RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Sandriana TKI Ilegal

intruksi cerita ini diperuntukkan untuk 15+ karna ada hal” sadis yg tidak dianjurkan di baca anak di bawah umur. terimakasih.

Sindy terduduk di sudut bar, lelah dengan keadaan yg semakin membingungkan. dentuman musik keras tak kunjung membuatnya lebih baik. malah semakin memperumit fikiran yg tak kunjung menemui jawaban. 

“disini rupanya” kata seorang perempuan berperawakan tinggi.

“Aku sudah bilang pasti dia yg membawanya. kenapa gak ada yg mau dengar aku?” tanya Sindy frustasi.

Dihisapnya lagi rokok yg tinggal setengah batang sebelum di cecakkan ke asbak. 

“kamu pasti kurang tidur, lihat wajahmu! pemikiranmu pun tak kalah berantakan” kata perempuan itu mengambil minuman yg ada di genggaman sindy.

“jelas aku tidak bisa tidur! setiap malam bagian dari tubuhnya selalu… selalu datang! pasti sesuatu terjadi padanya” kata sindy parau 

“dia pasti kenapa-kenapa Sa! aku kenal betul Andriana itu siapa” kata sindy mulai menangis.

“Lalu? kamu mau masuk ke rumah bule itu? mau cari Andriana? kalau bule itu seperti yg ada di kepalamu, bukankah bahaya jika berurusan denganya?” kata Lisa kesal 

“dia ke sini bareng sama aku, kalau dia ilang, trus aku pulang kampung! mau ngomong apa aku ke ibu bapak nya?” kata sindy kesal

“kalaupun ada apa” sama dia. kita gak akan bisa bantu banyak! kita tki ilegal, lapor polisi berarti bunuh diri, dan membunuh kawanmu juga” kata Lisa 

“aku nginep di tempatmu! aku ga akan bisa tidur sendiri malam ini, total tiga hari ak gak tidur” kata sindy memohon, yg diinginkanya hanyalah malam ini dia bisa tidur nyenyak.

“Oke” kata Lisa menyetujui. 

Malam itu juga Sindy mengikuti Lisa untuk pergi ke tempatnya. tempat tinggalnya lumayan mewah untuk ukuran seorang tki ilegal. Sebelumnya Lisa hanya bekerja di suatu rumah, merawat nenek yg sudah hampir mati. Namun nasib baik berpihak padanya. Tak lama setelah dia kerja, dia bertemu lelaki asing di bar, berkenalan dan akhirnya berkencan. Semenjak itu tak lagi dia bekerja menjaga nenek tua itu. Sebaliknya dia lebih memilih menjadi simpanan laki” bule, sembari memberangkatkan tki ilegal lain. Tergiur dengan nasib baik Lisa, Andriana ingin mengikuti jejak itu, namun tak semulus Lisa, sering kali Andriana mendapatkan perlakuan tidak baik.

Sindy sendiri sering melihat memar di tangan, punggung, mulut dan masih banyak lg. Dan yg paling parah saat Andriana hamil. Waktu itu hujan deras, dia datang dan menceritakan ingin lapor ke polisi. Saat itu Andriana sangat kalut, dan ingin segera mendapat kejelasan. Namun setelah menceritakan itulah Andriana tak terlihat lg, sudah seminggu tepatnya. 

“km tidur di sini ya? ak masih mau keluar menemani max” kata Lisa setelah membukakan pintu.

“jangan lama-lama” kata Sindy resah. 

Sindy duduk di depan tv, saat sesuatu seperti suara kresek di gesek terdengar mengganggu, dari arah dapur. Dengan enggan, sindy menuju arah dapur. Di lihatnya tak ada satupun kresek di tempat itu. Namun pandangannya beralih ke arah tempat sampah, yg di dalamnya banyak gumpalan rambut.

“sindy lihat anakku”

Kata suara dari balik punggung sindy, suara itu sangat pelan namun terdengar sangat jelas. Lalu sesuatu yg basah dan lengket mengalir melewati kaki sindy.

“ehmm” pekik sindy tertahan melihat banyak darah mengalir dari bawah kakinya.

Lalu sosok bayi merangkak melewati kakinya.

“Anakku! anak yg ingin kalian musnahkan. hikhik jahat! kalian semua jahat” kata sosok di belakang sindy seperti tengah menangis.

Sindy tak bisa berkutik. tak bisa berkata” melihat bayi itu terus merangkak memutari kakinya membuat jantung sindy seperti tak berada pada tempatnya. Namun lebih mengerikan lagi saat melihat sepasang tangan mengambil bayi itu dari sela” kakinya. Sepasang tangan yg seperti sudah dipotong, membuat sindy membelalakkan matanya.

“nina bobok oh nina bobok, yg sudah bobok tak bangun lg… hihihihihi”

Nafas Sindy memburu, keringat dingin mulai membasahi dahinya, saat sosok di belakangnya tertawa nyaring. 

“Kasian ya? Kasian aku! Jauh” kesini untuk mengadu nasib! Namun malah jadi seperti ini hihihi” kata sosok di balik punggung sindy.

Duk duk duk duk duk

Belum selesai sindy menarik nafas, seperti ada sesuatu, menendang” dari dalam kulkas. 

Semakin dibiarkan suara itu semakin keras, semakin membuat jantung sindy semakin tak karuan. Dengan tangan bergetar sindy membuka kulkas itu. Hingga sesuatu jatuh menggelinding saat dibukanya kulkas itu. Berhenti pada sela” kakinya. 

“Aaaaaaaaaaaaaa”

Teriak sindy saat yg terjatuh dari kulkas itu adalah sebuah kepala. Sedang kepala itu sendiri tengah melotot ke arah nya dengan mulut yg menyeringai bersimbah darah.

“Hahaha hahahha hahahah”

Tawa kepala itu sembari menatapnya. 

“Hah hah hah”

“Sin kenapa sihhhh,??? Tanya Lisa panik.

“Hah hah hah” nafas sindy masih memburu saat Lisa berhasil membangunkan sindy dari mimpi buruknya.

“Kenapa???” Tanya Lisa kesal.

“Andriana datang lg” kata sindy terisak.

Brakkkk 

Stttttttt

Intruksi Lisa sembari menggelengkan kepalanya. Ikut terkejut dengan pintu yg terbanting keras.

“Semakin dipikirkan semakin dia akan datang. Dia datang dari sini” kata Lisa sembari menunjuk kepala sindy.

Mengartikan jika Andriana datang melalui pikirannya. 

“Jangan bilang km…”

“Stttt”

Kata Lisa sembari memelototkan matanya. Sindy paham, tak dilanjutkan lg pertanyaan yg hendak diutarakan. Hari ini sindy terjaga, Lisa pun sama. Dua”nya saling menghabiskan malam dengan hening. Hingga saat matahari mulai muncul, Lisa mengatakan sesuatu.

“Aku pun memimpikan dia” 

Sindy menatap Lisa dengan tatapan ingin tau.

“Ak pun tiga hari ini tak bisa tidur, sama sepertimu. Namun sekali lagi kita tak bisa berbuat banyak. Jika polisi tau kita tki ilegal, bagus kalau hanya di pulangkan. Tapi kalau sampai di penjara di tanah orang? Orang rumah mau makan apa? Kita tulang punggung keluarga, sebaiknya itu yg selalu kita ingat” kata Lisa parau

Sindy mengerti, memang susah di posisi ini, namun jika terus” an Andriana datang dengan segala ke ngerianya di setiap malam, dan baru bisa tidur saat pagi tiba. 

Dirinya akan bertahan berapa lama? Tanya sindy dalam hati. Sebelum akhirnya mencoba tidur saat cahaya matahari menembus jendela. Disusul Lisa yg ikut merebahkan diri. 

“Tolongggg Sindyyyy, Sindyyyy tolonggg. Tolong aku”

Andriana berjalan terseok” melewati sebuah lorong. Lorong yg sangat panjang dan seperti tak berujung, dengan banyak cabang. Seseorang dengan masker dan juga jaket berwarna hitam mengikutinya dari belakang. Orang itu berjalan pelan, padahal jika mau berlari sedikit, pasti Andriana akan tertangkap. Namun bukanya mengejar orang itu seperti menikmati kesakitan Andriana. Andriana tampak lusuh, dengan darah yg terus mengalir dari sela” kakinya. Sampai saat Andriana di ujung lorong, Andriana merintih, perutnya sakit, badannya lemas. Namun dalam hatinya dia tak ingin mati.

“Akhhhhh”

Orang itu menarik rambut adriana kasar. Menyeretnya ke sebuah ruangan berbau anyir. 

Lalu diikatnya tangan dan kaki Andriana pada sebuah tempat tidur, tempat tidur yg sama persis dengan tempat tidur di rumah sakit. Setelah semua terikat, sinar terang menyilaukan mata Andriana, dan sebilah pisau mulai menyayat perutnya sedikit demi sedikit. Dirasakanya kesakitan yg teramat sangat, bau anyir yg sedari dia hirup, kalah dengan bau anyir darahnya sendiri.

“Ahhhhhhh tolong jangan, sakit” kata Andriana tak sanggup saat pisau itu mulai membelah badanya. 

Sayup” rasa sakit yg teramat sangat itu hilang berbarengan dengan bayangan yg semakin gelap.

“Akan ku balas” kata Andriana lemas, sampai akhirnya tak sadarkan diri.

Namum bukanya berhenti orang itu semakin lihai memainkan pisaunya. Badan Adriana habis tersayat. Setelah mengambil sesuatu dari badan Adriana. Orang itu mulai mengambil pisau yg lebih besar. Dipotongnya bagian kaki. Bagian tangan, bagian perut sampai pada saat orang itu menarik kepala Adriana.

“Temukan orangnya” kata Adriana melotot.

“Ash hah hah” 

Sindy memegang kepalanya, dengan wajah yang frustasi.

“uhhhhhhhh, ak beneran bisa gila” kata sindy keras.

Ditatapnya Lisa yg tengah tertidur pulas. Jam masih menunjukkan jam 9 pagi. Total hanya tiga jam sindy tertidur. Itupun di potong dengan mimpi buruk. Jelas sekali kengerian tadi, dan jelas pula Adriana ingin ditemukan. Namun clue yg sindy dapatkan sangat minim. Kalau memang benar mimpi tadi adalah petunjuk. Sebuah lorong itu sendiri ada dimana? Pikiran itu bergumul membuat sindy terdiam sesaat. 

“Ahhh jangannn, tidakkk, emhh jangan jangan jangnnnnn”

“Heyyy heyy” kata Sindy sembari menepuk badan Lisa

“Hah hah” kata Lisa menutup wajahnya.

“Km mimpiin Adriana? tanya sindy hati” 

Lisa mengangguk dengan masih menutup wajahnya.

“kita harus nemuin dia, kalau engga, gimana kita bisa hidup?” kata Sindy frustasi

“Iya, nanti akan aku cari caranya” kata Lisa parau 

Setelah berdiam cukup lama, Lisa ke dapur untuk membuat sarapan, diikuti Sindy yg tak mau sendirian.

“Gimana kontrak kerjamu? bukannya sudah selesai?” tanya Lisa.

“Sudah seminggu yg lalu selesai” kata Sindy mengambil segelas air putih. 

“hmmm baguslah. Aku dengar dari Max, kalau Andre butuh seorang perawat untuk ibunya. Kalau km mau menyelidiki km bisa ku masukkan ke sana” kata Lisa

“Apa km yakin itu gak akan berbahaya buatku? km sendiri tau dia mantanya Adriana” kata Sindy dingin.

“bukanya bahaya kalau dia mencelakaimu? dengan hilangnya Adriana saja sudah membuat semua berprasangka padanya. Lagian kalau dia membunuh Adriana, alasanya ada pada bayinya. Tapi dia butuh alasan jika ingin membunuhmu, selama km tidak terlihat mencurigakan dia akan biasa saja” 

Lisa mengatakan tanpa melihat Sindy yg sedari tadi menatap ke arahnya.

“itu kalau km mau, kalau tidak juga tidak masalah” kata Lisa

“Aku mau” kata Sindy meneguk habis air yg ada di genggamanya. 

Bagaimanapun juga kalau tidak di cari tau, Sindy pun bisa gila dengan segala mimpi buruk yg tak kunjung habis. Sesuai yg dijanjikan 3 hari setelah nya, Sindy di pertemukan oleh Andre. Badannya tinggi dengan rambut pirang dan mata biru yg di bingkai dengan kaca mata. Sungguh tak ada yg aneh dari dirinya. Terlihat sangat ramah dari luar dengan senyum yg selalu mengembang dari bibirnya. Setelah perkenalan singkat, Sindy dibawa ke sebuah rumah, rumah yang sangat besar.

Pantas Adriana sampai melepas pekerjaanya dan berkeinginan untuk menjadi seperti Lisa. Mengingat merekrut tki ilegal pun membutuhkan modal yg besar. Namun saat sibuk mengamati rumah yg ada di depanya, ada sosok perempuan dari jendela lantai dua tengah melambaikan tangan padanya. Badanya tingi dengan rambut lurut dibiarkan tergerai menyunggingkan senyum samar.

“Adriana” batin Sindy 

“Mari masuk” kata Andri memegang bahuku.

Sebelum Sindy masuk, sindy kembali memandang jendela. Namun Andriana sudah tidak ada. Sebenarnya Sindy sendiri sangat merindukan Andriana, terlebih saat dirinya menampakkan wujud yg baik. Tak seperti sebelum”nya. Sindy di bawa ke sebuah rumah yg sangat luas, seorang nenek di kursi roda menyambutnya dengan tatapan sayu.

“Nek” sapa Sindy hangat.

“Beliau yg akan km urus” kata Andre menjelaskan.

Sedang Sindy mengangguk paham. Sindy diantar ke sebuah kamar. Yg membuat Sindy sedikit terkejut banyak sekali foto Andriana disana. Sindy menebak kamar ini adalah kamar Andriana sebelum nya. Dan benar saja, saat Sindy menatap keluar jendela. Sosok Andriana tadi melihat dirinya dari jendela ini. 

“Maaf, apa bisa saya tukar kamar?” Tanya Sindy sebiasa mungkin.

“Kenapa?” Tanya Andre mengernyitkan dahinya.

“Tidak, hanya saja kamar ini terlalu luas untuk ukuran perawat” kata Sindy mencari alasan selogis mungkin.

“Tidak ada kamar lain, maaf” kata Andre sebelum akhirnya Andre keluar dari kamar. Meninggalkan sindy seorang diri.

Sindy mengamati setiap detail kamar. Bulu kuduk nya sudah merinding sedari tadi. Mengingat memori” dari sosok Andriana yg mengerikan. Namun di singkirkannya memory itu, toh dia kesini selain untuk bekerja, juga untuk membantu Andriana, jadi pastilah Andriana paham dan tidak membiarkan ketakutan. 

“To tok tok”

Sindy menatap ke arah pintu saat seorang mengetuk pintu kamar.

“Nenek” sapa Sindy ramah.

Nenek itu menatapnya tajam, namun seakan susah untuk mengutarakan sesuatu. 

“Nenek kenapa? Butuh sesuatu??” Tanya Sindy mulai mengerti, sepertinya nenek memang mengalami gejala struk yg membuatnya sulit berbicara. Namun tatapan nenek itu tak melunak, tetap tajam sembari menunjuk pintu keluar.

“Ini nenek ngusir aku apa gimana” tanya Sindy dalam hati 

“Nenek mau jalan” keluar ya?” Tanya Sindy.

Namun tatapan nenek itu seperti kesal dan tangannya terus saja menunjuk ke arah pintu.

“Nenek mau aku pergi ya?” Tanya Sindy, lalu nenek mengakgguk.

“Tak ada yg boleh pergi dari rumah ini” kata Andre tajam. 

Sindy mundur sedikit karena terkejut dengan perkataan tajam barusan.

“Maaf, maksud saya ibu jangan diajak keluar, dan sebaiknya km juga tidak keluar rumah agar bisa fokus mengontrol ibu” kata Andre merubah mimik mukanya menjadi sangat ramah. 

Namun perubahan yg sangat cepat, bukanya membuat Sindy lebih baik malah membuat Sindy merasa takut. Jelas sekali orang ini sangat berbahaya.

“Iya pak, saya akan menjaga ibu sebaik mungkin” kata sindy mencoba setenang mungkin. 

“Sebaiknya km beristirahat, saya mau menghabiskan waktu dengan ibu saya dulu, nanti giliran km yg menjaga. Nanti saya ada urusan sampai malam” kata Andre mendorong kursi roda, menjauh dari kamar. 

Setelah Andre menjauh dari kamar Sindy terduduk di kasur, lemas. Menahan badan yg bergetar karena ketakutan. Lalu meresakan sesuatu duduk di sebelahnya.

“Ini belum apa” sin, akupun juga mengalami lebih dari yg km rasakan” kata seseorang dengan suara yg sangat familiar 

“Kalau km mau di bantu, kenapa km gak langsung ngomong langsung? Kenapa membingungkan aku? Kenapa membuat nya seakan rumit” kata Sindy dengan menutup mukanya. Enggan melihat ke arah Andriana.

“Karna yg bisa ku beritahu hanyalah ingatan terakhirku hik hik, maaf” kata Andriana 

“Selebihnya wujudmu yg menyeramkan itu?” Tanya Sindy ikut sedih.

“Wujud itu hanyalah bentuk dari amarah, jika tidak dalam keadaan marah sebenarnya bisa saja aku menunjukkan wujud yg lebih baik” kata Andriana parau.

“Seperti sekarang?” Tanya Sindy dengan masih menutup mata. 

“Iya” jawab Andriana.

Sindy melepas tangan yang sedari tadi menutupi wajah. Dipandangnya sosok yg tengah duduk di sebelahnya yg juga menatapnya lekat. Degup jantung semakin kencang saat keduanya beradu tatap. Dipandangnya tubuh ringkih, yg berbalut baju hitam tanpa lengan, sebatas lutut. Baju yg dikenakan Andriana saat pertemuan terakhir dengan Sindy. Matanya tak hentinya menangis, masih sangat jelas wajah Andriana walau terlihat pucat pasi.

“Na…” kata sindy parau. 

“Aku hanya ingin pulang sin. Aku ingin keluargaku tau. Aku ingin di doakan. Tolong aku” kata Andriana menangis.

Sindy yg mendengar juga tak kalah tersayat hatinya. Melihat sahabatnya bernasib sedemikian rupa. 

“Anakku Pun, aku ingin orang tuaku tau” kata Andriana.

Sindy mengangguk, tak kuat melihat sahabat seperjuangan nya semenderita ini.

“Akan ku usahakan apa yg aku bisa agar km tenang” kata Sindy meyakinkan

“Trimakasih” kata Andriana lambat laun menghilang. 

Setelah Andriana menghilang, sindy merebahkan kepalanya. Saat badanya hendak terlelap sesuatu terjatuh di atas kepalanya.

“Ahhhhh, sial” kata Sindy mengurut keningnya.

Ditatapnya sesuatu yg sempat menghantam kepalanya. Buku itu berwarna hitam dengan sampul bertuliskan “Andriana and Sandy”

“Sandy?” tanya sindy dalam hati. 

Dibukanya buku itu perlahan,

“hari ini sandy berusia 3 bulan ho happy!”

Sindy menutup mulutnya, melihat foto rontgen, memperlihatkan janin mungil yg saat itu berusia 3 bulan. Dibukanya lembar kedua.

“karna aku hamil, Andre sudah sangat jarang memukulku. Bahkan aku sekarang tinggal di rumahnya. Sabar sayang mama sedang berjuang”

Sindy menitikan air mata, tak kuasa membayangkan apa yg terjadi setelah ini 

dibukanya lembar ke tiga.

“aku sangat senang saat Andre ingin memberiku hadiah. Padahal waktu itu aku tengah berdebat panjang, memintanya untuk memberi kejelasan, dan memintanya berpisah dengan istrinya. Kukira dia mengabaikan keinginanku. Sampai suatu kotak di berikan padaku. Kotak yg berisi dua bola mata berwarna biru. Dia tersenyum senang. mengatakan kalau dirinya sudah berpisah selamanya dengan istrinya, tapi bagiku dia Gila”

Sindy menggigit bibir bawahnya, merasakan kengerian yg amat sangat. Dibukanya lembar ke tiga.

“Aku merasa sedang tidak baik2 saja. Aku baru saja ke ruangan kerja Andre, pantas saja dia tak pernah mengijinkanku. Ruang kerjanya sangat mengerikan. Aku bukan tidak tau kalau dirinya seorang dokter. Namun ak tak pernah berpikir dia akan menyimpan 

semua foto pasien dengan luka-luka yg menganga dan aku berhasil mendapatkan ini”. Di tatapnya sebuah kartu yg bertuliskan teka teki silang

“1.Patung kepala kuda

2. nenek tua

3. ruang gelap di dalam ruang gelap 

di bukanya lembar ke empat.

“aku berhasil menemukan clue nya, baunya sangat anyir, ruanganya gelap dengan cabang di setiap lorongnya. Banyak mayat tanpa mata, badanya di koyak habis. Kepalanya hilang. dan sebagian di gantung, aku ketauan” 

halaman ke 5

“aku di pukul, aku di tendang, aku melindungi perutku, aku menyeringkuk, supaya sandy aman” 

halaman ke enam.

“aku berhasil kabur, aku menemui sindy temanku. Tapi aku tak bisa menceritakan keseluruhan karna aku mencintai Andre. Waktu itu aku hanya ingin pulang ke rumah. tapi sindy tak bisa membantuku”

Sindy kembali menangis, dadanya sesak, andai saja dia bisa membantu 

halaman ketujuh

“Aku menemui Lisa, dia meneriaki ku, mengatakan aku bodoh, dan mengatakan dia tidak bisa membantu banyak. Tapi bukanya memulangkan ke rumah orang tuaku, dia menelpon Andre, dan Andre membawaku kembali ke rumah” 

halaman ke delapan.

“Siapapun yg baca ini, tolong aku, tolong sandy” 

Di lembar lain Sindy menemukan kartu nama, dan di lembar lain nya lg, sudah tak terisi.

Sindy menggigit bibir bawahnya, memikirkan clue yg ada di kertas, mengingat di lembar demi lembar Adriana tidak memberikan informasi bagaimana dia memecahkan clue tersebut. Dimasukkanya buku itu di tas slempang milik Sindy. Dia tau nanti nya semua itu pasti berguna. 

“Suster??” kata seorang memanggil dari lantai bawah.

“Iya pak?” kata Sindy dengan jantung yg berdegub.

sindy berlari menuju lantai bawah.

“Tolong ibu di mandikan, saya ada urusan dan akan pulang sangat larut malam, atau mungkin tidak pulang. Tutup semua jendela dan kunci dan jangan sampai keluar dari rumah ini” kata Andre tajam.

“i i iya pak” kata Sindy menunduk. 

Setelah Andre pergi, sindy menutup pintu, mendorong nenek ke sebuah kamar yang sudah ditunjukkan oleh Andre. Kamarnya sangat luas dengan gaya klasik yg sangat kental, banyak patung” kecil, juga tulisan” cina di dinding kamar. 

“Mandi dulu ya nek?” tanya sindy melepas baju nenek, nenek mengangguk pelan.

Setelahnya di dorongnya nenek ke kamar mandi dekat kamar, setelah memasukkan nenek ke bathtub, sindy pergi dari kamar mandi untuk mempersiapkan baju. 

Namun saat sampai di depan lemari, mata sindy terfokus pada sebuah patung kepala kuda. Mengingatkanku pada clue yg tadinya ada di buku. Diambilnya kepala itu, dan benar saja di bawah patung itu terdapat sebuah kunci dan selembar kertas. 

“nenek tua, dia tidak berbicara. Berada di sebuah ruangan, dan selalu menatapmu tajam”

Sindy mengernyitkan dahinya memikirkan maksud kalimat yg berada di kertas itu.

“hmmm hmmm” suara nenek

“Ahh iya nek sebentar” kata Sindy memasukkan kertas dan kunci itu kedalam sakunya. 

setelah selesai menggantikan baju nenek, sindy membawa nenek ke ruang makan, namun pikirannya berkecamuk.

“Perasaan nenek biasa saja, dia menatapku tajam hanya sesekali, dan beliau tidak selalu berada di dalam ruangan” tanya Sindy di dalam hati. 

Selesai nenek makan, sindy mengantar nenek ke tempat tidur, setelahnya pergi untuk beristirahat. Namun langkah sindy terhenti saat berada di depan kamar Andre. Dengan segenap kekuatan dibukanya pintu kamar itu, namun saat sindy akan membuka, pintunya terkunci.

“Sial” 

Kata sindy kesal, namun kembali lagi dia teringat akan kunci yg barusan dia ambil. dan benar saja, kuncinya cocok, di bukanya pintu itu dan ruanganya sangat gelap dan engap. Coba dicarinya saklar untuk menyalakan lampu, hati sindy masih berdegup kencang. takut kalau Andre tiba” datang.

“ketemu” kata sindy menyalakan lampu.

Namun bukanya lega, sindy malah bergidik ngeri saat lampu itu dinyalakan. Lampunya berwarna merah, ruanganya sangat berantakan, dan sedikit berbau anyir. Namun itu semua bukan tanpa alasan melihat ada satu baju yg berlumuran darah.

Sindy berjalan mendekati tempat duduk, lambat laun terlihat sebuah toples, atau apalah itu. Didalamnya terdapat sosok mungil dengan penuh cairan bening dan di toples itu tertulis ”sandy, my son”. Sindy ngeri bukan main, sungguh dirasanya badannya bergetar hebat. Terlebih foto” yg di gantung di seutas tali dan badan sindy roboh saat foto itu menunjukkan foto andriana.

Badannya disusun sedemikian rupa, tangannya, kakinya, sudah tidak pada tempatnya dan matanya hilang. Yang membuat wajah andriana berlumur darah sangat mengerikan. Sindy mengambil hp nya, memfoto setiap apa yg dia temukan, persetan dengan masuk penjara. Manusia seperti dia harus masuk penjara.

Lalu saat sindy hendak keluar, sindy terkaget memandang fugura berukuran besar, gambar nenek tua yg tengah melotot di bawahnya tertulis.

”5 langkah dari pintu”

Sindy yg membava itu langsung paham, sudah pasti ruang gelap di bawah ruang gelap, yg dimaksud adalah lemari. Namun dirasa semuanya cukup 

“Maaf adriana, aku tak bisa masuk kesana, dan membiarkan diriku mati sia” kamu tak menjelaskan jalan keluarnya dan dengan masuk kesana aku tak akan bisa membantumu.

Setelah keluar dari pintu sindy buru” masuk kamar, membawa tas srempangnya dan menuju pintu keluar. Sindy sudah memastikan semuanya, semua data dirinya sudah ada di tas itu. Juga semua bukti yg dia punya.

Saat di seperempat jalan, sindy teringat kata adriana, saat dia meminta bantuan kepada lisa. Enggan di laporkan ke andre, sindy meminta taxi berhenti. Sindy duduk di depan kios, lalu kembali teringat kartu nama. Sindy berfikir mungkin saja andriana ingin kesini, namun belum kesampaian.

Akhirnya tanpa menunggu lama, sindy menuju alamat tersebut.Rumahnya sangat besar, membuat sindy sedikit ketakutan. Namun dibulatkan tekatnya, Sindy memasuki rumah itu mengetuknya pelan. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, seorang perempuan berusia sekitar 50 an membuka pintu itu. Pandanganya menaruh tanya, namun akhirnya mempersilahkan sindy masuk.

”maaf, ada keperluan apa ya?” tanya perempuan itu 

”maaf, apa anda mengenal andriana?” tanya sindy pelan.

perlahan mimik wajah perempuan itu berubah.

”apa sesuatu terjadi padanya?” tanya perempuan itu.

Sindy tidak menjawab, namun menyodorkan sebuah buku dan hp nya. Perempuan itu terkejut, namun ditenangkan hatinya agar suaranya tak bergetar.

”dia pernah mencariku, aku seorang psikolog. emhh namaku Amor” kata amor parau.

”dulu dia pernah berkonsultasi mengenai seseorang yg mempunyai kecenderungan melukai orang lain. 

Namun saya bilang saya tidak bisa mendiagnosa seseorang, hanya karna cerita, kalau boleh saya ingin bertemu denganya, kata saya waktu itu. Namun keesokanya dia datang lagi dengan beberapa memar di tubuhnya dan mengatakan kalau sebelumnya seseorang itu berlaku baik. 

Kalau mendengar ceritanya, saya pikir dia memiliki ciri” bipolar (seseorang yg memiliki kepribadian ganda) dan sedikit menduga kalau seseorang itu memiliki antisocial personal disorder (gangguan kepribadian anti sosial) yg dimana itu yg terdapat dari seorang psikopat. Namun saat itu saya hanya menduga, saya tidak tau jika sampai seperti ini ditambah korbannya bukan cuman satu”

“Lalu dokter bisa bantu saya?” tanya sindy memelas

“apa yg km mau?” tanya Amor

“saya ingin dokter memasukkan dia ke rumah sakit jiwa!”

Amor seperti mempertimbangkan 

“saya tidak janji, tapi saya usahakan, kalau boleh seseorang itu siapa?”

“Andre sandeward”

“Apa?” tanya Amor seperti tak asing

“Andre sandeward”

“Akan saya bantu. saya kenal siapa dia” kata amor menerawang. 

3 bulan setelah kejadian itu sindy pulang.

Hal pertama yg dia lakukan adalah menemui keluarga Andriana. Memang benar semuanya sudah terungkap, dan Andre sudah masuk ke rumah sakit jiwa. Namun rasa bersalah masih melekat di hati lisa saat tak bisa membawa jenazah Andriana 

keluarga pun sangat terpukul, terlebih Andriana adalah tulang punggung keluarga. Namun tetap saja dilakukan penguburan dan juga doa.

Dikuburkannya foto janin sandy dan juga foto andriana. Dikuburnya juga dalam” rasa benci kepada orang yg telah membunuh keduanya. Untunglah semua keluarga mengikhlaskan dan menyerahkan semuanya kepada yg di Atas. Nisan itu sendiri di beri nama Sandriana, nama dari janin dan ibunya.

Lalu samar” aku melihat sosok perempuan, wajahnya sangat cantik, bersih, dengan tersenyum menunjukkan bayi bermata biru di gendonganya. Aku lega, sangat lega namun sepertinya Lisa tidak.

Setiap malam dia mengirim pesan berisi makian, atau, selalu menceritakan tentang kepala yg ikut tidur bersamanya, rintihan bayi dan masih banyak lg. Tapi sekali lg aku tak mau tau salahnya yg terlibat dengan selalu mengirimkan terus menerus tki ilegal ke rumah Andre. Kalau saja Sindy bertahan lebih lama, sudah pasti dia akan jadi yg berikutnya.

kini sindy menutup kisah itu dalam” membuka lembaran baru dan terus mendoakan Andriana. 

“TAMAT”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *