RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Sebulan Terjebak di Istana Ular Gunung Manggar

Kisah nyata ini ditulis berdasarkan penuturan Mu’Arif, mantan pencari ular yang tinggal di desa Gayasan-Jenggawah, Jember, Jawa Timur.

Tanpa dia sadari dirinya tertidur di istana ular selama sebulan lamanya, pengalaman ini yang membuatnya berhenti bekerja sebagai pemburu ular.

Untuk kedua kalinya ban sepeda motor yang kunaiki bocor. Aku memaki-maki kendaraan ku tapi Sodik hanya diam dengan wajah tegangnya. Menyiratkan rasa takutnya

“Jangan Jangan ini isyarat, Rip”

“Isyarat apa dik?” Tanya ku kesal.

“Isyarat bahwa kita tidak boleh melanjutkan perjalanan ke gunung Manggar”. Jawabnya

Aku tahu maksud kalimatnya. Sejak semula dia memang enggan untuk menuruti ajakanku untuk berburu ular di Gunung Manggar, padahal hari-hari sebelumnya kalau aku ajak berburu ular di tempat lain Sodik selalu berantusias untuk ikut.

“Kamu takut? ganti aku yang bertanya. Sengaja aku bertanya seperti itu karena aku memang tau dia menyimpan perasaan takut. Rasa takut yang bagiku sama sekali tidak beralasan. Ya, Sodik takut pada cerita yang tersebar mulut ke mulut yang belum pasti kebenarannya itu.

Gunung Manggar yang membujur dari Timur ke Barat dari wilayah kecamatan Ambulu hingga kecamatan Wuluhan. Menurut cerita yang turun temurun, kawasan gunung ini sangat angker. Karena itu jarang ada orang yang berani menjelajahinya. Salah satu keangkerannya disebut bahwa konon di gunung ini ada sumber mata air yang disebut “Sukma Ilang”. Dinamakan demikian sebab sumber mata air itu dapat membuat korbannya lenyap dari muka bumi.

Ada juga tempat yang disebut Padang Kunir, yakni berupa tanah lapang yang hanya berisi tanaman kunir ( kunyit ). Menurut cerita, dipercaya sebagai gudangnya benda-benda pusaka. Lalu, ada juga yang disebut sebagai “Jati Werkuduro”, yakni pohon jati yang bila dilihat dari kejauhan menyerupai sosok Werkuduro dalam pewayangan. Disamping itu masih banyak lagi tempat-tempat angker lainnya. Tapi semua itu aku dengar hanya sebatas cerita. Karena belum ada kutemui orang yang telah membuktikannya, maka sampai detik ini aku belum mempercayai nya.

“Terus Terang, aku takut. Aku tidak mau hal yang tidak kita inginkan terjadi kepada kita di tempat yang kita tidak kenal sebelumnya.” Sodik mengungkapkan kekhawatirannya dengan suara parau.

“Maksudmu, Gunung Manggar ini tempat yang angker?” Ucapku mengejek.

“Terserah apa katamu. Tapi yang pasti aku tak mau melanjutkan perburuan ini!” Ucap Sodik tegas.

Melihat kemauannya tidak bisa dibelokan akupun mengalah. Kuberi dia uang untuk menambal ban dan kusuruh dia pulang. Sedang aku berjalan ke pangkalan ojek dan mencari kendaraan kesana. Ringkas cerita, tanpa disertai Sodik aku pun sampai di kaki Gunung Manggar. Ketika itu matahari tepat diatas kepala. Aku memperhatikan alam sekeliling tapi yang paling penting aku harus mencari jalan paling tepat untuk memulai perburuaan

Tentu saja jalan yang menurut instingku dilalui ular. Setelah itu aku melangkahkan kaki ke jalan yang diapit semak belukar, lebat. Tidak lupa aku pasang mata dan telinga mencari jejak jejak yang dilalui ular. Tapi begitu diikuti jejaknya selalu terputus dan hilang ditengah jalan Kemana perginya binatang binatang melata itu ?

Aku yakin disekitar tempatku berdiri banyak terdapat ular ular yang akan kuburu. Keyakinan ini muncul karena naluriku yang mengatakannya. Sebagai pemburu ular yang telah “bangkotan” biasanya insting ku tepat dalam menemukan binatang buruanku. Karena itu aku terus mempertajam lagi mata dan telinga, kususuri jalan sambil memperhatikan sekeliling. Setelah lelah berjalan dan tubuh ku basah dengan keringat,

Satu ular pun tak ada yang kujumpai. Untuk menghilangkan kekesalan kuhisap rokok sebatang. Aku beristirahat untuk mengembalikan tenaga pada saat itu juga aku merasa ada yang mengawasiku dari jauh.

Entah siapa dan Entah dimana? Namun perasaan ini kusingkirkan dan mulai kulanjutkan perburuan setelah capek ku mulai hilang dan rokok ditangan telah menjadi putung. Aku buang puntung ditanah sebelum kaki meneruskan langkah.

Sebagaimana yang telah kulakukan sebelumnya, kususuri jalan sambil memperhatikan sekeliling. Namun usahaku kali ini pun sia-sia. Ular ular laknat ini pun tak kunjung kutemukan. Tanpa terasa kekesalanku memuncak dan aku mengumpat tanpa tahu siapa yang kuumpat. Kekesalan itu br hilang sesaat kemudian.Karena berganti dengan rasa cemas dan takut. Bagaimana tidak! Ketika melihat kebawah aku menemukan puntung rokok yang telah kubuang saat istirahat tadi.

Berarti…? Selama ini langkah ku ini hanya berputar putar melewati tempat yang sama. Dalam kebingungan bercampur dengan rasa cemas dan takut kususuri langkah. Namun langkah ku tiba di tempat yang sama. Tempat putung rokok ku tergeletak di tanah. Disaat aku mulai kehabisan akal, barulah kulihat seorang lelaki tua tengah berjalan tidak jauh dari diriku. Aku berteriak memanggilnya namun ia tak kunjung menyahut ia tetap melanjutkan langkahnya yang tertatih tatih. Karena tidak merasa tidak diperhatikan aku pun berlari mengejar pria tua itu.

Lariku cukup kencang, namun anehnya aku tak dapat menyusulnya padahal ia berjalan dengan tertatih tatih. Ketika aku mulai kehabisan tenaga, barulah kakek itu menghentikan langkahnya. Tampaknya dia sengaja berhenti, agar aku tidak mendekatinya.

“Tolonglah saya, kek saya tersesat. Tolong antarkan saya turun menuju desa terdekat” pintaku saat berada dihadapannya

“Hari sudah sore. Besok saja kamu kuantar sekarang beristirahat lah digubuk ku” kata kakek dengan suara parau dan dalam.

Seperti terkena hipnotis aku tak kuasa untuk menolak ajakannya. Aku ikuti langkahnya yang tertatih tatih tanpa sedikitpun berbicara. Aku melangkah, terus melangkah mengikutinya. Tapi aku tidak tiba disebuah gubuk yang dijanjikannya melainkan sebuah bangunan istana yang megah.

Ya, istana yang megah, aku hampir tidak percaya dengan penglihatanku. Benarkah diatas gunung ada bangunan yang menyerupai istana?? Kalau saja kakek itu tidak mengajakku masuk kedalam aku pasti tidak percaya pada apa yang kulihat dan kalau kakek itu tidak menyuruh ku duduk di kursi tamu yang berukir indah, aku pasti lebih tidak percaya adanya bangunan yang pantas disebut istana.

“Kenapa kau datang kesini, anak muda? Apa yang kau cari disini? Tanya si kakek sambil berdiri.

“Saya sedang berburu ular” jawabku

“Mengapa hewan tak berdosa ingin kau buru?” Tanya si kakek lagi

“Untuk dijual lagi, kata orang daging ular bisa dibuat obat” kataku lagi.

“Biadab sekali ! Untuk menyembuhkan makhluk Allah yang sakit harus mengorbankan makhluk Allah yang lainya!”.

“Soal itu bukan urusan saya kek, saya hanya mencari nafkah untuk anak dan istri” kataku dengan suara gemetar.

“Apa tidak ada pekerjaan beradab yang lain selain menjadi pembunuh?” Kata kakek itu tajam dan dalam.

“Ma..af kek kalau pekerjaan saya kurang berkenan di hati kakek” jawab ku gemetar dengan perasaan takut yang tiba tiba datang

“Hentikanlah pekerjaanmu itu. Berdosa hukumnya menyiksa makhluk Tuhan apalagi sampai membunuhnya. “

“Saya akan berusaha kek” jawab ku sedih

Mendengar jawaban itu kakek di hadapanku tersenyum, meski senyumnya terkesan dingin.

“Sekarang berisitirahatlah. Kau pasti sudah lelah” ujarnya kemudian mengajak ku ke sebuah kamar yang luas dengan tempat tidur yang besar dan indah .

Sepeninggal si kakek, aku langsung merebahkan tubuh diatas tempat tidur yang empuk itu. Rasa lelah yang memenuhi pikiranku membuat pikiran ku tidak bekerja hingga tidak beberapa lama aku pun tertidur dengan pulas. Entah berapa lama aku terlelap, aku tidak tahu. Aku baru terbangun ketika mendengar suara tempat tidur yang dipukul dengan keras oleh seseorang. Dengan terkejut, aku seketika terbangun dan duduk diatas pembaringan.

“Sudah saatnya kamu pulang, ingat sebelum menyebrangi sungai jangan sesekali kamu mengajak orang berbicara “ pesan si kakek padaku.

“Sekarang duduklah dengan tenang dan tatap lampu yang menggantung diatas kepalamu itu” perintahnya lagi.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, aku ikuti perintah sikakek. Aku atur posisi sebaik mungkin kemudian aku tatap lampu kristal yang berkelap kelip diatas kepalaku. Lama kutatap lampu kristal itu, semakin lama semakin kabur pandanganku. Beberapa saat kemudian lampu itu lenyap dan berganti pemandangan yang membuat jantung ku berdebar. Karena lampu kristal yang kutatap selama ini adalah sepercik embun yang menempel diatas daun yang pohon nya itu tumbuh menjorok diatas jurang. Sedang tubuhku sendiri? Ya, Tuhan tubuhku duduk diatas batu besar, tpat dipinggir jrang yg dalam !

“Astaghfirullah!” Ucapku tanpa sadar.

Setelah itu, perlahan-lahan aku merangkak turun dr atas btu. Setelah melihat keadaan sekeliling, aku kemudian melangkak kaki ke jalan setapak Disaat berjalan dikiri kanan ku penuh dengan ular, ratusan hingga ribuan bulu kudukku meremang naik aku tak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya dan kualami skrg ini Aku memendam rasa takut yang amat dalam sambil terus melangkah, melangkah dan melangkah.

Entah sudah berapa lama aku melangkah, aku tak tahu pasti aku baru menghentikan kaki saat kulihat serombongan pencari kayu yang sedang melakukan pekerjaan mereka. Aku segera berlari menyusul mereka. Para pencari kayu itu pun terheran heran melihatku. Namun aku tak memperdulikannya karena tenggorokan ku kering aku meminta air kepada mereka. Mereka tidak menanggapi permintaan ku seolah olah aku dianggap tidak ada oleh mereka

Disaat itu juga aku baru teringat pesan si kakek untuk tidak berbica kepada orang sebelum menyebrangi sungai teringat pesan itu, aku meneruskan perjalanan ku hingga aku tiba di sebuah titian bambu yang aku pakai untuk menyebrangi sungai

Setelah menyebrang, tidak beberapa lama aku menemui seorang petani yang sedang mencangkul sawahnya. Aku pun meminta air kepada petani tersebut kali ini permintaan ku di tanggapi dan ia juga mengajak ku untuk makan makanan yang ia bawa dari rumahnya Ketika bersantap kuceritakan semuanya, cerita yang membuat petani itu terheran heran.

“Sudah berapa lama kejadian sejak berangkat mencari ular hingga saat ini?” Tanya nya kepada ku

“Baru kemarin. Aku hanya tinggal semalam di rumah kakek misterius itu” jawab ku

Lalu aku menyebutkan tanggal dan bulan pada waktu itu sembari mempertegas bahwa aku hanya tinggal 1 hari disana.

“Kamu salah, tanggal dan bulan yang kamu ceritakan itu bulan lalu udah lewat jadi kamu tinggal disana sudah 1 bulan” jawab nya serius

Satu bulan? Berarti aku telah meninggalkan anak istriku dirumah sudah satu bulan ??

Disaat petani itu menjelaskan keadaan sekarang disitu juga aku baru menyadari keadaan diriku yang dulunya berisi sekarang tinggal tulang yang terbungkus kulit

Apakah selama satu bulan itu aku tidur tanpa makan dan minum??? Yang pastinya setelah kejadian itu aku memutuskan untuk tidak berburu ular dan menjualnya.

Aku kapok!.

Thread By @War_Dogg7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *