RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

RUMAH NENEK

Malam itu, sedang asik-asiknya makan malam seperti biasa, kebetulan hanya aku berdua dengan Ibu, suara tlp berbunyi. 

“Fed angkat dulu tlp nya, takutnya ayah kamu itu yg tlp”-suruh ibu

“Iyah bu…”-jawab Fedi

Dan segera berjalan ke arah tlp, yang tidak jauh dari meja makan itu. 

“Hallo Bu, ini kang Idim”-dengan nada yang terdengar gemetar

“Kang Idim ini Fedi, ada apa kang?”-jawab Fedi 

Eh Nak Fedi, Akang mau bicara sama Ibu, ada ibunya?-ucap Kang Idim

“Ada sebentar kang, aku panggil dulu, tunggu yah sebentar”-ucap Fedi dengan heran, kenapa kang Idim tumbenan tlp 

Tidak lama, langsung aku bilang ke Ibu bahwa yg tlp kang Idim dengan nada gemetar, Ibu langsung beranjak dari duduknya dengan wajah yg kaget juga. Aku langsung mengikuti langkah ibu, karna penasaran.

“iyah Dim ada apa?”-tanya Ibu 

Setelah pertayaan itu, Ibu tidak bicara lagi, hanya tetesan air mata yg keluar begitu saja. Itu cukup lama Ibu hanya bicara

“Iyah, Iyah dan Iyah”

tanpa ada kalimat lain yang Ibu ucapkan. Lantas, aku dibuat bingung, kenapa Ibu ini, apa yang dibicarakan dengan Kang Idim? 

Setelah tlp ditutup oleh Ibu, Ibu hanya duduk melamun, penuh tatapan kosong. Waktu itu usia aku 11th, belum mengerti apapun tentang sebuah obrolan orang dewasa, yang aku tau jika ada orang menangis pasti itu kesakitan. 

Tapi Ibu kesakitan apa? Ibu hanya ngobrol dan tidak ada yang terluka juga badannya, kenapa bisa menangis. Beberapa menit melamun dengan tatapan kosong, aku tidak berani menyapa Ibu saat itu. 

“Fed, kamu siapin pakaian salin kamu yah, Ibu siap-siap dulu sambil mau bangunin De Mella”-ucap Ibu, dengan nada lemas

“Mau kemana Bu?”-tanya Fedi

“Kita ke Rumah Nenek malam ini juga”-ucap Ibu, sambil berjalan ke arah kamar 

Aku cukup kaget, kenapa dengan Nenek, baru saja dua minggu kemarin aku dan keluarga berkunjung kesana. Mungkin Nenek sakit, soalnya dua minggu kemarin Nenek hanya terbaring di kamarnya saja. 

Tidak lama setelah Ibu beres-beres rumah, akhirnya berangkat malam itu juga menuju rumah Nenek, Ibu menyetir mobil, tapi aku masih melihat jelas lembab matanya bekas menangis itu. Aku duduk di Kursi belakang dengan adik aku Mella. 

“Asik yah kak, udah mau ke rumah nenek aja hihi pasti nenek udah nungguin aku banget”-ucap Mella dengan gembira, walau aku tau dia masih ngantuk karna ibu bangunkan sebelum berangkat.

“Iyah De, makanya sini kamu tidur lagi, tar udh sampe kakak bangunin yah”-sahut Fedi 

Mella baru berusia 6th memang dia yang paling dekat dengan Nenek, setiap berkunjung kesana sedari kecil aku tau betul dia sangat dekat, makanya sangat wajar sekali dia begitu senang, ketika tau akan berkunjung ke rumah Nenek. 

Perjalanan ke rumah Nenek, cukup lama sekitar 2 jam, sepanjang perjalanan, aku tidak bisa tidur, sesekali Ibu sibuk dengan tlp gengamnya. Bicara dengan Ayah, kang Idim. Walau aku tidak tau mereka membahas apa. 

“Fed bangun, pokonya kamu jagain adik kamu yah, Ibu ke dakam duluan”-ucap Ibu dengan nada gemetar dan langsung meninggalkan aku juga Mella. 

Aku dengan kondisi yg baru saja bangun, masih heran ada ini, rumah Nenek tidak biasanya banyak orang seperti ini, bahkan pemandangan sekitar kali ini baru pertama aku lihat. Aku bangunkan Mella, Mella sangat antusias sekali untuk bertemu dengan Nenek. 

“Kak kok banyak orang”-tanya Mella

Tidak aku jawab, aku terus berjalan, diantara banyak orang, padahal ini sudah sangat malam sekali. Beberapa orang ada yang bertanya padaku juga pada melli, sebelum masuk ke rumah Nenek. 

Tiba-tiba kang Idim menyapaku.

“Entar Dek Fedi sama Dek Mella jangan jauh-jauh dari Akang yah”-ucap Kang Idim, sama dengan mata ibu lembab dan dengan nada yang serak

“Iyah kang, Nenek kenapa?”-tanya Fedi 

Kang Idim tidak menjawab sama sekali, ketika aku masuk ke ruang tengah rumah, orang-orang sedang mengaji terdengar jelas. Sementara yang ditengah itu siapa sudah tertutup semua badanya. 

Aku dan Mella mendekat pada Ibu.

“Bu nenek mana?”-tanya Mella 

Bukanya menjawab Ibu langsung memeluk aku dan Mella sambil menangis.

“Fedi, Mella, Nenek sudah meninggal”-ucap ibu

“itu nenek?”-tanya Mella, dengan polos

“Iyah itu Nenek Dek”-ucap Fedi, dengan lemas 

Aku baru melihat langsung seperti ini orang yang meninggal dan itu langsung adalah Nenek, karna kata Ibu ketika aku lahir Kakek lebih duluan sudah Meninggal, jadi aku tidak terlalu polos seperti Mella. 

Lama aku memandangi Jenazah Nenek, Mella karna masih kecil dia hanya bertanya-tanya saja padaku.

“Nenek entar bisa bangun lagi yah kak? Kenapa dibungkus gitu?-tanya Mella, dengan polos 

“Enggak Dek, Nenek sudah meninggal”-ucap Fedi, sangat pelan

“terus, kapan aku bisa main lagi sama nenek?”-tanya Mella 

Malam itu aku dan Mella tidur dengan Teh Wati istri kang Idim di rumah ini, bangun-bangun rumah sudah sepi, karna aku bangun siang di hari ini begitu juga Mella karna semalam tidur larut malam sekali. 

Suasana rumah Nenek sudah berbeda dengan kemarin malam, hanya ada Ibu, kang Idim dan Teh Wati, aku dengar dengan jelas ibu bicara 

“Dim, Wati, tolong jaga dan rawat rumah ini, karna selanjutnya nanti rumah ini bakalan kosong, beberapa kali kamu dan Wati bisa menginap di rumah ini dan urusan kebun, taman biarkan Kang Obar yang tetap mengurusinya”-ucap Ibu, pelan dan masih terlihat sedih sekali. 

Aku sampai selsai hari ke 7 pengajian nenek disini, bareng Ibu dan Mella. Karna ayah berkerja diluar kota, dan kakak-kakak Ibu baru hari ke 2 setelah Nenek meninggal, karna tinggal diluar pulau Jawa. 

Hari berganti, ibu masih seperti sangat kehilangan, walau aku belum sangat paham tentang kehilangan waktu itu, tapi rasa kangen pada nenek selalu ada apalagi Mella, Nenek meninggal pada tahun 2004, ketika aku berusia 11th dan Mella berusia 6th.

*** 

Kamis, February 2013.

9 tahun berlalu, setelah nenek Meninggal bahkan aku sudah jarang sekali berkunjung ke Makam Nenek dan Kakek atau sekedar menginap di Rumah Nenek, terakhir hari raya idul fitri 2 th kebelakang aku berkunjung kesana, bareng keluarga. 

Mella sudah beranjak remaja, tentang kepergian dia sudah mengerti sekarang. Terlebih aku, arti keluarga sangat aku pahami dengan usia aku yang sekarang. Aku kuliah semester akhir, disalah satu universitas di kota kembang. 

Aku dan Mella sangat akrab sekali, orang yang tidak tau Mella adik aku pasti menyangka kalau dia adalah pacar aku ataupun sebaliknya Mella seperti itu. 

Mella tumbuh dengan remaja yang sangat cantik, bahkan dengan sombongnya dia beberapa kali bercerita banyak yang mendekati dia, selayaknya anak remaja. 

Jenuh dengan segala aktivitas kampus, yang membuat aku ingin sekali untuk melepas penat yang sudah menumpuk ini. Tidak habis pikir, aku tlp Mella. 

“Mel, liburan yu…”-ucap Fedi

“Jiah tumbenan nih kakak, ayo kak kemana?”-tanya Mella, seperti biasa dengan sangat ceria.

“Hmm… Kemana yah? Pantai yu?”- ajak Fedi, walau dia juga mengasal 

“Ah males, kmren aku baru aja ke pantai bareng temen”-sahut Meli

“Ah binggung Mel jadinya, eh btw kakak mau balik sekarang sore tar jemput yah di tempat biasa males bawa motor”-ucap Fedi, yang tiba-tiba pengen pulang. 

“Dasar, basa-basi ngajak liburan ujungnya minta dijemput huh…”-sahut Mella dengan kesal

Tdk tau kenapa, hari ini mendadak aku pgn pulang, karna jenuh dan bosan dengan aktivitas kuliah yang seperti ini, walau ibu pasti protes aku pulang hari kamis dan banyak pertanyaan lainya 

Selepas magrib, aku sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah, turun dari bis, Mella sudah ada dan langsung menuju rumah, ibu sudah menyiapkan makan. Sambil makan ibu bertanya tentu saja soal kuliah dll di kota orang. 

“Udah lama kamu ini, sana jengukin tuh makan Nenek sama Kakek besok berangkat minggu pulang”-ucap Ibu, dengan santai

“iyah tuh, katanya pengen liburan”-ucap Mella

“Yu Mel, sama kamu juga”-ajak Fedi 

“Ayo aja udah lama juga engga ke rumah Nenek”-ucap Mella

“oke besok siang kita berangkat yah”-sahut Fedi, dengan semangat

“Yaudah besok pagi ibu siapin bawaan kalian untuk 3 hari disana, biar besok ibu izin ke guru Mella “-ucap Ibu 

“eh Bu, kang Idim apa kabar udah tua pasti yah, sekarang 2th kebelakang aku tidak bertemu denganya, karna kata Ayah kang Idim juga mudik ke kampung istrinya”-ucap Fedi

“Udahlah, orang kamu sama Mella juga udah pada besar”-sahut Ibu 

Selsai makan dan ngobrol dengan Mella juga Ibu, aku langsung ke kamar, istirahat sambil membaca beberapa buku kesukaan aku seperti Tan Malaka. 

Selsai membaca, aku teringat rumah Nenek bakalan asik buat aku mencari inspirasi, aku siapkan laptop, alat lukis dan beberapa buku yang akan aku bawa. 

9 tahun lamanya semenjak nenek meninggal, sudah lama tidak menginap disana, mungkin segala kenangan bersama nenek akan terasa indah jika aku mengingatnya disana, di rumah nenek langsung. 

Apalagi rumah nenek sangat sejuk dan kalau malam sangat dingin sekali dengan lokasi yang akan menyuguhkan pemandangan indah. 

Sudah terbayang sangat jelas, 3 hari kedepan akan aku habiskan untuk menenangkan pikiran dan bersenang-senang dengan Mella disana, apalagi dia selagi nenek masih hidup dia cucu kesayangnya. 

Aku akan bersilaturahmi dengan Kang Idim, Teh Watu juga Kang Obar yang sebagian besar adalah orang-orang yang dekat dengan Nenek sewaktu hidup dan sedikit banyaknya tau tentang aku juga Mella. 

Pikiran tentang kenangan dengan Nenek seketika datang, dengan cepat pada pikirkan ini, hanya tentang keindahan rumah Nenek yang sudah lama tidak aku kunjungi. 

“bangun udah pagi kak…”-ucap Mella, sambil membangunkan aku berkali-kali

“iyah bawel ini bangun…”-jawab Fedi, yang masih terasa ngantuk

“iyah biar engga terlalu siang berangkatnya, udaranya masih seger ntr diperjalanan”-ucap Mella 

Tidak terasa pagi datang begitu cepat, bahkan semalam sehabis melamunkan sosok Nenek tertidur begitu saja. Sehabis mandi, benar saja Mella dan Ibu sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama-sama. 

“Fed, awas ada barang kamu yg ketinggalan, dicek lagi tasnya”-ucap Ibu

“Iyah tuh cek lagi jangan udah di jalan tar balik lagi, makan waktu lagi coba”-ucap Melli, menambahkan omongan Ibu 

Iyah aku termasuk orang yg kalau berpergian ada saja yang harus tertinggal, tapi setelah aku cek ulang, aman bawaanku lengkap. 

“Itu ibu udah siapkan bawaan, ntr kamu kasih ke Kang Idim sama Kang Obar yah, terus kata ayah kamu fed, jagain adik kamu ini jangan dikit-dikit dimarahin kalau salah, oiyah ini kunci ganda rumah Nenek, tktnya kamu kesana Kang Idim lagi diluar jadi gak usah nunggu”-ucap Ibu 

“Siap, aman bu Fedi paham kok, inget-inget tuh Mel tkt kakak lupa.”-sahut Fedi

Setelah makan pagi selsai, aku langsung bergegas. Kebetulan ada Mobil keluarga yg bis digunakan, semua barang2 disimpan dibagian belakang, perlengkapan ditengah, tentu saja didepan aku dan Mella. 

Sepanjang perjalanan, aku dan Mella berbagi cerita satu sama lain, tentang asmara, sekolah, kuliah, kangen Ayah dan salutnya pada sosok Ibu. Perjalanan bakalan lama sekali, memakan waktu 2jam. 

“Kak apa yang kakak ingat soal Nenek?”-tanya Mella

“Hmm banyak dong”-jawab Fedi

“Salah satunya?”-Ucap Mella

“Nenek cantik dan Jago masak, kalau kamu?”-tanya Fedi

“Aku ingat kak, sering bgt Nenek memainkan rambutku waktu itu, sambil di ikat-ikat gtu”-jawab Mella 

Iyah tanpa Mella menjelaskan soal Nenek, aku tau dia paling dekat dan paling disayang karna cucu Nenek satu-satunya perempuan adalah Mella. 

Setengah perjalanan, hamparan hijau pemandangan, segarnya udara alam terus-menerus menemani perjalanan ini, seketika aku lihat Mella sedang asik dengan Hp nya, aku biarkan saja, tidak lama aku lihat dia sudah tertidur. 

Tidak terasa tinggal beberapa menit lagi sampai, karna aku ingat patokan jalan-jalan yang sudah tidak asing lagi, walau ada beberapa yang sudah berubah total, 

aku melewati pemukiman warga, baru paling ujung kampung ini letak rumah Nenek, terasa bahagia bisa kembali kesini. setelah lama sekali tidak melihat rumah itu. 

Sampai diparkiran, aku dibuat terkejut, tidak ada sama sekali perubahan sejak 2004 dan dua tahun kebelakang, rumput hijau yg masih terawat dan cat bagunan yg sama sekali tidak berubah pudar warnanya. Aku semakin yakin kalau kang Idim & kang Obar begitu telaten mengurus rumah ini. 

“Bangun Mel udah sampai”-ucap Fedi, membangun.

Mella langsung membuka matanya dan terlihat dari kelopak matanya berlinang, aku yakin dia sebegitu rindunya sama Nenek dan rumah ini. 

“Kan apa aku bilang kak, indah sekali bukan”-ucap Mella

Setelah itu aku dan Mella langsung berjalan menuju teras rumah dekat pintu utama. 

“Kursi ini”-ucap Fedi

“Kenapa kak?”-tanya Mella

“kursi kesukaan Nenek kalau jam segini banget percis dia suka duduk disini sambil melamun gtu”-ucap Fedi

“Iyah aku ingat”-sahut Mella 

Aku melihat sekitar, kebunya masih sama seperti dulu tidak ada perubahan, kebun mawar Nenek masih sangat terawat. Pohon beringin disamping rumah bahkan masih sama, seperti aku masih kecil. Apalagi pot yang berisi banyak bungga, kelihatan sekali terjaga. 

“Kak mana kunci rumahnya?”-tanya Mella

“Eh kamu lagi, ditas kakak dibagian depan, ambil sana sama kamu”-ucap Fedi sambil memberikan kunci mobil 

Baru beberapa langkah Mella menjauh dari Rumah berjalan menuju mobil, aku seperti mendengar suara sepatu orang yang berjalan di dalam rumah. Deg! Langsung aku kaget. 

Siapa yang didalam rumah, apa kang Idim menginap didalam? Tapi hordeng jendala masih tertutup, aku tidak bisa melihatnya.

“Kang… Kang… Akang di dalam ini aku Fedi”-teriak Fedi 

“Ya gimana akang ada didalam kan kuncinya ini baru aku bawa”

Deg! Suara Mella mengagetkan aku, beneran aku sangat dibuat kanget! 

“Ah kamu lagi, kaget kakak ini”-ucap Fedi dengan nada yg masih penuh keheranan

“Lah emang benerkan kuncinya ini, lagian harus teriak-teriak aneh, kenapa sih?”-ucap Mella

“Gpp Mel, mana sini, yu kita buka”-ajak Fedi 

Saat aku mau membuka pintu utama, susah sekali, sudah sekuat tenaga aku gerakan kunci, tetap susah.

“Gak bisa yah kak?”-ucap Mella

“Iyah susah Mel”-sahut Fedi

“Kuncinya kali, udah lama gak dipake kesitu jadinya susah”-ucap Mella 

Iyah juga masuk akal pikirku, akhirnya aku putuskan untuk menuju Makam terlebih dahulu bersama Mella, tidak perlu mengunakan mobil, cukup berjalan 10 menitan, sudah sampai ke makam kakek dan Nenek juga makam keluarga buyut. 

Berdoa sejenak sambil membersihkan Makam. Tapi, Makam masih sangat terawat, terlihat sering sekali dibersihkan. 

Selsai beberapa menit di Makam, aku dan Mella menuju rumah lagi. Benar sekali, dari kejauhan pintu rumah sudah terbuka, jendela juga. Aku senang, pasti kang Idim sudah didalam. 

Benar saja ketika semakin dekat melangkah, sosok kang Idim sudah terlihat, aku langsung bertegur sapa, saling cerita kabar, tentu juga Mella yg keliatan dekat dengan kang Idim karna banyak bertanya soal Nenek. 

“Hampir beberapa tahun rumah ini seperti rindu penghuninya, sejak ibu kalian berpesan agar akang juga boleh menginap disini, akang tdk pernah sama sekali karna tidak enak”-ucap kang Idim 

Kang Idim yang sudah terlihat tua walau pisiknya masih kuat, tapi raut wajah tdk bisa membohongi kalau kang Idim memang benaran sudah berumur. 

“Kang, Mella sama kakak engga bakalan lama disini paling 2 malam saja, hari minggu juga sudah pulang lagi karna senin harus sekolah dan kak Fedi juga kuliah lagi”-ucap Mella 

“Gpp neng, yg penting sudah sekian lama rumah ini kosong, akhirnya cucu-cucu Nenek bisa nginap dirumah ini”-sahut kang Idim 

Karna hari jumaat makin siang dan waktu ibadah solat jumaat semakin dekat, akhirnya kang Idim mengajak aku beribadah di Masjid sekitar, yg jaraknya lumayan sekitar 10 menitan lebih berjalan kaki. 

“Eh ini Fed, kuncinya rumahnya”-ucap kang Idim

“Sini kang biar aku aja yg pengang, kakak suka gampang lupa hehe”-sahut Mella 

Aku biasa aja atas ucapan Mella seperti itu, yang aku kaget adalah kunci yang kang Idim kasih dengan kunci yang aku pegang sama tidak ada bedanya, hanya beda dibagian gantungannya saja. Yang aku gantunganya seperti rumah mini gtu, sementara yg kang Idim punya seutas tali. 

“Akang tunggu dirumah yah, Fedi siap-siap dulu sana”-ucap kang Idim, sambil berjalan duluan.

Setelah kang Idim pergi, di depan Mella aku masukan lg kunci yang aku pegang ternyata sekarang bsa d gunakan, knp tadi tidak bisa? Apa karna sebelumnya ada suara langkah sepatu itu? 

Aku pamit pada Mella dan dia tdk keberatan aku tinggal untuk ibadah solat jumaat.

Sebelumnya aku hanya baru masuk ruang tamu bagian rumah ini, benar-benar tidak ada yang berubah sama sekali, tapi aku mencium bau yang aneh, bahkan sangat aneh sekali! 

Seperti bau bunga melati yg seketika lewat begitu saja, pdahal tidak ada angin sama sekali. Tapi apakah Mella juga mencium bau yang sama? 

Aku tinggalkan Mella sementara aku dan kang Idim sepanjang jalan terus bercerita, tentang keluarga kang Idim dan tentu juga rumah Nenek itu. 

Selsai ibadah solat jumaat, kang Idim dan Teh Wati memasak di rumahnya. Padahal aku tawarkan untuk memasak di rumah Nenek saja. Tapi, penolakan dari teh Wati dengan penuh pertanyaan dari aku, karna seperti ada yang aneh saja. 

“Nanti kalau udah beres den Fedi, kang Idim suruh teteh anter makananya ke sana yah”-ucap Teh Wati

“Iyah teh makasih, tktnya aku ketiduran, nanti ada Mella juga di rumah”-ucap Fedi 

Dalam perjalanan pulang ke rumah Nenek, aku sempat berpikir tentang hal aneh yg barusan aku alamin, tapi aku percaya rumah Nenek ini baik-baik saja apalagi aku cucunya 

“Mel…Mel…Mel…” teriak Fedi di dalam rumah

Barang-barang bawaan masih bergeletak di ruang tamu, aku berjalan sambil bereteriak memanggil Mella. Aku dikagetkan pada ruangan utama rumah ini, masih sama tidak ada satu bendapun yang posisinya berubah, apalagi sofa ini. 

Aku duduk di sofa dan langsung teringat bagaimanana kenangan bersama nenek, pernah terjadi disini.

Semua ruangan aku cek, mencari Mella, rumah ini memiliki 5 kamar dan 1 kamar utama yaitu kamar nenek dulu. Semua aku cek sampai ke bagian dapur. Mella tetap tidak ada. 

Akhirnya aku kembali ke ruang tamu, untuk membawa masuk barang-barang, pikirku paling Mella sedang keliling atau ada dibelakang. 

Sialan! Baru saja pandanganku dibuat terkejut ternyata si Mella sedang tertidur di sofa yang barusan aku duduk, kenapa aku tidak melihatnya barusan! Padahal aku juga duduk di sofa itu! 

“Mel bangun bntr lagi kang Idim kesini bawa makanan”- ucap Fedi

“Iyah ih masih ngantuk aku kak”-sahut Mella

“Kamu tidur dari kapan emang?”-ucap Fedi, sangat penasaran

“Kak Fedi berangkat aku langsung tidur, kenapa emang?”- sahut Mella 

Sialan, berarti sedari tadi Mella sudah ada disini, kenapa aku tidak melihatnya dan malah mencari bahkan teriak-teriak nama dia. 

“Soal kunci aku bisa menerimanya dengan sedikit logikaku, suara orang berjalan dan soal Mella yang tertidur sementara aku tidak melihatnya, itu sama sekali tidak bisa aku terima dengan akal.” -ucap Fedi dalam hatinya 

Aku tidak menceritakan keanehan yang aku alami pada Mella, aku anggap ini ucapan selamat datang yang membuat aku sama sekali tidak takut, hanya keanehan saja yang aku alami. 

Aku termasuk orang yang percaya dengan hal2 gaib, tapi tidak percaya dengan berbagai penampakan, karna menurutku itu soal keyakinan saja.

Tidak lama kang Idim datang, benar saja membawakan makanan sangat banyak, aku, Mella dan Kang Idim makan bersama di Meja makan rumah ini. 

“Teh Wati gak ikut kang?”-tanya Mella

“Hehe enggak neng, katanya mau ke kebun langsung”-sahut kang Idim

“Kang gpp kan tar aku sama Mella tidur di kamar Nenek?”- ucap Fedi

“boleh dong den”-ucap kang Idim singkat 

Kenapa raut wajah dan tatapan kang Idim seperti itu, membolehkan tapi dengan raut wajah seperti keberatan. Selesai makan kang Idim bilang bahwa dia akan menyusul teh Wati ke kebun dan mempersilahkan aku dan Mella untuk beristirahat. 

“Kak, masa tadi aku lihat muka kang Idim gtu bgt pas kakak bilang tidur di kamar nenek”-ucap Mella

“Iyah kakak juga ngerasanya begitu Mel”-sahut Fedi

Ternyata bukan aku saja yg merasa aneh dengan kang Idim soal barusan, Mella juga sama. 

Sore cepat sekali datang, aku dan Mella setelah membereskan barang bawaan, langsung masuk ke kamar nenek, sama seperti ruangan-ruangan lain tidak ada yang berubah.

Deg! Bau bunga melati itu aku cium lagi wanginya. Bahkan Mella juga menciumnya sama denganku. 

Aku dibuat heran rumah ini sudah lama tidak diisi tapi masih bersih tidak berantakan, bahkan lebih rapih dari pada rumah Ibu. Apalagi kamar Nenek ini, aku melihat beberapa foto keluarga dan ada aku dan Mella yang masih kecil. 

“Mel kakak santai di samping rumah yah, kalau mau lanjut tiduran sok aja”-ucap Fedi

“Iyah kak aku tiduran dulu yah”-sahut Mella 

Langsung aku membawa beberapa persiapan alat lukis, karna sudah lama tidak melukis, apalagi teras samping rumah ini sangat enak sekali. 

Menghadap ke salah satu gunung yang pemandanganya sangat indah. Setelah menyeduh kopi dan mempersiapkan rokok, aku langsung melukis dengan alakadarnya. 

Pohon beringin tinggi menjulang itu menjadi objeku, baru saja beberapa warna aku tuangkan dalam kanvas putih itu, dari kejauhan sebelah kanan, aku melihat seseorang yang sedang menyirami bunga-bunga, aku pikir siapa itu? 

Tapi tetap aku nikmati sore hari ini dengan lukisan yg aku teruskan. Pohon beringin yang sedang aku lukis beberapa kali kenapa sosok nenek yang terus ada di pikiranku. 

“Den Fedi”

Aku sangat kaget!

“Eh akang udah bberapa menit tdi disini, ngeliat den Fedi ngelukis tapi malah melamun” 

“Eh kang Obar, aduh maaf kang”-ucap Fedi

“Hehe gpp Den, aduh akang gak tau den Fedi udah gede lagi, neng Mella juga ikut?”-tanya kang Obar

“Ikut kang lagi istirahat di dalam”-ucap Fedi 

“Iyah akang cuma pagi sama sore aja kesini biasa den ini urusan perkebunan”-sahut kang Obar

“Iyah kang gpp, lagian aku juga baru kesini lagi”-ucap Fedi

“eh iyah itu bagus lukisanya”-sahut kang Obar

“Iyah kang, masih belajar iseng-iseng aja”-ucap Fedi 

“akang lanjut dlu besok pagi akang suka gak ada teman ngopi, temenin besok yah den fedi”

Kang Obar, dia kepercayaan nenek sejak dlu, yang sangat telaten mengurusi kebun2 Nenek dri bunga hingga tanaman lainya. Setelah kang Obar melanjutkan pekerjaanya. Aku teruskan untk melukis 

“Tidak tidak bisa diteruskan lukisan ini, sialnya lamunan tentang nenek malah makin kuat”-ucap Fedi dalam hatinya 

Bukanya melanjutkan lukisan, hanya berbatang-batang rokok yang malah aku habiskan. Sosok kang Obar sudah tidak kelihatan, rasa penasaranku pada pohon beringin itu semakin kuat. Aku putuskan untuk berjalan mendekat. 

Baru saja berjalan beberapa langkah, Mella teriak.

“Kakak…..!”

Kaget sekali aku, aku melihatnya di jendela kamar Nenek, langsung aku mendekat pada Mella. 

“Kenapa?”-tanya Fedi

“Cepat masuk sini?”-ucap Mella

“Iyah bentar, beresin alat2 dulu”-sahut Fedi

“Gak usah kak, kesini dulu aja”-ucap Mella 

Makin penasaran dan memang hanya tinggal beberapa menit lagi adzan magrib berkumandang, alat-alat itu aku tinggalkan. 

Sampai aku dikamar

“Kenapa? kakak sampe kaget”-tanya Fedi

Tiba-tiba Mella melamun dan meneteskan air mata, tanpa aku tau kenapa anak ini. 

“Coba cerita sama kakak, pelan-pelan, kenapa kamu tadi? Tiba-tiba menangis skrng seperti ini?”-ucap Fedi

“Aku barusan mimpi sama nenek, nenek juga nangis sambil duduk disana?” -sahut Mella, sambil menujukan ke arah sofa

Dan memang pintu kamar belum aku kunci 

“Menangis kaya gimana?”-ucap Fedi, kaget dan penasaran juga

“Iyah nangis keliatan banget sedihnya nenek itu?”-ucap Mella

“Yasudah gih kamu mandi, terus solat berdoa buat nenek biar engga sedih neneknya”-sahut Fedi, sambil menenagkan 

Setelah aku dan Mella melepas magrib, aku tiduran di kamar Nenek ini, tiba-tiba aku dan Mella saling tatap, karna ada suara kaki yang jelas aku dengar. 

“Siapa…!”- teriak Fedi

“Ini akang Den..”-ucap Kang Idim

“Kirain siapa?”-ucap Mella

“Ini akang bawakan makan malam, sambil mau menyalakan listrik luar, udh jadi kebiasaan akang”-ucap Kang Idim 

Sebentar, bagaimana kang Idim bisa masuk, semntara aku sudah pastikan semua pintu terkunci, aku mau menanyakan hal itu pda kang Idim, cuman kesanya seperti tidak enak saja.

Untungnya Mella juga tidak menanyakan hal itu, dan aku pikir kang Idim punya kunci ganda juga. 

Setelah itu kang Idim pamit pulang lagi, karna dia berkata istri dan anaknya sendiri kasian kalau dia menginap disini, akhirnya aku iyahkan saja dan aku juga paham. 

Duduk di meja makan, aku merasa ada yang memperhatikan, dari arah dapur. “Dukkk…” sangat kencang suara itu, tapi bukan dari arah dapur. 

“Kak suara apa itu?”-tanya Mella

“gak tau arahnya dari kamar”-ucap Fedi 

Aku langsung lihat ke arah kamar Nenek, tidak ada apa-apa. Hanya saja jendela kamar yang sudah terbuka, mungkin Mella tadi lupa menguncinya kembali. Tapi tidak ada sama sekali angin. Aku acuhkan lagi dan melanjutkan makan dengan Mella 

“Mel ntr tidur dluan kalau udh ngantuk, kakak ngopi disini aja di sofa”-ucap Fedi

“Iyah kak, tumben aku di rumah ini ngerasa ngantuj terus”-ucap Mella

“aku mau ke kamar yah kak, sambil tlp Ibu dulu kasih kabar”-ucap Mella 

Aku keluarkan laptop dan sambil mengerjakan beberapa tugas, suasana ruang tengah rumah ini sangat nyaman, sesekali aku berjalanan mengecek semua kamar, aku sangat takjub, rapih sekali, 

walaupun ada beberapa suasana dalam kamar yang beda menurutku, karna mungkin sudah lama tidak terpakai, dan juga karna sudah bertahun-tahun tiap kamar tidak ada yang mengisinya. 

“Mel…”-ucap Fedi

Mella tidak menjawab, aku lihat ke dalam kamar tumben sekali baru saja jam 9 dia sudah tidur. Aku tiduran di sofa, sambil bermain Hp. Seketika ada suara langkah kaki yang percis aku dengar, sama seperti siang tdi pertama kali sampai, di ruang tamu. 

Deg! Perasaanku dibuat kacau, bukan takut yang datang malah rasa penasaran yang membuatku harus melihatnya. 

Sialan! aku bangun, aku berjalan ke ruang tengah tidak ada apa-apa sama sekali. Hanya aroma bau melati saja yang aku cium, anehnya bau itu sekarang tidak membuatku kaget karna sudah 3x aku menciumnya. 

Aku kembali tiduran di sofa, tidak terasa mata sangat berat sekali dan ini hal sudah tidak pernah aku rasakan bertahun-tahun karna tiap malam saja biasanya aku begadang. 

Pikiranku fokus pada yang Mella bilang soal “Nenek menangis” entah kenapa hal itu yg paling kuat aku pikirkan, setelah kejadian melukis pohon beringin itu. 

“Gubrakkk…”

Kaget sekali suara itu kencang, aku bahkan sadar tidak sadar mendengar suara itu. Aku buka mata, mencari hp aku lihat jam 1:30 dini hari.

.

.

.

***Sialan gw merinding bgt, pas update jam segini lagi waktunya kebetulan bgt*** 

“tumben aku ketiduran, biasanya mata ini susah diajak tidur”-ucap Fedi dalam hatinya

“Gubrakkk…” 

Suara itu lagi, mata masih mengantuk, aku berjalan menuju dapur, dalam keadaan lemas bangun dari tidur dengan sedikit sadar aku melihat perempuan berbalik badan. 

rambutnya terurai, aku pikir itu Mella karna perawakanya percis dengan Mella. Tidak aku lanjutkan mendekat, hanya melihat dari pintu dapur saja, beberapa detik. 

“Paling dia laper mau bikin mie, atau manasin air buat bikin susu”-ucap Fedi dalam hatinya

Karna memang kebiasaan dia di rumah seperti itu, aku lanjutkan tiduran karna sangat ngantuk sekali. 

Aku ingat didalam kamar nenek ada selimut, aku paksakan untuk bangun dan berjalan ke kamar nenek. 

Kaget sekali! Aku dibuat sadar dalam keadaan ngantuk. Mella sedang tertidur lelap di kamar ini. Perempuan di dapur itu siapa? Aku sadar dan bahkan langsung dibuat sadar. 

Tidak perlu lama aku berjalan ke arah ke arah dapur untuk memastikan sosok perempuan itu, dan tidak ada siapa-siapa. Jadi tadi itu siapa perempuan itu? Apa aku salah liat, karna baru saja bangun. 

Aku balik langsung ke kamar nenek, hendak aku mengambil selimut, ternyata hordeng jendela belim Mella tutup, mungkin lupa. Lantas aku mau menutupnya, aku melihat sosok kang Obar di pohon beringin besar itu! 

Jelas itu kang Obar walaupun kelihatannya gelap, karna tidak terlalu jauh dari jarak pandangku samar-samar dari samping, aku pastikan dan melihat lama benar itu kang Obar! 

Sedang apa pikirku kang Obar jam segini, di pohon beringin itu pula. Aku perhatikan terus sambil mengintip yang kang Obar lakukan, 

kang Obar hanya diam jongkok sambil merokok, lama aku perhatikan, dia bangun dan seperti mengambil sesuatu di bagian belakang pohon itu, semakin aku penasaran. 

Aku dibuat kaget setelah suara didapur dan perempuan yang aku sangka Mella, sekarang dengan sadar dan jelas malah sosok Kang Obar yang aneh. 

Tidak lama, kang obar seperti membawa wadah besar dan beberapa piring juga mangkok yg ada diatas wadah itu, lalu berjalan ke arah belakang rumah, aku terus perhatikan, sampai kang Obar luput dari pengilihtanku. 

Baru saja aku menutup hordeng dan menarik nafas dalam-dalam karna kaget dengan apa yang dilakukan kang Obar

“Gubrakkk…” 

Suara itu datang lagi dari arah yang sama yaitu dapur, aku dibuat berkeringat, karna tidak ada rasa takut yang ada rasa penasaran yang kuat, aku berjalan kembali ke arah dapur, sialan! Tidak ada apa-apa. 

Malah hanya ada seekor kucing hitam. Aku lihat kucing itu hanya diam dekat pintu keluar dapur, sambil menatap ke arahku, tidak bergerak sama sekali. Aku abaikan, aku lihat sekitar tidak ada yang berubah. Lantas suara itu dari mana datangnya. 

Rasa takut baru sekarang datang, pikiran aku kemana-mana, karna menghubung-hubungkan apa yang terjadi di rumah ini, aku langsung masuk ke kamar Nenek. Tidur di sebelah Mella, baru saja aku tiduran. 

“Meong… meong…”

Hah! Kucing itu lagi, aku lantas bangun, keluar lagi dari kamar Nenek, ternyata kucing itu duduk di sofa, bekas aku tiduran tadi. Pikirku lapar, aku kasih sisa makanan yg ada ke kucing itu, pikirku agar kucing itu tidak bersuara. 

Masuk lagi ke kamar Nenek, aku lihat jam di Hp 03:00, sial sudah agak lama aku bangun. Coba untuk memejamkan mata tetap susah. 

Sebentar, samar-samar aku mendengar tangisan ditelinga, sangat kecil tangisan itu, aku berdiam dalam tegang sekali, sambil merasakan dari mana arah tangisan itu. 

“kak kok ada suara yg nangis sih?”-ucap Mella terbangun

“Sssttt.. diem iyah ada suara tangisan kakak lgi denger baik-baik suara itu dari mana”-ucap Fedi 

Tidak lama dari itu, ada suara kucing lagi. Pikirku itu kucing yg tdr di sofa yang aku kasih makan.

“Hah kak kok ada suara kucing kak? Sejak kapan kucing itu ada?” -tanya Mella, dengan heran 

Tanpa pikir panjang, aku ceritakan yang barusan terjadi semuanya, tentang sosok perempuan di dapur yang aku kira itu Mella, juga tentang kelakuan kang Obar dibalik pohon beringin. 

Mella mentapku kosong, tiba-tiba terseyum aneh. Merinding sekali melihat senyum dia beberapa kali seperti itu. 

“Heh jangan ngelamun!”-ucap Fedi

“Mella heh jawab jangan melamun”-ucap Fedi lagi sambil mengoyangkan badan Mella

Bukanya menjawab Mella malah makin tersenyum aneh, aneh sekali dan ini baru aku dibuat merinding sekali, aku kalap. 

“Mel woy! Jangan bercanda gini woy!”-ucap Fedi

Serrr… seperti ada setrum pada badanku ini, merinding yang aku alami sekarang baru aku rasakan. Disusul dengan tertawaan yg makin aneh, tapi tatapan dia yang asalnya kosong, sekarang mentapku tajam. 

“Mel anjing! Jgn gini ah becandanya gak lucu!” -ucap Fedi panik

Dia makin tertawa menjadi dan kencang sekali, tanpa pikir panjang aku keluar dari kamar, aku kunci Mella di kamar itu. Aku menuju rumah kang Idim dengan lari tanpa sadar karna aku juga jadi kalap sekali. 

“Kang.. kang.. kang..”-ucap Fedi sambil mengetuk pintu.

“iyah siapa?”

“Ini Fedi ini Fedi”-ucap Fedi

“Oh iyah sebentar den, kenapa?”-ucap Teh Wati 

“kang Idim mana teh?”-tanya Fedi

“Kang Idim kalau mlm suka keluar den, plingan pulang subuh”-ucap teh Wati

“Kenapa keliatanya rusuh begitu?”-tanya teh Wati 

Tidak aku jelaskan pada teh Wati apa yang terjadi langsung aku pulang lagi dengan tergesa-gesa karna tkt juga Mella kenapa-kenapa. Aku buka pintu utama ada bau itu lagi bunga melati, aku bodo amatkan, aku buka pintu kamar Nenek lagi. 

Serr… Darah merinding itu naik lagi, tapi aku dibuat aneh! Aneh sekali! Mella sudah tertidur lagi bahkan posisinya sama tidak berubah seperti sebelumnya!

“Huah… Kenapa malam ini seperti ini!”-ucap Fedi sangat kesal 

Akhirnya, aku duduk di kasur membuka jendela, menghidupkan rokok. Kesal dengan yang terjadi di rumah ini kenapa jadi seperti ini. 

“Nek kenapa rumah jadi seperti ini? Apa sudah lama tidak di tepati, atau karna apa nek, aku ini cucu Nenek, datang kesini pengen liburan pengen jenguk makam kakek dan Nenek, kenapa nek”-ucap Fedi dengan jelas karna saking bingungnya 

Hembusan angin menuju pagi sangat kencang, kencang sekali terlihat jelas pohon beringin itu daun-daunya bergerak juga tanaman lainya. Aku sudah tidak bisa tidur lagi malam ini, bahkan pagi sebentar lagi akan tiba. 

Aku putuskan besok pulang! Dan bercerita pada ibu, dan aku akan terbuka pada Mella tidak ada yang akan aku tutupi. Sambil bermain Hp, untuk menunggu adzan subuh. Aku tidak berhenti menghabiskan beberapa rokok lagi. 

“Kak…”-ucap Mella

“Iyah kamu udah bangun?”-sahut Fedi

“Pgen minum lemes sekali badan aku?”-ucap Mella dengan nada lemas 

Aku bawakan air, dia bahkan meminta lagi, tumben dia sehaus itu. Atau karna kejadian tadi yang dia terbangun dan tertawa-tawa menyeram itu?

“Mel tdi kamu kenapa?”-tanya Fedi

“Kenapa apanya?”-sahut Mella, bingung sekali 

Aku jelaskan pada Mella soal dia yang bagun sebelumnya, tertawa menyeramkan, bahkan menatapku sebegitunya

“Engga aku engga ingat sama sekali, tapi aku tidur lelap bgt, sampe kerasa cape kak?”-ucap Mella, masih bingung 

Baru dari sini aku jelaskan semuanya pda Mella apa yang terjadi, soang perempuan didapur, kang Obar dan dia bahkan soal kucing juga. 

“Hah! Kang Obar seperti itu?”-ucap Mella kaget

“iyah kakak juga gak paham lagi!”-sahut Fedi

“Kak udh jgn banyak omong lagi, siangan dikit kita balik dan kita ceritakan ini langsung ke ibu”-ucap Mella 

Aku setuju dgn Mella, pagi yang aku tunggu datang. Sekitar jam 7, kang Idim sudah terlihat berjalan, membawakan makanan.

“eh udh pada bangun? Aduh kirain mau bangun siang ini?”-ucap kang Idim

“Hehe engga kang sudah terbiasa bangun pagi”-ucap Mella dengan nada sangat sinis 

Aduh Mella ini pdahal jgn begitu sikap pada kang Idim

“Ayo masuk, makan dulu”-ucap kang Idim 

Kita bertiga makan, tapi kang Idim tidak menanyakan hal soal aku kerumah nya dini hari tadi. Aku tanya duluan, tanpa pertimbangan ini itu lagi. 

“Kang semalem aku ke rumah akang dini hari?”-ucap Fedi

“Iyah? Oalah akang suka ada jadwal ngeronda”-ucap Kang Idim

“Teh Wati gak bilang gtu kang?”-tanya Mella

“Ah diamah suka pelupa orangnya?”-ucap Kang Idim 

Raut muka dengan jawaban kaku seperti itu aku hapal sekali, ada kebohongan dari jawaban kang Idim.

“Eh iyah, semalem kucing disini emang suka dikasih makan juga kang?”-tanya Fedi

“Hah! Kucing den? Belum pernah ada kucing disini aden salah liat kali”-ucap kang Idim 

Deg! Aku kaget, lantas kucing itu dari mana datangnya kalau belum pernah ada kucing disini. Aku acuhkan karna akan menganggu pikiranku saja hal ini. Walaupun masih ada dibenak tengang keanehan hal itu. 

Selsai makan, kang Idim ijin pulang. Dan aku juga bilang ada urusan mendadak jadi akan pulang lebih cepat, rencana 2 hari disini tidak jadi. 

“Iyah gpp den sini aja akang pinta sekalian kuncinya, tkt siang akang ke kebun, gak bisa bantu aden beres2”-ucap kang Idim

“Iyah nih kang”-ucap Mella memberikan kunci yang gantungannya tali itu. 

Aku perhatikan kang idim keluar dari rumah nenek dan kebetulan ada kang Obar yang sedang membersihkan rumput didepan rumah 

anehnya dengan jarak yang dekat dan juga sesama yang mengurus rumah ini, mereka berdua kang Idim dan kang Obar tidak saling menyapa. Bahkan, tatapan kang Idim pada kang Obar seperti marah sekali. 

Apa kang Idim juga mengetahui kelakuan kang Obar? Seperti apa yang aku lihat semalam di bawah pohon beringin itu? 

Pikiranku dibuat aneh dengan keadaan yang sebenarnya terjadi apa di rumah ini, gangguan-gangguan padaku dan Mella. Sepertinya ada yang tersembunyi di rumah ini.

Untuk menghabiskan rasa curiga, selagi menunggu Mella beres-beres barang bawaan untuk pulang, aku sapa kang Obar. 

“Eh aden ayo katanya janji mau ngopi sama akang?”-ucap kang Obar

“Haduh kang hari ini juga mau pulang dulu ada keperluan mendadak?”-sahut Fedi 

“Eh yaudhah gpp den ntr jangan kelamaan kesini lagi aja”-ucap Kang Obar

“Kalau malam pdahal aku gak teman ngopi kang”-sahut Fedi memancing pertanyaan

“Akang kalau malam suka di rumah den”-ucap Kang Obar 

Oke aku sudah paham dengan apa yang diucapkan kang Obar, dia berbohong padaku, jelas-jelas semalam aku melihat dia membawa hal yang aneh-aneh dibalik pohon beringin. Selsai basa-basi dengan Kang Obar, aku langsung menuju teras untuk membereskan alat lukis dan kanvasku. 

Saat aku melihat kanvas bekas melukis kemaren, tiba-tiba ada coretan lain dalam kanvasku di pohon beringin yang belum selsai aku lukis itu, dibagian pohon paling bawah ada cat akrilik hitam. Sementara aku mash ingat cat itu belum sama sekali aku gunakan kemarin, pertanda apa ini! 

“Sialan harus aku habiskan penasaran pada pohon itu”-ucap Fedi dalam hatinya

Sedang aku berjalan menuju arah pohon itu, aku dari kejauhan melihat kang Obar juga memperhatikan dari jauh. Aku tidak pedulikan sama sekali. 

Terus mendekat sama hal nya seperti pohon biasa, tapi di bagian belakang seperti ada tanah tanpa rumput dan ada bagian berlubang yang terbentuk oleh akar besar, hanya itu. 

“Oh kang Obar, menyimpan dan mengambil barang-barang semalem dari sini”-ucap Fedi, walau masih bingung tujuanya apa

Selsai membereskan barang-barang dan kamar Nenek, langsung berjalan menuju ruang tamu, lagi-lagi bau bunga melati tercium kembali. Sudah tidak terhitung bau itu. 

“Nih kak kuncinya, aku bawa barang2 duluan ke mobil”-ucap Mella

Dengan penuh ketegangan, karna kemarin kunci ini tidak berfungsi aku gunakan, sedikit demi sedikt.

“Ceklekkk…” 

Aku sedikit kaget juga dibuatnya, kenapa skrng bisa kmrin enggak bisa, masih aneh aku dibuatnya.

Tidak aku pikirkan walau sangat menganggu sekali. Baru sekian langkah berbalik. Suara sepatu yg berjalan itu ada lagi, itu apa sebenarnya? Pertanda atau apa? Sialan! 

Bawaan sudah aku bereskan, tiba-tiba kang Obar mendekat padaku, aku sedikit kaget.

“Ceritakan semuanya pada ibu, nanti juga den Fedi mengerti kenapa semua ini terjadi dan seperti ini, karna den Fedi juga sudah besar dan akan paham”-ucap kang Obar 

Hah! Kenapa kang obar harus bicara itu sama aku? Apa ibu jauh lebih tau soal rumah Nenek ini atau ada hal lain juga? gangguan di dalam rumah itu sudah cukup buatku.

Kenapa dengan kang Obar? 

“maksudnya kang apa?”-tanya Fedi

Bukanya menjawab kang Obar malah pergi begitu saja, tanpa ada jawaban sama sekali 

Kang Obar sangat aneh sekali, setelah melihat aku mendekat pada pohon beringin itu. Sialan kenapa harus aku yang buat pusing memikirkan hal ini, oke aku berpikir kunci semua ini apa ada di ibu? 

Tidak lama dari omongan kang Obar barusan, aku dan Mella, langsung pergi meninggalkan rumah Nenek dengan banyak pertanyaan aneh. 

Aku lihat rumah Nenek dari spion mobil, sangat indah, kelihatan nyaman sekali, tapi entah kenapa kejadian semalam sangat berbalik. Ada apa sebenarnya? Lamunan itu terus ada dalam pikiranku saat ini 

“Kak jangan ngelamun gtu, lagi nyetir juga!”-ucap Mella

“Mel kamu nyangka engga sih rumah Nenek bakalan jadi seseram itu?”-tanya Fedi 

“Aku sih engga ngerasain kak, tapi aku lihat tadi kaya ada perempuan gtu di jendela yang merhatiin, pas kakak ngobrol dengan kang Obar”-ucap Mella

“Serius kamu lihat?”-tanya Fedi, sangat kaget 

Masih pagi sekali memang itu, tapi apa ada mahluk lain sepagi itu? Tapi Mella melihatnya, pikiranku sudah ingin sampai rumah menceritakan semuanya pada ibu, biar semuanya jelas.

Perjalanan pulang tidak seasik perjalanan berangkat, Mella lebih banyak melamun. 

“kak.. kak.. bisa jadi engga sih pohon beringin itu dijadikan tempat pesugihan sama kang Obar?”-tanya Mella

“Maksudnya Mel?”-tanya Fedi

“iyahkan kakak lihat tuh kang Obar malam itu bawa sesajen gtu kan dari pohon beringin?”-tanya Mella 

“Iyah lihat terus?”-ucap Fedi

“Iyah bisa jadi itu sesajen yang kang Obar simpan kak, mungkin untuk meminta pada penunggu pohon beringin itu?”-ucap Mella

“Hmm bisa jadi tapi untuk meminta apa?”-tanya Fedi 

Segala sangkaan pada kang Obar sudah Mella tebak, sambil becanda untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh buatku.

Selepas perjalanan 2 jam akhirnya sampai di Rumah. Ibu kaget dengan kepulangan aku dan Mella. 

“Loh udh balik lagi katanya mau minggu, ini baru Sabtu juga”-ucap Ibu

“Bu sini ada hal penting harus kita obrolkan?”-ucap Mella

“Oh ibu tau, apa yang kalian mau obrolkan, sana mandi dlu, tr malam ibu juga pulang sekarang ada urusan dulu”-ucap Ibu 

“OH IBU TAU” tau soal apa ibu tiba-tiba bilang seperti itu? Ngomong juga belum ini sudah bilang tau saja, aku sedikit membodo amatkan.

Intinya sudah sampai dirumah. Masuk ke kamar, aku sangat lelah sekali karna tidak tidur semalaman dan pulang dengan jalanan macet. 

Sesekali memejamkan mata, baru saja mau terlelap.

“Prakkk…” 

Otomatis aku kaget dan melihat hanya tas aku saja yg jatuh, tidk aku pedulikan sma sekali.

Coba aku pejamkan mata, sialnya sosok rambut panjang yg aku lihat di dapur rumah Nenek jelas sekali ada ketika aku semakin memejamkan mata, semakin terlihat. Sial kenapa bisa seperti ini. 

Kembali bangun, aku masuk ke kamar Mella, sebelum aku masuk aku lihat Mella sedang menyisir rambutnya, tapi posisi dan kebiasaannya seperti bukan dia.

“Mel woy..”-ucap Fedi 

Mella tidak langsung menengok tetap menyisir rambut bagian belakangnya itu terus menerus.

“Mella!!!!”-teriak Fedi

“Hah iyah kak”-jawab Mella, kaget

“Lah kak ngapain aku disini? Tadinya aku mau tiduran loh kak?”-ucap Mella, heran sekali 

Aku paham sekarang kejadian semalam belum beres, gangguan itu belum beres, semuanya harus selsai dan hanya ibu yang aku pikir tau bagaimana menyelesaikannya. 

“Bu tolong! Skrng pulang kasianlah sama anak ibu Fedi dan Mella, Fedi dari semalaman di rumah Nenek, pulang, dan sampai sekarang belum bisa tidur! Diganggu terus bu!”-ucap Fedi di tlp 

“Apa maksud kamu di ganggu siapa?”-tanya Ibu

“Makanya ibu pulang sekarang!”-ucap Fedi

“Yaudah iyah Ibu pulang!”-ucap Ibu dengan nada marah 

Saking aku kesalnya, apalagi bayangan wanita itu ada terus ketika aku akan memejamkan mata untuk tidur, akhirnya aku dan Mella hanya tiduran di sofa.

Bayangan Nenek sekarang yang aku pikirkan kuat, lebih tenang, sesekali memejamkan mata, sosok wanita itu tidak ada. 

“Kak bangun…”

“Iyah iyah…”-ucap Fedi

Tidak terasa ternyata aku bisa juga ketiduran, rasanya badan pegal sekali, keringat di baju juga terasa basah sekali, tumben aku tertidur bisa dengan keadaan seperti ini. Kelelahan karna semalam tidak bisa tidur, sepertinya. 

“Fed cepet mandi, ibu tunggu di meja makan”-ucap Ibu

Hah jam 9 malam! Berapa jam aku tidur? Bisa-bisanya seperti ini, tidak lama aku bergegas mandi, badan masih terasa lemas, namun guyuran air bisa membuat sangat segar sekali. 

Ibu menyuruh aku makan, tapi belum sekali nafsu makan itu datang. Selsai menyeduh kopi dan membakar rokok aku langsung menemui ibu. 

“Bagaimana bu?”-ucap Fedi, memulai obrolan

“Terlalu panjang ibu ceritakan soal rumah itu?”-sahut ibu dengan nada lemas

Aku paham, soal ini mungkin bagi Ibu berat sekali, bagaimana kenangan bersama nenek dan tentunya rumah itu. 

“Boleh Bu ceritakan saja, sudah terlalu aneh rumah itu, satu malam saja Fedi dan Mella disana sudah pertanda tidak baik bu”-ucap Fedi, teggang 

“Itulah kenapa alasan Ibu menyarankan kalian kesana, kalian harus tau, keadaan sekarang seperti apa”-sahut Ibu, dengan mata yang berlinang 

“Bu ada baikya Mella juga tau, kak Fedi dan Mella sekarang sudah besar bu”-ucap Mella, penasaran.

“Jika kalian tahu yang sebenarnya, apa kalian juga akan mengerti?”-tanya Ibu, pada Mella dan Fedi dengan mengucurkan air mata 

Apa semuanya seberat ini? Sampai Ibu harus meneteskan air mata, aku tidak paham jelas karna aku tidak tahu yang terjadi. Bukan maksud mengubah keadaan meja makan jadi sekaku ini, jelas ini bukan awal niatku bicara dengan Ibu jadi seperti ini. 

“Ibu pgen tau Fed apa yang kamu lihat dirumah itu?”-tanya Ibu 

“Pertama datang, kunci yang ibu kasih tidak masuk, ada suara langkah kaki didalam, malamnya penampakan perempuan, kucing, dan bau aneh bunga melati, apalagi pohon beringin itu bu..”-ucap Fedi, menjelaskan. 

“Sosok perempuan masih muda?”-tanya Ibu

“Tidak tau bu, rambutnya panjang terurai seperti Mella?”-ucap Fedi

“Hah! Itu aku mimpikan kak serius, malam pas tidur di kamar Nenek”-sahut Mella, menambahkan

“iyah ibu paham, mungkin dari sini ibu jelaskan”-ucap Ibu 

Serr tiba-tiba suasana semakin kaku sekali, bahkan rokok yang aku hisap, keliatan sekali betapa tenggangnya aku. 

“Dulu sekali sewaktu ibu masih kecil, kakek kalian mempunyai istri muda, cantik, parasnya blasteran belanda. Nenek waktu itu setuju saja Kakek menikah lagi, apalagi Nenek tau betul bahwa kakek adalah juragan tanah dikampung itu. 

Akan tetapi, pernikahan itu hanya berlangsung beberapa bulan, istri muda Kakek meninggal tidak wajar. Lalu, ketika Ibu beranjak dewasa sebelum menikah Nenek jelaskan semuanya”-ucap Ibu, sambil menangis 

“Lalu bagaimana lagi bu”-tanya Mella, dengan penasaran

“Nenek bilang sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar rela kalau suaminya punya istri lagi, walau dalam ucapanya menerima, hati kecilnya tidak pernah menerima sama sekali”-ucap Ibu 

“perempuan itu meninggal kenapa bu?”-tanya Fedi

“TUMBAL! Iyah Nenek cerita perempuan itu di jadikan tumbal oleh Kakek agar bisnisnya berjalan lancar!” Bentak Ibu, kesal 

Aku hanya bisa diam, tanpa sepatah katapun bisa aku keluarkan, antara mengerti perasaan Ibu dan penasaran selanjutnya apa yang terjadi.

“apa yang kamu lihat di pohon beringin itu Fed?”-tanya Ibu pada Fedi 

“Sore itu aku melukis, tapi bayangan sosok nenek yg ada dipikiran aku, penasaran lebih ada Bu pada pohon itu, tapi tidak aku ikuti, selepas malam bahkan dini hari Bu, aku melihat kang Obar membawa pergi sesajen gtu di balik pohon itu”-sahut Fedi menjelaskan dengan perlahan-lahan 

“Yang kakak jekaskan sama aku itu?”-tanya Mella

“Iyah Mel, kakak lihat itu dengan mata kakak sendiri”-ucap Fedi menyakinkan. 

Aku paham, mungkin ibu keberatan soal hal ini, tapi aku juga merasa semua ini harus aku dan Mella tahu langsung dari Ibu. 

“Iyah dulu pohon itu, dijadikan tempat sakral oleh kakek kalian, dianggap pembawa keberuntungan, sampai dianggap bahwa sesajen harus tersedia dari malam dan diambil pagi hari. 

Dan perempuan itu juga mati setelah melarang kakek menaruh sesajen itu, tapi nenek membela kakek dan bercerita perempuan itu sakit sebelum kematiannya datang”-ucap Ibu, perlahan-lahan seperti membuka semua memori masa lalu itu 

“perempuan itu gentanyangan yah bu? Sampe kakak melihatnya?-tanya Mella

“Entah Mel ibu tidak tau soal perempuan itu bagaimana, tapi Ibu hapal betul tidak ada yang mau mati dengan sia-sia, walau takdir kadang bisa berkata lain”-ucap Ibu 

Sekarang tentang perempuan itu masuk akal buatku, dia bisa jadi masih penasaran dan ingin menunjukkan kemarahanya padaku cucunya Kakek dan Nenek, itu hanya pikirku saja. 

“bu kenapa kang Obar bilang tanyakan pada Ibu, setelah aku tau dan lihat kang Obar di pohon itu secara langsung?”-ucap Fedi, penasaran 

“Idim! Ini salah dia! Kenapa sosok perempuan itu menghantui kalian itu salah Idim”-sahut Ibu kesal sekali

“Kenapa dengan kang Idim bu?”-tanya Mella 

“Dia (Idim), setelah 9th kematian nenek ibu pernah titipkan rumah itu pada dia supaya merawat bahkan ibu suruh untuk tinggal di rumah itu, tapi dia bego! 

Malah melanjutkan tradisi kakek kamu yg dulu, percaya pada pohon beringin itu! Sejak kakek meninggal tradisi itu sudah tidak pernah terjadi, tapi setelah Nenek meninggal dia malah melakukannya lagi!”-sahut Ibu, dengan nada kesal sekali 

Hah! Kang idim bukanya yang aku lihat Kang Obar? Bagaimana ini? Pasti ada sesuatu lagi.

“Bu yang aku lihat kang Obar, bukan Kang Idim”-ucap Fedi 

“Iyah kamu melihat dia yang membawa pergi sesajen kan?”-tanya Ibu

“Iyah bu”-ucap Fedi 

“Dulu, baru satu tahun Nenek meninggal, kang Obar yang memberi info bahwa Idim memanfaatkan kekuasaan dan hanya Idim yg tau sesajen apa saja, karna dia sebelum kakek meninggal waktu itu masih remaja seumuran ibu juga dekat dengan kakek”-sahut Ibu 

“Ibu sudah menegur?”-tanya Mella

“sampai bosan ibu menegur Idim, sampai ibu punya akal, kalau tiap malam Obar suruh mengecek pohon itu, bila ada sesajen bawa pergi, 

jika Idim marah laporkan pada Ibu, karna Idim sangat takut pada Ibu, Ibu punya jasa besar dalam hidup Idim, walau Idim sampai hari ini mengecewakan Ibu lagi.”-ucap Ibu 

Sialan! Idim! Dibuat aku emosi olehnya, berarti malam itu Teh Wati bilang kang Idim sedang keluar itu bohong, semntara aku sedang kalap tidak mau membantu?! Anj*ng Idim sialan!

Tapi aku tidak mau menceritakan hal itu, pada Ibu takutnya malah menjadi permasalahan lainya. 

“Kenapa tidak Ibu jual saja rumah itu?”-tanya Mella

“Ibu dan Ayah kamu sudah bosan menawarkan rumah Nenek itu, sampai 7 orang yang sudah bilang tertarik, tetapi sama seperti kalian berbagai gangguan aneh selalu ada.”-ucap Ibu 

“Apa perlu aku urus soal kang Idim itu bu?”-ucap Fedi dengan nada kesal, karna tau kelakuan kang Idim yang sebelumnya sangat dia percayai baik 

“Jangan kamu tidak tau apa-apa, selagi sesajen itu tidak diberikan tumbal manusia, keberuntungan pada usaha Idim tidak akan pernah ada. 

karna dulu setelah kakek meninggal, ibu baru tau sudah banyak korban yang kakek nikahi diluar kampung sana, agar Kakek lancar terus bisnisnya, hal ini tidak Idim ketahui, dan ini menjadi rahasia keluarga kita saja”-ucap Ibu, sambil berpesan 

Oke aku paham sekarang rumah Nenek jadi seperti itu, kang Idim ternyata dibalik semua ini. Tidak aku sangka sebelumnya. Benar kata kang Obar, hanya Ibu yang tau persoalan ini dan menjadi saksi memori semuanya.

*** 

2th setelah kejadian 2013 itu, kang Idim meninggal tidak wajar, kang Idim meninggal 2015 karna sakit yang berkepanjangan, Banyak yang bilang penyakitnya aneh. 

Walau aku sendiri tidak terlalu menelusuri kenapa penyakit kang Idim, bahkan beberapa minggu sebelum hari kematiannya, kang Idim sempat di pasung, karna berontak, warga sebagian menyangka bahwa kang Idim gila. 

Tapi bagi Ibu, itu adalah bayaran yang sesuai dengan kelakuan apa yang telah diperbuat olehnya, karna Ibu merasa sudah memberi tahu berkali-kali dan menyuruh kang Idim berhenti, tapi kang Idim tetap saja tidak melalukan apa yang Ibu mau. 

Tahun 2015, pohon Itu ditebang, pengajaga rumah Nenek sepenuhnya Kang Obar. Walau kang Obar keberatan, tidak lama juga, Rumah Nenek ada yang membeli dan dirubah total dijadikan Villa oleh salah satu pengusaha ternama. 

“Bu kenapa dulu tidak ibu suruh tebang saja pohon itu?-tanya Fedi 

“Sudah berkali-kali pohon itu mau ditebang, keanehannya kuat Fed, ada yang tukang nya sakit, atau apa saja halanganya, karna dulu Idim selalu kasih sesajen dan Percaya pada pohon itu seperti Kakek kamu.”-ucap Ibu menjelaskan

*** 

Tidak apa menurutku, segala kenangan soal Nenek masih bisa aku simpan dan keluarga simpan dalam bentuk kenangan dalam pikiran, buat apa juga jika Rumah Nenek itu masih beridiri kokoh tapi menjadi sesuatu yang tidak-tidak. 

Aku tidak menyalahkan Kakek, karna bagiku mau bagaimanapun kejadian itu sudah terjadi dan hanya doa yang bisa tersampaikan untuknya dan meminta kepada penciptanya.

——————————————- 

Sorry gw tidak membalas satu persatu reply kalian, terimakasih sudah membaca dan sabar menunggu “Rumah Nenek” ini selsai. Walau gw sadar cerita ini masih banyak sekali kurang dan typonya. 

Kepada pemilik cerita gw salut dan angkat topi telah percaya cerita ini gw tuliskan, terimakasih juga, karna setelah sering diskusi cerita ini harus bagaimana, akhirnya cerita ini selsai. 

Untuk pembaca yang mengetahui samar-samar tempat, lokasi, dan latar cerita untuk tetap merahasiakanya, sebagaimana kesepakatan gw dengan penulis. 

Kritik dan saran gw terima dengan lapang, silahkan DM gw terbuka untuk kalian, jika ada yang ingin cerita horror yang kalian punya gw tuliskan atau sekedar bertanya hal apapun 

Biarkanlah cerita ini memiliki rasa tersendiri dan stop untuk membandingkan dengan cerita-cerita lainya. karna setiap cerita tujuanya sama agar kalian ikut merasakannya dan tentunya belajar dari cerita itu.

Sampai jumpa dicerita selanjutnya. 

——————————————-

Typing something scary and sharing lessons, enjoy, be careful he is beside you!!!

salam.

Thread By @qwertyping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *