RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Rumah KUNTILANAK

Hunian lawas, Semarang 1978

Kisah nyata

Horor klasik lagi nih :))

Cerita ini adalah pengalaman dari “ibu Sulami”, saat menghuni rumahnya di pinggiran kota semarang di era 70an. Seperti biasa sy akan menceritakan dari sudut pandang bu Sulami..

Nara : Bu Sulami

Semarang 1960,

Ditahun inilah rumah ini dibeli oleh ayah sy, bersamaan dengan lahirnya beberapa bulan kemudian. Jd bisa dibilang sy tinggal dirumah ini dari lahir, sebagai gambaran ini adalah rumah biasa dengan sepetak pekarangan yg cukup luas di belakangnya. Image

Sejak pertama kali ditempati di Pekarangan itu sudah tumbuh 3 Pohon, yaitu Sawo, Mangga, & bambu. Kenapa sy harus menyebutkan 3 pohon ini? karena nanti ini akan ada hubungannya dengan cerita ini. 

Bag .1

—- KELAHIRANku —-

Ada sedikit cerita tentang lahirnya saya yg kebetulan sy lahir dirumah ini..

Image

Di bulan juli 1960, kata ibu wktu itu sekitar jam 1 malam, ibu membangunkan bapak karena ingin buang air, kebetulan letak kamar mandinya terpisah dari rumah, berada di

belakang rumah di dekat pepohonan itu. Di papahlah ibu menuju kamar mandi, di pertengahan jalan, bapak mendengar suara anak ayam yg sepertinya sumbernya dari dekat pepohonan itu. Aneh memang karena kita sama sekali tidak memelihara ayam, tapi bapak tidak memperdulikannya. Sampailah dikamar mandi, ketika ibu sedang buang air, suara ayam itu masih terdengar walau semakin samar. Dengan sedikit menerawang bapak melihat ke arah 3 pepohonan itu yg tentunya gelap, tapi semakin diamati, seperti ada sesuatu. 

Di atas pohon mangga tepatnya, seperti ada putih-putih yg duduk di rantingnya. Bapak yg takut, segera memalingkan wajahnya dan berdoa sebisanya. Tapi malah terdengar suara ketawa cekikikan, bapak ketakutan setengah mati, tapi ketakutan itu langsung terpecah karena erangan ibu. Dari dlm kamar mandi, ibu kesakitan, sepertinya ibu mau melahirkan. 

Disitu bapak langsung menggendong ibu menuju kamar, sementara suara cekikikan itu masih terdengar seakan mengikuti sampai kamar. Disitu ibu juga mendengarnya, tapi suasana sudah terlalu panik.

Sementara itu bapak segera mengambil sepeda kayuh untuk memanggil bidan, disitulah ibu sy ditinggal sendiri dirumah. Cukup lama hampir 1jam, karena jarak kerumah bidan itu hampir 2-3 kilo. Disinilah terjadi pengalaman yg tidak pernah bisa ibu sy lupakan. Jadi ditengah ibu menahan sakitnya, dibalik jendela kamar terdengar suara cikikikan sembari mengetuk-ngetuk. Ibu sy yg ketakutan hanya bisa rebahan sambil berdoa memegang tasbih. Tapi Suara itu semakin menjadi-jadi, seperti mengejek.

Ibu melihat ke arah jam, yg kira2 menunjukan hampir jam 2. Tapi suara itu masih juga ada, semakin lama, mulai timbul rasa marah dari dalam diri ibu sy. Dengan sekuat tenaga dia lempar tasbih yg digenggamnya ke arah jendela itu sambil berkata “NEK WANI METU KOWE!!!”

*(kalau berani keluar kamu!!!)

Sejenak suara itu berhenti, suasana malam itu hening. Tapi tiba2 terdengar suara wanita dibalik jendela itu, suaranya agak serak, suara itu berkata “Aku ora wedi..” (aku tidak takut). Diiringi oleh suara cekikikan, dan gangguan itu hilang. Sampai beberapa saat kemudian bapak sy datang bersama Ibu bidan, sayapun lahir keesokkan harinya kira2 jam 7 pagi.

Cerita ini tidak hanya berhenti disini, masih ada lagi cerita seram pasca sy dilahirkan, yg tentunya di alami oleh orang tua saya. Beberapa hari setelah kelahiran sy, para tetangga mulai berdatangan untuk menjenguk sy, cukup ramah mereka dengan kami yg masih tergolong warga baru. Seperti menyambut senang kelahiran saya, karena ternyata hanya saya satu-satunya bayi yg berhasil dilahirkan di rumah itu. Jadi singkatnya kata para tetangga sekitar, rumah ini mempunyai semacam “kutukan”, dimana tidak ada bayi yg berhasil lahir selamat kalo tinggal dirumah ini. Katanya rumah ini sempat 5/6 kali berganti pemilik, dan semua pemiliknya tidak berhasil mempunyai anak. Ada saja penyebabnya, kalo tidak keguguran ya meninggal. Setelah dilahirkan, konon katanya itu disebabkan oleh kuntilanak yg menghuni area rumah ini. Tentu saja Dengan kelahiran saya mematahkan semua stigma itu, sy lahir dengan sehat di rumah ini. 

Saat Cerita ini mulai terdengar ke orang tua sy, mereka mulai kembali mengingat kejadian waktu itu. Tentu saja mereka berdua sedikit khawatir, tapi mereka mencoba untuk memendamnya dalam-dalam.

Bulan pun berlalu, pasca kelahiran saya katanya banyak kejadian aneh & seram dirumah ini. Seperti suara tangisan wanita, bau-bau melati, suara ketawa cekikikan, suara ketukan, suara anak ayam padahal tidak punya peliharaan ayam, & barang2 yg suka berpindah tempat. 

Walau kejadian2 aneh itu jarang & tidak setiap hari, tentunya itu cukup mengganggu keluarga kami. Kata ibu dulu sempat memanggil kyai untuk mengusir penunggu rumah ini, tapi kenyataanya gangguan itu masih muncul kembali. Pernah disuatu malam, waktu itu ditengah malam katanya sy terbangun & menangis kencang, bergegas ibu sy memberikan sy asi. Tapi sy tidak mau, mulut sy seperti terus menghindar ketika diberikan asi oleh ibu sy, karena tidak mau tenang sypun digendong oleh bapak sy.

Ditimang-timang sambil berjalan-jalan keluar kamar, sy masih menangis dan bahkan menjadi-jadi. Bersamaan dengan itu, ada suara ketukan pintu depan rumah. “tok..tok..tok..kulonuwun” bapak saya pun menghampirinya.

Tapi setelah dibukakan, tidak ada siapa-siapa bapakpun menutup pintu itu lagi dan berjalan kedalam rumah. Sambil menenangkan sy yg terus menangis, tapi baru beberapa langkah, pintu itu kembali ada yg mengetuk. Dengan agak kesal bapak berjalan cepat dan langsung membukanya… “tidak ada siapa-siapa”, sudah tidak beres ini batin bapak sy.. 

Tapi setelah bapak sy berbalik badan, terdengar suara dari atas, “OPO, GOLEKI AKU YO??” (apa, nyariin aku ya??) diiringi suara cekikikan. Setelah bapak menengok ke atas, dalam kondisi agak gelap diruangan itu terlihat sosok wanita berambut panjang yg menempel di sudut atas dinding. Wajahnya tak begitu jelas katanya, bapak sy langsung berlari menuju kamar. Anehnya disitu sy mulai berhenti menangis, sembari memberi sy asi. Ibu sy bertanya ke bapak yg terlihat ketakutan, tapi bapak tidak mau bercerita apa-apa waktu itu. 

Image

Keesokan harinya bapak sy sakit demam & tidak masuk kerja, barulah disitu bapak bercerita kepada ibu tentang apa yg dilihatnya semalam. Rasanya mau pindah saja dari rumah ini batin bapak. Tapi nyatanya kita terus bertahan. Setelah kejadian itu, bapak sy mengadu ke orang tua (nenek), dan akhirnya diputuskanlah nenek untuk ikut tinggal dirumah ini. Untuk menemani ibu saya, kebetulan nenek sy adl seorang kejawen, beliau sangat pemberani dengan hal-hal seperti itu.

Sebenarnya nenek sudah tau tentang rumah ini, tapi memang beliau ini ibarat “kenthongan” bila tidak ditabuh takkan berbunyi. Bahkan pada anaknya sendiri, seandainya bapak tidak mengadu ke nenek, tentu nenek akan diam saja, dan menganggap bapak bisa mengatasinya sendiri. 

Setelah nenek tinggal disini, nenek melakukan “Tirakat” untuk mencari tahu apa yg terjadi di rumah ini, & singkat cerita dalam Tirakatnya nenek ditemui oleh sosok kuntilanak. Yang katanya menghuni di salah satu pohon di belakang rumah ini…

Kata nenek memang kuntilanak, tapi tidak biasa. Wujudnya tinggi besardan yg membuat orang tua saya khawatir. Kuntilanak itu “menginginkan saya”, begini kata nenek, sosok itu berkata “Putumu tak momong yo” (Cucumu aku rawat ya?), tentu saja nenek tidak mau, dan balik memarahi sosok itu, walau dia meminta secara sopan kata nenek, “ORA ISO!!!! LANGKAHONO MAYITKU!!!” (tidak bisa!!! Langkahi dulu mayatku!!) tapi sepertinya sosok itu takut dan menghilang.

Image

Sejak adanya nenek, semua gangguan tentang kuntilanak ini sudah tidak ada. Paling cuma suara anak ayam saja, itu cuma menunjukan bahwa dia masih ada, itu juga jarang sekali terjadi kata orang tuaku.

Bag.2

sepeninggal “NENEK”——

Image

Semarang 1978

Bertahun berlalu, sy pun mulai tumbuh dewasa. Tapi ada yg aneh disini, sy tidak pernah mempunyai adik. Ibu memang beberapa kali hamil tapi selalu keguguran hingga akhirnya ibu steril, kala itu sy sama sekali belum tahu tentang cerita ini. 

Kami masih hidup bersama  enek, tentu saja sy adalah cucu kesayangannya, walau memang beliau ini sosok yg galak, tapi kami berdua sangat dekat. Sekarang beliau sudah semakin sepuh dan mulai sering sakit2an, dan terjadi satu malam yg akan merubah hidup saya. Waktu itu nenek, sedang tidak enak badan, & menyuruh sy untuk tidur bersamanya, sy tidak curiga karena memang biasa seperti itu ketika nenek sakit sy lah yg menemaninya. Waktu itu kami tidur seperti biasa, nenek tidur di atas ranjang & sy menggelar kasur di lantai. Kamipun tidur dengan nyenyak, sampai sy terbangun oleh suara ketukan dipintu “Tok..tok..tok” mi..mi..” suaranya seperti ibu, kenapa tidak langsung masuk saja batin sy. saya pun bangun dan mengeceknya tapi tidak ada siapa-siapa, sya tengok kanan kiri, tapi tampak sepi. Sampai sy melihat ibu berjalan ke dapur, oh ibu mungkin ingin meminta bantuan. Saya pun berjalan menuju ke dapur, tapi sampai disana, tidak ada siapa-siapa, sepi bahkan lampunyapun mati. Terus siapa yg tadi berjalan kesana, bergegas sy kekamar ibu, & benar ibu berada dikamar. 

Dia masih tertidur, seketika sekujur badan terasa merinding. Sayapun berjalan dengan langkah yg terasa sangat berat menuju kamar nenek, seketika beberapa langkah, ada yg menepuk pundak sy, reflek spontan sy langsung menoleh, saya terpaku.. 

Disitu terlihat sangat jelas walaupun suasana agak gelap ya, sosok berbaju putih, tingginya hampir menyentuh langit2 rumah, lalu sosok itu agak menunduk dan berkata “OPO NDUK, GOLEK’I AKU YO??SAIKI WES KETEMU..” (apa nak, nyari’in aku ya, sekarang sudah ketemu) sambil tertawa..

Image

Pikiran saya seperti hilang, mau teriak pun tidak bisa seketika semuanya menjadi gelap, sy tidak sadarkan diri. Dan bangun keesokan harinya, dengan demam yg tinggi, hampir 2 hari sy rasanya tidak ingin bicara, karena selalu terbayang sosok itu..

Tapi sepertinya nenek sudah tahu apa yg terjadi, akhirnya kami pun mulai ngobrol berdua. Sy ceritakanlah apa yg terjadi malam itu, nenekpun akhirnya juga menceritakan semuanya. Hingga sy pun tahu bahwa kuntilanak itu dulu waktu kecil sempat menginginkanku, tapi nenek berkata yg intinya, “tenang saja, sekarang kamu sudah besar, “dia” hanya suka dengan anak kecil, kamu harus berani, nenek sudah tua, tak kuat seperti dulu… Begitu kira2 kata nenek waktu itu.. 

Haripun berlalu.. Tapi yg sy tidak tahu itu adl kata2 terakhir nenek, karena sehari kemudian nenek jatuh sakit. Masuk rumah sakit dan sekitar sebulan nenek meninggal dunia, diusia hampir 90 tahun. Dan sepeninggal nenek, disinilah puncak kengerian itu terjadi. Sekitar 40harian setelah kepergian nenek, mulai terjadi hal-hal aneh.. Sore hari bapak & ibu sy berpamitan mau pergi sebentar di rumah kerabat, sy yg masih dikamar cuma iya-iya aja. Sembari melangkah pergi mereka berpesan agar tidak lupa menutup pintu dan jendela. 

Sy tengah membaca buku waktu itu, tak terasa sudah menjelang magrib sy yg memang takut memutuskan untuk pergi kerumah tetangga, dan akan kembali kalau nanti bapak & ibu sudah pulang. Tapi sebelum itu sy harus menutup pintu2 & jendela, sy tutuplah pintu belakang dan jendela2 dengan agak tergesa-gesa. Sampailah di kamar orang tua sy karena memang jendelanya belum ditutup, tapi ketika sy masuk sy benar2 kaget karena ada ibu disitu sedang duduk didepan cermin, tak jelas raut wajahnya karena memang hari sudah petang.

Image

Disitu sy tidak jadi masuk, sy langsung berpikir itu bukanlah ibu saya, sy berjalan perlahan mundur dan lari keluar rumah hingga sekitar pukul 8 malam bapak & ibu saya datang menjemput.

Setelah itu sy memang sengaja tidak menceritakan kejadian itu kepada orang tua sy, karena sy tidak mau membuat mereka gelisah & berfikir macam-macam. Seperti kata nenek juga sy harus menjadi wanita yg kuat, walaupun sebenarnya sy mulai agak tidak betah tinggal di rumah ini.. 

Selang hari, sy mulai mendengar suara anak ayam berkeliling rumah. Sudah aneh memang, karena sekali lagi kami tidak Pernah memelihara ayam. Sy tidak mau ambil pusing, sy tarik selimut & tidur tapi ditengah malam, lagi-lagi sy dibangunkan oleh suara ketukan.. 

Tok…tok..tok.. Dari pintu kamar.. Sy diamkan saja, tapi ketukan itu pindah ke jendela, jelas sekali karena berada tepat di atas sy.. Sy yg ketakutan bersembunyi di dalam selimut, tapi dibalik selimut suara ketukan itu masih saja ada. Disitu tentu saja sy tidak bisa tidur dan terdengar suara pintu kamar terbuka. Sy yg melihat dari balik selimut seperti ada orang yg masuk, karena memang lampu tidak sy matikan. Terlihat bayangan itu, sy langsung merasa itu bukan bapak ataupun ibu, sosok itu terlihat semakin mendekat, sy yg takut langsung memejamkan mata, sambil berdoa sebisanya, dan terasa ada yg mengelus2 badanku. Walau masih dalam keadaan berselimut tipis, tapi sangat terasa elusan tangannya begitu kasar. Sy sama sekali tidak bisa bergerak, keringat mulai bercucuran.. 

Sambil terus berdoa.. Perlahan sosok dan elusan itu sudah tidak ada, sy menguatkan diri untuk menyingkapkan selimut ini, dan ketika sy membuka selimut tidak ada siapa-siapa… Tapi disitu pintu kamar tertutup sendiri dengan perlahan, disusul suara tertawa lirih.

Suasana seketika hening, sy mencoba bangkit dari tempat tidur untuk mengunci pintu, tapi ketika sy hendak berjalan. Seketika pintu itu terbuka, terbanting keras, hingga membangunkan bapak dan ibu.

Beberapa saat bapak datang, memeriksa ke kamar saya, dan bertanya ada apa sayapun menangis dan menceritakan yg terjadi, malam itupun sy tidur bersama bapak dan ibu. Walaupun sebenarnya sy tidak tidur sama sekali hingga pagi menjelang, keesokan harinya sy kembali demam, disitu akhirnya kami semua saling bercerita.. 

Karena setelah nenek meninggal memang kita semua diganggu oleh sosok kuntilanak itu. Akhirnya bapak dan ibu berembuk untuk mencari solusi dan bapak ingat teman nenek yg masih hidup, teman sesama orang kejawen, akhirnya bapakpun menemui orang itu… 

Namanya eyang jiwo, singkat cerita datanglah beliau kerumah. Orangnya kalem, bahasanya krama inggil (jawa halus) perawakannya juga ramping & tatapannya sayup. Sy sempat meragukannya, karena karakternya beda sekali dengan nenek saya, yg galak & tatapannya tajam, tapi ternyata sy salah. Di situ eyang jiwo berkata “Kala riyin, suwargi mbak suratmi (nenek sy), sampun nate sanjang kalih kulo, bilih wonten mriki wonten danyangipun” (wkt dulu alm. Mbak suratmi sudah pernah bicara dengan saya, kalo rumah ini ada penunggunya). 

Kami ngobrol panjang lebar, di tengah obrolan eyang seketika memotong pembicaraan dan meminta air serta sapu lidi, waktu itu hari masih siang. Lalu beliau mengajak kita semua ke belakang rumah.. Eyang mulai menyapu di bawah 3 pohon itu.. 

Kami masih bingung, sedang apa eyang jiwo, lalu eyang menyuruh kita mendekat. Menuangkan air di tanah bawah pohon sawo, beliau menyuruh bapak mengambil wangkil (cangkul kecil) & menyuruh bapak menggali tanah yg sudah dibasahi air itu… 

Bapakpun mulai menggali tanah itu, lumayan dalam hingga seukuran lengan orang dewasa, dan apa yg ditemukan?? Beberapa serit kutu, kalo tidak salah jumlahnya ada 7/8 buah, dan ibu mulai ingat, itu adalah serit punya ibu yg hilang..

Image

Dulu serit itu selalu ditaruh di samping bantalku ketika sy masih bayi, bersama gunting & pisau kecil, katanya untuk tolak bala, tapi setiap hari serit itu selalu hilang, ibu membeli lagi dan hilang lagi ketika ditaruh di samping bantalku.. Sungguh tidak masuk akal*** 

Kata eyang jiwo serit ini diambil oleh kuntilanak itu, di kumpulkanlah serit itu dan eyang jiwo menyuruh bapak untuk menggali lebih dalam. Kemudian itemukan lagi gumpalan rambut yg berbau busuk, eyang jiwo mengambil rambut itu dan membentangkannya… 

Disini sangat aneh, karena rambut itu panjangnya hampir 3 meter. Rambutnya “agak gembel” , baunya sangat busuk.. Mbah jiwo meletakkannya bersamaan dengan serit-serit itu dan beliau mengajak kita masuk ke dalam rumah..

Image

“dia akan marah karena ini” kata eyang jiwo, tapi ini memang harus dilakukan, sembari menunggu malam. Eyang jiwo terus bercerita tentang nenek sy, kata beliau nenek sy sebenarnya bisa melakukan ini, tapi dia tidak tega. Karena menurut kepercayaan jawa, “mereka” (mahluk halus), juga punya kehidupan, jadi menurut nenek bila kita dan mereka saling bersinggungan. Lebih baik jauhkan saja, jd yg selama ini nenek lakukan hanya menahan saja agar kuntilanak itu tidak mengganggu, tapi sepeninggal nenek mungkin tidak ada lagi yg bisa menahan. Sehingga sosok itu pun kembali mengganggu, begitulah penjelasan eyang jiwo, “Niki sampun keliwatan” (ini sudah melampaui batas) jadi harus ditindak, kata beliau. Singkat cerita malam pun tiba, eyang akan melakukan pemindahan..

Tapi eyang jiwo tidak sendiri, beliau bersama mas panggih (keponakan eyang jiwo), ritual dilakukan tepat didepan 3 pohon itu. Jadi disitu ada Bapak, eyang jiwo & mas panggih, sedangkan sy dan ibu disuruh menunggu di dalam rumah. Jadi apa yg dilakukan disitu sy tdk begitu tau. Sy & ibu menunggu di dalam rumah hingga kurang lebih 1-2 jam, sampe kami hampir ketiduran. Tapi sekitar jam 2 malam, kami mendengar suara tangisan & rintihan wanita dari belakang rumah, bergegas kmi mengintip dri balik jendela, terlihat kobaran api.

Mas panggih yg duduk bersimpuh menghadap ke arah kami & bapak serta eyang jiwo yg bersila menghadap ke arah sebaliknya, suara tangisan itu sepertinya keluar dari mulut mas panggih, tapi benar2 seperti wanita. Sepertinya dia “dirasuki”, terlihat eyang sedang berdebat dengan sesuatu yg merasuki mas panggih. Kami yg mengintip dari balik jendela yg ruangannya sengaja di matikan lampunya tapi tiba2 “Mrene koe rasah intap-intip!!” (sini kamu gak usah mengintip!!) kata itu keluar dari mulut mas panggih, suaranya benar2 seperti perempuan.. 

Eyang pun memanggil kami berdua, kami menghampiri dengan gugup & setengah ketakutan, kamipun duduk bersama, disitu eyang jiwo menjelaskan bahwa inilah sosok yg selama ini mengganggu di rumah ini, lalu dia segera menyambar pembicaraan kita, dengan bahasa “jawa kawi”. Yg intinya adalah “KALIANLAH YG MENGGANGGUKU, PEREMPUAN SUNDEL ITU MENGURUNGKU SELAMA 17TAHUN!!!” perempuan yg dimaksud adl nenek sy, sekali sy menatap mata mas panggih, dia balik menatapku, sangat mengerikan!! Wajahnya menjadi terlihat tua, kantong matanya hitam dengan ludah yg terus keluar, baru sekali ini sy melihat orang kesurupan. Dia seperti akan mengamuk, kemudian eyang jiwo membakar 1 serit & diapun merintih seperti kesakitan, disitulah eyang mulai mengajak dia berunding, yg intinya menyuruhnya untuk pindah dari rumah ini.

Dia tidak mau, dia bilang “aku lebih dulu tinggal disini” lalu eyang kembali membakar seritnya sembari kembali berunding, dia memohon ampun seperti kesakitan, tapi dengan dingin eyang berkata “meh coro alus opo kasar!!”(cara halus atau kasar) sembari kembali terus.

Membakar serit itu satu demi satu, sampai tinggal serit terakhir, diapun menyerah ketika serit itu mau dibakar, akhirnya dia mau pindah dengan satu syarat, dia ingin bersama dengan teman-temannya di satu sumur yg berada di bekas gudang “Vanilli”. 

Kebetulan gudang vanilli itu berada di pojok desa, masih satu wilayah dan dia minta digendong oleh eyang jiwo menuju kesana, syarat yg aneh ya. Padahal badan mas panggih saja cukup besar, tapi eyang jiwo menyanggupi persyaratan itu dengan sebuah janji** 

“Aku akan menyimpan serit dan rambutmu dan akan ku wariskan ke anak cucuku, jika kamu berulah lagi, aku akan membakar ini semua, kalau aku nanti sudah mati, maka keturunan akulah yg akan melakukannya” begitu kira2 kata eyang jiwo, diapun menganggukan kepalanya.

Dengan tergopoh-gopoh eyang jiwo menggendong kuntilanak itu yg berada dalam tubuh mas panggih, kami bertiga mengikuti dibelangkangnya. Saat kami mulai keluar rumah, ternyata sudah ada beberapa warga didepan rumah, yg mungkin mendengar keributan ini.

Kami tak sempat menjelaskan kepada mereka, tapi sepertinya mereka paham. Kami pun berjalan mengikuti eyang jiwo yg menggendong mas panggih, tapi disini sy mulai heran, eyang jiwo ini kakek umur 75tahunan, tapi beliau terlihat seperti tidak begitu berat berjalan dengan beban sebesar itu. Bahkan dia sesekali berlari kecil saat mengangkat beban itu,.. Akhirnya sampailah kita di sumur bekas gudang vanilli itu, eyang pun menurunkan mas panggih dan berkata “wes, wes tekan iki, saiki kowe bali”, sosok di dalam mas panggih itu diam sejenak.

Dan menangis, tersedu2.. Benar2 mengeluarkan air mata, intinya dia meminta maaf kpd keluarga kami, & dia menjelaskan 1 hal, bahwa tentang kutukan kelahiran dirumah itu, sesungguhnya tidak benar. Intinya dia memang suka dengan bayi/anak kecil, tapi dia tidak mempunyai kemampuan untuk merenggutnya, apalagi merawatnya. Soal dulu dia pernah bilang ingin merawatku, itu hanya sebatas ungkapan saja. Akhirnya sosok itupun berpamitan dan keluar dari badan mas panggih, seketika mas panggih terkulai lemas & memutahkan cairan hitam.

Mas panggih juga sempat tak sadarkan diri untuk beberapa saat, jujur kami dan warga yg ikut masih tercengang heran. Apalagi sy yg menyaksikan ini dari tadi.. kata eyang jiwo “Ini memang tak masuk di nalar, tapi inilah tanah jawa”. 

Singkat cerita kamipun semua pulang, kalo tidak salah sudah sekitar jam 4 pagi. Kami semua ngopi bersama eyang, mas panggih & beberapa warga, disitu eyang jiwo berkata, ini semua sudah selesai, dia tidak akan lagi mengganggu di rumah ini.. 

Hari berganti, rumah ini memang terasa lebih adem, sudah tidak ada lagi gangguan2 dirumah ini. Tahun berlalu, sy masih tinggal di rumah ini, hingga menikah dan punya anak, dan sekarang punya cucu, rumah ini masih saya tempati sampai sekarang.. 

Walau sampai sekarang kadang ada orang yg masih menganggap rumah ini “Rumah Kuntilanak”. (ibu sulami)

——Sekian—– 

Note : Saya pikir, mungkin warga semarang tau deh ya, dimana rumah ini, coba tebak, kali aja bener.. :))) sampai jumpa di cerita lain.. 

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *