RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

SAINGAN LAPAK DI PASAR RAMADHAN (Guna-guna di tempat usaha yang membuatku hampir mati)

3 hari sebelum memasuki bulan suci ramadhan, aku dan suamiku sudah membersihkan area lapak yang telah kami sewa selama ramadhan untuk menjual berbagai macam takjil dan lauk pauk yang sudah masak.  Aku dan suamiku sangat bersemangat sekali. Tak lupa juga, kami membuat sebuah meja berukuran 2 meteran untuk tempat daganganku, karena di sana hanya menyewakan tempat saja. Setelah semuanya selesai, aku tersenyum puas menatap meja dan sekitaran lapak yang sudah sangat bersih. 

“Bismillah. Semoga jualan ku nanti laris manis. ” ucapku seraya menatap suamiku

“Aamiin. Masakan mu kan enak, jadi pasti nanti banyak yang beli.”

Singkat cerita, malam itu kami sudah memulai tarawih pertama di masjid terdekat. 

Rasanya menyenangkan bisa menyambut bulan suci ramadhan bersama suami tercinta lagi. Meskipun di tahun ke 2 pernikahan ini, kami masih tetap berdua.

Hari pertama puasa itu aku habiskan waktuku untuk berbelanja ke pasar, membeli bahan2 untuk membuat Kue dan bubur manis. Di hari kedua puasa, aku sibuk berkutat dengan bumbu dan tepung2an di dapur. Rasanya sangat bersemangat, sehingga tak sedikitpun terasa haus dan lapar. Padahal hari itu cuaca di luar sangat panas.  Sekitar pukul 2 sore, aku dan suamiku sengaja berangkat lebih awal menuju lapak tempatku berjualan.

Aku membersihkan meja dengan sedikit air dan kain. Lalu melapisi meja kayu itu dengan tikar agar terlihat bersih dan rapi.  Semua jualan ku aku susun sampai terlihat menarik, mulai dari bingka, kue lapis, bingka barandam, es buah, kolak pisang, bubur hintalu karuang, sayur besantan, dll nya. 

Setelah semuanya tersusun rapi dan menarik, aku duduk sembari menunggu pembeli. Tidak berapa lama aku duduk, penjual aneka takjil di lapak sebelah kiriku pun datang bersama dengan seorang pemuda yang kemungkinan adalah anaknya. Aku tersenyum menyapa sembari menatap wanita itu, namun beliau tidak menanggapi. Di area tersebut memang merupakan pasar ramadhan setiap tahun nya. Dan pedagang2 nya pun banyak sekali, 

Termasuk aku, walaupun aku baru tahun ini mulai berjualan.

Di sebelah kananku terdapat ibu2 penjual bubur2an, mulai dari bubur sop ayam sampai bubur manis. Dan ibu yang ini lumayan ramah pada sesama pedagang di sekitar situ. 

Di hari pertamaku berjualan, semuanya berjalan lancar dan sangat baik. Semua jualanku laku, habis tak tersisa. Di hari kedua dan ketiga pun sama, orang2 selalu beralih ke lapak ku setelah bertanya harga pada ibu2 penjual di sebelah kiri (yang jualan nya sama dengan 

Jualan narasumber), jujur saja aku merasa tidak enak terhadap ibu2 itu, apalagi begitu melihat tatapan nya yang seolah2 tidak suka akan keberadaanku di situ. Bahkan aku pernah beberapa kali mendengar langsung saat beliau menjelek2an jualanku.

“Aku merasa gak enak sama ibu2 yang jualan di lapak kiri.” ucapku di suatu malam pada suami, namun aku enggan untuk menceritakan secara keseluruhan tentang daganganku yang di jelek2an 

“Gak enak kenapa? Kan rejeki sudah di atur sama Allah.”

Aku menghela nafas panjang, apa yang dikatakan suamiku memang benar. Karena nyatanya, tak peduli seberapa keras ibu itu menjelek2kan dagangan ku, tapi orang2 tetap banyak yang memilih berbelanja di tempatku. 

Malam itu merupakan malam ke 7 ramadhan. Dan di malam itu anehnya aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Mulai dari aku dan suami yang bermimpi aneh, rumah kami yang biasanya adem, kini mendadak gerah dan panas. Bahkan kipas angin pun sampai ku hidupkan semuanya.  Namun rasa gerah itu tak kunjung mereda.

Pada pukul 3 dini hari aku bangun dan mulai mempersiapkan makanan untuk sahur, tiba2 saja aku mendengar suara kretekan di atas atap. Mirip seperti langkah puluhan tikus yang berlarian. Bulu kuduk ku juga langsung merinding seketika.  Entah apa itu tadi, dan anehnya suara itu hanya terdengar sekali.

Ketika anak2 mulai ‘bagarakan'(membangunkan orang sahur berkeliling desa, biasanya membawa kentongan atau salon kecil, dan tidak jarang ada beberapa anak2 yang membawa panci beserta alat masak lain nya,  Yang sudah tak terpakai untuk di jadikan sebagai alat musik seadanya untuk mengiringi teriakan sahur yang bernada)

“Saahuuuurr… Saaahuuuurrr.. Duk duk duk.. ” 

Wussshhh.. Braaakkk.. Baskom kecil yang ku letakkan di atas kompor tiba2 saja jatuh, membuat ikan yang baru aku kasih bumbu, malah berserakan di lantai.

“Kenapa?” tanya suamiku yang baru saja muncul 

“Ini ikan nya jatuh.”

“Mungkin di senggol setan.” ujar suamiku seraya masuk ke dalam kamar mandi

Perkataan nya yang tidak biasa membuatku mengerutkan alis. Aku ingin bertanya tentang apa maksud dari kata2nya tadi, namun suara air yang di hidupkan di dalam kamar mandi membuatku mengurungkan niat. Lalu kemudian aku mencuci ikan2 tadi lagi, dan melumuri nya dengan bumbu.  Kali ini aku menaruh baskom kecil berisi ikan itu di atas ember besar yang tertutup. Tanganku dengan cekatan lantas menghidupkan kompor. Setelah minyak cukup panas, aku pun memasukkan ikan itu kedalamnya. Sementara tungku 1 untuk menggoreng ikan, di tungku 2, aku gunakan untuk menumis sayur kol.

Sesekali mataku tertuju pada kamar mandi yang tertutup. Air masih hidup dan bahkan terdengar sudah ‘malimpuar'(terisi penuh sampai airnya membeber keluar) 

“Sayang. Bisakah kau matikan dulu airnya? Ku dengar itu bak nya sudah penuh.”

Namun tak ada jawaban. Membuatku seketika melangkah ke arah kamar mandi dan membuka pintunya. Mataku terbelalak tak percaya, bagaimana tidak, karena di dalam kamar mandi itu sudah kosong tak ada siapapun di sana. Jantungku berdegup dengan sangat kencang, tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami.

“Sayang? Kenapa?” tanya suamiku dari arah pintu kamar mandi 

“Bag.. Kapan.. Kapan kau keluar?” ucapku terbata2

Suamiku nampak bingung dengan pertanyaan ku,

“Aku baru ini mau ke kamar mandi. Oh iya, tadi ada temanmu si anita chat, katanya pesan bingka kentang ukuran besar. Besok siang dia ambil kesini.” 

Deg.. Aku terdiam. Bingung bercampur rasa takut.

“Itu tadi apa yang kau goreng? Sudah tidak ada bunyinya. Jangan2 gosong.” tegur suami seraya menepuk bahuku 

Aku bergegas berjalan kearah kompor, benar saja, ikan yang ku goreng separuh bagian nya sudah gosong kehitaman. Dari arah kamar mandi terdengar suara suamiku sedang bernyanyi. Diikuti suara guyuran air.  Aku menghela nafas panjang, dan berusaha melupakan apa yang baru saja aku alami tadi.

“Mungkin aku kelelahan. Makanya banyak berkhayal.” batinku

Beberapa saat kemudian, makanan untuk sahur sudah siap terhidang di atas meja bundar tanpa kursi tersebut. Kami bersahur bersama dan di lanjut dengan membaca al-quran sambil menunggu adzan subuh. Hari itu aku sedikit telat membuka lapak daganganku. Bahkan semua pedagang penjual aneka takjil sudah buka semuanya.  Aku buru2 menyusun semua daganganku. Namun aneh nya hari itu orang2 yang biasanya membeli takjil di tempatku cuma lewat begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.

Aku bertanya2 ada apa gerangan, apa jangan2 ibu2 di lapak kiri itu sudah menjelek2an daganganku pada semua orang? Dan apa iya semua orang percaya begitu saja? Sampai malam, daganganku tak ada satupun yang terjual. Rasanya sedih, tapi mau bagaimana, rejeki tak ada.

“Kamu gak pulang? Sudah hampir isya. Anggap saja hari ini, tidak ada rejeki. Jangan sedih, apalagi sampai putus asa. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik untukmu.” hibur suamiku

Aku tau itu hanyalah kata2 untuk membuatku tak merasa sedih lagi, tapi aku memang butuh kata2 itu untuk saat ini. 

“Semua orang cuma lewat tadi, tak ada satupun yang menoleh pada daganganku.” ucapku lirih, saat kami sudah bersiap untuk tidur

“Sabar.”

Malam itu lagi2 mimpi aneh yang sama terulang kembali. Namun kali ini, saat aku terbangun untuk menyiapkan makanan sahur, tulang kakiku mendadak ngilu begitu menyentuh lantai. Untuk beberapa saat aku memijit2 kakiku, berharap agar rasa ngilu di tulangku segera hilang. Tapi ngilu pada tulangku tak juga hilang, malah semakin bertambah. 

“Sakit ya?” tanya suamiku seraya meraih kakiku dan mulai memijitnya

“Saaahuuurrr… Sahuurr.. Duk duk duk..” suara anak2 yang melewati di depan rumah membuatku bergegas menarik kakiku, lalu dengan sedikit menyeretnya, aku berjalan ke dapur untuk memasak. Sekitar beberapa menit aku berada di dapur, suamiku menyusul. Di tangan nya ada toples obat.

“Nih, minum dulu obatnya.” ucapnya lembut seraya memberikan obat sakit tulang itu padaku  Gleekk gleekk.. Saat masakan ku sudah siap, obat itu baru mulai bekerja. Sakit pada tulangku berangsur2 hilang.

“Alhamdulillah, sakitnya sudah hilang.” ucapku 

“Alhamdulillah.”

Sekitar pukul 9 pagi, aku mulai merasakan sakit lagi pada tulang kakiku. Rasanya semakin ngilu, bahkan tergesek sedikit saja, sakitnya luar biasa. 

“Sakit lagi ya?”

“Iya. Sakit sekali. Ngilu.” jawabku meringis

“Ya sudah, kamu buka puasa saja, minum obatnya lagi. Gak tega aku liat kamu kesakitan begini.” kata suamiku 

Aku menghela nafas, rasanya sayang sekali kalau aku harus membatalkan puasa. Tapi di lain sisi, aku sudah benar2 tidak tahan dengan rasa sakit dan ngilu yang teramat sangat di tulangku ini. Akhirnya aku terpaksa batal puasa agar bisa meminum obat itu lagi. 

Kali ini efek obatnya terasa agak lama baru terasa, sampai2 aku harus meminum nya sebanyak 2 kali.

Hari itu aku bisa memasak untuk jualanku dengan rasa yang sempurna (tidak hambar/asin). 

Namun anehnya, hari itu pun sama seperti hari kemarin. Tak ada satupun yang melirik daganganku. Dan itu membuatku berpikiran untuk menyapa dan menawari orang2 yang lewat di depan lapakku. 

“Kue nya bu. Ada bingka barandam, bingka kentang, serimuka, lapis..”

Si ibu2 itu cuma melirik sekilas, lalu menggeleng sambil tersenyum. Dan itu terus berulang sampai kesekian kalinya. Saat sudah waktunya pulang bagi pedagang pasar ramadhan di sana, si ibu  Penjual bubur di lapak sebelah kanan, menghampiriku dengan membawa 2 bungkus bubur.

“Ini untuk buka puasa.” ucapnya sambil tersenyum ramah

“Terima kasih bu.” balasku seraya bergegas membungkuskan kue bingka dan serimuka untuk ibu tersebut.

Saat kami berdua mengobrol, mataku sempat melirik kepada ibu2 yang berada di lapak kiriku. Wajahnya masam dan terlihat sinis menatap kami.

Saat semua pedagang di sana sudah pulang, aku dan suamiku lagi2 terpaksa buka puasa di situ. Karena aku masih menunggu datangnya pembeli.

Ketika akan menutup jualanku, sakit tulang kakiku mendadak kambuh lagi. Rasa ngilunya bercampur dengan rasa perih yang teramat sangat. Membuatku tak kuasa menahan tangisku lagi.  Aku terisak dalam pelukan suamiku.

“Sakit sekali. Hiks.” rengekku

“Kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku mau cari obat dulu ke warung. Semoga masih ada yang buka.” 

Sebelum pergi, suamiku kembali menatap kearahku. Aku tau ia tidak tega meninggalkan ku di sini sendirian dengan keadaan seperti itu. Cukup lama aku menunggu, dengan rasa sakit pada tulangku yang kian menyiksa.

(Maaf sebelumnya, karena banyak yang salah paham jadi om jelaskan dulu ya. Jadi cerita ini berdasarkan pengalaman nyata seseorang, bukan om rasth. Jadi om tulis sesuai dengan sudut pandang narasumber) 

Akhirnya suamiku pun datang, melihat plastik kecil yang ia bawa, aku menghela nafas lega. Akhirnya kesakitan ini akan berakhir. Tanpa pikir panjang, aku lantas meneguk 2 pasang obat sakit tulang itu sekaligus, berharap agar sakit tulangku segera hilang. Namun walau sudah setengah jam berlalu, rasa sakit itu tak jua hilang. Padahal efek obatnya sudah membuatku mengantuk.

“Masih sakit?” tanya suami saat melihatku hendak meminum obat itu lagi 

“Masih.”

“Mungkin belum bereaksi saja. jangan di minum lagi obatnya. ” ujarnya seraya mencegah tanganku yang sudah siap2 memasukkan obat ke dalam mulut. Sekitar pukul 9 malam, kami baru sampai di rumah. Tubuh rasanya letih, geter2, efek obat yang kebanyakan, di tambah pikiran yang kacau karena daganganku tak ada yang laku satupun. 

“Kalau masih sakit, sebaiknya besok kamu gak usah jualan dulu.”

“Kalau aku gak jualan, nanti rugi. Siapa tau besok rejekiku banyak. Lagi pula kalau di rumah aja rasanya bosan juga. Kamu kan gak selalu ada di rumah.”

“Maaf ya.”

“Gak papa.” 

Aku mencoba untuk memejamkan mata, namun anehnya aku tidak bisa tidur, meskipun rasanya sangat mengantuk. Iseng2, aku mulai membuka hp. Membuka aplikasi novel. Tapi saat lagi asyik2nya membaca, tiba2 terdengar suara letupan dari arah belakang rumah yang membuatku kaget. 

“Aduh, itu anak2 masih main petasan. Padahal sudah tengah malam begini.”

Aku lalu beranjak dari tempat tidur, bermaksud untuk menegur anak2 itu. Tapi saat jendela dapur terbuka, aku tidak melihat ada siapapun di sana. Bahkan bekas petasan pun tidak ada. 

“Kemana perginya anak2 itu?”. Ketika aku akan menutup kembali jendela tersebut, sayup2 aku mendengar suara rintihan dari arah kamar mandi.  Aku terdiam untuk beberapa saat untuk memastikan apa yang baru saja ku dengar. Tapi suara itu menghilang, dan hanya terdengar sekali.

Tling. Suara notifikasi chat. Aku membukanya dan ada nomor baru yang mengirimkan pesan suara padaku.  Saat aku dengarkan isi pesan suara tersebut, aku tidak mengerti apa yang orang itu katakan. Karena isinya hanya terdengar seperti suara orang yang sedang berpantun dengan isi yang aneh. 

‘Ini siapa ya?’

Namun nomorku langsung di blokir oleh orang itu. Praaaang… Sebuah gelas yang berisi minyak bekas terjatuh dari meja kompor. Padahal tidak ada angin ataupun sesuatu yang menyenggol gelas tersebut. Merasa keadaan semakin aneh, aku lantas berlari keluar. Cepat2 ku tutup pintu kamar. Suamiku masih tidur sambil memeluk guling. Namun aku rasa ada yang aneh pada guling itu. Bagian atas dan bawahnya di ikat seperti pocong. Padahal seingatku, aku tidak punya guling seperti itu.

Sreett.. Baaa.. Saat suamiku berbalik dan melepaskan guling tersebut. Dalam penglihatanku dari guling itu mendadak keluar wajah hitam dengan bola mata yang putih dan menatapku.

“Ya Allah!” teriakku menjerit sejadi2nya 

Suamiku yang terbangun karena kaget langsung memeluk dan menenangkan aku.

“Gulingnya. Gulingnya tadi jadi pocong.”

“Pocong apa? Aku gak ngerti. Ini memang guling sayang. Bukan pocong.” 

Setelah agak sedikit tenang suamiku menyuruhku untuk tidur, sementara dia duduk dan menungguiku di dekat kasur.

“Saaahuuuuuur saaahuuuuurr.. Duk duk duk..” riuh suara anak2 muda yang sedang bagarakan lewat di depan rumah, membuat Wati(narasumber) terbangun.  Ia melihat ke sekeliling, namun rupanya Rahman(suami dari narasumber) sudah tidak ada di dalam kamar. Wati berjalan keluar kamar, dan mendapati suaminya tengah memasak di dapur. 

Sambil mendengarkan ceramah yang di putar di youtube.

“Eh sayang, sudah bangun yang. Aku sengaja gak bangunin kamu tadi, habisnya ku lihat tidurmu nyenyak sekali.” 

“Aku mimpi buruk lagi.”

“Kata orang, kalau mimpi buruk itu harus di talak saat kamu BAB. Biar mimpinya gak jadi kenyataan.” kata Rahman setengah bergurau, tapi aku menanggapinya dengan serius, dan mempraktek kan apa yang di katakan suamiku setelahnya. Memang tidak masuk akal, tapi aku benar2 tidak ingin mimpi buruk itu menjadi kenyataan, dan akan melakukan apapun untuk mencegahnya. 

“Bagaimana kakimu? Apa masih sakit.”

“Sudah tidak sesakit sebelumnya, tapi ngilunya masih ada.”

“Nanti setelah makan kamu minum lagi saja obatnya.” 

Pagi harinya sekitar jam 10an, wati memeriksa kue2 yang akan ia jual lagi nantinya, namun hampir semua kue2 itu basi dan berlendir.

“Ya Allah. Semuanya sudah basi. Apa aku berhenti saja ya berjualan di pasar ramadhan?” gumamnya. Akhirnya, hari itu ia tak pergi berjualan. Dan hanya menghabiskan waktunya untuk membaca cerita di beberapa aplikasi.

Hingga beberapa saat kemudian, sebuah chat dari Ria (teman nya) masuk. Wajah wati seketika berseri2 melihat isi chat tersebut.

“Alhamdulillah..” Ucapnya

Wati bergegas menelpon suaminya untuk minta di antarkan berbelanja ke pasar, membeli bahan2 yang dia butuhkan.

“Halo. Assalamualaikum, sayang. Tadi ria chat, katanya mau pesan 10 loyang bolu, ayam bumbu ungkep dan jengkol balado. Jadi hari ini aku mau beli bahan2 nya dulu. Karena uang mukanya sudah dia transfer.” ujar wati penuh semangat

“Alhamdulillah.”

Wati menunggu kedatangan suaminya dengan wajah yang berseri2 bahagia.

Akan tetapi saat suaminya baru sampai, wati mulai merasakan mual dan pusing, punggungnya terasa berat juga sakit.

“Kamu kenapa?”

“Gak, gak ken..”

Belum sempat menyelesaikan perkataan nya, tiba2

Bruuukkk.. Tubuhnya ambruk. Rahman yang baru saja akan meletakkan helm langsung panik melihat istrinya yang pingsan. Ia berusaha mengangkat tubuh sang istri ke dalam rumah, tapi tubuh istrinya itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Padahal berat badan wati tidak sampai 50 kg.  Hampir 2 jam lamanya wati tak kunjung siuman, membuat rahman menjadi sangat khawatir.

Saat tersadar dari pingsan nya, wati sudah melihat suaminya tengah tertidur dengan posisi duduk dan tangan yang menggenggam tangan nya. Lampu pun sudah di nyalakan, yang berarti sudah memasuki malam hari.

“Aduh, sudah malam, gimana pesanan nya ria.” keluhnya

“Alhamdulillah kamu sudah sadar. Aku khawatir sekali tadi.” ucap rahman 

“Pesanan ria gimana ya? Mana uang mukanya sudah dia transfer.”

“Memangnya kapan dia mau ambil pesanan nya.”

“Besok sore. Tapi yang dia pesan itu banyak, aku takut waktunya gak cukup. Karena kan harus belanja bahan2nya dulu ke pasar.” 

“Begini saja yang, kamu tulis semua bahan2 yang kamu butuhkan, biar aku yang belikan di kota.”

“Tapi kota(kabupaten) kan jauh.”

“Gak papa, demi kamu, jangankan ke kota. Ke planet mars pun akan aku tempuhi.” 

Wati tersipu mendengar gombalan sang suami.

“Tapi kamu yakin akan baik2 saja kalau ku tinggalkan.”

“Iya gak papa. Tadi itu aku cuma kelelahan.”

Setelah catatan berisi daftar bahan2 yang di butuhkan wati siap, suaminya pun berangkat. Tapi sebelum itu ia lebih dulu mampir ke rumah Wiwin (teman wati yang rumahnya tidak begitu jauh), rahman meminta tolong agar wanita itu mau menemani istrinya yang sedang sendirian di rumah. Bau gosong bulu/rambut yang di bakar menyeruak di dalam ruangan tersebut, wiwin terlihat terganggu dengan bau itu, sehingga membuatnya keluar untuk memeriksa ada apa gerangan di luar rumah. 

“Apa para maling ayam masih beroperasi di bulan puasa ini?” gumamnya setelah berada di luar rumah wati.

Beberapa saat ia menengok kiri dan kanan, tapi tak ada satupun orang2 di luar. Maklum lah saat itu orang2 lagi pada tarawih.  Jadi jalanan nampak lengang dan sunyi.

“Itu hantu win.” ujar wati yang entah bagaimana dengan tiba2 saja sudah berada di belakang wiwin

“Ih, kamu nih macam2 aja. Setan itu di kurung pada bulan puasa begini ti.” 

“Masa? Kok aku gak??” Baaaaa…

(Gambar hanya ilustrasi)

Image

“Aaaaaaaa…” teriak wiwin langsung lari tunggang langgang meninggalkan rumah wati dengan pintu yang masih terbuka

“Wiiiiinnn..”

Wati menutup pintu rumah dan menguncinya, perasaan nya agak lain saat itu. Padahal biasanya ia juga tinggal sendirian di rumah kalau Rahman sedang pergi. Tapi akhir2 ini suasana rumah itu berbeda dari sebelumnya. Rasanya asing, dan selalu terasa ada seseorang yang memperhatikan nya dari sudut ruang paling gelap. Wati memutar musik dengan cukup keras di hp dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Duuukkk duuuukkk..

Suara benda berjatuhan dari arah luar kamar, diikuti suara petasan yang meletup di area samping rumah. Dan disaat2 seperti itu jugalah, perutnya mendadak mulas, dan terasa sangat ingin bab.  Akhirnya mau tak mau wati terpaksa harus keluar kamar dan berjalan pelan menuju wc. Namun saat ia sudah jongkok, tiba2 terdengar suara gedoran dari dinding belakang wc yang memang hanya terbuat dari seng.  Wati memejamkan matanya, lantas segera cepat2 menyelesaikan panggilan alam tersebut. Tanpa berkata apa2 ia berlari ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu rapat2. Tapi suara itu kembali terdengar lagi. 

Dengan tangan yang gemetar wati berusaha menelpon suaminya yang kemungkinan sekarang sudah berada di kota.

Tuuuutttt.. Tuuuuuttt..

“Maaf, nomor yang anda tuju tidak menjawab…”

“Ah.” tiba2 punggung dan kaki ku mulai sakit lagi. 

Wati berusaha mencari obat yang di belikan suaminya, namun obat itu rupanya sudah habis. Yang tersisa cumalah obat mixagrib, yang tentu bukan obat untuk sakit tulang. Kian lama rasa sakit di bagian bahu sampai punggung dan kakinya itu makin menjadi. Sampai2 membuat wati akhirnya menangis sesenggukan.

“Ya Allah. Sakit sekali.” ucapnya di sela isak tangis 

Sekitar pukul 10 lebih, suara motor milik rahman terdengar berhenti di depan rumah. Wati yang masih kesakitan itu berusaha untuk membukakan pintu, jalan nya nampak sempoyongan dan pincang. 

“Ya Tuhan. Kakimu sakit lagi kah?”

“Iya, sekarang sakitnya malah bertambah di bagian bahu-punggung. Rasanya berat dan sakit.”

Dengan cepat, rahman memasukkan barang belanjaan nya ke dalam rumah. Lalu ia meminta izin istrinya untuk pergi mencari obat ke toko obat terdekat. 

“Jangan lama2 ya. Aku takut.” ujar wati

Wati duduk di teras rumah sambil menunggu suaminya pulang dari warung. Terlihat ada sekelompok anak remaja 17 tahunan tengah berjalan kaki lewat di depan rumah sambil sesekali terdengar candaan antara sekawanan remaja tersebut.  Namun ketika mereka sudah jauh, suasana sunyi kembali lagi. Angin dingin yang berhembus terasa lain, membuat wati seketika merinding.

Suara sayup2 orang berpantun mulai terdengar lagi. Kali ini benar2 membuatnya sangat ketakutan. Apalagi begitu ia melihat seseorang berdiri di seberang jalan rumahnya dengan mengenakan baju hitam panjang mirip mukena terusan. Jantungnya mulai berdegup tak karuan. Takut untuk berada di luar, namun ia juga takut untuk masuk kedalam rumah. 

Ia menelan ludahnya yang terasa kering, sosok yang mengenakan baju mirip mukena itu terus menatapnya dari arah seberang jalan. Tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.  Tapi ketika sebuah cahaya lampu motor yang melintas menyinari jalanan remang2 itu, anehnya sosok yang tadi berdiri di sana hilang sekedip mata. Tentu itu bukan manusia, pikir wati. Wati menundukan wajah, ia berharap suaminya datang. 

Tiiittt.. tiiittt….

braaaaakkkkkk…. Wati mendongakkan kepalanya, menatap kearah jalanan. Dan disana sudah ada 2 buah sepeda motor yang tergeletak bersama dengan ke tiga pengendaranya. 

Rahman yang baru saja sampai, terlihat membantu orang2 itu. Ia membawa mereka ke rumahnya. Wati pun, meski sedang sakit, ia juga turut membantu untuk mengambilkan air serta obat2an ringan untuk luka.  Untungnya ketiga orang tersebut tidak ada yang mengalami luka parah, dan hanya lecet2 sedikit saja.

“Tadi ada perempuan nyebrang, terpaksa saya harus ke sisi kanan. Dan tanpa saya sadari ternyata bapak ini melaju dengan kencang.”

“Sumpah demi Allah, tadi saya tidak lihat 

Motormu, yang saya lihat, jalanan itu lengang dan hanya motor saya yang ada di sana. Makanya saya berani menaikkan kecepatan.”

“Yang penting sekarang, bapak dan abang ini gak kenapa2.” 

Wati mendengarkan perdebatan mereka, yang satu bilang tidak lihat keberadaan motor lain nya, dan yang satunya lagi juga mengatakan hal yang sama. Aneh memang, tapi mereka tetap bersikukuh dengan apa yang mereka lihat dari sudut pandang mereka masing2. 

Pukul 12:30, wati baru saja memejamkan matanya. Mimpi aneh yang terus berulang itu, hadir kembali. Nafas wati terengah, matanya terasa sangat berat begitu ia akan membuka matanya. Seluruh bagian tubuhnya pun terasa kaku saat akan di gerakkan.

“Wati. Bangun. Hey. Wati.” panggil suaminya seraya menekan jempol kaki istrinya dengan keras. Wati merintih, suaranya tertahan.

“Hahhh….” mata wati terbelalak. Tubuhnya gemetar sekali kala itu.

“Aku mimpi itu lagi. Kaliini semakin menyeramkan.”

Rahman menghela nafas panjang, lalu ia menenangkan istrinya yang nampak sangat ketakutan tersebut. Sesudah sholat subuh, barulah rahman bisa tidur dengan nyenyak meninggalkan istrinya yang sudah mulai mengerjakan pesanan kue milik ria.

Sekitar pukul 7 pagi di saat masih asyik2nya mengocok telur untuk kue, mendadak kaki dan bahunya kembali terasa sakit lagi.  Cepat2 wati meminum 4 pasang obat sekaligus. Yang ia sendiri pun sebenarnya tahu apa efek samping yang akan di timbulkan dari obat tersebut. Namun ia tak peduli, yang ia inginkan saat itu hanyalah menyelesaikan pesanan itu secepatnya tanpa gangguan sakit tulang.  Sekitar pukul 12 siang, sebagian pesanan sudah berhasil di selesaikan. Tinggal beberapa lagi.

Di saat sibuk membuat bumbu2 ayam, beberapa kali wati mengalami hal yang cukup aneh. Mulai dari potongan ayam yang hilang pada bagian2 tertentu dagingnya.  Dan beberapa peralatan dapur lain nya juga berpindah posisi dengan sendirinya. Padahal ia yakin tidak memindah kan benda itu sebelumnya. Sekitar pukul 4 sore, Ria datang bersama suaminya yang merupakan pedagang antar daerah. (Bisa di sebut juragan, kira2) 

“Wajahmu pucat ti. Apa kamu baik2 saja?” tanya ria

“Aku baik2 saja. Maaf ya, jam segini pesananmu belum juga selesai.”

“Iya gak papa. Masih ada waktu kok sampai buka puasa nanti.”

Keduanya terdiam. Seperti perempuan2 pada umumnya, ria mulai memfoto dan memvideokan kue2nya dan tidak lupa ia juga berfoto dengan wati.

Namun anehnya foto wati terlihat blur di bagian kepala. Dan itu terjadi di semua foto wati, padahal wajah ria nampak baik2 saja. 

“Kok aneh ya.” gumamnya

“Kenapa?” tanya wati

“Fotomu di bagian bahu sampai kepala ngeblur ti. Padahal foto muka ku gak.”

“Ah biasa lah itu, kena cahaya mungkin, atau karena aku yang gak bisa diam.” 

Ria mengangguk,

“Rumahmu rasanya sekarang agak panas ya.”

“Iya. Padahal biasanya gak gini ri.”

“Coba deh kamu baca ini.” ujar ria seraya menunjukkan artikel yang membahas tentang rumah yang terkena gangguan jin 

“Apa ini?”

“Memangnya kamu gak ngerasain sesuatu yang aneh gitu? Aku yang baru saja masuk ke rumahmu saja bisa merasakan nya ti.”

Wati terdiam,

“Suamiku sudah cerita sama kamu ya.?”

Ria mengerutkan alisnya, lalu menggeleng.

“Rahman gak ada cerita apa2 ti. 

Kamu jangan salah paham.”

Wati tersenyum, ia membenarkan raut wajahnya yang tadi tiba2 saja berubah sinis.

“Nanti kalau kamu ada perlu apa2, kamu bisa hubungi aku ya ti. Mungkin aku dan suamiku bisa bantu kalian.” 

Wati tersenyum mengangguk, pesanan terakhir itu sudah selesai. Setelah membayar sisanya, ria bersama suaminya pun pulang dengan membawa semua pesanan mereka yang di letakkan di belakang box mobil pick up nya. 

“Alhamdulillah, di kasih lebih sama mereka.” ujar wati menunjukan lembaran2 uang yang lumayan tebal

Malam itu karena kelelahan wati tertidur lebih awal. Bahkan ia tak sempat sholat maghrib dan isya. Saat tiba waktunya sahur, rahman membangunkan wati, namun wanita itu tak mau bangun, dengan alasan bahwa ia baru saja bisa merasakan tidur nyenyak lagi setelah beberapa hari lalu tidur dalam ketakutan. 3 hari ini, sikap wati berubah drastis. Dari yang tak pernah telat sholat 5 waktu, kini menjadi ogah2an dan banyak alasan. Sampai2 puasa pun ia sudah tak mau lagi. 

Ia juga sekarang jadi mudah marah pada suaminya. Padahal wati yang di kenal rahman, tak pernah sekalipun meninggikan nada bicaranya di hadapan sang suami.  Tapi beberapa hari ini wati tampak berbeda, sikapnya berubah menjadi seseorang yang tak di kenal. Asing.

Di pasar ramadhan itu pun ia sempat memarahi balik ibu2 yang mengatakan di salah satu kue yang di belinya di lapak wati terdapat telur lalat. Bahkan dengan kasarnya wati melemparkan kue tersebut ke arah ibu2 yang berada di lapak kiri. Karena ia menduga bahwa itu adalah ulah dari si ibu2 tersebut untuk menjelek2kan dagangan nya.  Adu mulut antara keduanya tak bisa di hindari, sikap yang sebelumnya kalem kini menjadi ganas dan mengerikan.

“Kamu kenapa sih hah? Sampai segitunya!” bentak rahman untuk yang pertama kalinya setelah cukup lama berumah tangga bersama wati 

“Dia sendiri yang mulai. Dia menjelek2kan daganganku. Dan aku hanya memberi pelajaran buat mulutnya yang busuk itu! Apa aku salah?!!”

“Caramu yang salah! Kan bisa kamu bilang baik2. Atau kalau gak ya berhenti saja berjualan di situ dari pada nyari masalah dan ribut sama orang.” 

Wati mendengus kesal mendengar ucapan suaminya yang ia anggap terlalu membela orang lain tersebut. Sebelum tidur, wati meminum obat sakit tulang lagi. Namun kali ini dengan jumlah yang sangat banyak. Hingga dalam beberapa saat saja ia sudah kehilangan kesadaran.  Untungnya saat ia masuk kedalam kamar, pintu nya tidak ia kunci. Sehingga rahman tidak terlambat untuk memberikan pertolongan pertama pada istrinya. 

Ia meminumkan wati dengan air kelapa sisa yang ada di dalam kulkas. Namun wati tak kunjung sadarkan diri. Sehingga mengharusnya rahman untuk meminta bantuan pada orang lain. 

“Halo. Ria, Assalamualaikum. Ini, anu, istriku sepertinya overdosis obat. Aku mau minta tolong kalian untuk membawanya ke klinik.” ujar rahman dengan suara yang bergetar 

Tidak berapa lama kemudian, Ria bersama suaminya datang dengan mobil pribadinya.

Mereka membantu mengangkat tubuh wati yang terasa sangat berat, bahkan bertiga yang mengangkatnya masih kewalahan. Namun itu bukan masalah yang berarti bagi mereka. Yang sangat penting saat itu adalah untuk tiba di klinik atau ke rumah sakit dengan tepat waktu.

Suami ria terlihat menenangkan rahman yang tak henti2nya menangis sambil menyebut nama istrinya. Sementara ria membelikan 2 gelas kopi dan teh hangat untuk mereka bertiga.

“Memangnya ada apa, sampai2 wati seperti itu?” tanya ria pelan

“Dia marah padaku ri..” jawab rahman singkat

“Beruntunglah wati gak kenapa2. Ya Tuhan, telapak tanganku sampai berkeringat 

Saking khawatir dan paniknya.”ujar ria sembari menghela nafas lega

Setelah keadaan sudah jauh lebih tenang, ria mulai menanyakan apa penyebab wati marah sampai membuat dirinya dalam berbahaya, pada rahman. Rahman pun mau tak mau, ia mulai menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai pada istrinya yang overdosis obat.

“Nah kan, betul dugaanku itu. Coba kamu lihat ini, semua foto2 barunya yang ku ambil hari itu blur. Dan anehnya yang blur cuma di bagian bahu dan kepala. 

Nah ini, kalau seperti ini blurnya nampak biasa saja kan, tapi coba kita zoom, di bagian yang blur ini mirip seperti tangan seseorang kan.”ujar ria menunjukkan foto2 itu pada rahman 

Rahman mengamati gambar itu, dan alisnya seketika mengerut begitu melihat bentuk tangan yang terdapat di foto istrinya.

“Ya Allah. Apa ini?”

“Ku rasa istrimu kena guna2 atau santet dan semacamnya. Apa kalian pernah bermasalah sama orang?” 

Rahman dengan cepat menggeleng,

“Ku rasa tidak. Kau tau sendiri sifat istriku bagaimana kan? Hanya akhir2 ini saja dia berubah jadi kasar dan seenaknya.”

Ria menghela nafas, ia menatap suaminya.

“Temanmu yang waktu itu apa mungkin bisa membantu wati?” tanya ria masih lekat 

Menatap sang suami

“Yang mana?”

“Itu yang waktu itu kita ketemu di sampit, dia yang bantuin kita nyari penjual kelapa (biasanya di jual borongan) di kampung teman nya itu nah. Masa kamu lupa sih, aduhh mana aku juga lupa namanya.” 

“Oohh iya ya, aku ingat, si rudi. Sebentar coba ku telpon dulu ya.”

Ria mengangguk, Obrolan mereka pun berlangsung cukup lama. 

“Gimana?” tanya ria saat telpon sudah di tutup, rahman pun ikut menunggu jawaban nya

“Besok dia akan datang, itupun kalau kerjaan nya selesai hari ini.”

Rahman menarik nafas panjang, wajahnya terlihat sedikit kecewa mendengar jawaban dari suaminya ria. 

“Tenang saja, yang aku tau tentang laki2 itu, dia memang tepat waktu dan gak macam2, jadi kalau dia bilang besok, pasti besok juga dia akan datang.” hibur ria pada rahman

Keesokan sorenya Ria dan suaminya datang ke rumah wati, karena saat itu wati sudah pulang ke rumahnya. Seorang laki2 mengenakan jaket kain berwarna hitam dan topi hitam polos juga datang bersama mereka. Rahman menyambutnya dengan ramah dan hangat,

“Ku kira orang yang kau maksud itu sudah berumur, ternyata masih muda begini.” ujar rahman diiringi tawanya yang renyah namun dapat di simpulkan tawa itu hanyalah topeng belaka. Ria, suaminya dan orang itu tau kalau rahman tentu sangat sedih saat itu.

“Saya sudah jadi bapak2, anak juga sudah 2.” ujar laki2 tersebut 

Setelah berbasa basi lumayan lama, laki2 yang bernama rudi itu pun mulai menanyakan secara keseluruhan tentang wati. Sesekali alisnya mengerut dan mengangguk.

“Jadi apa benar dugaan ku kalau yang ngirim guna2 itu adalah ibu2 yang ada di lapak kiri tempat wati jualan.?” 

Rudi terdiam, lalu ia menggeleng perlahan.

“Saya tidak berani menyimpulkan siapa pelakunya. Tapi kita bisa mulai mencari tahu dari pasar tempat istrimu berjualan.”

“Kenapa harus dari situ? Apa di rumah ini kau tak merasakan ada yang aneh?” tanya ria mendesak 

“Perubahan di rumah ini, saya rasa hanya buntut. Yang perlu saya cari tau adalah pungkala nya(sumbernya).”

“Baik, kapan saja kamu mau ke pasar, aku akan antarkan.” ujar rahman 

Dan sekitar pukul 4 sore, mereka bertiga pun berangkat.

Rudi menatap meja tempat wati berjualan, dan di sebelah kiri, terlihat ibu2 itu tengah memperhatikan rudi. Cekreekk.. Beberapa kali rudi memfoto tempat jualan dan sekeliling nya. Lalu kemudian menunggu beberapa saat.

Tling.. Notifikasi whatsapp masuk, rudi bergegas membuka nya. Ia nampak mengangguk lalu menelpon seseorang melalui panggilan video. Ia mengarahkan kameranya ke arah lapak dan kemudian terdengar suara anak kecil mengarahkan nya untuk berjongkok di bagian kaki kanan meja.

“Dalam situ bah.” ujar anak kecil itu

Rahman dan suaminya ria memperhatikan semua itu sambil bertanya2. 

Dan sekitar 5 jari di dalam tanah, terdapat buntalan kain putih, Rudi mengambilnya dan memasukkan benda tersebut ke dalam tas selempangnya. Terlihat wajah ibu2 di lapak kiri berubah seketika ketika melihat benda tersebut. 

“Mungkin apa yang di katakan istriku benar.” ujar suami ria pada rahman

“Entahlah, tapi mungkin saja iya.”

Sementara di rumah, wati yang tadinya terlelap tidur, malah meraung2 kesakitan.

“Kenapa ti? Apa yang sakit?”

“Aduuuhhh.. Kakiku sakit sekali. Pundakku juga 

Seperti di tusuk2.”

Ria bingung, beberapa kali ia mengepalkan tangan nya yang sudah mulai berkeringat. Panik, khawatir dan takut. Ia bahkan tidak tau apa yang harus di lakukan pada saat itu. Untungnya tidak lama kemudian, suaminya datang bersama rahman dan rudi. Rudi meminta air di dalam gelas lalu meneteskan sesuatu dari botol kecil ke dalam gelas tersebut.

“Minumkan.” suruhnya

Setelah di minumkan dengan air tersebut, wati mulai berangsur2 tenang. Kemudian, rudi berjalan keluar rumah dan membuka buntalan kain tersebut yang berisi antara lain jarum, paku, rambut, kain putih kecil dan sejumput tanah. Ia tau ini bukan sekedar guna2 penghalang/penutup rejeki, karena ia tau betul di daerah itu tidak memakai media benda2 

seperti ini untuk penutup rejeki pedagang saingan si pelaku. Biasanya penutup rejeki yang sering di jumpai di daerah itu berupa air putih yang di mantrai.

Jadi ada kemungkinan bahwa pelaku ini tidak berasal dari daerah tersebut. Benda itu pun rudi bakar hingga menjadi abu, dan hanya menyisakan paku yang sudah berkarat. Ia lagi2 melakukan video call dengan anak kecil yang suara nya terdengar aneh. Namun ketika kamera di arahkan kepada wati, anak kecil itu berteriak histeris dan menangis meminta agar hp di jauhkan darinya.

Rudi terduduk, ia menatap jam pada layar hpnya. Sudah menunjukan setengah 6 sore. 

Suaminya ria masuk kedalam rumah, membawakan beberapa bungkus makanan dan kue yang tadi di belinya. Malam harinya, mereka berjaga di rumah. Beberapa kali rudi yang duduk di teras bersama suaminya ria melihat sebuah kendaraan yang bolak balik lewat di jalanan depan rumah.

“Itu orang nyari sesuatu yang tercecer kah atau gimana? Dari tadi bolak balik terus.”

“Biarkan saja.” ujar rudi yang memang juga mempunyai kecurigaan pada orang2 tersebut, namun ia enggan untuk mengungkapkan nya 

“Oh iya, bisa aku minta tolong sama istrimu, buat di fotokan perempuan yang sakit itu.” ujar rudi seraya memberikan hp nya pada suami ria yang segera beranjak dari duduk dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia yang sedari tadi sore sudah penasaran dengan isi hp teman nya itupun lantas terlebih dulu membaca isi pesan whatsappnya.

Alisnya mengerut ketika membaca chat tersebut. 

“Hp siapa?” tanya ria

“Hp rudi. Coba kamu baca chatnya, ini maksudnya apa ya?”

“Kayanya ini istrinya deh. Coba aja liat namanya. Sawangkuh. Ini artinya istriku kan?”

“Iya aku tau ini istrinya, tapi arti isi chat nya ini nah apa.” 

Rudi masuk kedalam rumah dan membuat pasangan suami istri tersebut kikuk.

“Maaf di, aku baca pesan wa mu.”

Rudi mengangguk, dan tersenyum.

“Gak papa. Itu istriku, aku jujur saja ya, sebenarnya penglihatanku tentang mereka itu samar2. Kadang bisa kadang tidak. 

Mungkin karena aku masih baru2 menerjuni hal2 gaib seperti ini. Aku masih belajar untuk memperdalam pengetahuanku tentang mereka. Sejak anak pertamaku itu lahir. ketika istriku melakukan usg, hasilnya anak kembar. Dan waktu di urut dengan bidan kampungpun, katanya anak kembar. 

Tapi anakku yang satunya di ambil dan di asuh oleh teman ayahku yang bukan manusia ketika usia kandungan istriku 7 bulan. 3 hari berturut2 kami mimpi aneh, sebelum perut istriku sedikit agak mengecil dari sebelumnya. Dan anehnya sejak mengandung anak itu, istriku peka terhadap hal2 gaib, bahkan dia tau kapan dan dimana ada orang meninggal. Dan setelah anak ku lahir kepekaan istriku terhadap hal2 gaib menjadi hilang. Lalu setelah bertambahnya usia anakku, dia mulai bisa berbicara, dia sering mengatakan hal2 yang terdengar aneh 

Namun berselang beberapa hari saja hal itu jadi kenyataan, seperti neneknya yang jatuh sakit. Sampai pasar yang terbakar habis. Saat memasuki usia sekolah paud pun kami sering mendapat laporan dari gurunya yang mengatakan kalau anak kami itu sering berbicara sendirian dan jarang mau bergabung dengan anak2 lain.

kau tau saat hal itu ku tanyakan pada orang tuaku, dia mengatakan aku beruntung memiliki anak seperti itu. Dia juga bisa membuang penutup rejeki yang di buat orang untuk usahaku dulu. Katanya yang bantu dia adalah kakak cantiknya.  Dan saat di pasar ramadhan tadi, aku yakin kau bingung kan?

Oh iya, satu hal lagi. Anakku bilang kalau di bagian kaki dan bahu istrinya rahman itu ada sosok mahluk kiriman yang bergelayutan. Sosok itu menyeramkan sehingga anakku pun takut untuk melihatnya.” Cerita rudi

“Lalu kira2 bagaimana? Apa masih bisa di hilangkan? Kasian wati.”

“Kita coba saja, kita sama berikhtiar.” ucap rudi

Selepas isya, rudi mulai menghidupkan perapin diteras. Membakar kemenyan dan menyebut sebuah nama. Angin dingin berhembus, sebuah bayangan putih terlihat mendekati rudi. Seorang nenek2 renta terkekeh di samping rudi. Beberapa kali ria mengerjap2kan mata dan mengocok2 matanya, untuk memastikan apa yang dia lihat di dekat rudi. 

“Aku tadi lihat nenek2 di dekat rudi.”

“Mungkin itu inguan nya(peliharaan)” ujar sang suami

Selesai berkata seperti itu, suaminya ria mendadak sakit perut. Ia berlari kedalam rumah menuju wc untuk segera memenuhi panggilan alam yang tiba2.  Botol minyak yang ujungnya di berikan benang, itu di asapi. Botolnya bergoyang kiri dan kanan tanpa henti. Padahal tangan rudi tak bergerak sedikit pun. Itu tentu membuat ria terbelalak. 

“Stop.” ujar rudi

Dan minyak tersebut langsung berhenti bergerak dengan seketika. Rudi menuangkan minyak tersebut ke dalam ember kecil, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Memberikan air tersebut pada rahman untuk di usapkan di bagian bahu, punggung hingga kaki. 

Dan setelah itu terdengar suara kejar2an di atas atap rumah. Suaranya jelas sekali mirip ringkikan hewan dan geraman kucing besar yang membuat merinding. Suami ria yang masih berada di dalam wc, juga tak kalah kagetnya, ketika suara benturan keras pada dinding seng wc  Yang membuatnya segera menyudahi bab nya. Air dalam ember itu juga di siramkan mengelilingi rumah yang di tinggali rahman dan wati. Setelahnya rudi mengambil wudhu dan melakukan sholat.

Sekitar beberapa saat kemudian, suasana di dalam rumah itu mulai normal kembali. 

“Kalau bisa istrimu suruh berhenti saja berjualan di lapak itu. Kalau pun ingin berjualan lagi tahun depan, bisa cari lapak yang jauh dari situ. Karena dari apa yang aku dengar, orang2 yang berdagang di dekat ibu itu selalu jatuh sakit dan usahanya bangkrut.”

“Nah, pasti ibu2 yang di lapak kiri kan?”

Rudi menggeleng,

“Bukan beliau. Tapi bila aku katakan kalian harus janji jangan menyimpan dendam atau mungkin berpikiran untuk balas dendam. 

Orang yang mengirimkan guna2 penutup rejeki ini adalah ibu2 yang di lapak kanan. Tidak hanya di lapak jualan istrimu, tapi dia juga memberikan nya pada makanan yang dia berikan. Dan ibu2 di kiri jualan itu memang agak nakal, tapi itu hanya melalui sikap yang dia tunjukan saja.”

Rahman terdiam, memang benar ibu2 itu pernah beberapa kali memberikan makanan. Tapi sikapnya yang lembut dan baik membuat rahman bahkan wati sekalipun tidak menaruh curiga padanya. Dan beberapa hari setelah malam itu, keadaan wati sudah sehat dan normal kembali, sakit tulang2nya pun sudah hilang dan tidak pernah kambuh lagi.

Hingga saat ini, hubungan pertemanan antara mereka semua masih terus berjalan. Dan pengalam mereka, semoga bisa di jadikan pelajaran buat ponakan2 om rasth di sini ya. 😊.

—SELESAI—

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *