RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Rumah Makan Gaib

Based On True Story

( Semua nama, tempat dan Waktu dalam cerita ini disamarkan, mohon maaf bila ada kesamaan ).

Benar, Cerita ini terjadi ketika aku dan keluargaku melakukan perjalanan dari jawa barat menuju kampung halamanku yang ada di jawa timur.  Dan tidak hanya aku, waktu itu semua anggota keluargaku benar benar masuk dan makan di sebuah rumah makan yang ternyata, rumah makan tersebut adalah rumah makan ghaib. 

Awalnya, sepertinya anak pertamaku telah menyadari jika rumah makan tersebut adalah rumah makan Ghaib, namun karena aku saja yang kurang peka dengan semua isyarat yang telah diberikannya, akhirnya semuanyapun terjadi begitu saja.

Masih sangat teringat jelas dikepalaku. Waktu itu, adalah hari libur panjang anakku setelah dia selesai melakukan ujian nasional disekolahnya. Aku yang memang sudah lama tidak berjumpa dengan ibuku, waktu itu hendak mengajak suamiku untuk mengunjungi orang tuaku yang ada di jawa timur. 

” Mas, mumpung Dio ( anak pertama ) libur, ayo pulang ke jawa timur ” ucapku memulai obrolan di malam itu.

” Kapan ” ucap suamiku singkat.

” Ya kamu bisanya kapan, aku kangen banget sama ibu. Katanya, mbak Yuli juga melahirkan loh, kan kita bisa sekalian jenguk dia ” imbuhku. 

” Iya, tapi aku atur jadwal dulu ya dek, kerjaanku masih banyak. Mungkin, minggu depan aku baru bisa, tapi ya gak bisa lama lama, gimana ?. ” Terang suamiku jelas.

” Iya mas, tapi kira kira kapan, biar aku telpon ibuku, siapa tau beliau nitip sesuatu ” sahutku. 

” Hmmmmmm, Kalau kita berangkat kamis malam gimana. Jadi, nanti kita berangkatnya setelah aku pulang kerja. Terus, jumat & sabtu kita disana, Dan minggu malam kita balik kesini. Kalau gitu kan Senin aku bisa kerja lagi ” terang suamiku jelas. 

” Iya wes mas, terserah kamu ” jawabku.

” Bukanya apa apa, kalau berangkatnya kamis malam, Aku tidak terlalu banyak cuti dek,. Cutiku jadi cuma hari jum’at dan sabtunya saja, kan minggu aku memang libur. ” 

Imbuh suamiku sambil melihat kalender yang memang terpasang di dinding rumahku.

” Ya sudah, kamis depan ya berarti. Terimakasih ya mas. ” sahutku sambil memeluk suamiku dari belakang. 

Dan akhirnya, aku dan suamikupun sepakat untuk pulang ke jawa timur pada hari kamis malam di minggu berikutnya.

Singkat cerita, setelah beberapa hari berlalu, akhirnya hari yang kutunggu tunggu itupun telah tiba. Benar sekali,  hari itu adalah hari kamis dimana aku hendak mengunjungi orang tuaku. Aku yang memang sudah lama tidak bertemu, waktu itu benar benar menjadi sibuk mempersiapkan barang bawaanku yang nantinya akan kuberikan kepada orang tuaku. 

” Aku kerja dulu ya dek, kamu siapkan semuanya, jangan lupa bawa baju bajuku dan barang barang Lilla ( anak kedua ). Kasian, dia masih bayi, jangan sampai ada yang ketinggalan. 

Nanti sore pas aku pulang kerja, semuanya harus sudah siap agar kita bisa langsung berangkat. ” Ucap suamiku pagi itu sambil masuk kedalam mobil dan pergi ketempat kerjanya.

” Iya mas ” jawabku dengan mulai mempersiapkan barang barangku satu persatu. 

Waktu itu, tentu saja aku menyiapkan semua barang bawaanku dan barang anakku yang saat itu masih balita.

Dan tidak hanya itu, oleh oleh buat orang tuaku yang memang sudah kusiapkan sebelumnya pun, saat itu tidak lupa juga kutata rapi agar ketika suamiku pulang nanti, aku bisa langsung segera pergi.

Hingga akhirnya, sore hari pun tiba. Sore itu, sekitar pukul 17.00 sore, suamikupun pulang dari tempat kerjanya dan seketika memasukkan barang barang yang memang sudah kupersiapkan sejak pagi. 

” Mas, biar aku saja yang masukin semua barangnya kedalam mobil, kamu makan dulu dan istirahat, nanti habis maghrib saja kita berangkat. Kamu biar gak terlalu capek, nanti kamu nyetir jauh lo ” ucapku. 

” Sudah gakpapa dek, kamu urusin saja baju Lilla, mudah mudahan dia nanti gak rewel ya dek, ” sahut suamiku dengan terus memasukkan semua barang bawaanya satu persatu.

Dan singkat cerita, setelah semua barang bawaanku sudah masuk kedalam mobil, aku dan suamikupun berangkat menuju rumah orang tuaku sekitar pukul 18.00 wib. Sepanjang perjalanan, tentu saja waktu kuhabiskan dengan mengobrol bersama suamiku. 

Hal itu, memang sengaja kulakukan karena selain agar suamiku tidak cepat mengantuk, malam itu keadaan jalanan benar benar sangatlah sepi.

Dan tanpa terasa, waktupun berlalu begitu saja. Pinggir jalanan yang awalnya masih terlihat padat dengan pemukiman penduduk, malam itu perlahan mulai sepi dengan tidak adanya rumah yang terlihat berdiri. Hingga akhirnya, setelah beberapa jam kemudian, malam itupun aku sampai dikawasan hutan yang jauh dari keramaian.  Malam itu, waktu diponselku sudah menunjukan pukul 00.45 dini hari.

Keadaan jalanan yang sepi ditambah dengan tidak ada satupun lampu yang terlihat menerangi. Membuat saat saat itu, rasanya tidak akan pernah bisa kulupakan hingga saat ini. 

” Mas, hati hati ya ” ucapku sambil melihat kearah kanan dan kiri yang disitu, yang kulihat hanyalah pepohonan rimbun yang berjejer dengan rapi. 

Namun untungnya, setelah beberapa saat berjalan, malam itu aku tiba2 melihat dr kejauhan ada sebuah cahaya kuning kecil yg ketika km semakin mendekatinya, ternyata sumber lampu redup tersebut adlh sebuah rumah makan yg sepertinya satu satunya rumah makan yg ad dikawasan hutan tsb. Mengetahui hal itu, suamiku yang sebelumnya diam, malam itu tiba tiba mengajakku untuk mampir kerumah makan tersebut karena akupun tau, suamiku sejak pulang kerja tadi masih belum makan sama sekali. 

” Kita makan dulu ya dek, aku lapar nih ” ucap suamiku tiba tiba dengan mulai meminggirkan mobilnya dan berhenti tepat didepan rumah makan tersebut. 

Dan setelah mobil berhenti didepan rumah makan tersebut, akhirnya aku dan keluargaku pun turun dari kendaraan dan mulai melangkahkan kaki masuk kedalam rumah makan yang waktu itu, memang ada beberapa pembeli yang terlihat duduk di kursi kursi yang telah disediakan. 

Namun anehnya, waktu itu aku memang sempat sedikit bertanya tanya karena meskipun banyak pembeli, tetapi aku sama sekali tidak melihat adanya kendaraan yang terparkir di depan rumah makan tersebut selain kendaraan milikku. Padahal nyatanya, perlu kalian tau, rumah makan tersebut berada ditengah tengah hutan yang letaknya lumayan jauh dari pemukiman.

” Semua pembeli ini, kesini naik apa ya, kok gak ada motor atau mobil sih. 

Yang ada cuma mobilku, masak mereka kesini jalan kaki, kan disini gak ada rumah ” fikirku dalam hati sambil berjalan masuk kedalam rumah makan tersebut. 

Namun anehnya, belum selesai aku memikirkan semua itu, tiba tiba aku dikagetkan dengan anak pertamaku yang saat itu tiba tiba menarik bajuku.

” Maaa ” teriak Dio.

” Ada apa nak ” sahutku sambil menoleh kearah anakku yang saat itu berdiri tepat disampingku. 

” Aku gak mau makan ” ucap Dio.

Mendengar hal itu, tentu saja akupun seketika terkejut dan sedikit emosi karena waktu itu, akupun tau jika Dio juga masih belum makan sejak dari tadi. 

” Loh, kok gak mau, Sudah kamu harus makan, soalnya nanti gak ada rumah makan lagi, rumah nenek masih jauh, jangan bandel. ” ucapku sambil sesekali menoleh kearah suamiku yang saat itu masih terlihat sibuk memilih menu makanan yang memang sudah disiapkan. 

” Kamu makan apa dek ” ucap suamiku.

” Ayam goreng saja mas, oh iya, nih si Dio gak mau makan katanya ” imbuhku.

Mendengar ucapanku, suamiku yg sebelumnya sibuk memilih menu makanan pun, 

waktu itu tiba2 berjalan menghampiri Dio dan mencoba membujuk Dio agar dia mau makan ditempat tersebut.

” Dio, kalau kamu gak makan, besuk kamu pasti sakit. Kalau sakit, kamu gak bisa main sama Yuna. 

Katanya mau main sama Yuna, kalau kamu mau makan, besuk papa belikan mainan dirumah nenek. ” Rayu suamiku. Namun anehnya, bukannya menurut, malam itu anakku malah terlihat diam sambil sama sekali tidak menjawab perkataan dari suamiku. 

” Kok tumben Dio jadi pendiam, kan biasanya dia rewel dan suka banget ngomong ” fikirku dalam hati.

” Kamu kenapa sih nak, ” sahutku.

Dan lagi lagi, bukannya menjawab, Dio malah terlihat diam sambil berlindung dibelakang tubuhku dengan tangannya yang juga meremas rok panjangku. 

” Mau makan apa ” ucap ibu ibu tua pemilik rumah makan tersebut disela sela aku dan suamiku yang masih terus membujuk Dio.

” Anu bu, ayam goreng 2 porsi dan teh hangat nya 2. oh iya, nambah 1 porsi lagi ayamnya ya, tapi dibungkus saja, sepertinya anak saya lagi gak mau makan ” terang suamiku sambil mendekati ibu ibu tua pemilik warung tersebut.

Dan anehnya, bukanya melayani dengan penuh ramah, waktu itu ibu ibu tua pemilik rumah makan tersebut malah terlihat datar dengan tidak sekalipun tersenyum terhadapku. 

( Pemilik rumah makan tersebut, seorang ibu ibu tua mas. Kalau saya taksir, beliau berusia 60 tahunan. Kulitnya sawo matang dengan keriput yang terdapat diseluruh wajahnya. Dan tidak hanya itu, wajah ibu ibu tersebut benar benar datar dan dingin. 

Tapi setelah kuingat ingat lagi, semua pembeli di rumah makan tersebut juga terlihat datar dg tidak sekalipun mengeluarkan kata. Semuanya terlihat sibuk memakan makannya dengan sesekali melihat kearah bayiku yg saat itu masih tertidur lelap di gendonganku ). Tutur narasumber. Dan singkat cerita, setelah pesanan sudah kami ucapkan, akhirnya aku dan suamikupun duduk disalah satu kursi yang memang telah disediakan.

Waktu itu, sembari menunggu pesananku selesai dibuatkan, tentu saja akupun sesekali kembali melihat kearah pembeli lain yang malam itu, semua pembeli tersebut benar benar terlihat sangatlah aneh.

Jadi, jangankan tertawa, berbicara saja, waktu itu tidak ada yang terlihat. 

Hingga akhirnya, meskipun keadaan rumah makan tergolong ramai, akan tetapi rasanya benar benar terasa sepi dengan tidak ada satupun orang yang terdengar mengeluarkan kata untuk berbicara. Yang terdengar, waktu itu hanya suara jangkrik ditambah dengan suara kipas angin yang terdengar terus terusan berputar. Mengetahui hal itu, akupun perlahan menarik baju suamiku sambil sedikit berbisik jika keadaan didalam rumah makan tersebut sangatlah mencurigakan. 

” Mas, rumah makan ini kok aneh ya, semuanya pada diem ” bisikku.

” Aneh gimana, ya gitu dek, semua pada diem kan ini sudah malam, mungkin mereka sudah ngantuk ” jawab suamiku pelan. 

Dan setelah mendengar penuturan suamiku, akupun akhirnya diam dengan mulai kembali menyelimuti bayiku yang waktu itu masih dalam keadaan tertidur lelap. Namun anehnya, belum selesai aku menyelimuti bayiku, tiba tiba aku dikagetkan dengan suara suamiku yang terlihat terkejut sambil memandangi ponselnya.

” Loh dek, masak ini sudah jam 05.00 pagi sih ?.. ” ucap suamiku sambil menunjukan ponselnya kearahku. 

” Hah yang bener ” sahutku sambil ikut membuka ponselku.

Dan setelah ponsel ku hidupkan, malam itu aku benar benar sangat terkejut karena malam itu, waktu di ponselku benar benar sudah menunjukan pukul 05.00 pagi. 

” Loh, kok sudah jam 05.00 pagi sih, perasaan tadi masuk rumah makan ini masih tengah malam deh ” ucapku sambil terus mengotak atik ponselku.

Namun anehnya, belum selesai aku kebingungan dengan semua itu, tiba tiba ibu ibu pemilik warung itupun datang menghampiriku dengan membawa makanan yang memang sudah lama kami tunggu tunggu.

” Terimakasih bu ” ucapku pelan.

Dan lagi lagi, waktu itu ibu ibu pemilik warung tersebut hanya diam dengan tidak sekalipun menjawab ucapanku. Mengetahui hal itu, akupun mencoba tidak lagi memperdulikannya dan mulai mengajak suamiku untuk memakan makanan yang ada.

” Sudah mas, jangan difikir dulu, mungkin Jam di ponselnya yang konslet, kamu makan dulu ya, ” ucapku sambil perlahan memberikan piring yang ada didepanku. 

” Iya lah, makan dulu ah ” jawab suamiku singkat.

Tapi anehnya, ketika aku makan makanan yang memang sudah kupesan, aku kembali terkejut bukan main karena ternyata, masakan yang ada di rumah makan tersebut, rasanya sangatlah enak luar biasa. Merasakan hal itu, akupun terus saja melahap makananku dengan sesekali terheran heran dengan semua keadaan yang ada.

” Masakannnya enak banget nih, pantesan rumah makan ini ramai, ” fikirku dalam hati sambil mengarahkan pandanganku kearah anak pertamaku. 

” Dio makan ya nak, enak loh, kamu kenapa jadi diem aja ” tanyaku.

” Sudah dek, Dio sudah kupesankan dibungkus, nanti dimobil suapin saja dia, kayaknya dia capek perjalanan tadi ” sahut suamiku. 

Namun anehnya, belum selesai aku menghabiskan makananku, tiba tiba bayi kecilku terbangun dari tidurnya dan seketika menangis begitu saja

” Oooeeeeeekkkkkk ” 

Dan tidak hanya itu, tangisan bayiku waktu itu juga tiba tiba histeris dengan aku yang sama sekali tidak tau apa penyebabnya. Mengetahui hal itu, tentu saja akupun seketika menenangkannya sebisanya sambil berdiri dan mulai menggoyang goyangkan tubuhnya.  Hingga akhirnya, setelah mengetahui semua itu, suamikupun terlihat mempercepat memakan makanannya dan mulai mengambil bayiku dan digendongnya. 

” Sudah sini, biar aku yang tenangin, kamu selesain makanannya. Biar aku bawa Lilla keluar dulu, biar kutenangkan dimobil saja. Disini takutnya ganggu orang lain ” ucap suamiku dengan seketika berdiri dan keluar dari rumah makan tersebut sambil menggendong bayiku. 

Dan setelah suamiku pergi, tentu saja waktu itu aku didalam rumah makan tersebut hanya bersama Dio yang waktu itu masih saja diam dengan tetap tidak mengeluarkan sepatah kata.

Disitu, aku terus menghabiskan makananku yang tersisa hanya setengah saja. 

Dan tidak hanya itu, aku juga sesekali melihat kearah pembeli lain yang anehnya, mereka terus saja memakan makanan yang ada didepannya tanpa terlihat berhenti. 

” Dari tadi kok gak selesai selesai sih orang orang ini kalau makan ” Fikirku dalam hati dengan sesekali mengarahkan pandanganku kearah beberapa pembeli lain yang ada dirumah makan tersebut. 

Lampu dirumah makan tersebut, masih menggunakan lampu kuning dengan cahaya lampu yang memang menyala tidak terlalu terang. Didalam rumah makan, terdapat sekitar 8 meja panjang yang setiap meja terdapat buah buahan lengkap dengan beberapa makanan ringan dan gorengan. Dan tidak hanya itu, keadaan rumah makan tersebut bisa dikatakan sangat bersih meskipun letaknya ditengah tengah hutan perbatasan antar kota.

Hingga akhirnya, setelah aku memandangi bagian dalam rumah makan sambil mengunyah makananku, tiba tiba pandanganku teralihkan dengan adanya kalender yang saat itu masih menunjukan tahun 2000 yang tandanya, kalender tersebut tertinggal 10 tahun yang lalu.

” Kalendernya kok masih tahun 2000 sih, apa memang sengaja gak diganti ya ” fikirku. 

Dan anehnya, belum selesai aku memikirkan semua itu, akupun tiba tiba kembali dikagetkan dengan tarikan anak pertamaku yang saat itu terlihat kembali menarik bajuku.

” Ma ayo pergi “, rintih anakku.

” Mama belum selesai makan kok ngajak pergi ” sahutku. 

Dan tanpa menjawab perkataanku, tiba tiba anakku terlihat berdiri dan pergi keluar sambil sedikit berlari seperti anak yang sedang ketakutan. Mengetahui hal itu, akupun mencoba bersikap biasa saja karena kufikir, Dio waktu itu sedang menuju kearah mobil yang kutau, 

disitu masih ada suamiku yang sedang menenangkan bayi kecilku.

Dan singkat cerita, setelah aku selesai menghabiskan semua makananku, akupun seketika menuju kearah kasir rumah makan tersebut sambil kembali melihat kearah beberapa pembeli lain yg masih saja terus memakan makannya. Sesampainya dikasir, tentu saja akupun menanyakan harga dari semua makanan yang sudah aku pesan sebelumnya.

” berapa semuanya buk ?. Lalapan ayamnya 3 ya buk, 2 dimakan disini dan 1 dibungkus. Minumannya 2 dan krupuknya saya tadi ambil 5 biji ” ucapku jelas. 

” 15 ribu ” ucap ibu ibu tersebut singkat sambil menyerahkan bungkusan ayam goreng yang memang sudah ku pesan sebelumnya tersebut.

” Hah 15 Ribu ?. Apa gak salah bu, kok murah banget ” sahutku heran. 

Namun anehnya, bukannya menjawab, ibu2 tua tersebut terlihat hanya diam dg terus menatap wajahku.

Dan karena kurasa ibu ibu tua tersebut terlihat sangat serius, akhirnya tnp banyak tanya lg, akupun langsung membayarnya dan langsung berjalan prg meninggalkan rumah makan tersebut. 

” Waduh kok aneh banget sih rumah makan ini ” fikirku dalam hati sambil terus melangkah keluar.

Dan sesampainya aku diluar rumah makan tersebut, akupun seketika menghampiri suamiku yang saat itu masih berusaha menenangkan bayiku yang masih saja menangis tersedu sedu. 

” Lilla kok tumben ya dek, dia nangis terus loh, gak diem sama sekali ” ucap suamiku.

” Iya e mas, kenapa ya ” sahutku dengan tanganku yang mengambil bayiku dari gendongan suamiku.

Namun anehnya, belum selesai aku kebingungan dengan keadaan bayiku, Dio yang sebelumnya hanya diam, waktu itu tiba tiba menangis tersedu sedu sembari mengajak aku dan suamiku untuk segera pergi dari tempat tersebut.

” Mama…papa…ayo pergi….” Ucap Dio mengagetkanku. 

” Kenapa kamu kok nangis, kamu sudah besar loh, sudah kelas 6 SD, Kok masih nangis ” sahut suamiku.

” Ayo pergi pa..cepetan,. Aku takut ” rintih Dio. 

Dan karena kami rasa malam itu anakku sedang melihat sesuatu, akhirnya suamikupun bergegas menjalankan mobilnya dan kamipun pergi meninggalkan rumah makan tersebut.

Sepanjang perjalanan setelah dari rumah makan tersebut, bukannya diam, bayiku benar benar seolah tidak bisa berhenti menangis. Dan tidak hanya itu, Dio yang biasanya jarang sekali menangis, waktu itu tiba tiba juga ikut menangis histeris. Mengetahui hal itu, tentu saja aku dan suamikupun kebingungan dan mulai cemas dengan keadaan yang sudah semakin menghawatirkan.

” Bagaimana kalau kita cari rumah sakit saja sebentar, kita periksakan anak anak kita mas, aku takut mereka kenapa napa ” ucapku. 

” Iya wes, sepertinya sebentar lagi pagi, nanti kalau sudah pagi kita cari rumah sakit,. Ini jam berapa e dek ” sahut suamiku.

Namun anehnya, ketika aku membuka ponselku untuk melihat waktu, malam itu aku kembali terkejut bukan main karena saat itu, jam di ponselku masih menunjukan pukul 01.30 dinihari.

Padahal nyatanya, aku masih ingat dengan sangat jelas ketika aku masih di rumah makan tadi, jam ponsel sudah menunjukan pukul 05.00 pagi. 

” Loh kok masih jam 01.30 dinihari sih mas. Perasaan, tadi pas di rumah makan aku lihat jam sudah jam 05.00 pagi deh ” ucapku bingung. 

Mendengar hal itu, suamikupun seketika menghentikan laju mobilnya dan mulai membuka ponselnya untuk memastikan bahwa apa yang aku katakan tersebut memang benar adanya. 

” Loh, kok jadi masih jam 01.30 sih ” ucap suamiku dengan dia langsung turun dari mobilnya untuk melihat keadaan disekitar jalanan.

” Waduh iya e dek, ada yang tidak beres ini ” imbuh suamiku sambil mondar mandir dipinggir jalan raya. 

Mengetahui semua itu, akhirnya suamikupun memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan dengan fikiran yang tentu saja sudah semakin tidak karu karuan. Rasa takut, bingung dan heran, waktu itu benar benar campur aduk menjadi satu.

Singkat cerita, Setelah beberapa jam berjalan, aku dan suamikupun akhirnya berhasil keluar dari kawasan jalanan hutan tersebut dan mulai masuk ke area perkotaan. Disitu, kami sengaja berhenti sejenak sambil kembali memikirkan kejadian yang sudah kami alami. 

Namun sayangnya, karena kedua anakku yang masih saja tidak bisa berhenti menangis, akhirnya, kamipun memutuskan untuk mencari rumah sakit atau klinik terdekat agar kami tau apa yang sedang dialami oleh kedua anakku. 

Dan akhirnya, berbekal google map yang ada di ponselku, sekitar pukul 07.00 pagi, akupun sampai disebuah rumah sakit kecil yang ada dipinggir jalan. Disitu, tentu saja aku segera memeriksakan keadaan anakku karena aku khawatir jika terjadi sesuatu. Dan anehnya, menurut keterangan dokter, anakku waktu itu tidak mengalami sakit apapun. Bahkan, dokter saat itu juga terlihat sedikit kebingungan dengan keadaan kedua anakku yang terus saja menangis histeris seolah sedang disakiti oleh seseorang. 

Hingga akhirnya, setelah aku menceritakan semua kejadian yang telah aku lalui semalam.

Dokterpun mulai paham dan mengatakan jika kedua anakku terkena gangguan non medis. 

Disitu, aku dan suamikupun seketika lemas dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tuaku agar anakku segera mendapatkan bantuan.

Semua itu, memang sengaja kulakukan karena akupun juga tau, sepertinya sakit seperti ini bisa disembuhkan oleh ibuku. Dan seiring berjalannya waktu, akhirnya waktupun menunjukan pukul 15.00 sore. Aku sampai dirumah ibuku tidak dengan bahagia, namun dengan keadaan bersedih karena keadaan ke 2 anakku. 

Disitu, anakku seketika dirawat dan diobati oleh ibuku dengan obat obatan dan doa doa jawa yang akupun tidak tau apa artinya

Keesokan harinya, setelah Dio berhasil sedikit tenang, akupun perlahan mencoba menanyakan apa yang sebenarnya dia lihat di rumah makan semalam. Menurut Dio, dirumah makan tersebut, dia melihat banyak sekali perempuan telanjang bulat dengan rambut yang hanya sebagian. Dan tidak hanya itu, semua perempuan yang Dio lihat, semuanya sedang makan anggota tubuh manusia. Ada yang sedang makan jari manusia, telinga manusia, hidung manusia hingga kaki manusia.

Mendengar hal itu, akupun seketika terkejut bukan main karena aku sama sekali tidak melihat apa yang Dio lihat. Yang kulihat, waktu itu hanya ada beberapa orang makan namun tidak kunjung selesai. Dan akhir cerita, setelah mendengarkan semua penuturan Dio, kamipun ketika kembali pulang ke jawa barat, tidak berani lagi melalui jalanan tersebut. 

Kami sengaja memilih jalan tol agar semua keluargaku aman dari gangguan yang tidak ku inginkan.

Dan selanjutnya, setelah aku menceritakan semua pengalaman itu kepada saudara dan rekanku yang kebetulan tinggal tidak jauh dari kawasan hutan tempat aku bertemu rumah makan tersebut. Mereka semua menjelaskan jika di sepanjang kawasan tersebut, sama sekali tidak ada rumah makan yang seperti aku ceritakan. Hal itu dikuatkan dengan beberapa tahun berikutnya, ketika aku kembali mudik, aku sengaja mencoba kembali melewati kawasan hutan itu utk memastikan keberadaan rumah makan tersebut.

Dan nyatanya, aku sama sekali tidak menjumpai rumah makan yang dulu pernah aku hamipiri tersebut. 

Kenyataan tersebut, tentu saja seketika membuat aku terheran heran dengan apa yang sudah aku temukan. Bahkan, akupun juga masih ingat, nasi bungkusan yang dulu sempat dibungkus, waktu itu isinya pun juga nasi dan lalapan ayam sesuai dengan apa yang sudah aku pesan. Semuanya benar benar nampak normal dengan tidak ada sedikitpun tanda tanda jika rumah makan tersebut nyatanya adalah rumah makan setan.

Dan akhirnya, kini pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita tersendiri didalam hidupku. 

Kini, meski Dio dan Lilla sekarang sudah tumbuh dewasa, aku masih saja sering menceritakan tentang pengalaman ini kepada mereka bahwasanya, kita sekeluarga pernah makan di rumah makan tak kasat mata.

Selesai.

Dalam cerita ini, narasumber tidak memberikan informasi pasti tentang dimana letak persis dari rumah makan ghaib tersebut. Namun, setelah kami gali lebih dalam lagi, kami menduga jika letak rumah makan ghaib tersebut ada di kawasan Alas Roban. Hal itu dikuatkan dengan berbagai bukti dan cerita dari narasumber yang memang sengaja tidak diperkenankan untuk dibagikan.

Terlepas dari itu semua, Semoga dengan adanya pengalaman seperti ini, membuat kita bisa lebih berhati hati lagi dalam bepergian. 

Terimakasih teman teman, semoga cerita ini menemani hari hari kalian 

Thread By @Lakonstory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *