RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Rumah Sakit Angker di Bandung

Berdasarkan cerita dan pengalaman nyata.

Assalamualikum teman-teman semuanya.

Sehat selalu ya? PPKM diperpanjang lagi, entah sampai kapan. Semoga selalu dalam keadaan baik2 saja. 

Sudah 2 minggu rasanya tidak menulis thread, karena cukup disibukkan dg pekerjaan. Tapi, hari ini kebetulan malam Jumat kan, aku mau buat thread tentang salah satu rumah sakit angker di kota Bandung. 

Cerita ini aku alami kira-kira ada tahun 2010, saat masih berkuliah di kota Bandung. Sudah hampir 12 tahun, namun masih terekam jelas di kepala sampai saat ini. 

Rumah sakitnya terletak di jalan Soekarno-Hatta, cukup besar, dan bangunan lama. Tempatnya strategih yang membuatnya selalu ramai didatangi oleh pasien. Baik itu untuk berobat jalan, atau rawat inap. 

Aku kurang tau pasti umur rumah sakit itu, yang jelas terlihat kusam. 

Saat masih kuliah, aku menyewa sebuah kamar kost di daerah Jatinangor. Yang sewa dikost tsb tentunya dari berbagai daerah di indonesia.

Sampai pda suatu ketika, Dika (teman kost) keluar kamar tiba2, panik dan ketakutan. 

Aku dan teman2 kost lainya penasaran apa yg sebenarnya terjadi dg Dika? Akhirnya kami menghampirinya dan menanyakan apa yg sebenarnya terjadi.

Menurut Dika, ia melihat sosok pocong di atas lemari pakaiannya, menatapnya dg tatapan tajam, muka ancur, hitam dan aroma tidak sedap. 

Aku langsung cek kamarnya, dan tidak menemukan apa2 di sana. Mungkin Dika sdg bermimpi, atau mungkin halu waktu itu. 

Malam harinya, dika mendatangi kamar ku dan menceritakan bahwa badanya dlm keadaan tidak baik-baik saja.

Sempat muntah, dan aku memutuskan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk ditangani. 

Jarak antara rumah sakit dan kost tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 15 menit saja.

Waktu itu jam 10 malam kami tiba di Rumah Sakit, aku langsung menghubungi bagian UGD agar Dika dapt segera di tindaklanjuti. 

Setelah ditangani aku baru menyadari bahwa keadaan rumah sakit malam itu tampak berbeda sekali jika klo kita datang pada siang hari. 

Aku menunggu di ruang tunggu UGD, sesekali melihat pasien lewat, ada yang meninggal ada pula pasien yg dtg dg kondisi fisik yang kurang baik (korban kecelakaan). 

Sebenarnya aku tidak takut darah, tapi saat itu melihat darah yang bercucuran ke lantai menjadi sensasi tersendiri yang tidak bisa aku lupain. 

Kurang lebih 2 jam di tindak, dokter menyarankan agae Dika di rawat di rumah sakit beberapa hari, karena ia harus mendapatkan perawatan intensive (usus buntu) dan harus segera di operasi. 

Mendengar hal tsb, aku langsung menghubungi keluarga Dika. Mereka menyarankan agar di rawat inap dg catatan ruangan/kamar yang bagus (1 org 1 kamar). Namun, malam itu hanya tersisa 1 kamar 2 tempat tidur dan mau tidak mau memilih kamar itu. 

Dari ruang UGD menuju kamar yang berada di lt 3, ada perasaan aneh yang mengikuti ku, entah saat itu aku tidak memahaminya dan mencoba menetralisirnya. 

Sampailah kami di sebuah kamar di lt. 3. Di sana harus berbagi kamar dg org lain, dan aku melihat ada pasien (kakek2) ditemani oleh 2 org anaknya. Kakek tsb nampak kecapean, nafasnya terisak-isak sesak nafas. 

Aku membereskan perlengkapan Dika, dan setelah semuanya beres memutuskan untuk menghirup udara segar di balkon kamar.

“A, bilih bade ngarokok”

“Bang, kali mau ngerokok”

Salah satu anak kakek itu dtg ke balkon menghampiri ku dan menawarkan sebatang rokok. 

Aku menolaknya, karena aku tidak merokok. Sebut saja namanya kang Dadan, ia lebih tua dari ku beberapa tahun.

Kami akhirnya terlibat obrolan yang cukup asik, dan aku menanyakan ia sudah berapa lama di rumah sakit ini. 

Menurut kang dadan, ia sudah hampir 2 minggu menemani kakeknya disini. Lalu si kakek sakit apa? Secara medis kakek tidak sakit, tapi bila dilihat langsung ia seperti orang yg sesak nafas. Dokter dan kang dadan pun tidak memahami kondisi kakek. 

Sesekali aku melihat ke arah kang dadan, wajahnya tampak pucat, lingkar mata hitam, mungkin ia kurang tidur kali buat jagain kakek, fikirku seperti itu.

“A kade di dieu mah ulah sare peuting teuing nya”

“Bang hati2 klo disini jng tidur kemaleman” 

Ucapan kang dadan nampak sedikit aneh, jangan tidur kemaleman? Lagi nakut2in mungkin. Aku tidak memperdulikan perkataan kang dadan yg saat itu kembali ke dalam kamar. 

Sudah tengah malam aku masih terjaga di balkon. Sesekali memperhatikan keadaan luar rumah sakit, gelap, sepi dan terdengar suara burung malam. Aku memutuskan kembali ke kamar. 

Jadi kamar nya di sekat, disamping masing2 ranjang ada sofa kecil yg dpt digunakan oleh penjaga pasien untuk beristirahat. Malam itu aku benar-benar tidak ngantuk sama sekali. 

Jam 1.30 pagi aku mendengar pintu kamar sebelah kebuka, seperti ada yang masuk. Mungkin ada pasien baru malam itu. Beberapa saat setelahnya aku mendengar suara rintihan orang kesakitan, sesekali meminta tolong

“Tolong saya, tolong” 

Anw, aku menulis thread ini sambil merinding. Connection is connected ke malam aku mendengar suara org minta tolong itu. 

Terdengar lagi suara org minta tolong. Aku penasaran dan memberanikan diri untuk melihat kamar sebelah.

Lorong rumah sakit malam itu sepi, tidak ada aktivitas apapun, hanya melihat 1 kursi roda di samping kamar. 

Kaki ku melangkah perlahan, pelan-pelan sampai aku di depan pintu kamar sebelah. Aku coba melihat dari kaca kecil yang ada di pintu.

Ternyata disana ada 1 org pasien dan sedang ditemani oleh seseorang. Tapi, ada yg berbeda, org yg menemani rambutnya panjang… 

…. rambutnya panjang sebahu, tidak rapih, dan seperti memakai daster panjang berwarna putih. 

Aku tidak lama melihat kamar sebelah dan memutuskan untuk kembali ke kamar. In case si dika butuh sesuatu.

Tapi, saat aku berbalik dan melihat ke arah kursi roda yg awalnya ada di depan kamar, saat itu kursi berada beberapa meter dari posisi awal. 

Oke mulai panik kan, soalnya saat aku melihat ke arah kamar sebelah aku tidak mendengar suara kursi roda gerak, sama sekali. Langsung masuk ke kamar melewati kakek. Tapi, saat aku lewat ke arah kasur kakek aku tidak melihat siapa2 di sana. 

Loh kok bisa kosong? Kakek dan ke 2 anaknya dimana? Oh mungkin mereka sedang dipindahkan ke ruang ICU saat aku tadi cek kamar sebelah, mungkin ya. 

Soalnya kondisi si kakek sedikit menghawatirkan.

Malam itu aku tidak terlalu memikirkannya, dan mencoba memejamkan mata lalu tertidur. 

Ke esokan harinya aku dibangunkan oleh suara alarm hp, lalu cuci muka dan mandi. Keadaan dika pagi itu terlihat sedikit lebih membaik, kami udah bisa ngobrol sedikit2. 

Ditengah2 obrolan aku memutuskan untuk ke kantin membeli sarapan dan saat melihat ke ranjang kakek aku tidak melihat siapa2 di sna. Si kakek dan kedua anaknya apa masih diruang ICU ya? 

Masih sepi nih, lanjut nanti malem ya :3 

Dari tadi gatel tangan pengen lanjut nulis thread. Waktunya udh pas, mari lanjutkan. 

Sebelumnya setelah plg membeli sarapan dan kembali ke kamar aku tidak melihat keberadaan kakek dan kedua anaknya, mungkin masih di ruangan ICU.

Waktu itu aku ada kelas jam 1 siang dan mutusin buat ke kampus dlu baru sore nya ke rs lagi. 

Soalnya ada temen kosan jg yg mau nengokin si dika.

Setelah selesai kelas aku ke kost membawa perlengkapan tambahan, termasuk perlengkapan si dika dan abis magrib berangkat ke rumah sakit. 

Hari ke 2, ketika aku masuk ke kamar aku ngeliat kakek dan kedua anaknya ada di situ. Kondisinya sama seperti semalem, nampak sesak nafas, dan ke2 anaknya pun sama, muka mereka masing2 pucat. 

Aku langsung nyamperin si dika, ngobrol2, ada temen kost yg lain jg kan.

Jam 9 atau 10 malem tmn kost izin pamit plg, karena ia ada kelas pagi, sementara aku lanjut nginep di rs nemenin si dika. 

Seperti biasa ketika semuanya udh kondusif aku ke balkon kamar menghirup udara bandung yg seger. Lalu, kang dadan dtg mengampiri ku. Pakaianya sama dg kemarin, ia kehabisan pakaian sepertinya jdi ga ganti baju. 

Tapi, anehnya ketika kang dadan dtg ia menyapaku sama seperti semalem, menawari rokok. Kata-katanya sama percis tidak ada yg berbeda. Aku tidak memperdulikanya dan kembali ngobrol dg kang dadan. 

Anehnya lagi ya, obrolan kami itu sama seperti kemarin malem. Percis, tidak ada perbedaan. Aku sempet berfikir apa mungkin saat itu aku sedang halu? Kehilangan fokus? Dan, kang dadan pamit kembali ke kamar pun dg bahasa yg sama

“Jangan tidur terlalu malam di sini” 

Well, entah sebuah kebetulan atau gimana, aku sekali lgi tidak memperdulikan hal itu. Dan, mencoba tidak terpengaruh dg keadaan, dlm artian aku tetap berada di balkon menikmati pemandangan. 

Malam itu aku sambil menikmati secangkir kopi hangat di balkon, sekitar jam 11 atau 12 malam dari kamar sebelah aku seperti mendengar suara seseorang. Apa mungkin suara seperti semalem, suara org kesakitan dan minta tolong? 

Aku mencoba memfokuskan pendengaran, dari kamar sebelah aku mendengar suara

“Hi”

Iya sebuah kata “Hi” di tengah malam. 

Suara “Hi” yg ngebuat bulu kuduk langsung berdiri, seketika panik dan jujur ngerasa takut.

Aku coba untuk menghilangkan rasa takut itu, dan perlahan memfokuskan pendengaran kembali, in case aku salah denger. 

Beberapa saat terdengar kembali suara:

“Hi”

Aku tidak mau larut dalam ketakutan, kemudian memutuskan untuk mendekati ke arah balkon kamar sebelah. 

Dengan rasa cemas dan tetap berhati-hati aku melangkahkan kaki ini mendekati balkon kamar sebelah.

Hanya berjarak 1 – 2 meter aku dapat melihat kondisi kamar dari jendela.

Kamar itu nampaknya kosong tidak ada pasien yg rawat inap. 

Aku coba cek kembali pintu kaca sedikit terbuka, tiranya seolah bergerak karena tertiup angin, nampak jelas tidak ada org disana.

Syukurlah tidak ada siapa2 di sana, mungkin tadi aku salah denger. 

Tapi, ketika pandangan ku mengarah kembali ke jendela itu aku melihat sosok bayangan seperti wanita, tidak terlalu tinggi berada di belakang tirai.

Merinding nya ampe skerang 🙁 

Bayangan itu terlihat diam tidak bergerak, hanya rambutnya saja yg tertiup angin. Aku coba mendekati dan memfokuskan penglihatan, dan saat angin meniup tirai terlihat jelas wanita tua sedang berdiri menatap ke arah ku 🙁 

Wajah pucat, rambut putih terurai panjang, memakai kemben, dan kelopak mata hitam menatap tajam ke arah ku.

Aku benar-benar kaget, hampir saja kejengkang ke tepi pagar pembatas balkon. 

Aku langsung kembali ke kamar, tutup tirai dan kunci pintu.

Malam itu di ruangan terasa beda, aku tidak pernah setakut itu sebelumnya. Nafas ga beraturan, keringet dingin jg. 

Aku berusaha mengontrol diri sendiri, mengatur nafas, dan berdoa. Beberapa saat setelahnya aku ngerasa lebih baik dan dapat kembali berfikir dg jernih. 

Terdengar kembali suara

“Galih, tolong saya”

“Galih, tolong saya”

“Galih, tolong saya”

Kalimat itu terdengar 3 kali berturut-turut. Pertanyaanya dari mana dia tau nama ku? Dan sebenernya dia itu siapa? 

Saat itu jg aku lari keluar dari kamar, menjauh sejauh-jauhnya. Aku mutusin untuk tidak tidur dan mendekati titik ramai (resepsionis).

Mereka (suster jaga) melihat ku dg tatapan yg aneh, aku tidak berkata banyak sambil memperhatikan keadaan sekitar. 

Tempat perawat jaga berada di pojok lorong RS dekat dengan lift, saat itu aku ngerasa aman.

Jadi posisinya itu paling pojok, kamar si dika berada di sebelah kanan kanan mungkin jaraknya 20m. 

Pandangan ku tetap tertuju ke arah kanan, ke arah kamar sebelah yg tdi aku ngeliat ada nenek tua. 

Aku sempat tertidur sebentar di ruang tunggu dan kebangun gara2 denger suara pintu lift kebuka.

Aku fikir ada yg keluar dari lift, tapi saat itu tidak ada yg keluar dari dalam lift.

Apa mungkin ada org iseng? Malem-malem? Rasanya ga mungkin. 

Lift kembali tertutup dan beberapa saat setelahnya terdengar kembali suara lift kebuka dan tidak ada yg keluar dari dalam lift. Aneh memang, ga masuk akal sama sekali. Apa mungkin lift sedang rusak? 

Terdengar suara adzan subuh, aku masih terjaga tidak tidur dan memberanikan diri turun ke loby untuk menunaikan solat subuh. 

Hari ke 3 aku memutuskan untuk rehat sejenak di kost. Di hari ke 4 aku kembali ke Rumah Sakit itu lagi.

Bismillah semoga tidak terjadi sesuatu yg aneh. 

Setelah magrib aku sampai ke rumah sakit, dan lngsung nyamperin suster yg jaga untuk nanyain perkembangan keadaan si dika. Lalu, aku menghampiri dika di kamar.

Malam itu kakek dan kedua anaknya masih terlihat sama, muka pucat, nafas tersendat, dan mengenakan pakaian yg sama. 

“Dik, gimana keadaan lo skrg? Tadi nyokap lo nelfon gw, transfer buat kebutuhan lo”

“Jauh lebih baik lih. Thank you ya”

Kami ngobrol2 santai.

Setelahnya aku ke tempat suster jaga, niatnya mau nanyain jumlah tagihan yg harus di bayar. 

“Eh kang dadan, kumaha eta si kakek atos sehat”

“Eh kang dadang, gimana itu si kakek udah sehat?”

Kang dadan tidak menjawab pertanyaan ku, ia hanya merunduk dengan wajah yg selalu pucat. 

Aku menutup pintu dan berjalan menuju tempat suster jaga.

Aku dan beberapa suster ngobrol2 santai, hingga aku menceritakan kejadian aneh yg aku alami selama di rumah sakit ini. 

Mba Nawang (perawat senior) terlihat serius mendengarkan ceritaku dari hari pertama aku menjaga si dika sampai malam ini.

“Mba di sini itu serem ya?”

Mba Nawang tidak membalas pertanyaan ku dan hanya tersenyum. 

Lalu aku menanyakan si kakek yg saat ini ada di kamar itu sebenernya sakit apa? Dan sudah berapa lama di sini?

Mba Nawang memberitau klo si kakek itu sakit paru2, jdi ia terlihat selalu sesak. 

“Iya mba tadi sya ngeliat si kakek jg masih sesak nafasnya. Dan anaknya jg keliatan murung banget. Trus sya heranya, klo siang sya selalu ga ngeliat mereka. Pindah ke ruang ICU ya?”

Mba Nawang hanya diam, tidak menjawab pertanyaan ku. 

Dan aku ngeliat perawat lain seolah berbisik mengatakan sesuatu atas ceritaku tadi.

“A, aa yakin ngeliat si kakek dan kedua anaknya ada di kamar?”

“Iya mba, barusan sya kan ke kamar dan ngeliat mereka ada kok”

Mba Nawang diam, tidak berkata apapun. 

“Mas, sini sya kasih tau. Tapi jangan kaget ya”

“Iya mba emg ada apa ya?”

Akhirnya mba Nawang buka suara juga, penasaran ku akan terjawab.

“Mas, kakek yg mas galih liat sebenernya sudah Meninggal 2 hari sebelum mas galih kesini”

Hah? Gimana? Udah meninggal? 

Gimana bisa udha meninggal? Setiap malam aku ngeliat mereka ada di kamar, dan tadi pun sebelum menghampiri suster mereka masih ada. 

“Mba Nawang jng bercanda ya, ga mungkin mba, barusan sya sebelum kesini ke kamar dlu dan mereka ada di sana”

Mereka selalu terlihat pucat, tapi apa bener udh meninggal? 

Mba Nawang kemudian memberikan bukti administrasi kakek itu yg udh meninggal beberapa hari yg lalu.

Lalu pertanyaanya, kang dadan gimana?

Mba Nawang melanjutkan ceritanya.

“Mas, setelah kakek itu meninggal karena penyakit paru2… 

… beberapa saat setelahnya kedua anak kakek bunuh diri, mereka loncat dari atas balkon”

Bunuh diri? Loncat dari balkon? Kang Dadan yg setiap malem aku ajak ngobrol itu siapa? Setan?

Ngedenger cerita Mba Nawang, fikiranku udah kemana2, takut iya, bingung jg iya. 

“Mba, di kamar sebelah tiap malem jg aku sering ngedenger suara aneh. Malah ngeliat nenek2, serem bgt mukanya ada dibelakang tirai”

Aku lanjut menanyakan hal kedua kepada Mba Nawang.

“Mas Galih yakin? Di kamar sebelah itu engga ada pasien mas, kosong… 

…beberapa bulan yg lalu memang ada pasien yg dirawat disitu, lalu meninggal. Selama sakit dijagain oleh ibu nya yg sdh sepuh”

Jadi, mengetahui anaknya meninggal, ibu itu langsung drop dan dirawat jg di kamar itu dan kemudian meninggal. 

Malem itu jg aku meminta kepada pihak rumah sakit untuk pindah kamar. Mba Nawang membantu ku mencarikanya dan akhirnya dapat 1 kamar di lantai 2. Aku membereskan perlengkapan, dan memberitahukan kepada Dika bahwa akan pindah kamar. 

Di kamar aku tidak melihat org lain selain aku dan dika. Kakek dan kedua anaknya tidak nampak terlihat di ranjang. Aku segera membereskan perlengkapan, lalu pindah kamar. 

Perlengkapan sudah beres, kami sudah bisa pindah kamar dan ketika aku menutup pintu kamar aku ngeliat dari dalam jendela, Kang Dadan tengah tersenyum ke arah kami. 

Tersenyum dg wajah pucat, dan lingkar mata hitam.

Aku langsung meninggalkan kamar itu dan menuju ke lantai 2.

Kamar di lt 2 nampaknya biasa saja, tidak terasa sesuatu yg aneh. Hanya ada kami di sana. 

Aku tidak menceritakan ke si dika tentang apa yg aku alami beberapa hari di rumah sakit ini. Sampai saat ini, ketika Dika sudah tiada (meninggal dunia), ia tidak mengetahui kejadian ini. 

Oh ya, sehari setelah Dika meninggal aku memimpikanya, bertemu dengan dia, wajahnya tampak murung, dan pucat. Aku menanyakan kenapa dan apa yg terjadi dg nya? Tp, ia tidak menjawab pertanyaan ku. 

Beberapa hari setelahnya, aku memimpikan dia kembali. Terlihat sedikit ceria dan wajah yg tidak ditekuk. Semoga itu pertanda baik ya, dan semoga lo tenang di alam sana.

Anw aku ngetik sambil merinding ini, malam jumat pula kan. 

Kembali ke cerita, kamar di lt.2 aku ga ngerasa sesuatu yg aneh. Tapi, sekitar jam 2 malem aku kebangun, soalnya lupa pintu balkon belum di tutup, begitu ada angin kencang langsung bunyi.

Aku lantas menghampiri pintu dan menguncinya. 

Tapi, sebelum mengunci pintu aku mendengar suara

“Hi Galih”

Yg berasal dari luar balkon, langsung aku tutup tirai dan kumci pintunya.

Mudah2-an tadi aku salah denger. Masa iya kejadian suram itu keulang kembali? 

Klo malem-malem ada yg say “Hi” kepada kalian, tanggepin aja, kali aja itu jodoh kalian, mau kenalan gtu :p 

Cukup sampai disini ya cerita tentang rumah sakit angker di kota bandung yg pernah aku alami. Mohon maaf aku ga bisa spill nama rumah sakitnya, yg jelas berada di soekarno-hatta. 

Mohon maaf juga jika ada kesalahan atau ada kata2 yg tidak berkenan.

Sampai berjumpa di thread selanjutnya, Semoga semua mahluk berbahagia.

Thread By @Galih Natasasmitha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *