RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

S E S A T ( Bersekutu Dengan Iblis )

Orang2 yang berada di warung kopi milik pak Muni tersebut menatap ke arah yang sama, di mana terlihat seorang perempuan berkebaya merah berjalan dengan lenggang lenggok santai. Bodinya yang aduhai, serta parasnya yang cantik membuat siapapun yang melihatnya pasti tak berkedip. 

Bunga2 pun seakan menunduk malu saat perempuan itu berjalan melewatinya.

Dia adalah Lilis Sumarni, perempuan kelahiran tahun 1961 itu memiliki darah keturunan Kalimantan dan Jawa yang mengalir di tubuhnya. 

“Mampir dulu Lis.”

“Duduk di sini Lis. Kita minum2 kopi dulu.”

“Makin hari semakin cantik saja si Lilis.”

“Jadi istriku yuk.”

Begitulah kicauan para lelaki saat Lilis 

Berjalan melewati tongkrongan mereka.

“Numpang lewat mas.” Ucap Lilis lembut

Lilis Sumarni berprofesi sebagai perias pengantin, tangannya seolah memiliki keajaiban karena siapapun yang di riasnya pasti akan terlihat sangat cantik bak bidadari. 

Itulah sebabnya ia tak pernah sepi pelanggan. Hasil riasan nya yang bagus terkenal sampai keluar desa bahkan kabupaten. Tapi meski begitu Lilis Sumarni belum terbuka untuk menjalani hidup dengan berpasangan. 

Ia lebih menyukai kehidupan nya saat itu dalam kesendirian.

Walaupun usianya sudah tidak muda, yakni 47 tahun.

Namun wajahnya tetap cantik bahkan tak terlihat menua sedikitpun. 

—-

Pagi yang cerah di bulan Juli, saat itu Lilis Sumarni sedang menyirami bunga2 mawar kesayangan nya di halaman rumah, ketika seorang perempuan dengan rambut panjang sebatas dengkul datang kerumahnya. 

“Selamat pagi.” Ucap si tamu

“Selamat pagi, mari masuk.” Jawab Lilis sembari meletakkan wadah air yang ia pegang

Si tamu tersenyum seraya berjalan menaiki tangga rumah Lilis. 

Tamu itu duduk di kursi yang ada di teras rumah Lilis, ia memangku rambut panjangnya agar tak menyentuh lantai ketika ia duduk.

Si tamu duduk untuk beberapa saat sambil menikmati pemandangan bunga2 yang memenuhi teras.

Tidak lama kemudian Lilis keluar sembari membawa 

Dua gelas teh manis juga beberapa bungkus pais baluh (kue labu) yang masih mengepulkan asap.

“Silahkan diminum tehnya dik.” Ucap Lilis

“Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Asti dari palangkaraya. Saya kemari setelah mendengar cerita dari teman2 yang mengatakan 

Kalau kamu ini adalah perias pengantin yang sangat berbakat, apapun yang kau rias, pasti akan terlihat sangat sempurna dan cantik. Dan saya mau kamu merias anakku yang akan menikah satu minggu lagi. Aku tidak ingin dia terlihat biasa saja di hari istimewanya. 

Aku ingin dia terlihat sempurna, lebih sempurna di hari istimewa itu. Berapapun biayanya katakan saja. Karena aku tidak mempermasalahkan biaya.” Ujar si tamu sambil tersenyum 

Lilis berdehem, lalu menatap temannya yang masih lekat menatap ke arahnya.

“Saya setuju, tapi saya mempunyai syarat yang wajib dipenuhi oleh mempelai. Dan lagi saya baru bisa datang 3 hari sebelum pernikahan. Sedekat atau sejauh apapun jaraknya, 

Kalau adik setuju, saya bersedia.” Ucap Lilis

“3 hari ya.” Gumam si tamu sembari mengalihkan pandangannya ke arah bunga anggrek yang tergantung

“Baiklah, aku setuju. Ku rasa 3 hari sebelum hari H nya masih sempat.” Ujar si tamu mengangguk menyetujui 

“Ini uang mukanya, dan 3 hari sebelum pernikahan nanti anak buah ku akan menjemputmu.” Lanjutnya seraya meletakkan sebuah amplop putih di atas meja 

Setelah itu si tamu berpamitan untuk pulang.

Lilis menatapnya sembari tersenyum manis.

———-

Beberapa hari kemudian, seorang laki2 datang ke rumah Lilis, rupanya laki2 itu adalah anak buah dari bu asti yang beberapa hari lalu datang kerumahnya. 

Lilis membawa 2 buah tas besar keluar dari dalam rumah, yang tentu isinya adalah baju2 dan juga peralatan make up.

Sebelum pergi, Lilis meludahi pintu rumahnya 3 kali. Entah apa maksudnya. 

Singkat cerita Lilis dan laki2 tersebut tiba di rumah mempelai yang sangat mewah pada zaman itu. Terlihat di halaman rumahnya sudah berdiri sebuah panggung besar yang belum sepenuhnya rampung. Halaman belakangnya di penuhi dengan orang2 yang sedang duduk gawi 

(Membuat bumbu2 masakan)

Lilis disambut dengan baik oleh pihak keluarga mempelai, ia di antar ke kamar yang diperuntukkan khusus untuknya. 

Setelah menata barang2 yang di bawanya, Lilis meminta untuk berbicara secara 4 mata dengan calon mempelai perempuan.

Di dalam kamar yang terkunci itu, Lilis memberikan syarat pertama yang harus dipenuhi sang pengantin.

Lilis meminta di carikan 700 melati 

Yang belum mekar(masih kuncup).

Saat si calon pengantin ingin bertanya, terlebih dulu Lilis menyela.

“Tidak ada tanya jawab, kau hanya boleh memenuhi syarat tersebut.” 

Setelah syarat pertama sudah penuhi, Lilis memberikan lagi syarat kedua. Yakni mencarikan nya 7 lembar daun sirih (basampuk urat) bertemu urat. Dan syarat ketiga iyalah sepasang ayam berwarna hitam dan putih.

Sehari sebelum pernikahan, Lilis mengunci diri di dalam kamarnya 

Dan mulai meritualkan sesuatu. Keesokan paginya saat akan mendandani pengantin, Lilis menyuruhnya meminum darah ayam yang sudah di taruh di dalam gelas. Darah itu juga di oleskan ke bagian dahi, tengkuk, serta bibir si pengantin. Walau awalnya ragu2, akhirnya mau tak mau 

Pengantin tersebut mau meminum darah ayam tersebut.

Sepanjang waktu riasan, si mempelai wanita terlihat gelisah dan tak mau menatap cermin yang ada pantulan wajah dari Lilis Sumarni. 

Saat pengantin keluar dari kamar, semua mata nampak takjub dan terpukau melihat kecantikan pengantin nya. Tak henti2 pujian keluar dari mulut orang2 yang melihatnya. 

“Ckckck.. Akay, puna bahalap. (Sungguh cantik sekali)”

Pesta pernikahan berjalan lancar, namun setelah selesai acara. Si pengantin wanita seperti kerasukan. Dia mengamuk dan menangis histeris tanpa sebab yang jelas. 

“Bukan apa2, tidak akan terjadi hal yang buruk. Kejadian seperti ini sering terjadi, karena gangguan makhluk halus yang jatuh hati pada si mempelai. Tolong ambilkan aku air sirih dan gula.” Ujar Lilis 

Namun saat apa yang diminta lilis tadi datang, pengantin wanita sudah sadar dari, dan terbaring lemah di atas kasurnya.

“Ada hantu, wajahnya buruk. Aku takut.” Ucap si pengantin masih sesenggukan 

“Dia tidak akan mengganggumu. Wajar saja kalau mahluk2 halus tertarik, karena kau sungguh sangat cantik sekali.” Ucap Lilis membuat si pengantin pria mengerutkan alisnya 

“Maksudnya?” Tanya mempelai pria

Lilis tersenyum, lalu bangkit dari duduknya.

“Istirahatlah. Pasti hari ini kalian sangat capek sekali kan.” 

Setelah berkata seperti itu Lilis keluar, di iringi tatapan aneh si mempelai pria.

Malam itu Lilis mengunci diri di dalam kamar, ia mengeluarkan perapian kecil yang terbuat dari kuningan. Ia menghidupkan api dan mulai melantunkan mantra2 yang asing bagi kebanyakan orang. 

Seiring dengan asap yang semakin mengepul, terdengar suara seorang laki2 yang meracau tak jelas. Berdiri sesosok makhluk bertubuh tinggi dan besar dengan warna merah semerah darah. 

Lilis sujud di hadapan makhluk itu, ia tak berani menatap sedikitpun pada makhluk tersebut. Tanpa ragu Lilis melukai telapak tangan nya sendiri dengan pisau kecil lalu meneteskan darahnya ke dalam perapian yang masih berasap itu. 

“KAU TERLAMBAT..!!” ujar makhluk tersebut

“Ampuni saya, saya telah lalai. Tapi saya berjanji akan membawakan dua tumbal sekaligus setelah ini.” Ucap Lilis dengan suara gemetar 

Makhluk itu menggeram dengan suara yang sangat menyeramkan.

Beberapa saat hening, makhluk tersebut kemudian menghilang. Diiringi dengan suara benda jatuh dari luar jendela kamar, membuat Lilis tersentak, 

Namun setelah pintu dibuka tak ada siapapun di luar sana selain bercak darah yang perlahan2 mulai menghilang. Lilis Sumarni menghela nafas lega. Ia yakin tadi itu pasti ada orang lain yang mengintip nya. 

Tapi untung saja makhluk sekutunya mengetahui hal tersebut. Bukan kali pertama bagi Lilis ia ketahuan orang lain, tetapi untungnya orang2 yang mengetahui rahasianya itu berhasil dilenyapkan oleh mahluk tinggi besar berwarna merah yang merupakan peliharaan lilis tersebut. 

Keesokan harinya, pagi2 sekali Lilis sudah bersiap untuk pulang.

“Kami sangat puas dengan pekerjaanmu. Anakku benar2 bagaikan bidadari setelah kau rias. Ini uang nya, sekali lagi kami ucapkan terima kasih.” Ujar bu Asti 

Lilis tersenyum, senyum yang bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya.

“Sama2 dik, aku senang kalau kalian puas dengan hasil make up ku.” Ucap Lilis lembut 

“Baiklah kalau begitu, aku mohon diri, semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi.” Lanjut Lilis

“Amin. Hati2 di jalan.” Kata Bu Asti 

Lilis berjalan di belakang anak buahnya bu asti yang membawakan barang bawaan milik Lilis.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Lilis sampai ke rumahnya. Rumah itu masih sama seperti sebelumnya. Bahkan tak ada debu sedikitpun menempel di lantai 

Dan pintu rumahnya.

Krieeeettt..

Setelah meletakkan barang2 bawaan nya, Lilis langsung mandi dan berhias. Ia memakai pakaian terbaiknya. Lalu duduk di teras rumahnya seperti sedang menunggu seseorang yang akan datang. 

Tidak beberapa lama kemudian, ada 4 orang yang datang kerumahnya, 2 diantaranya adalah gadis muda belia, dan 2 lagi merupakan remaja laki2.

Lilis tersenyum ramah dan menyuruh tamu2 nya untuk masuk kedalam rumah.

Ia membuatkan minuman dan menyuguhkan beberapa macam kue2 kering yang ada di toples.

“Kenalkan mbak, ini temanku namanya Rinto. Dan yang ini Atak lier, sebenarnya namanya Samsu, tapi sering dipanggil Atak lier.” Ujar Salah satu anak gadis tersebut memperkenalkan 

2 teman lelaki yang mereka bawa

Lilis tertawa, suara tawanya terdengar renyah sekali.

“Haha.. Maaf maaf, nama panggilan mu benar2 terdengar lucu sayang.” Ujar Lilis seraya mengelus lengan remaja laki2 tersebut 

“Kalian sudah izin mau menginap disini sayang?” Tanya Lilis sembari menatap keempat remaja itu bergantian

“Saya tidak izin mbak, rasanya izin pun percuma. Kami pasti tidak akan diizinkan.” Jawab salah satu di antaranya 

“Baguslah, mm, maksudku. Ya tidak apa2. Toh kalian juga sudah sering menginap di rumahku.” Ucap Lilis tersenyum

Malam itu mereka bersenang2 di rumah Lilis Sumarni, mereka memasak dan benar2 menikmati setiap detiknya. 

Memang meski tak banyak yang tahu, tapi rumah Lilis sudah seperti markas untuk anak2 broken home ataupun anak2 yang kurang kasih sayang dari orang tua mereka. Lilis akan dengan senang hati menerima anak2 itu untuk masuk dan membebaskan diri mereka sejenak dari lingkungan 

Kehidupan luar.

Namun ada yang tak mereka ketahui, yaitu sesuatu yang yang sangat berbahaya selalu mengintai nyawa di setiap detik mereka berada dalam rumah tersebut. 

Malam semakin larut, tanpa terasa keempat remaja itu akhirnya tertidur. Menjelang pukul 3 dini hari Atak Lier membangunkan teman nya.

“Aku mau pulang.” Bisiknya pelan 

“Masih subuh, besok pagi sekalian saja pulangnya bareng2.”

Sekitar pukul 8 pagi, ketiga remaja tersebut bangun, namun tak menemui satu teman mereka.

“Atak kemana?” Tanya Lilis

“Ohh. Dia pulang subuh tadi mbak. Mungkin dia takut dimarahi keluarganya.” 

“Ah, sayang sekali dia tak sempat sarapan. Padahal tadi aku membeli daging kijang untuk lauk kita makan pagi ini.” Gumam Lilis 

“Wah, siapa yang jual daging kijang mbak?”

“Ada itu tadi, dapat berburu katanya.” Jawab Lilis

“Asyik, makan enak kita.” 

Selesai makan, anak2 tersebut membantu Lilis membereskan rumah dan mencuci piring2 kotor di dapur, setelah membantu Lilis, ketiganya pun pamit untuk pulang ke rumah masing2. 

“Menginap lah semalam lagi. Mbak mu ini sangat kesepian.” Bujuk Lilis seraya menahan lengan remaja putri tersebut

Ketiganya saling tatap dan memberikan kode.

“Emm. Ya sudah deh mbak. Kami menginap lagi aja. Toh di rumah juga gak di pedulikan.” 

Lilis tersenyum manis sekali, ketika mendengar jawaban anak itu. Ia mengelus kepala ketiganya dengan lembut.

“Kalau begitu, buatlah apa yang kalian suka. Buat rumah ini ramai dengan perbincangan kalian. Aku akan pergi berbelanja makanan terlebih dahulu untuk malam ini.” 

“Mbak Lis ini memang terbaik.” Puji ketiga remaja itu sambil tersenyum

“Kalian bertiga mau pesan apa? Biar sekalian mbak belikan.” Tanya Lilis lagi 

—–

Sepanjang hari mereka lalui dengan mengobrol, bercerita dan bersenda gurau di ruang tamu rumah Lilis. Tanpa mereka sadari dari balik pintu kamarnya Lilis merenggut mendengar kegaduhan yang diciptakan oleh ketiga remaja tersebut. 

“Andai aku tidak butuh kalian, tak kan ku izinkan kalian buat gaduh di rumahku!” Lilis membatin

Malam harinya selesai makan malam, Lilis masuk kedalam kamarnya. Dan seperti malam kemarin, ia kembali menghidupkan perapian kecilnya untuk memanggil makhluk merah besar 

Peliharaan nya.

Ia juga membakar rambut milik salah satu remaja yang menginap di rumahnya itu, yang ia dapatkan ketika bercanda dengan mereka tadi. 

Hal yang sama terjadi lagi di luar seperti tadi malam. Seorang di antara ketiganya membangunkan salah satu teman untuk berpamitan pulang, lalu tanpa curiga sedikitpun di iyakan saja oleh teman nya. 

Pagi2 sekali, Lilis bangun dengan wajah yang lebih segar, cerah dan berseri2. Keriput di bagian wajahnya kembali mengencang.

Itu tandanya kalau tumbal yang ia berikan sudah diterima.

Sekitar pukul 10 pagi, rumahnya kembali kedatangan beberapa tamu. 

Salah satunya adalah seorang ibu2 berhijab dengan senyuman manis di bibirnya, wajah beliau juga terlihat sangat bersahaja.

“Assalamualaikum.” Ucap si tamu

“Silahkan masuk.” Jawab Lilis sembari tersenyum 

“Sayang, tolong buatkan teh untuk tamu2 mbak ini ya.” Ujar Lilis memanggil dua remaja di dalam rumah

Saat akan melangkah masuk, ibu2 berhijab itu nampak terkejut.

“Allahuakbar..” Ucapnya, beliau juga meringis seperti kesakitan 

“Ada apa bu?” Tanya Lilis menyipitkan matanya

“Tidak, tidak apa2. Kepalaku tiba2 pusing. Rasanya aku duduk disini saja.” Jawab si ibu

“Ohh. Ya sudah. Memang kalau pusing, harusnya terkena udara langsung biar lebih enakan.” Ucap Lilis masih ramah sekali 

Tidak lama mengobrol, 2 remaja tersebut keluar membawakan beberapa gelas teh dan beberapa toples kue kering juga kerupuk.

“Silahkan diminum pak bu.” Kata Lilis

Namun lagi2 keanehan terjadi, gelas yang baru saja hendak diangkat oleh si ibu tiba2 pecah sendiri. 

“Astaga. Maaf, maaf, maklumlah gelas saya ini gelas murah bu, dan juga sudah sangat tua. Makanya sering sekali saya mengalami yang begini. Sekali lagi maaf ya bu? Aduh, mana air nya panas sekali.” Ucap Lilis nampak sekali merasa bersalah 

“Sayang, tolong ambilkan kain dan air dingin dalam gayung ya. Bawa keluar cepat.” Teriak Lilis

Dan tidak berapa lama, seorang remaja keluar membawakan kain dan gayung berisi air. 

“Ini bu, bersihkan dulu.”

“Tidak apa2 Dik, santai saja. Bukan kali pertama juga saya terkena air panas seperti ini. Sudah, tak usah khawatir.” Kata si ibu 

“Saya benar2 merasa bersalah, sebab gelas saya sudah hampir melukai ibu.”

Si ibu tersenyum, lalu ia menceritakan maksud dan tujuan mereka datang dari jauh itu untuk apa. 

“Saya ini dari kalsel, lumayan jauh sekali. Berhari2 berada di atas kapal hanya untuk menemui perias pengantin terbaik seperti adik ini.” Kata ibu Saukiyah 

“Waduh, jauh sekali ya bu. Bagaimana bisa nama saya terkenal sampai sejauh itu. Wah, saya benar2 beruntung kedatangan tamu dari jauh seperti ibu ini.” Kata Lilis seraya tersenyum manis 

Obrolan mereka pun berlanjut dengan sangat hangat.

“Jadi bagaimana dik? Apakah di lilis bersedia untuk datang ke rumah kami merias anak ku?”

“Wah, tentu saya bersedia bu. Tapi..”

Lilis termenung untuk beberapa saat, seperti ada yang ia pikirkan pada saat itu. 

Walau sulit, namun entah kenapa rasanya sangat sulit bagi Lilis untuk menolak.

“Bagaimana dik?”

“Ba baiklah saya akan datang.”

“Kalau begitu, agar kita sampai tepat waktu. Lebih baik kita berangkat besok saja.”

Lilis terdiam, ia sebenarnya mempunyai beberapa 

Syarat yang harus dipenuhi sebelum pergi.

Dan salah satu syaratnya ialah tidak boleh bertemu pengantin yang akan dirias sebelum 3 hari menjelang pernikahan. 

Tapi karena Lilis merasa sudah memberikan cukup tumbal pada makhluk sekutunya tersebut, jadi ia rasa tak apa bila syarat itu tak terpenuhi. Toh ia juga akan berhari2 berada di atas kapal. 

Jadi malam itu, Lilis benar di sibukkan dengan persiapan2 nya.

Dua remaja yang menginap di rumahnya sudah pulang sedari tadi sore. 

“Baiklah, semuanya sudah ku persiapkan. Esok akan jadi perjalanan panjang, sebaiknya aku tidur agar besok tak bangun kesiangan.” Gumam Lilis seraya tersenyum 

Namun baru saja dia akan tidur, ada sebuah ketukan di pintu rumahnya.

“Ih, siapa sih malam2 begini mengganggu orang.”

Tap.. Tap.. Krieeeetttt..

Setelah pintu terbuka ia melihat seorang laki2 berdiri di depan pintu rumahnya. 

“Maaf, ada apa ya??” Tanya Lilis

“Begini, saya ayah dari Atak. Sudah berhari2 dia tidak pulang kerumah. Terakhir kata teman2 nya dia menginap disini.”

“Oh, Atak. Iya memang benar dia menginap disini bersama 3 teman nya. Tapi pas pagi itu dia sudah tidak ada, 

Lalu saya tanyakan pada teman2nya. Katanya subuh2 sekali dia sudah berpamitan untuk pulang karena takut dimarahi orang tuanya. Apakah dia belum sampai rumah??”

“Ya Tuhan, kemana anak itu?! Tidak biasanya dia begini.”

“Mungkinkah kalau dia kabur? Maaf pak, bukan nya 

Saya mau ikut campur tapi Atak memang ada cerita tentang keluarganya. Jadi saya rasa mungkin itulah sebab dia pergi dari rumah. Makanya pak, sama anak2 itu jangan terlalu keras. Kasian kan kalau sudah begini. Apalagi dia itu masih anak remaja. Apalah yang bisa dilakukan 

Anak remaja sebatang kara di dunia luar sana untuk mencari makan.”ujar Lilis dengan nada sedih

Raut wajah laki2 itu tiba2 berubah, raut2 penyesalan dan kesedihan terlihat jelas sekali. 

Lalu laki2 tersebut pergi begitu saja tanpa pamit dari rumahnya Lilis.

“Mmm, begitulah. Kalau sudah menyesal. Nasib baik anakmu sudah ku kirim ke surga.” Gumam Lilis sembari menutup pintu rumahnya dengan keras 

Pagi2 sekali, Lilis sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia duduk di depan rumah sambil menunggu orang yang akan menjemputnya.

Tiba2 seorang remaja putri yang kemarin menginap di rumahnya datang dengan tergopoh2.

“Mbak. Anu mbak. Itu..” Katanya gugup dengan nafas tak beraturan 

“Anu itu apa?? Bicara yang jelas sayang. Tenang, tenang. Tarik nafas.”

“Anu mbak, Si atak, di temukan tewas di sungai!!”

“Hah??!! Atak??! Astaga, benarkah itu??!” Ujar Lilis 

“Iya mbak. Rupanya malam itu dia tak pulang kerumahnya tapi.. Hiks.”

Lilis memeluk remaja tersebut sambil mengelus2 rambutnya. Lilis pandai sekali berakting, ia juga ikut menangis sesenggukan sambil memeluk erat anak remaja itu. 

Tidak lama kemudian, datanglah orang2 yang kemarin ingin memakai jasa rias pengantin Lilis.

“Assalamualaikum.”

Lilis menoleh sesaat lalu melepaskan pelukan nya pada gadis remaja itu, cepat2 Lilis menghapus air matanya. 

“Ada apa ini?” Tanya bu kiyah

“Maaf, bu. Anak yang kemarin menginap disini ditemukan meninggal di sungai. Saya benar2 tidak menyangka. Karena terakhir kali nya saya melihat dia, dia makan dengan lahap disini, mereka berempat bercanda dan memasak bersama. Hiks.” 

“Innalillahi wa innalillahi rojiun.” Ucap tamu2 tersebut bersamaan

“Tapi tak apa jangan khawatir. Saya memang sedih. Tapi saya harus profesional dalam menjalankan pekerjaan saya. Saya tetap akan pergi bersama ibu.” Kata Lilis 

“Tapi walaupun adik ini tidak bisa pergi, saya pun tidak memaksa.”

“Pergilah mbak. Tidak apa2.” Potong remaja yang duduk di sebelah Lilis 

—-

Perjalanan panjang pun dimulai. Semenjak berada di atas kapal, Lilis sering sekali mabuk dan muntah2.

Dan singkat cerita, setelah beberapa hari di atas kapal, akhirnya mereka pun sampai di pelabuhan. Dan dari pelabuhan mereka dijemput menggunakan kelotok. 

Lalu setelahnya di jemput lagi menggunakan sepeda motor.

Jalan menuju rumah si ibu benar2 padat penduduk, meski jalanan belum beraspal tapi nampak bersih dan terawat. Surau dan masjid ada beberapa di desa tersebut. Orang2nya rata2 memakai jilbab dan kopiah. 

Dapat disimpulkan mereka2 itu adalah orang2 yang taat pada agama.

Senyum pun tak pernah lepas dari bibir ketika melihat orang baru seperti Lilis lewat di depan rumah mereka.

Lilis sebenarnya tak nyaman berada di sekeliling orang2 seperti ini. 

Lilis sibuk dengan pikiran nya sendiri, hingga ia tak sadar ketika sudah berada di halaman rumah besar tersebut.

Orang2 ramai menyambut kedatangan nya, namun entah mengapa, Lilis merasa ngeri sendiri ketika melihat orang2 itu. 

Ketika mereka mengucapkan salam pada Lilis, tergagap Lilis menjawabnya.

Dan tak tau apa yang terjadi, setelah menjawab salam dari orang2 itu, Lilis merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Hingga membuat Lilis terjatuh tak sadarkan diri. 

Saat ia terbangun, Lilis sudah berada di dalam kamar yang banyak sekali kaligrafi bertuliskan Allah Dan Nabi Muhammad, serta Asmaul Husna dan ayat2 suci Al Quran lain nya. Nafasnya turun naik, entah rasa seperti apa yang ia rasakan kala itu. 

Lilis merasa tubuhnya seperti terbakar berada di dalam kamar tersebut. Hingga tanpa sadar ia menjerit sekeras2nya. Yang tentu mengundang orang2 yang merasa khawatir datang untuk menolong. 

“Aku tidak bisa berada di kamar ini. Aku ingin keluaaaar..” Teriak Lilis

Ia berlari dengan sempoyongan menuju keluar kamar, saat berada di luar rumah, barulah ia merasa sedikit tenang. 

“Ada apa dik? Apakah ada yang salah dengan kamar tersebut?” Tanya bu Kiyah

“Maaf sebelumnya, tapi saya merasa tidak nyaman berada di dalam kamar itu. Kalau ada kamar lain bolehkah saya tidur di kamar lain saja?” 

Bu kiyah menatap seseorang di dekatnya, lalu kembali menatap ke arah Lilis sembari mengangguk.

“Tentu dik, tentu.”

Kepala Lilis masih terasa nyut2an, tapi ia tetap mencoba menahan nya, meski terkadang ia meringis kesakitan. 

Lilis dan barang2nya di antar ke kamar yang bersebelahan dengan dapur, kamar itu lebih sempit bila dibanding kamar sebelumnya. Dan di dinding2 kamar tersebut masih tertulis dzikir doa2 sebelum tidur. 

(ralat, Dzikir dan doa2 sebelum tidur/amalan sebelum tidur)

Tapi setidaknya Lilis merasa sedikit lebih nyaman berada di sana.

“Bisakah, mm maksudku bolehkah kalau tulisan2 itu dipindahkan ke luar saja. Tapi kalau tidak bisa, tidak apa2.” Kata Lilis dengan terbata 

Sekali lagi, bu kiyah dibuat melongo dengan permintaan aneh dari Lilis.

“Tolong lepaskan tulisan2 itu ya.” Ujar bu Kiyah pada salah satu remaja laki2 yang baru saja berada disitu 

Lilis menghela nafas panjang saat ia membaringkan tubuhnya di atas kasur sempit tersebut.

Belum sehari ia berada di sana rasanya sudah seperti sangat lama. Ia tak bisa menikmati dan beramah2 pada orang2 di rumah itu. 

Malam sebelum akad nikah, Lilis mulai mendandani calon mempelai wanita. Segala syarat2 yang harus dipenuhi pengantin, memanglah sudah terpenuhi. Namun gadis itu menolak untuk meminum darah ayam yang diberikan oleh Lilis sebagai syarat. 

“Ampun maaf cil ae. Di agama ulun kada di boleh akan maminum2 darah kaya ini. Maaf banar nah ulun kada kawa mamanuhi syarat yang pian bari akan ni. ( mohon maaf Bibi, di agama saya tidak diperbolehkan meminum darah seperti ini. Maaf sekali saya tidak bisa memenuhi syarat 

Yang Bibi berikan ini.)” Tolak si mempelai wanita

Lilis menatap nya lekat, baru kali ini ada yang berani menolak syarat yang ia berikan. 

“Ini bukan pilihan, kau harus memenuhi syarat ini.” Ujar Lilis masih bersikeras memaksa

“Saya tau ini bukan pilihan. Tapi saya tetap memilih tidak. Bibi bisa menyuruh atau memberikan syarat apapun asal itu tidak menyimpang dari agama, InsyaAllah saya akan penuhi.” 

Lilis tak bisa berkata2 lagi, apalagi ketika bu Kiyah masuk kedalam kamar tersebut.

Singkatnya setelah selesai merias pengantin, Lilis keluar dari dalam kamar mengikuti sang pengantin yang sudah bersiap untuk akad. 

Orang2 yang melihat acara tersebut nampak memandang aneh pada pengantin wanita.

Karena riasan wajahnya bisa di bilang mirip dengan badut. Lipstik yang dioles tak beraturan, dan bedak yang mengembang di pipi si pengantin. 

“Itukah hasil perias yang katanya terbaik itu? Buruk sekali hasilnya. Jauh masih bagusan riasan mama Ibin.” Bisik orang2 

“Hush. Jangan bicara seperti itu. Tidak sadarkah kalian kalau kalian sedang Ghibah.” Tegur salah seorang ibu2 lain nya

Lilis menunduk, tak kuasa mengangkat wajahnya. Ia malu, ia benar2 merasa sangat malu 

Dengan hasil riasan nya. Kejadian berpuluh tahun lalu pun teringat kan kembali oleh Lilis, di saat ia dihina oleh keluarga pengantin yang di riasnya. Karena hasil yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Memanglah Lilis tak pernah belajar atau berguru dengan orang 

Yang ahli dalam merias wajah, selama ini Lilis hanyalah belajar seorang diri dengan dibantu teman2nya.

Hingga sampai suatu hari ia tak lagi dipanggil untuk merias pengantin. Dan sejak saat itu Lilis berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri sampai akhirnya ia 

Terjerumus dalam perjanjian dengan iblis. Lilis diharuskan memberi tumbal manusia pada iblis tersebut agar riasan nya tetap bagus, tidak hanya itu, si pengantin yang akan di rias pun harus memenuhi berbagai syarat yang diberikan oleh Lilis. 

Akan tetapi pengalaman selama ia merias pengantin, tak pernah sekalipun pengantin2 yang ia rias menolak syarat2 yang ia berikan. Berbeda dengan pengantin yang sekarang di riasnya, yang bahkan berani menolak dengan tegas tentang persyaratan tersebut. 

Akibatnya sosok iblis tersebut tak bisa merasuk kedalam tubuh si pengantin yang akan menjadikan nya terlihat cantik dan anggun seperti bidadari. 

Lamunan Lilis buyar karena suara tangisan si pengantin. Beberapa keluarganya menatap lekat pada Lilis. Mereka seolah mencibir hasil riasan Lilis. 

Saat acara akad selesai, Lilis langsung masuk kedalam kamar. Ia juga mendengar beberapa orang di luar tengah membicarakan nya.

“Sayang nya ae lah. Jauh2 maambili tukang hias pengantin, sekalinya dapat nang kaya ngintu. Kasian banar anak acil kiyah, manangis banar inya 

Imbah maliat muhanya. Maka ampun urang jadi pangantin sakali saumur hidup. Heh liwar. (Sayang sekali jauh2 menjemput tukang make up pengantin, setelahnya ketemu eh, malah yang seperti itu. Kasihan sekali anak bibi Kiyah, menangis terisak2 setelah melihat wajahnya sendiri. 

Padahal jadi pengantin satu kali seumur hidup.-)”

“Iyaam, ujar unda madahakan samalam tu wan si kiyah. Baik mangiyau uma ibin daripada maambili urang jauh. Nyata sako hasilnya dari pada ngangintu. (Iya itu, sudah ku bilang kemarin sama si Kiyah, lebih baik 

Memanggil mama Ibin dari pada menjemput orang jauh. Sudah pasti hasilnya, daripada yang itu.)”

Lilis yang mendengar perkataan tersebut nampak kesal, dan emosi. Giginya bergemeretak terdengar. 

“Sialan!! Ini semua gara2 perempuan itu!!” Batin Lilis

Dengan rasa marah yang memuncak, Lilis menghidupkan perapian nya. Ia menulis nama pengantin wanita tersebut di sebuah kertas lalu kemudian membakarnya. 

Lilis memanggil makhluk itu, untuk mencelakainya.

“Aku ingin kau membunuhnya!!”

Wuuusshhh….

Di pelaminan, Si mempelai wanita sedang duduk bersama dengan suaminya. 

“Kamu kenapa?” Tanya mempelai laki2 saat melihat istrinya seperti sedang menahan sakit di bagian perutnya

Dan tiba2 saja ia muntah, baju pengantin yang di pakainya pun kotor seketika terkena muntahan nya. 

Orang2 yang berada di sana gaduh karena si pengantin wanita yang tiba2 sakit seperti itu.

“Sepertinya ini bukan sakit biasa.” Ujar seorang ibu2 yang berada di situ

“Astagfirullah hal adzim.” Ucap orang2 sembari menatap kearah ibu2 tersebut 

“Haji Isar masih adakah di luar sana?”

“Sepertinya masih ada, beliau ikut mangawah untuk acara besok.”

“Cepat panggilkan!” 

“Pahadangan si inur mangiyau haji Isar, coba pang di babacai akan dulu pangantin nya. Kalu ae mau ampih. (Sementara si inur memanggil haji Isar, coba dulu di doa2kan pengantin nya. Siapa tau bisa sembuh.)”

Mendengar usulan seperti itu pengantin laki2 tersebut 

Pun langsung membacakan surah seperti Al-fatihah dll. Pas di telinga istrinya.

Tidak lama kemudian Haji Isar diiringi beberapa orang bapak2 masuk kedalam.

“Ambil akan banyu putih dalam gelas pang. (Ambilkan air putih dalam gelas.)” Ujar Haji Isar 

Karena di sekitar situ masih ada hidangan2 makanan beserta air minumnya, mereka langsung memberikan air yang ada pada haji Isar.

Saat Haji Isar membacakan doa2 di air tersebut, tiba2 kejadian yang sangat aneh terjadi. Air di dalam gelas itu malah ‘manggurak’ 

(Atau belubuk2, kaya air yang sudah sangat panas saat di seduh).

“Allahuakbar…”

Praaannngg.. Gelas tersebut pecah dan air putih yang berada di dalam nya tumpah.

Haji Isar tertegun, seolah tau siapa yang berada di balik sakitnya si pengantin wanita,

Tanpa berkata2 Haji Isar 

Langsung beranjak, ia meninggalkan si pengantin dan orang2 yang berada di sekitar pelaminan. Beliau berjalan tergesa2 menuju ke arah kamar Lilis. 

Tok tok tok..

“Aku tau siapa kau sebenarnya. Dan apa yang sudah kau perbuat pada keponakan ku. Cepat keluar! Sudahi permainan mu. Atau kalau tidak, aku yang akan menghentikanmu!” Gertak Haji Isar tepat di depan pintu kamar dimana Lilis berada 

Namun pintu tak kunjung terbuka. Akhirnya Haji Isar menggebrak2 pintu tersebut sambil menyebut Nama Allah.

Dan saat pintu terbuka, Lilis sudah berdiri dengan tatapan mengerikan. 

Untuk beberapa saat keduanya terdiam, dan saling menatap.

Tiba2 saja tubuh Haji Isar seperti di dorong oleh sesuatu hingga ia terjatuh. Hawa di ruangan itu berubah menjadi panas. Sampai2 keringat haji Isar mulai bercucuran. 

“Laa hawla wa laa quwwata illa billahil aliyyil azhimm..” Ucap Haji Isar sembari duduk bersila

Haji Isar menunduk, tangan nya terus memetik tasbih. Sementara itu Lilis merasa sangat amat kepanasan. Sehingga ia mulai menjerit. 

“Berhenti!! Hentikan!! Panas, sakit, sakiiiittt!!!” Jeritnya

Namun haji Isar tak bergeming sedikitpun, beliau malah semakin khusyu berdoa. 

Rasanya sakit, benar2 sakit. Nyeri, tulang2 Lilis terasa seperti dipatahkan satu persatu. Dan dagingnya terasa seperti di peras dipelintir sampai benar2 hancur. Sakit yang sangat luar biasa dan baru sekali itu ia rasakan. 

Lilis bahkan sampai berguling2 di lantai,

“Bunuh aku!! Lebih baik kau bunuh saja aku!!” Teriak Lilis

Haji Isar menghentikan doanya. Ia beranjak mendekati Lilis.

“Tiada berhak aku membunuhmu. 

Bertobatlah selagi ada kesempatan. Biar ku bimbing kau mengucap dua kalimat syahadat.”

Lilis menangis, rasa sakit, malu, takut, campur aduk jadi satu ia rasa kala itu. 

“Sesungguhnya Allah itu maha pengampun bagi hamba2nya yang benar2 dan bersungguh2 bertaubat. Kau masih punya kesempatan. Gunakanlah kesempatan itu sebaik2nya.”

“Baik, baik, aku bertaubat, aku bertaubat.” Isak Lilis 

Haji Isar tersenyum,

“Alhamdulillah.” Ucapnya

Saat Lilis mengucapkan dua kalimat syahadat, terdengar raungan yang menggema di dalam kamar tersebut. 

Raungan yang entah dari mana asalnya.

Setelah itu barulah Haji Isar keluar untuk melihat keadaan si Pengantin wanita.

Dan untung saja, keadaanya mulai membaik. Meski masih terbaring lemah, begitu juga dengan Lilis Sumarni yang berada di dalam kamar. 

“InsyaAllah semuanya sudah baik2 saja.” Ujar haji Isar sembari menghela nafas panjang

Keesokan harinya, Acara tetap berlanjut. Tapi yang merias pengantin nya bukan lagi Lilis. Melainkan Mama Ibin. 

Kedua mempelai nampak sangat bahagia duduk bersanding di pelaminan, menjadi raja dan ratu dalam sehari. 

Sementara di dalam kamar, Lilis masih terbaring. Wajahnya nampak begitu sangat pucat.

Tetapi untungnya orang2 di dalam rumah itu masih mau merawat Lilis dengan sangat baik. 

Dan 4 hari setelah acara pernikahan itu, Lilis sudah sembuh. Ia juga sudah bersiap untuk pulang. Ia berpamitan pada semua orang2 dan juga pada haji Isar. 

“Jangan lupakan ibadahmu Lis. Agar hatimu selalu tenang dan tak terjerumus kembali pada perjanjian itu.” Pesan haji Isar

“InsyaAllah. Tapi andaikan saya merasa sesuatu yang janggal, apakah boleh jika saya kemari lagi?” Tanya Lilis 

Haji isar tersenyum sambil mengangguk,

“Datanglah, pintu rumah kami selalu terbuka untuk mu.”

——

Di perjalanan pulang itu, Lilis sedikit merasa tenang, namun itu belum menjadi akhir dari apa yang sudah terjadi. 

Singkatnya ketika ia sampai di rumah.

Ketika pintu terbuka tercium bau busuk yang amat menyengat dari segala penjuru rumahnya.

Debu dan berbagai macam pasir juga tanah berserakan di lantai. 

Deg deg.. Jantung nya mulai berdegup tak karuan. Rasa takut tiba2 mendera hati dan perasaan nya. Lilis bergegas mengambil sapu dan langsung menyapu lantai itu sampai bersih. 

Malam itu ia lalui dengan kegelisahan.

Tap. Tap. Tap.. Kekekekekk.. Suara langkah kaki beradu di lantai luar kamar. Suaranya terdengar bolak balik di depan pintu. Kadang berjalan pelan, kadang berjalan cepat dan tiba2 berlari2. 

Suara2 itu benar2 mengganggu. Membuat Lilis takut untuk keluar kamar.

Namun semakin di diamkan, suara langkah kaki tersebut malah semakin menjadi. Terasa sekali ada sesuatu yang lin berada di luar sana tengah menunggunya. 

“Berisiiikk!!” Teriak Lilis dari balik selimutnya

Was2 ia menunggu apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi tak terjadi apapun. Suara2 langkah kaki tadi menghilang. 

Hening, benar2 hening. Lilis menghela nafas lega. Malam itu ia tertidur tanpa sedikitpun keluar dari balik selimutnya. 

Rasanya memang percuma ia bersembunyi dari sesuatu yang tak nampak.

Pagi harinya, Lantai rumah Lilis penuh debu, pasir dan tanah. Juga ranting2 pohon yang entah bagaimana bisa masuk kedalam rumahnya. 

Air di dalam wadah, tiba2 menjadi berbau. Bahkan beras di rumahnya pun rusak berjamur.

Ia tahu janji itu tak akan pernah bisa ia batalkan.

Hari2 berlalu, malam berganti siang, dan siang pun berganti malam. Namun tak ada ketenangan sedikitpun di rumah itu. 

Rumah yang dulunya terasa nyaman dan damai, kini berubah mencekam dan menakutkan di siang malam nya.

Berada di rumah itu bagaikan terkurung di tempat berhantu bagi Lilis, dan ia tak tau kemana harus pergi. 

Suara2 para tumbal yang dulu pernah ia berikan pada makhluk itu, setiap malam selalu menghantuinya. Mengganggu dan bahkan sudah mulai menampakan diri. 

2 minggu telah berlalu, keadaan Lilis benar2 sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Matanya sayu, dan mulai menghitam karena tak bisa tidur dengan nyenyak. Wajahnya pucat, dan tubuhnya sangat kurus. 

Tak ada lagi sisa2 kecantikan nya yang dulu sangat di puja2 oleh kaum lelaki.

Lilis menjual semua barang2 berharganya, ia berniat untuk pergi menemui Haji Isar. Meminta jalan keluar untuk masalah pelik yang ia alami saat itu. 

Singkatnya setelah semua barang2 berharga yang ia punya terjual habis, hari itu juga Lilis pergi ke pelabuhan membawa beberapa baju di dalam tas nya. 

Meski tak ada kapal yang berangkat di hari itu, Lilis rela tidur di pelabuhan untuk menunggu sampai kapal berangkat.

Tetapi meski ia sudah tak berada di rumahnya, bayang2 ketakutan masih ia rasakan. 

———–

Lilis sengaja, tidak menyewa ranjang di kapal tersebut, karena ia takut kalau2 terjadi hal2 yang tak diinginkan nya. 

Maka dari itu Lilis lebih memilih untuk tidur ‘balampar'(kaya bersebelah2an dengan orang lain).

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Lilis akhirnya sampai di rumah Bu Kiyah. 

Ia disambut dengan ramah dan hangat oleh orang2 di rumah itu.

Namun baru saja ia masuk selangkah ke dalam rumah, Lilis jatuh pingsan. 

Bangun2 ia sudah berada di dalam kamar dengan kaligrafi yang mengelilingi dinding kamar.

Rasanya panas, sakit, perih. Rasa sakit yang benar2 sulit untuk dikatakan. 

“Kau tak menjalankan Sholat 5 waktu mu?” Tanya haji Isar

Dalam keadaan kesakitan, meringis dan merintih. Lilis mengangguk. 

Haji isar menghela nafas panjang.

“Tolong beritahu…..” Hanya penggalan kata dari haji Isar yang sempat Lilis dengar sebelum ia pingsan lagi 

Saat terbangun, Lilis melihat di sekelilingnya. Terdengar orang2 membacakan Yasin untuknya.

“Apa ini? Apakah aku sudah mati?” Batin Lilis ketakutan, namun rasa sakitnya masih sangat ia rasakan 

“Lilis. Kau bisa mendengarku?” Tanya suara haji Isar samar2 terdengar

Lilis berusaha mengangguk, tapi kepalanya terasa sangat berat. Tidak, bukan hanya kepala yang tak bisa ia gerakkan, tapi seluruh tubuhnya, kecuali mata. 

“Sabar lis. Insya Allah semuanya akan baik2 saja.”

Antara sadar dan tidak, Lilis bermimpi kalau dia sedang berada di sebuah tempat yang sangat gelap sehingga tiada sedikitpun cahaya. 

Namun entah darimana suara rintihan juga isak tangis terdengar di mana2. Dan pelan2 terasa banyak sekali tangan2 yang menyentuh Lilis.

Kala itu, haji Isar dan beberapa orang lain nya masih membacakan Yasin di dekat tubuh Lilis terbaring. 

Mereka mendengar Lilis merintih pelan. Dengan mata yang masih tertutup. Entah sudah keberapa kali nya kah Lilis tak sadarkan diri seperti itu. 

“Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah.” Ucap Haji Isar

Sementara di alam bawah sadarnya, Lilis masih berjuang untuk melepaskan diri dari tangan2 yang terasa semakin erat memegangi tubuhnya. 

Dan di saat2 seperti itu, terdengar suara seseorang yang sedang menuntun nya untuk membaca dua kalimat syahadat. 

Pelan2 Lilis mengikuti tuntunan suara tersebut. Dan seiring dengan itu, Lilis merasakan dirinya sudah terbebas dari kekangan tangan2 tak terlihat. 

Saat matanya terbuka, Lilis lega melihat orang2 di sekitarnya.

Tanpa terasa ia tersenyum, setetes air mata terjatuh dari sudut matanya.

“Lilis, mulai sekarang. Tinggal lah disini. Agar kau tak lagi lupa dengan kewajiban mu. Jangan pernah biarkan dia mendekati 

Mu lagi. Jangan berikan peluang sekecil apapun untuk dia (iblis).”ujar haji Isar

Lilis mengangguk, ia tak kuasa menahan air matanya. Namun rahang dan seluruh tubuhnya masih lagi terasa kaku. 

“Nampaknya tubuhmu sangat letih, tapi InsyaAllah dalam beberapa hari ke depan. Kau akan kembali seperti sedia kala. Bersabarlah lis.” 

—–

Dan semenjak hari itu, Lilis dirawat oleh anak Bu Kiyah yang dulu sempat hampir Lilis celakai.

Perempuan itu merawatnya dengan sangat baik. Sehingga dalam waktu satu bulan setengah saja, Lilis sudah mulai bisa berjalan sendiri. 

Mulai bisa berbicara meski masih terbata2.

Sesekali, Haji Isar datang menjenguk Lilis. Kadang2 juga membawakan sedikit air zam2 untuk Lilis. 

Lilis berada di lingkungan tersebut, sampai waktu yang lama. Ia benar2 sudah bertaubat dan tak pernah lagi ia tinggalkan sholatnya, meski dalam keadaan sakit sekalipun. Meski kadang2 rasa sesal masih mendera hatinya. Menyesal karena sudah menumbalkan orang2 yang tak bersalah 

Hanya untuk kepentingan pribadinya.

Selama sisa hidupnya, Lilis bekerja sebagai tukang timbang gula, dan pengupas bawang.

Ia tak menikah, dan tak mempunyai anak. Ia sudah menganggap anak bu Kiyah sebagai anak nya sendiri. Bahkan ia sangat menyayanginya. 

—-SELESAI—-

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *