RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Semalam Bersama Setan

Selamat pagi , disini saya akan menceritakan pengalaman pilu ketika mendaki di salh satu gunung terkenal di jawa timur, semua tulisan ini berdasarkan kisah nyata dan tidak ada sedikitpun yang saya kurangi atau tambahi, karena memang disini saya memang bukan penulis jadi bukan ahlinya untuk membuat tulisan hiperbola yang bertujuan untuk menarik pembaca.

Saya akan menuangkan cerita ini dengan sebagaimana adanya dan sebagai pembelajaran buat semua pendaki pemula agar lebih berhati hati dalam mendaki gunung karena mereka itu nyata.

Pagi itu memang beda dari biasanya karena perasaan kami amat senang dan penuh semangat karena kmi akn mendaki gunung yang sebelumnya belum pernah kami jelajahi, saya berdua dengan sahabat saya berangkat dg motor menuju lokasi yang berjarak kurang lebih 2 jm dari tmpat tnggal kami.

Tanpa di bekali pengetahuan apapun tentang gunung ini kami dengan polosnya mematangkan niat untuk muncak berharap ada banyak pendaki yang akan kita temui sepanjang pendakian jadi kita bisa mengikuti dari belakang sampai puncak.

Semua berubah drastis ketika sampai pintu utama pos pendakian suasana sepi, hening tidak ada satupun anak muda terlihat memanggul carrier nya, hanya terlihat beberapa aktivitas petani sekitar yang dengan ramah memberikan senyuman terhadap kami, sampai tempat parkirpun sepi tidak ada kendaraan satupun yang memarkirkan kendaraanya di sini mengingat ini adalah tempat parkir satu satunya dan ini adalah gunung terkenal sepertinya ada yang janggal kalau keadaanya seperti ini.

Tanpa fikir panjang dengan tetap optimis kami meninggalkan motor kami di sini dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jarak dari tempat registrasi pendaki ke pintu utama pendakian yang agak jauh membuat kami tidak sadar kalau loket pendaftaran sudah kami lewati

Tanpa mengetahui loket tutup karena gunung sedang memulihkan ekosistemnya, kami tetap berjalan hampir 2 jam sampai akhirnya kami menjumpai seseorang warga kampung yang menyuruh kita untuk kembali karena gunung sedang tutup.

Dengan penuh kekecewaan akhirnya kami kembali turun, karena terlanjur keluar rumah dan keadaan cuaca mendung kami memutuskan untuk bermalam di pinggir danau yang jaraknya tidak jauh dari tempat parkir motor, ya kecewa sih tapi daripada gak sama sekali lah mending camp disini aja sambil menikmati indahnya danau,. Danau ini memang agak tersembunyi dari jalan utama, hal itu yang membuat kami sebelumnya tidak sadar kalau disini ada danau yang bagus .

Singkat cerita akhirnya kami mendirikan tenda dan satu satunya tenda di malam itu. Tak jauh dari tenda kami ada sebuah bangunan joglo kecil yang terlihat tidak terawat membuat kami berfikir bisa digunakan sebagai plant B. Ketika hujan deras nanti,bisa berteduh di situ mengingat tenda kami bukan tenda bermerek yang mampu menahan derasnya hujan.

Waktu kami habiskan dengan bercerita tentang kekonyolan – kekonyolan kami waktu bersama kita sahabat dari kecil dadi tidak akan habis bahan cerita untuk menemni duduk ngobrol layaknya wanita. Waktu menunjukan pukul 7 malam kita baru sadar kalau kita tidak bawa lampu, kita tidak sewa di tempat rental alat camping maklum waktu itu pendakian belum se hits sekarang jadi belum faham kalau banyak rental persewaan alat camping.

Berbekal lampu dari korek api tidak mampu menerangi suasana malam itu yang ternyata berkabut pekat dan gerimis jarak pandang sangat terbatas membuat kami putuskan untuk tetap stay di dalam tenda. Hujan pun datang dan tidak lama diaertai suara orang ngobrol yang semula terdengar sayu makin lama makin sangat terdengar jelas membuat kami penasaran dan akhirnya mencari sumber suara yang ternyata berasal dari joglo yang tidak jauh dari tenda kami.

Meskipun tidak jelas terlihat tapi kami rasa ada seorang perempun paruh baya yang berbaju compang camping yang terlihat duduk ngobrol sendiri seolah olah membicarakan sesuatu hal yang penting kepada orang lain, padahal dia hanya duduk sendiri tanpa ada seorang pun disamping nya.

Suasana yang semula tenang berubah perlahan lahan mencekam karena suara wanita tersebut semakin nyaring yang sesekali tertawa terbahak bahak membuat perasaan kami tak karuan, hujan semakin deras dan tenda kami pun terguyur tembus sampai dalam bekal logistik tas sampai tikar alas kami menjadi basah kuyup dan tidak bisa di buat istirahat karena suhu yang terlalu dingin sepertinya akan membuat kami susah tidur jika terus dalam keadaan seperti ini.

Suara wanita tadi sayup sayup mulai tidak terdengar karena badan sudah menggigil kami beranikan diri untuk melihat ke luar nampak wanita itu sedang menata kayu bakar di tengah derasnya hujan. Tanpa fikir panjang kami langsung menghampiri ibu2 tersebut dan membantu nya , fikiran agak tenang ketika tau kalau ibu2 tersebut bukan makhluk halus seperti dugaan kami sebelumnya.

Wanita itu menanggapi omongan kami dengan santun dan berbahasa jawa halus ketika kami melontarkan beberapa pertanyaan, memang terkadang dia senyum senyum sendiri seakan ada orang lagi disamping nya padahal Cuma kami ,membuat saya berfikir orang ini kurang waras sedikit banget ya.

Api pun menyala dan obrolan kami mulai berkurang karena wanita tersebut lebih banyak diam dan ngomong dengan entah siapa seolah kami tidak terlalu dihiraukan dan kami tidak terlalu mengerty dengan tutur bahasa yang terlalu Jawa.

Hujan tidak kunjung reda dan rasa tidak nyaman kami disamping wanita ini saya sepakat untuk kembali ke tenda meski tenda sudah basah luar dalam kami tetap putuskan untuk didalam tenda, suara wanita tersebut ngobrol dengan entah siapa seakan menemani malam kami yang seolah semakin panjang karena suasana terasa mencekam dengan derasnya hujan dan kabut tebal membuat kami tidak bisa melihat apapun yang terjadi di luar tenda.

Hawa dingin mulai menusuk tulang kepala sudah mulai pening jari jari bergetar semua basah tidak ada apapun yang bisa menghangatkan kami, detik detik kami lalui dengan perasaan gak karuan waktu berputar terasa sangat lama membuat kami tersiksa malam itu.

Moment ini saya teringat jelas begitu lamanya malam itu berlalu, satu sarung kami masuki berdua agar badan kami hangat suara music dari speaker kecil tidak mampu melawan suara derasnya hujan. Serta lampu dari korek api yang terayun ayun di atap tenda membuat fikiran saya kemana mana seolah olah ini malam terakhir saya, ditambah suara wanita yang sesekali terdengar tertawa terbahak bahak.

Suasana semakin mencekam ketika diluar tenda kami trasa ada seseorang yang mengitari tanpa henti, suara tapak kaki yang diseret perlahan serta bayangan orang tinggi besar berputar putar terlihat smbil memegang tenda kami membuat saya seolah berhenti bernafas dan tdk bisa bergrak.

Fikiran kami mulai kacau emosi serta tubuh mulai lelah membuat kami berteriak dan keluar tenda untuk mencoba menghentikan gangguan itu.

“ ojo ganggu aku,aku gak ngganggu kamu, tolong aku kesini gak ono maksud opo opo tolong ojo ganggu aku “

Tolooongg. Toloonggg

Betapa kagetnya ternyata diluar tidak ada seorang pun di dekat tenda kami berbekal senter kami coba cari memang tidak ada Cuma terlihat wanita tadi tetap sibuk ngobrol sendiri. Kejadian itu berulang kali terus menerus ketika saya keluarpun tidak ada orang sama sekali Cuma ada wanita di joglo yang tersenyum aneh tiap kami keluar mondar mandir mencari siapa yang usil dengan tenda kami.

Kami berfikir jelas wanita paruh baya itu yang menganggu kami, dan ternyata tuduhan kami salah saat terdengar suara wanita itu sedang tertawa jauh saat itu pula makhluk halus ini mengitari tenda kami sambil mengeluarkan suara bergumam suara khas orang yang sudah sangat tua.

Busset dah perasaan kami waktu itu semua doa kami panjatkan hujan semakin deras dan gangguan semakin nyata tenda kami seolah mau dirobohkan kami berteriak minta tolong tidak ada yang mendengar. Rasa mengigilpun sudah tidak terasa padahal waktu itu sekitar pukul 2 pagi. Tenda di oyak ayik entah siap itu kami tidak berani memastikan nya Cuma terlihat bayangan dari lampu senter korek api, bertubuh besar dan tinggi sesekali mengeluarkan suara yang seolah olah meyuruh kami untuk pergi dari tempat itu.

Gangguan mulai hilang bersama hujan yang mulai reda yang akhirnya membuat kami mengintip keadaan diluar tenda yang ternyata sudah mulai terlihat sekeliling karena kabut mulai memudar,kami tetap di dalam tenda. Hingga kami yakin matahari sudah menyinari tenda kami lalu kami keluar dengan perasaan penuh syukur yang luar biasa, karena tidak terjadi apa apa kepada kami.

Setelah sarapan dengan fikiran yang masih kacau kami putuskan untuk segera meninggalkan tempat itu dan menjadikan nya pengalaman yang sangat berarti dalam hidup kami,.

Sebelumnya sih sering ya kalau di gunung lain saya merasa ada yang memeperhatikan saya, ada suara minta tolong dan akhirnya tidak ada, ada yang mengucapkan salam di dekat banget tapi tidak ada wujudnya itu sering saya alami dan saya anggap itu bumbu dari suatu pendakian.

Tapi kalau pengalaman di danau ini yang paling tidak bisa saya lupakan,pengalaman paling mengerikan selama saya hobby di dunia pendakian terlepas dari itu semua hendaknya kita hormati adat istiadat dmanapun kita berada jaga sopan santun karena mereka itu ada dan mereka itu nyata.

Terimakasih semoga tulisan saya ini menjadikan pelajaran buat temen temen saran saya jangan sekali kali mendaki jika di gunung tersebut tidak ada pendaki lain karena di tiap tempat resiko selalu ada.

Terimakasih selamat pagi

Salam pendaki lawas

Thread By @Lakonstory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *