terus melangkah meski dengan perasaan waswas takut diganggu makhluk astral yang baru dijumpainya itu.

Sosok Siren itu sangat menyeramkan, tidak seperti gambaran putri duyung yang cantik. Siren tersebut memiliki paras sangat mengerikan. Berwujud seperti terbuat dari lumpur dengan sirip ikan besar yang tajam dan bergerigi. Kedua matanya yang menyala ungu gelap menambah kesan seram dari makhluk mistis itu. Namun Rumsah masih belum mengetahui jika dirinya sebenarnya sedang berada di alam lain yang disebut ‘RAWA GAIB’. Rumsah melangkauh jauh melewati daratan di atas rawa itu. Ia terus melangkah hingga mencapai sebuah tempat di mana di sana terdapat sebuah bangunan berdinding kayu beratap seng.

Bangunan rumah kecil terlihat samar-samar karena gelapnya area sekitar. Rumsah mendekati pintu rumah, kemudian mengetuk pintu.

‘Tok, tok, tok,

“Permisi, ada orang di dalam?” ucap Rumsah seraya memperdengarkan suara alunan musik tradisional yang masih mengalun. Tidak ada jawaban. Rumsah mengetuk pintu lagi. Namun ia tidak sengaja mendorong daun pintu hingga terbuka. 

Samar-samar Rumsah dapat melihat seisi rumah kecil itu. Pertama kali yang dilihatnya adalah sebuah meja kecil dengan tiga kursi, sebuah perapian, dan sebuah tempat tidur dengan seseorang sedang berbaring membelakanginya.

“Permisi, mbak. Saya sedang tersesat. Apakah mbak mau 

membantu saya menemukan jalan pulang?” Rumsah menatap ke arah perempuan yang masih terbaring di ranjangnya itu. Perempuan yang mengenakan pakaian berwarna putih kotor itu pelan-pelan menolehkan wajahnya ke arah Rumsah, dan Astaga!!!!! 

Kepala perempuan tersebut dapat berputar hingga 180 derajat seperti kepala burung hantu.

Rumsah dapat menyaksikan wajah perempuan tersebut sangat mengerikan dengan kedua matanya yang melotot besar serta mulutnya yang robek hingga mencapai telinga. Tidak hanya itu, kepala perempuan itu terlepas dari badan dan melayang ke arah Rumsah. Gadis tersebut menjerit sejadi-jadinya seraya mundur, namun kakinya terantuk batu hingga jatuh telentang. Kepala demit perempuan itu menerjang tepat ke wajah Rumsah.

“Aaaaaahhhhhhh…..” 

Rumsah menjerit sejadi-jadinya saat wajah demit tersebut menerkamnya.

“Aaaaaaaaaaaah…….”

Jeritan Rumsah memenuhi udara, membuat tersentak seseorang yang sedang tertidur hingga bangun. Seorang gadis berambut panjang ke punggung, mengenakan piyama berwarna hijau muda. Gadis ini berada di atas tempat tidur yang berbaris dengan dua tempat tidur lain yang diisi rekan-rekannya.

“Rina, apa yang terjadi?” ujar seorang temannya yang kebangun karena pekikan gadis itu.

“Aku bermimpi lagi, la. Kali ini sangat mengerikan,” tukas gadis bernama Rina itu. 

“Mimpi seram lagi? Aneh, semenjak kita melakukan PKL di sini, sering sekali kamu bermimpi seram, rin,” ucap temannya yang bernama Laela itu.

“Baru jam 1,” ucap Rina saat menyalakan smartphone-nya.

“Sebaiknya kita tidur lagi, rin. Atau barangkali kamu mau sholat tahajud dulu?” 

ucap Laela.

“Aku terlalu takut untuk ke kamar mandi, la. Kamar mandinya berada di luar. Ditambah lagi anginnya dingin begini,” kata Rina seraya melihat ke arah tempat tidur temannya yang satu lagi.

“Dita ke mana ya?”

“Lho, Dita? Dia ke mana?!” pekik Laela ketika melihat tempat tidur itu telah kosong.

“Ini tidak beres. Kok Dita tiba-tiba nggak ada di tempat tidur. Dia kan nggak suka keluyuran apalagi pagi buta begini.” Rina memeriksa tempat tidur rekannya yang menghilang itu.

“Kita harus bagaimana?” ucap Laela dengan nada panik. 

“Duuh, mana dia penakut lagi. Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama dia?” kata Rina seraya mengalihkan kedua matanya ke arah celah di dinding bambu yang mengelilingi kamar tempatnya dan Laela beristirahat. Deg, jantung Rina berdegup kencang saat melihat pemandangan di luar. 

Bagaimana tidak berdegup kencang, Rina melihat Dita sedang berjalan dengan kedua tangan terentang di depan, diikuti oleh puluhan orang yang kondisinya mengerikan persis zombi-zombi di TWD.

“Dita?” gumamnya lirih.

“Ada apa, rin?” Laela melihat penasaran ke arah Rina. 

Laela tercekat setelah mengintip melalui celah di bilik bambu. Ia pun dapat melihat temannya sedang menjadi pemimpin bagi kawasan mayat hidup yang penulis sebut ‘zombi’.

Namun zombi di sini tidak seperti di TWD, RE, ataupun Lifeafter, yang karena pengaruh dari virus. Di sini mayat-mayat hidup tersebut digerakan oleh suatu kekuatan yang entah siapa yang menggunakannya.

“Mbak Rahayu, kita harus menemui mbak Rahayu!” pekik Rina. 

“Tidak mau, rin. Di luar mereka banyak sekali!” tukas Laela ketakutan.

“Tunggu dulu, la. Di pintu ada siapa?” Rina yang membelakangi pintu bertanya kepada Laela yang juga berposisi sama. Mereka berdua menengok ke belakang, dan…..

“Aaaaaaaaaaaahh……..!!” 

Sebuah kepala tanpa badan menempel pada pintu. Kepala tersebut memiliki rambut gondrong hingga ke lantai namun bagian tengah kepalanya botak. Kepala tersebut menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang berdarah. Rina dan Laela menjerit sejadi-jadinya. Mereka berdua tidak tahu harus melakukan apa agar bisa keluar dari kamar. Mendadak terdengar suara ayam berkokok. Kepala yang menempel di pintu tersebut menghilang disusul suara jeritan menyeramkan. Dari luar juga terdengar suara riuh yang kemudian menghilang setelah suara kokok ayam terdengar. 

“La, setannya sudah pergi tapi Dita bagaimana?” ucap Rina seraya melihat ke arah Laela.

“Sepertinya kita harus menelepon mbak Rahayu,” tukas Laela seraya mengambil smartphone-nya kemudian menelepon seseorang. “Mbak Rahayu, tolongin Dita diculik mereka.” 

Saat pagi datang, Rina dan Laela kedatangan seorang perempuan berwajah cantik berpakaian kasual serba biru.

“Jadi mereka semalam ada di sini?” tanya perempuan itu.

“Bukan ada-ada lagi, tapi banyak, mbak,” tukas Laela dengan wajah suntuk.

“Ini aneh, padahal mereka sudah dikubur 

kan dengan layak, dan Ki Rawuk juga sudah tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi,” ucap Rahayu.

“Ki Rawuk siapa, mbak?” tanya Rina terkejut dengan ucapan Rahayu.

“Tabib yang tinggal di ujung desa, yang suka menyembuhkan warga yang sakit karena guna-guna,” tukas Rahayu. 

“Bukannya tabib yang di ujung desa namanya Pak Rohidin?” kata Laela.

“Ki Rawuk itu nama julukannya, hehe,” tukas Rahayu sembari terkekeh.

“Lalu Dita bagaimana, mbak?” tanya Rina.

Rahayu sejenak terdiam seperti sedang berpikir. 

“Besar kemungkinan dia dibawa ke Rawa Gaib. Tanah lapang yang hanya muncul di malam Jumat kliwon itu. Aku pikir Ki Rawuk sudah menghapusnya,” kata Rahayu setengah berbisik.

“Kalau begitu, kita temui Ki Rohidin, mbak!” ucap Laela sekenanya.

“Pak Rohidin kali!” sergah Rina. 

“Ngomong-ngomong Rawa Gaib itu apa ya, mbak?” tanya Laela penasaran.

“Kepo, nih,” kritik Rina membuat Laela mendelik ke arahnya.

“Sebaiknya kita ke Pak Rohidin. Mungkin dia bisa membantu menemukan Dita,” kata Rahayu seraya memberi isyarat agar kedua gadis itu tidak berlama-lama. Pak Rohidin alias Ki Rawuk tampak bersemedi di atas batu di tengah-tengah ruangan rumahnya yang lowong dan berlantai tanah.

“Ada seseorang di dalam hutan yang membuka portal gaib itu,” ujar Pak Rohidin.

“Lah, piye toh? Katanya tadi Rawa Gaib sekarang portal gaib? Mana yang …. benar?” kritik Laela tidak sabar.

“Diam ih, dengerin Pak Rohidin ngomong!” sergah Rina merasa jengkel dengan Laela.

“Intinya Rawa Gaib itu adalah portal menuju alam gaib. Oleh karenanya disebut sebagai portal gaib,” tukas Pak Rohidin. “Jadi begini, teman kalian membawa sesuatu yang seharusnya tidak di bawah kemari. Penghuni yang berdiam di sekitar desa tidak senang dengan temanmu. Makanya mereka menyesatkan temanmu. Selain itu, adanya campur tangan misterius dari seseorang di tengah hutan sana membuat kejadian horor itu kembali terjadi,” tutur Pak Rohidin.

“Seseorang di tengah hutan itu? Bukannya itu dirimu sendiri?” kata Rahayu tiba-tiba refleks menutup mulutnya.

Pak Rohidin menggeleng. “Kamu itu dari dulu sama saja. Mulutnya tidak bisa dijaga.”

Rina dan Laela tampak saling pandang tidak mengerti. 

“Tapi tidak apa. Saya akan berbicara terus terang meski di sini ada dua orang bau kencur,” ucap Pak Rohidin membuat Rina dan Laela tidak sadar mengumpat.

“Dasar kakek sialan!”

“Saya memang pernah bertapa di sana bertahun-tahun. Sejak eksekusi massal di tanah dekat rumah saya ini. Setelah penguburan massal saya memutuskan tinggal di sini bersama warga desa. Namun setelah bertahun-tahun kemudian saya merasakan ada seseorang yang mengambil alih tempat lama saya. Siapapun itu tampaknya tidak dapat dianggap enteng. Buktinya, teman kalian dijemput pasukan mayat hidup kirimannya. Siapapun itu, saya sangat ingin mengetahuinya,” tutur Pak Rohidin.

“Mungkin itu reinkarnasi Ki Rawuk,” tukas Laela serampangan membuat Pak Rohidin terkejut.

“Saya Ki Rawuk, neng,” kata Pak Rohidin. “… dan saya belum mati.”

Laela hanya bisa nyengir. 

baru ngeh ada kata kawasan di sini padahal niatnya kawanan 🙄🙄 Malam menjelang. Pak Rohidin seorang diri memasuki hutan sembari merapal mantra-mantra untuk melenyapkan gangguan yang merintanginya di jalan. Setidaknya seratusan demit di tengah perjalanan mengeroyoknya. Namun bukan Ki Rawuk namanya jika tidak dapat menyingkirkan mereka. Sejenak ia menghentikan langkah kemudian terpaku.

“Ini tidak benar. Seharusnya aku bisa menemukan jalan ke rumah itu. Tapi ini tidak biasanya, begitu sulit bagiku menemukannya,” gumamnya seraya duduk bersila di atas tanah.

Sementara di dalam sebuah puskesmas di desa, Rina dan Laela sedang berjaga menunggu pasien datang. Mereka berjaga sembari berbincang-bincang.

“Rin, Ki Rawuk itu menyeramkan sekali, ya,” ujar Laela.

“Jelas menyeramkan, lah. Orang dia begawan yang baru turun gunung. Lebih tepatnya keluar hutan, sih,” tukas Rina. 

“Rin, kalau boleh tahu mimpimu kemarin malam itu soal apa?” tanya Laela penasaran.

Rina menatap Laela dengan tatapan gusar, lalu berbicara.

“Aku merasakan menjadi seseorang yang sedang dikejar-kejar setan di sebuah rawa yang gelap. Ketika mencapai ujung mimpi, aku diterkam setan kepala kuntilanak. Hiiii…. Setelah itu aku terbangun.”

“Hah? Setan kepala kuntilanak? Yang benar saja, kuntilanak lengkap saja sudah menyeramkan bagaimana yang hanya tinggal kepala,” tukas Laela bergidik.

“Aku jadi teringat dengan hantu kepala kemarin malam. Aku jadi takut pulang,” ucap Rina seraya memijit kening.

“Tapi kan mbak Rahayu sudah membuatkan pagar gaib di sekeliling rumah. Katanya setan-setan itu tidak akan berani lagi masuk ke dalam rumah kita,” kata Laela.

“Masalahnya sekarang kita sedang berada di luar rumah,” kata Rina ….. membuat Laela tertegun.

“Duuh, ampuun deh kalau sudah begini. Aku nggak sadar kita sedang berada di luar pagar gaib,” tukas Laela seraya menepuk jidat.

Rina tidak menyahut. Sejenak ia teralihkan perhatiannya oleh suatu sosok di seberang jalan. Sosok seseorang yang sedang termangu menatap ke arah puskesmas.

“Di luar ada orang, la. Mungkin dia mau berobat?” ucap Rina seraya bangkit dari duduknya.

Laela turut bangun dari duduknya kemudian melihat ke seberang jalan di mana sosok itu berada. Ia bersama Rina keluar dari puskesmas berniat menghampiri sosok tersebut.

Namun mereka berdua langsung menghentikan langkah. Mereka terkesiap melihat rupanya sosok tersebut bukanlah manusia melainkan sesosok penampakan yang menerawang.

Sosok itu adalah seorang laki-laki berusia setengah baya dengan penampilan lusuh dengan kedua matanya menghitam serta mulutnya menganga.

“Iitu haantu…….!!!” jerit Laela seraya berlari menghambur diikuti Rina ke arah puskesmas.Sesampainya di dalam puskesmas, mendadak listrik padam. Keduanya menjadi sangat panik karenanya. “Rin, kok tiba-tiba jadi mati lampu begini, sih!” pekik Laela panik seraya mencari-cari smartphone-nya.

“Ya aku nggak tahu, la. Ini sudah kehendak alam kali harus mati lampu,” tukas Rina.

“Kehendak alam? Kehendak perusahaan listriknya kali.” Laela akhirnya menemukan smartphone kemudian menyalakan senternya.Rina kembali duduk di kursi, sementara Laela melihat ke seberang jalan di mana sosok itu tidak terlihat karena gelap.

“Duuh, kenapa harus mati lampu segala, sih?” umpat Laela kemudian turut duduk di samping Rina.

“La? Kok di belakang seperti ada orang ya? Kita di sini cuma berdua saja, kan?” Kata-kata Rina sontak membuat Laela menahan nafas karena merasa takut. Rina yang merasa penasaran menengok ke belakang.

“Aaaaaaaahhhh……..”

Seraut wajah menyeramkan penampakan perempuan berambut panjang berpakaian putih kusam menatap garang ke arah Rina dan Laela. Keduanya pun segera keluar dari puskesmas dan lari pontang-panting menuju rumah warga terdekat.

“Haah, haah, rumah ini yang paling dekat tapi kok seperti kosong?” ucap Laela terengah-engah. Rina menoleh ke belakang untuk memastikan mereka tidak diikuti hantu tersebut. Namun ketika ia mengalihkan perhatian, mendadak sosok tersebut ada di hadapannya. Sementara Laela tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Aaaaaaahhhhh, tolong!!!” Rina menjerit sejadi-jadinya. 

Rina sekuat tenaga berlari menjauhi sosok menyeramkan tersebut. Sembari berlari ia berteriak-teriak memanggil Laela.

“La, kamu di mana? Jangan pergi begitu saja, dong!”

Rina terus berlari hingga mencapai pos ronda yang di sana tidak ada siapapun yang berjaga.

“Lengkap sudah penderitaanku,” ucap Rina ketika menyaksikan gardu dalam keadaan kosong. Akhirnya, sosok tersebut muncul kembali di hadapan Rina.

“Aaaaaa…….!!!” 

Namun kemudian seseorang menariknya dari belakang kemudian mengibaskan semacam selendang ke arah sosok menyeramkan itu.

“Pergi kamu!” teriak orang tersebut.

“Mbak Rahayu?” Rina dapat mengenali siapa yang barusan menolongnya.

“Kita pulang, rin. Laela juga sudah di rumah,” ucap Rahayu seraya menarik tangan Rina. Selanjutnya ia membawa Rina pulang di mana di rumah kontrakan itu Laela sedang menunggu dengan wajah cemas.

“Kok kamu ninggalin aku, sih!” semprot Rina ke Laela.

“Yang ninggalin duluan siapa!” sergah Laela. “Kamu malah ninggalin aku pas….” 

“Sayang-sayangnya? Sebaiknya kalian masuk ke rumah, aku akan ikut menginap,” potong Rahayu. “Lagipula aku harus memberitahu kalian soal Dita.”

Rina dan Laela pun masuk ke dalam rumah diikuti Rahayu yang terus waspada menoleh ke belakang. 

“Dita sekarang sedang di Rawa Gaib. Untungnya dia tidak sendiri di sana,” ujar Rahayu membuka pembicaraan ketika mereka sudah di kamar.

“Itu bukan keberuntungan, mbak. Dita tidak sendiri karena di sana banyak demit, kan?” tukas Laela seraya bergidik.

“Maksud saya ada orang lain yang juga terperangkap di sana. Siapapun dia pasti bernasib sama seperti Dita,” kata Rahayu.

“Terus apa yang harus kita lakukan?” tanya Rina. “Kita harus menolong dan mengeluarkan Dita dari sana.”

“Mau tidak mau kita harus susul dia,” tukas Rahayu. 

“Haah? Menyusul Dita ke alam gaib? Aku sih nggak mau, mendingan ikut Ki Rohidin ke hutan!” sergah Laela seraya menatap gusar ke arah Rahayu.

“Bagaimana caranya kita menyusul Dita, mbak. Memangnya mbak tahu cara pergi ke alam gaib?” timpal Rina.

“Laela, kamu terlalu menganggap enteng hutan itu. Kamu tidak tahu kalau di tengah hutan ada pertapaan Ki Rawuk yang belum lama ini aktif kembali. Padahal Ki Rawuk sudah tidak di sana lagi,” tukas Rahayu saat duduk di atas tempat tidur Dita.

“Tapi aku nggak mau pergi ke alam gaib,” ucap Laela keukeuh (ngotot). 

“Jangan paksa dia, mbak. Nanti juga di sini ada temannya yaitu mbak-mbak yang tadi,” ucap Rina membuat Laela mendelik.

“Mending aku ke rumah Pak Dodi. Hanya dia yang tidak takut hantu,” tukas Laela seraya mencibir.

“Kata siapa?” kata Rahayu seraya menggeleng. 

“Kata em, dong.” Laela merebahkan badannya.

“Maksain banget, sih,” komentar Rina yang dalam posisi berbaring.

“Sebaiknya kalian tidur. Besok kita harus bersiap untuk berangkat ke Rawa Gaib. Kebetulan besok malam adalah malam Jumat Kliwon,” kata Rahayu membuat Laela dan Rina tercengang.

“Seenaknya banget sih mengambil keputusan!” gerutu Laela yang disambut delikan Rahayu.

“Sangkapati akan datang jika kamu tidak ikut,” kata Rahayu menakut-nakuti.

“Tidak takut, weew!” sergah Laela. 

Singkat cerita, malam telah berlalu. Pagi pun menjelang. Pagi-pagi sekali Rahayu sudah berada di luar sedang memantau keadaan di sekitar menggunakan penglihatan batin.

“Ini adalah satu-satunya cara. Mau bagaimana pun juga hanya mereka berdua yang bisa pergi ke sana,” gumamnya. 

Cerita dilompatin hingga beberapa jam kemudian. Sore itu Rina dan Laela sedang berada di ujung jembatan yang membentang di atas sungai yang cukup lebar. Sungai itu merupakan perbatasan wilayah antara Desa Cikahuripan dengan Desa Waluh. Mereka berdua tampaknya sedang menunggu seseorang yang belum juga datang.

“Jangan-jangan mbak Rahayu membohongi kita, lagi,” ujar Laela dengan wajah suntuk.

“Kita tunggu saja, la. Apalagi kita disuruh menunggu sampai menjelang maghrib. Kalau nggak, katanya Sangkapati akan muncul,” tukas Rina.

“Rin, rin, kamu itu kok polos banget, sih. Sangkapati itu hanya cerita bohong buat menakut-nakuti pendatang seperti kita ini. Lagipula mana ada hantu yang bisa memakan manusia,” sergah Laela. “Mbak Rahayu juga kok kolot banget, sih. Seharusnya perempuan seumuran dia pikirannya lebih maju apalagi di era globalisasi yang hampir basi ini.”

Rina menghela nafas.

“Mbak Rahayu kan cuma berniat melindungi kita, la. Apa yang dia lakukan tidak lebih dari sikap tanggung jawabnya terhadap pendatang seperti kita. Kita juga sebagai pendatang tidak boleh songong,” kata Rina.  Laela mendengus.

“Coba kalau kita dari dulu PKL-nya di tempat lain. Kejadian yang menimpa Dita tidak akan terjadi,” ucapnya.

“Memangnya kamu mau kita PKL di mana, la? Aku sudah mencari ke semua lokasi, hanya di sini satu-satunya lokasi yang kosong dan lebih dekat,” tukas Rina. 

“Kita baru lima hari di sini tapi sudah mengalami gangguan-gangguan begini. Aku rasanya ingin pulang!” kata Laela setengah berteriak.

Rina terdiam kemudian menatap ke arah aliran sungai yang berwarna agak kecokelatan karena di bagian hulu sedang terjadi hujan. Ia tiba-tiba terperanjat saat melihat sesuatu yang hanyut di aliran sungai yang deras itu.

Bukan benda biasa yang hanyut melainkan sesosok mayat berpakaian serba putih dengan rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Otomatis Rina menjerit. Namun ketika ia hendak memberitahu Laela, tiba-tiba temannya tersebut tidak ada di sampingnya lagi.

Rina tentu saja kalang kabut.

“Laela, kamu di mana? Kok ninggalin aku, sih!” pekik Rina seraya beranjak hendak mencari Laela. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Yang lebih membuatnya tambah ketakutan, hari kini sudah gelap. Bahkan sangat gelap untuk petang. Di saat itu ia merasakan hembusan dingin di tengkuknya, membuat ia mencoba menoleh ke belakang.

“Aaaaaaaaaaaaaa………..!!!” 

Rina menjerit ketika sesosok perempuan berpakaian serba hitam dengan wajahnya yang rusak menampakkan diri tepat di depan wajahnya. Rina pun melorot pingsan. Selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi. 

Source Thread: Twitter @acep_saep88

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *