RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Sumiyati

Tak ada yang tau, tak ada yang mau tau, dan tak ada yg membiarkanmu keluar hidup” dengan membawa rahasia besar “bungkam”

Diana mengemas barangnya cepat, melihat matahari yang semakin meninggi dan mobil yang sudah terparkir rapi di depan asrama.

“Diana cepetannn, udah di tunggu, mobilnya sudah datang” kata Nina kesal.

Diana pun tak kalah kesalnya, keberangkatan yang di janjikan besok mendadak dimajukan tanpa sepengetahuanya. Diana memasukkan helai baju terahirnya sebelum ahirnya menutup resleting tas, lalu menentengnya menuju mobil .Sesudah menaruh tas di bagasi mobil, Diana kembali masuk ke ruang tamu, menunggu suster merry datang. Saat suster merry datang Diana, Nina, dan Susan mendekat, tak banyak yang suster merry katakan, hanya dua kalimat.

“Kalian datang sebagai tamu, pastikan atitude dan tatakrama di junjung tinggi, yang sopan”

“Disana desa terpencil jangan samakan dengan jakarta. Disana segala sesuatu lebih sensitif, yg hati-hati”

Dua wejangan dari suster merry masih terdengar segar. Saat sopir mulai menjalankan mobilnya menjauhi asrama. Sebenarnya jika bisa memilih Diana lebih suka di tugaskan di desa, tempatnya di tugaskan tahun kemarin, selain desanya yang padat penduduk, sinyal dan listrik juga lancar, begitupun saat membutuhkan barang

“Eh katanya desa yang akan kita datangi itu berbau mistis” kata Nina sambil memegang bahunya

“Bukan lagi, bahkan julukan untuk desa itu pun, desa tak kasat mata. Barang siapa berniat jahat sama warga desa itu, desa itu gak akan kelihatan. Dan barang siapa yang tetep nekat kesana dengan niat jahat, gak akan bisa pulang! Di sesatin di hutan itu dan hilang”. Nina yang mendengar perkataan Susan menyiratkan ekspresi takutnya dengan kening yang berkerut. Sedangkan Diana sedari tadi hanya diam. Wajahnya terus mengamati sepanjang jalan yang mulai menjauh dari kota jakarta.

Perjalanan yang ditempuh rumayan panjang sekitar dua hari dua malam, itupun jika tidak macet dan berjalan sesuai rencana. Siang berganti malam, membuat mereka berhenti sejenak pada sebuah penginapan. Penginapanya tua, dari luar terlihat mengerikan namun nyaman. Mengingat satu kamar hanya diisi berdua, akhirnya Diana mengalah

“Yaudah gpp, kalian tidur berdua saja. Aku sendiri”

Nina dan Susan mengangguk paham lalu masuk ke kamar sebelah, begitupun Diana. Diana merebahkan dirinya di kasur, setelah membersihkan diri, kembali teringat malam sebelum keberangkatanya. Diana merogoh sebuah kotak kayu yang bertuliskan aksara jawa. Kotak yang di berikan suster merry kepadanya.

“Untuk berjaga-jaga” katanya.

Sebagai seseorang yang tidak percaya hal mistis, kotak itu dimasukkan nya lagi ke dalam tas, tanpa pernah dibuka. Dari awal suster merry memberikanya pada Dianapun, Diana sama sekali tidak tertarik. Baginya sesuatu seperti jimat bukanya melindungi tapi malah mengundang. Namun tetap dibawanya kotak itu hanya supaya suster merry tidak tersunggung.

Ada satu hal yang membuat Diana tak suka kepada suster merry, sikapnya yang dingin seperti tidak memiliki ekspresi, juga sikap suster merry yg tidak suka di bantah. Namun apa jadinya jika tidak ada suster merry, Diana yg seorang yatim piatu tak mungkin bisa menjadi bidan. Begitupun Susan dan Nina, tidak akan bisa menjadi ahli Gizi dan seorang perawat. Diana, Susan dan Nina, adalah anak dari panti asuhan berbeda, mereka di pilih, di didik, dan di asuh untuk mengabdikan diri pada rumah sakit tertua di jakarta. Itulah alasanya, mau mereka di tugaskan di pinggir jurang sekalipun, mereka tidak akan bisa menolak.

Keesokan paginya, Diana, Susan dan Nina kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang tadinya ramai berubah menjadi sepi. Di sepanjang jalan pun tak ada kios ataupun toko. Yang terdapat di sepanjang jalab hanyalah pohon” besar yang menjulang tinggi, dan rantingnya menutup pandangan saat orang menengadah ke langit. Membuat hari yang masih sore terlihat lebih gelap. Jalan yang tadinya mulus berganti dengan jalan berbatu, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 19:14. Pada jam delapan mobil berhenti di suatu rumah kayu.

“Neng semua tidur disini malam ini, besok baru neng semua diantar untuk masuk ke desa itu. Desanya ada di balik bukit itu”

Diana memandang arah tangan Mang Yayan yang menunjuk pada sebuah bukit.

“Itu mah gunung atuh Mang” kata Susan

“Mau itu gunung atau bukit, yang pasti desanya ada di baliknya Neng. Istirahat yang cukup besok pagi buta Neng semuanya diantar kesana. Biar sampe sana gak kemaleman” kata Mang Yayan dengan mimik muka serius

“Emangnya kalau kemaleman kenapa mang?” Tanya Susan penasaran.

Mang Yayan mengernyitkan dahi sebelum akhirnya menjawab.

“Kalau kemaleman desanya ga keliatan” kata mang yayan setengah melotot.

“Kan pake senter Mang” kata Diana acuh.

Mang Yayan hanya menggelengkan kepala menanggapi perkataan Diana.

“Neng jangan kebanyakan ngelamun” kata Mang Yayan menyentuh bahu Nina.

Diana baru sadar jika sedari tadi Nina hanya diam tak bersuara. 

“Ehhm iya Mang” kata Nina pelan.

“Kamu kenapa Na? Gaenak badan?” Tanya Susan kawatir

“Iya rasanya aku masuk angin San” kata Nina sembari memegang perutnya.

“Yaudah ayuk masuk, istirahat. Kita masuk dulu ya Mang?” Kata Diana

“Mangga” kata mang yayan.

Setelah menurunkan semua barang mang yayan pamit. Meninggalkan Diana, Nina dan Susan di ambang pintu rumah. Diana mengetuk pintu beberapa kali, sampai akhirnya pintu terbuka, menampakkan seorang perempuan paruh baya. Perempuan itu betubuh ringkih, dengan rambut disanggul dan mengenakan kebaya.

“Mangga Neng” kata perempuan itu halus, membawa Diana dan yang lain pada tikar yang di tengahnya sudah terdapat 4 teh panas. Setelah duduk diana memberanikan diri bertanya.

“Habis ada tamu buk?” Tanya diana

“Kalian tamunya” kata perempuan itu

Diana mengernyitkan dahinya.

“Kok pas sekali teh nya sudah di sediakan” kata diana melihat teh yang pasih mengepul.

Perempuan itu tersenyum simpul, namun tak ada kerut di sudut matanya. Matanya pun kosong.

“Saya sudah tau kapan kalian akan datang, saya juga tau kalau teman kalian ini sedang gak enak badan” katanya masih dengan semyum itu

“Nama saya Lasmini”

Kerut masih jelas di dahi diana, namun di singkirkanya setumpuk tanya di kepalanya.

“Saya Diana, ini Susan, dan yg gaenak badan itu namanya Nina”

Lasmini mengangguk

“Diminum, mumpung masih panas” 

Susan menatap Diana, mungkin sama bingungnya dengan Diana. Namun karna tak enak hati Diana mengambil teh itu lalu meminumnya. Diikuti Susan, lalu Nina. Tak ada yang aneh dari teh itu. Sama saja dengan teh” yang lain. Setelah meneguk teh, Diana dan yang lain di antar ke tempat tudur.

“Mbk Diana” panggil Lasmini

“Iya?”

“Saya cuman mau pesan, waktu besok kalian di hutan, jika ada yg manggil jangan pernah dijawab”

“Maksudnya gumana buk?”

Bukanya menjawab, setelah mengatakan hal itu Lasmini pergi begitu saja. Diana yang tadinya hanya bertanya” kini menjadi semakin penasaran.

Dari tragedi teh, lalu jangan menjawab saat di panggil. Walau di fikirkan berkali” Maksud dari perkataan Lasmini masih sukar di mengerti oleh Diana

Ayam berkokok, bising sekali. Diana mengucek matanya agar lekas terjaga, dibangunkanya juga Susan yang memunggungi Diana.

“San bangun”

Susan mengerjap” matanya.

“Nina mana??” Tanya Diana 

“Lho tidur nya kan di sebelah km” kata susan parau.

“Lohhh trus dimana, di kamar cuma kita berdua loh” kata Diana bingung

“Halah palingan pipis”

“Nina itu penakut, gk mungkin pipis tanpa ngebangunin salah satu diantara kita”

“Tauk ah, dia juga bukan bocah lagi”

Diana bangun dari tempat tidur, perasaan tadi ayam sudah berkokok tp masih gelap. Diana menuju ruangan dengan tungku yang menyala. Sedanglan Nina duduk di depan seperti sedang menghangatkan diri.

“Gimana nduk? Gimana rasanya pulang?”

Diana mengernyitkan dahi tak mengerti apa yg dikatakan Nina.

“Km ngomong apa sih Na?”

Tok tok tok tok tok

“Nenggg, Nenggg”

Diana memandang ke arah suara, sampai saat Diana kembali memandang ke arah tungku,

“Semua ini gara-gara kmmmmm, mati km  i”

“Aaaaaaaa”

Diana berlari berbarengan dengan pintu yang sudah dibuka oleh Susan.

Kepala desa dan Susan memandang Diana dengan tatapan bingung.

“Hah hah hah hah hah” nafas diana masih memburu. Masih terdengar samar” yang diucapkan, entah oleh siapa.

“Kenapa Neng?” Tanya kepala desa bingung

“Iya km kenapa? Bukanya tadi lg nyari Nina?”

Diana tak menjawabb tak percaya dengan apa yg dia alami barusan

“Maaf saya potong sebentar. Tadi saya nemuin cewek, pake baju tidur warna pink lg jalan, ditanyain gak jawab. Linglung” kata pak kades.

“Loh dia rambutnya panjang lurus gak pak?” Tanya Susan kawatir

“Gk tau pastinya neng, mari ke rumah warga yg nemuin”

“Nina di dapur, tp dia aneh” kata diana memegang lehernya.

“Aneh gimana maksud km?” Tanya Susan bingung.

“Dia ngomong yang aku gak ngerti” kata Diana ngeri.

“Mari kita coba liat” kata pak kades beranjak dari tempat duduk.

Setelah di cek, tak ada siapapun di dapur.

“Tadi dia disini pak” kata Diana meyakinkan.

“Sudah, mari kita cek ke rumah warga. Siapa tau yg di temukan tadi temen kalian”

Akhirnya Susan dan Nina setuju, dan mengikuti pak kades ke warga yg di maksud.  

Diana dan Susan bergegas mengikuti pak kades. Matahari sudah nampak saat mereka sampai di rumah warga.

“Mana perempuan yg km temukan tadi?” tanya Pak Kades tanpa banyak pertanyaan lelaki tua itu masuk ke dalam. Setelah beberapa saat, dibawanya perempuan dengan tatapan kosong.

“Naaa” kata Susan sembari mendekati Nina.

“Temanmu ini saya temukan jalan dengan kaki telanjang. pas saya tanya juga ga jawab”

Diana menatap Nina dengan tatapan ngeri. Masih teringat jelas kengerian tadi.

“Lalu gimana pak? kita harus sampai di desa sebelum pagi, kalau bisa di tunda bagus. Tapi bagaimana cara menunda? sedangkan sinyal saja tidak ada” kata Susan

“Jelas tidak bisa di tunda. Saya saja untuk meyakinkan warga sudah susah. Bagaimana kalau sampai di tunda” kata Pak Kades

“Susah gimana pak?” tanya Diana

“Mereka lebih percaya sama dukun daripada dengan tenaga medis” jawab Pak Kades

“Mending njenengan bawa saja ke Ndoho, siapa tau bisa di tangani dengan cepat. matahari semakin tinggi Pak Kades. Bahaya buat mereka kalau sampai kemalaman” kata lelaki tua itu khawatir.

“Baik begini saja. kita ke Pak Ndoho, kita tanya bagaimana baiknya” kata pak kades

“Siapa pak ndoho?” tanya Susan

“Sudah kalian ikut saja, susah menjelaskan pada kalian yang tidak percaya”

Susan menurut, Diana pun sama. Tak ada lagi pertanyaan yang diajukan oleh mereka. Dirangkulnya Nina untuk menemui orang tersebut. Diana mengerutkan keningnya saat pak kades keluar dari jalan setapak. menembus rerumputan yang tingginya sampai ke dada.

“Di? kok gak lewat jalan setapak?” tanya Susan

“Mungkin jalan pintas” jawab Diana mencoba berfikir jernih.

Diana memandang lelaki tua yg merangkul Nina. Tatapanya bertemu dengan tatapan Nina yang sedari tadi melihat ke arahnya sembari menyeringai.

“San? Apa bener Nina dari tadi ngeliatin aku?” tanya Diana merinding

“Engga kok” kata Susan melihat ke arah Nina.

“Tapi dia lagi ngeliatin aku San” kata Diana memandang ke arah Nina

Susan tak menanggapi Diana. tetap fokus ke punggung Pak Kades agar tidak ketinggalan melihat rumput semakin panjang,. Pak kades berhenti pada rumah panggung dari kayu. rumahnya benar” terpencil. sama sekali tak ada tetangga, dan di sekelilingnya ditumbuhi bambu kuning. Dengan pohon beringin tepat di belakang rumah itu.

“Astaga”

Kata Diana memikirkan siapa gerangan orang yang mau tinggal di rumah itu? daripada rumah, itu lebih terlihat seperti sarang setan.

“Pak.. Pak Ndoho? Pak….” teriak Pak Kades dari bawah rumah.

drtttttttttttt….. Suara derit pintu membuat semua mata terfokus pada rumah tersebut. Dari dalam keluar seseorang dengan baju serba hitam dengan udeng di kepalanya. Raut wajahnya seperti terkejut saat melihat ke arah Diana, namun segera di singkirkanya raut wajah tersebut. 

“Onok opo?” (Ada apa?)

“Tulungen wadon iku, dekne linglung aku gak iso nangani”

(tolong perempuan itu, dia linglung saya gak bisa nangani)

Pak Ndoho manggut” mengamati Nina, sebelum akhirnya menyuruh masuk.Dari dalam saja bau dupa sudah sangat menyengat. Mengingatkan Diana pada bau kamar suster merry.

“lenggah” (duduk)

Semua menurut. duduk bersila berhadap”an dengan Pak Ndoho .Namun ada hal yang membuat Diana sedari tadi risih. Perasaan yang linglung itu Nina, namun sedari tadi tatapan Pak Ndoho berfokus pada Diana.

“Gimana Sum rasanya pulang?” kata Pak Ndoho

“Maksudnya gimana ya pak? saya Diana”

Pak Ndoho menatap Diana lekat. namun tak melanjutkan kata”nya

“Ndoho, ojok bertele” bocah” iki kudu teko nang deso saurunge wengi” (Ndoho jangan bertele” anak” harus sudah wampai ke desa sebelum malam)

“anak perempuan ini cuman wadah. Badanya lemah jadi gampang buat dimasukin. kalian sudah ketemu Lasmini?”

“Sudah Pak” kasa Susan” 

Pak kades dan lelaki tua itu menatap kaget ke arah Susan yang menjawab tanpa beban.

“Lasmini?” tanya Pak Kades ke Pak Ndoho.

“Sepertinya dia datang untuk memperingatkan, seperti 20 tahun silam” kata Pak Ndoho menatap Pak Kades dengan tatapan penuh arti.

“Mokal awakmu” (Bohong kamu) kata Pak Kades dengan tatapan tak percaya.

“Bocah iku muleh Kades! muter kedaden 20 tahun kepungkur. bocah linglung kui mong wadah. Kabeh bakal kedaden maneh”

(Anak itu pulang Kades! kembali ke kejadian 20 tahun silam. anak linglung itu hanya wadah. semua akan terjadi kembali)

Kata Ndoho dengan wajah prihatin. Diana tidak mengerti tentang apa yang di bicarakan Susan pun sama.

Yang bisa Diana Tangkap adalah pernah ada kejadian besar 20 yg lalu, dan ada hubunganya dengan Lasmini.

“Gelem ora gelem. bocah iki udu rono” (Mau tidak mau anak ini harus kesana. kata Pak Kades manta.

“Hahaha Kades-Kades, ra berubah” kata Pak Ndoho.

Namun paham dengan perintah pak kades, Pak Ndoho menyuruh lelaki tua itu untuk mendekatkan Nina. Dipegangnya kepala Nina dengan bibir yang yang terus bergerak, seperti tengah melafalkan mantra.

“harghhhhhhh asu anak kirek arep dolanan karo aku hah?”

Nina meracau dengan intonasi tinggi. namun bahasanya sama sekali tak dimengerti oleh Diana.

“Metuo teko bocah iki. bocah iki ora salah! lak ancen teko wayahmu, aku ora arep melu andil” (keluar dari anak ini. anak ini gak salah. Jika datang bagianmu saya tidak akan ikut campur) kata Ndoho dengan tegas.

“Tak cekel omonganmu” (saya pegang kata-katamu)

Setelah beberapa percakapan, akhirnya Nina lunglai. Entah apa yang sudah terjadi padanya semuanya diluar nalar. 

“Kenapa? khawatir sama temanmu?” tanya Pak Ndoho tajam pada Diana.

“Dia kan teman saya Pak, wajar jika saya khawatir” jawab Diana bingung

“yang harus kamu khawatirkan itu diri kamu sendiri. Kalau sampe terjadi sesuatu sama km. Satu desa gak ada yg bisa bantu” kata Ndoho 

Diana mengernyitkan dahinya, bingung dengan yang barusan Pak Ndoho katakan.

“Ngene ae Kades, bocah loro iku budalno disek. bocah iki ben tak terne sesok isuk” kata Ndoho mencari jalan tengah.

Pak Kades seperti menimang-nimang usulan yang diajukan Ndoho.

“Gpp pak, besok kita cuman pengenalan proker kita, jadi gak masalah jika Nina menyusul. Yg penting ada saya dan Diana untuk mewakilkan” kata Susan

Setelah mendengar pernyataan Susan akhirnya pak kades pun setuju. Mereka semua berpamitan, meninggalkan Nina di rumah Ndoho.

“Pak sebenarnya siapa Lasmini?” tanya Diana setelah jauh dari Rumah.

“saya tidak bisa menjelaskan. hanya saja seharusnya kamu tidak pernah bertemu dia. dan saya berharap itu terjadi. Sayangnya dia menemuimu, dan saya tidak bisa berbuat banyak” kata Pak Kades dengan tatapan datar.

“Maksudnya pak?” tanya Diana

“Nanti sesampainya di rumah, langsung kemasi barang kalian cepat dan langsung berangkat saat semua siap. Nanti akan ada dua orang yang mengantar kalian. jangan bertele2 jika tidak mau kemalaman” kata Pak kades

Entah mengapa semenjak kedatangan untuk menemui Pak Ndoho, Pak kades mendadak dingin, sangat dingin malah. Bahkan pertanyaan Diana pun sengaja dihindari.

Diana dan susan sudah siap dengan carier yang mereka sandarkan pada kursi depan rumah, saat dua orang laki” seusia mereka dan laki” tua yang tadi mengantar mereka sampai di teras dengan di dampingi pak kades. Tatapanya lebih bersahabat ketimbang raut wajah pak kades, dan laki” tua, yang sedari tadi muram.

“ayo Mbak, mari kita antar saya Dimas”

“Saya Susan ini Diana teman saya” jawab Susan Ramah

“Pak maaf dari tadi kita belum saling kenal, bpk namanya siapa?” tanya Susan sembari mengulurkan tangan

“Saya Usman” jawab lelaki tua, menyambut uluran tangan.

“ini senter. Sudah dipastikan kalian sampe di tengah hutan malam. Jadi jangan sekali” kalian memisahkan diri. Jangan aneh” pantangan” yang lain biar Pak Usman yg menjelaskan” kata pak kades mengulurkan 2 buah senter.

Setelah semua dirasa siap. Diana dan susan berangkat. Jalan yang mereka perkirakan, jalan setapak ternyata salah besar. berkali” Pak Usman menggerakkan celuritnya lincah untuk memangkas setia rumput yang menjulang tinggi.

“Gilak ini mah kalau kita di tinggal, kita gak akan ngerti jalan balik Di” kata Susan melihat hutan yg benar” seperti tidak pernah di jamah orang.

Bagaimana tidak? Pak usman saja harus membuat jalan. Menandakan desa sebelah pun tak pernah kesana. Seperti yang sudah diperkirakan mereka sampai ke tengah hutan dengan keadaan langit sudah gelap. Pak usman memutuskan untuk istirahat sejenak.

“Di kebelet pipis” kata Susan memelas

“Gila kamu, keadaan kaya gini masih sempet kebelet pipis” kata Diana kesal

“Di pleaseeee” bujuk Susan

“Duhhh yaudah iya”

Setelah di ijinkan akhirnya dengan berat hati Diana menjauh sedikit dari Pak usaman, dan Dimas. Susan masuk ke semak” sedikit menjauh dari Diana. Posisinya yang jongkok membuat badanya membaur dengan rumput.

“AAA”

Mendengar teriakan dari sekitar posisi susan pipis. Sontak Diana panik dan masuk diantara semak” mencari sumber suara takut jika Susan digigit ular.

“Saannn sannn” teriak Diana sembari mengarahkan senter ke sekitar

“Diana di sini”

Diana mengikuti sumber suara yang semakin lama membawanya semakin masuk ke semak” namun semakin diikuti suara itu semakin menjauh.

“Dianaaaaaaa heyyy aku disini. heyyyy” panggil Susan panik melihat diana yang semakin masuk ke semak”

“Susan?” Diana berbalik dan mendapati lampu senter yg mengarah ke arahnya

“Gak mungkin, aku udah sejauh ini. kalau Susan disana terus yg manggil?”

“Sum? pye rasane muleh?”

Jantung diana beregup kencang. mendapati suara yang begitu dekat tepat di telinganya, nafasnya memburu. Untuk beberapa saat tubuhnya kaku tak bisa bergerak.

“Dianaaaaaa” teriak Susan.

Teriakan itu membuat Diana tersadar. kembali lagi di ingatan diana pesan Lasmini kepadanya “Kalau ada yang memanggil jangan menjawab”

Diana tak menghiraukan suara itu walau ketakutanya sangat nyata. Mencoba fokus kepada arah sinar senter milik Susan.

“Hihihi takut ya” suara anak kecil seperti tepat di bawahnya

“Summmm hahaha” suara besar tepat di telinga kananya. Suara demi suara membuat Diana ingin menangis saat itu juga, karena bukan hanya satu. Melainkan banyak sekali suara di sekitarnya yang membuatnya bergidik ngeri. Namun sekuat tenaga tak di hiraukan. saat sinar senter itu sudah semakin dekat. Sebuah tangan menarik pundaknya.

“Meh teko jatahmu” (hampir tiba giliranmu)

Suara terakhir membuat Diana menepiskan tangan itu dari lengannya, setelahnya sekuat tenaga ia lari sampai pada lampu senter dan terduduk lemas.

“Diiiiii, Diana?” panggil Susan sembari mengguncang”kan badan Diana.

Diana mendengar panggilan susan namun semua badanya masih bergetar, dan mulutnya terlalu kelu untuk sekedar menjawab.

“Biyayak an. wes diomongi ojo adoh-adoh malah turut jlundengan” (ceroboh, sudah di bilang jangan jauh-jauh malah sampe ke perosok) Kata pak usman dengan intonasi tinggi.

“Maaf pak, tapi saya gak paham Pak Usman bilang apa” kata Susan menuduk.

“Opo to pak? bocah keweden og malah di getak” (Apa sih pak? orang ketakutan kok malah di bentak” jawab Dimas sembari membantu Diana berdiri

“Kita lanjutkan perjalanan, jangan ada lagi yg mau pipis dan sebagainya. Kalau kalian bergegas sebelum tengah malam kita sudah bisa sampai desa” kata Pak Usman enggan mengulang kata”nya bergegas mendahului Susan dan Dimas yang membopong Diana.Dan benar saja sebelum tengah malam, walau berjalan pelan. Susan, Diana dan yang lain sudah sampai di gerbang desa dengan selamat.

“Desa rawa teluh” Tertulis di gapura bagian depan.

Diana berjalan paling akhir saat memasuki desa tersebut, mengumpulkan hal” yang mengganjal sepanjang perjalananya kesini.

Semenjak mang Yayan mengantar mereka ke desa ini semua seakan menyudutkan nya. Lasmini yang memperingatinya, Nina yang mengatakan hal aneh dan menatapnya tajam. Orang” yang terus menganggapnya sebagai orang lain dan mendadak dingin setelah mengunjungi Pak Ndoho.

“Sum? siapa sum?” tanya diana dalam hati.

“Kenapa aku yang disuruh hati-hati oleh Pak Ndoho? Kenapa harus aku yg menunggu giliran?” Semua pertanyaan itu bergumul tak kunjung menemukan jawaban.

Mata Susan menyapu sepanjang jalan yang gelap, mencoba mengingat setiap jalan yang dilewati. Dibandingkan memikirkan kejadian” ganjal Susan lebih memilih mengamati keadaan.

Sampai akhirnya mereka berhenti tepat di sebuah rumah kayu. Rumahnya sangat besar, dan terkesan seperti aula desa. Namun terkesan sangat kuno jika dibanding desa” yang Susan dan Diana pernah tinggali.

“Dulu ini rumah sesepuh desa, setelah orangnya meninggal, ini dijadikan tempat tinggal untuk tamu” kata Usman singkat

“Jadi sempet ada yang datang pak?” Tanya Susan

“Kalian yg pertama” kata Dimas yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Usman.

“Tidak penting siapa yg pernah tinggal disini atau tidak pernah ditinggali sekalipun, selama ada tempat berteduh saya rasa itu sudah cukup” 

Susan merasa Pak Usman sedang menyembunyikan sesuatu, namun Susan sendiri enggan menanyakan.

“Pesan saya, di sini orangnya sangat tertutup dan sangat sensitif. Mohon untuk menjaga tutur kata dan sopan santun, dengan begitu kalian datang dengan selamat, pulang pun utuh” 

Setelah mengatakan itu Pak Usman merogoh sesuatu di bawah keset dan setelah mendapatkanya, Pak usman bergerak ke arah pintu, dan di pergunakanya barang itu tadi untuk membuka pintu.

 “Emang ga bahaya pak? kalau kuncinya di taruh di bawah keset? rumah sebesar ini apa gak takut kemalingan?” tanya Susan penasaran

“Hah, nyuri saja kalau mau. Tapi jangan berharap bisa pulang utuh. Kalau ga bagian tubuh kalian yg jadi ganti, ya separuh waras kalian yg diambil” 

Kata Usman mencoba menahan tawanya, yang membuat Susan semakin yakin ini bukan saja tidak beres namun juga membahayakan.

“mbak, suts” kata Dimas di belakang Susan, membuat Susan menoleh ke arahnya.

“Apa?” tanya Susan dengan suara yg sangat kecil

Dimas tak menjawab, namun setelah menjajarkan langkah kaki dia menyelipkan selembar kertas pada Susan, yang langsung di genggam dan dimasukkan ke saku celana.

“Jadi di bawah ini adalah aula, dapur terpisah tepat di belakang, dekat dengan kamar mandi. Sedang kamar kalian berada di lantai ke dua” kata Usman sembari menunjuk ke arah yg di maksud.

“Jadi penjelasan prokes besok di bawah ini pak?” tanya Susan

“Betul, besok kalian bertemu dengan Pak Kades di desa ini, beliau yg akan menjelaskan lebih banyak”

Susan mengangguk paham, dan setelah Pak Usman dan dimas pamit pulang. Susan dan Diana pun naik ke lantai atas, mengingat besok mereka akan menjelaskan proker ke warga desa pagi-pagi sekali.

“Lo ngrasa ada yang aneh gak sih?” tanya Diana yg sedari tadi diam

“Udah kita fokus aja untuk pengenalan proker besok” jawab Susan sembari menaiki tangga yang terbuat dari kayu.

drttt drtttt drtttt

Suara itu terasa sangat nyaring saat Susan dan Diana menaiki tangga yg terbuat dari kayu. Suaranya terdengar sangat ngilu di telinga, terlebih di rumah ini cuman ada mereka berdua sesampainya di atas.

Drtttt Drtttt

“San bukanya di rumah kita cuman berdua?” tanya Diana 

“Jangan noleh ke belakang” kata Susan dengan Nada bergetar.

Diana mengangguk paham mengamati setiap kamar. Mata susan tertuju pada Kamar yg pintunya terbuka. sekuat tenaga ia berlari sembari menggandeng tangan Diana. Memasuki kamar itu dan menutupnya rapat.

“Hahhh hahhhh hahhh” nafas Diana memburu saat dirinya berhasil masuk ke kamar.

“Gila” kata Susan mengelap keringatnya. Seisi rumah terang, namun suasananya sangat mencekam.

Malam berganti pagi. Diawali dengan ketokan pintu di lantai bawah. Membuat Susan mengernyitkan dahinya, menahan ngilu di sekujur badan akibat tidur dengan posisi duduk menahan pintu.

“Duh tulang rasanya mau keluar dari tempatnya” kata Diana memegangi punggung belum saja hendak mengeluhkan hal yg sama, Susan lebih dulu meraup sadar.

“Eh turun-turun. hari ini pengenalan Proker” Kata Susan kalap.

Mereka bergegas turun dengan keadaan berantakan. Baju yang sedari malam melekat saja belum lepas dari badan akibat kejadian semalam.

“Selamat Pagi” kata Seorang Bpk dari ambang pintu

“Pagi pak, maaf kita belum siap-siap, tapi bukanya nanti acaranya jam 9 pagi? Maaf, ini saja matahari masih malu-malu” kata Susan sungkan.

“Boleh saya masuk? saya ingin menjelaskan sedikit” kata Bpk itu.

“Silahkan” kata Susan membuka pintu lebih lebar.

“Tutup saja pintunya, nanti anginya masuk. Masih pagi jadi masih dingin” kata Bpk itu dengan senyum ramah. Diana mengamati bpk” itu dengan seksama. Seperti pernah melihatnya namun terlihat samar”

Susan menutup pintu pelan, memang benar udara dari luar sangat dingin terlebih matahari saja masih malu” menampakkan diri.

“Perkenalkan saya Bowo. Saya kepala desa di desa rawa teluh ini” kata Beliau sembari mengulurkan tangan.

“Saya Susan”

“Saya Diana”

“Langsung ke intinya saja. saya mau menyampaikan larangan” di desa ini jadi tolong di simak.

1. Semua aktivitas harus selesai sebelum tengah malam

2. Kalau ada yg manggil dari belakang jangan pernah dijawab atau menoleh ke belakang.

3. Jangan mindahin atau nginjak sajen. pamali! 

Dan yg paling penting, jangan ikut campur urusan warga desa. Itu saja yg saya sampaikan. Saya mau pami,  kalian segeralah bersiap” nanti anak saya akan datang membawakan makanan” kata Pak Bowo bangkit dari tempat duduk.

Belum sempat Susan menimpali, Pak bowo mengisyaratkan untuk diam. bingung juga sebenarnya dengan pembawaan beliau yg terburu-buru. Senyum ramah diawal kedatanganya pun menjadi pandangan seperti orang yg tidak nyaman.

“Lo ngrasa gak sih Sannnnnnnn ini itu gak wajar!!!!” kata Diana frustasi.

“Truss???? Lo mau pulang nembus hutan trus dimakan macan? atau pulang selamet, utuhhhh tapi ilang separuh warasmu? Inget! kita udah terlanjur masuk” kata Susan tak kalah frustasi.

Diana duduk sembari menutup mukanya. Kata-kata Susan memang ada benarnya, gak bisa sembarangan keluar dari sini. Mengingat jalan yg dilewatinya semalam terlalu susah untuk di ingat, apalagi hal yg ada di dalam hutan itu sendiri. Membayangkanya saja membuatnya merinding.

“Mandi” kata Susan

“Hah?” tanya Diana tak mengerti

“Kamu mau ketemu sama warga desa dengan keadaan kucel? bangun dan mandi! Habis itu baru kita pikirkan lagi apa yg harus kita lakukan” kata Susan tegas

Diana memandang Susan dan mengangguk. Mau bagaimanapun juga mereka adalah pelayan masyarakat. Dalam keadaan apapun tugas selalu harus diutamakan. Sepertinya itu juga menjadi pengalih fokus sesaat agar tak terus menerus diliputi rasa takut

“Ada sinyal gak?” tanya Susan sembari mengeringkan rambut.

“Kamu masih mikir di desa ini ada sinyal?” tanya Diana jengkel.

“Yudah cek data-datanya. Mana lagi anak Pak Kades yg mau bawa makanan” kata Susan sembari memegang perutnya.

tokk tokkk tokkk

Susan bergerak cepat ke arah pintu, lalu membukanya. dari ambang pintu terlihat anak perempuan dengan rambut yg di kepang dua dengan baju terusan berwarna biru muda. Di tanganya terdapat Rantang 4 susun.

“Mbak diutus bapak” (Kak di suruh bapak) katanya

“Diutus apa dek?” tanya Susan bingung

“Diutus ngeterno dhaharan Mbk” (disuruh ngantar makanan Kak) kata Anak itu sembari menunjuk rantang.

“Ini anak ku tanya apa jawabnya apa” rutuk susan dalam hati.

“Makasih” jawab Susan akhirnya saat anak itu menyodorkan rantang. Yang dijawab dengan anggukan singkat, lalu berlari pergi begitu saja.

Susan berjalan keluar ke ambang pintu. sekarang matahari sudah sedikit membuka diri. memperlihatkan desa yang dihimpit beberapa gunung. Sampai seseorang yang memandangnya dari balik pohon, merenggut fokusnya. Pandangan Susan terfokus pada seseorang yg tadinya dia pikir anak kecil. pandang masih saja remang karna rimbun daun yg menghalau cahaya matahari.

“Hah hah hah hah” Nafas Susan memburu mengingat kejadian semalam. Kejadian saat dirinya pipis, dan sesuatu membawa Diana masuk jauh ke rimbunya rumput. lalu kembali dengan banyak mata yg bercahaya membuntutinya.

“Gak mungkin sampe sini” kata Susan tak percaya.

“Kenapa?” tanya diana membuat Susan terkaget dan hampir saja menjatuhkan rantang yang sedari tadi dia bawa.

“Ehhhhh hati-hati dong katanya laper, malah mau di tumpahin” umpat Diana

“Engga, ayo masuk” kata Susan terbata-bata

Cukup dirinya saja yg tau. memberitahu Diana hanya akan membawa perdebatan yg sudah mendingin. Diana membuka rantang makanan tersebut terdapat nasi, telur goreng, daging ayam, dan pisang.

Bukanya Diana tidak tau kalau susan tengah menyembunyikan sesuatu. toh ekspresi dan hal semalam sudah cukup untuk mengetahui apa yg terjadi.

“Apa yg km lihat jangan pernah di ceritakan ke aku. toh yg di incar aku, bukan kamu” kata Diana sembari menyendokkan nasi dan lauk untuk Susan.

“Di” kata Susan ingin menyanggah.

“jangan di sanggah, atau menghiburku. Aku sudah cukup lama mengabdi ke rumah sakit sialan itu. Aku dan km pun sering datang ke desa” tapi yg seperti ini? Bukanya hanya di desa ini?” kata Diana dengan emosi yg di tahan.

“Sebelum datang kesini aku di kasih jimat kamu? Nina? engga kan??? Cuman aku! sudah jelas Suster merry tau tempat ini membahayakan. Tapi dia tetep ngirim aku kesini, untuk apa? Jelassss untuk uang dari pemerintah. Kalau proker jalan, nama rumah sakit dan uang masuk

Kita?? hah tinggal nyari gantinya kalau sampai kenapa-kenapa”

Diana merasakan bukan hanya ketakutan, namun amarah dan jengkel menjadi satu, menyeruak di dada hingga menimbulkan sesak. Susan menunduk, sebenarnya sedikit terperangah mendengar suster marry memberikan jimat. Seakan kejadian ini sudah diperkirakan.

“Makan!” kata Diana dingin

“Makan selagi sempat, orang sakit gak akan berguna di pelayanan hari ini” kata Diana memasukkan suapan nasi tanpa merasakan rasa dari makanan itu sendiri. Diikuti Susan yang memasukkan suapan nasi dengan pandangan kosong. Jam sudah menunjukkan 10 pagi namun yg datang tak lebih dari 8 orang. padahal jika ditotal ada sekitar 50 kepala keluarga.

“maaf ibuk, bpk ini yang lain pada kemana ya?” tanya Susan mencoba Ramah.

“Di sawah, di kebun, di rumah. Disini yg percaya dokter cuman sedikit. Yg lain kalau sakit ya Eyang kakung” kata seorang ibu yg tengah hamil besar.

“Hush. jaga mulutmu itu” kata lelaki di sebelahnya

Susan mengamati, sepertinya eyang kakung yg dimaksud itu seperti pak Ndoho.

“Hmmm eyang kakung itu siapa ya?” tanya Susan mencoba mengulik

“Sesepuh desa ini” kata Bapak itu menepuk paha istrinya saat hendak menjawab.

Dari sekian orang baru pasutri ini yg berbicara satu sama lain tidak menggunakan bahasa daerah dan dari pakaian nya sepertinya mereka orang kota.

“Baik langsung kita mulai saja ya Pak, Buk. nanti bisa minta tolong untuk disebarkan ke yg lain saja” kata Diana mendahului.

“Perkenalkan saya Diana, saya Bidan. Jadi jika ibu, atau istri, dan warga yg lain merasakan keluhan seputar kehamilan, atau mau konsultasi program kehamilan. Segala yang berbau itu bisa langsung konsultasi ke saya ya ibu, bpk” kata Diana

“Emh saya Susan, saya di bidang kesehatan. Saya setiap minggunya akan membahas pola hidup, kesehatan pangan, kesehatan lingkungan dll” Kata susan singkat, sekaligus menjelaskan prosesi nina sebagai perawa. dan alasan kenapa Nina belum bisa memperkenalkan diri secara langsung. Setelah selesai membahas proker Diana naik ke atas.

“Di kemana???” tanya Susan

“Ngambil dompet”

“Untuk??” tanya Susan bingung.

“Kalau mau nyari informasi, pertama” kita harus ke warung” kata Diana acuh

Baginya tempat informasi terbaik adalah warung kopi. Sedari tadi berjalan rasanya hampir frustasi karena tak ada satupun warung yg buka. Di tambah jalan masih asing bagi Susan dan diana. jarak rumah satu ke rumah yg lainnya berjauhan.

Sampai akhirnya mereka menemukan satu warung yang ramai sekali dan satu” nya warung yg buka.

“Buka tu Di, mana rame” kata Susan.

“Ayok” jawan Diana sembari menarik tangan susan.

Sesampainya diambang pintu beberapa orang menatap Diana dan susan dengan tatapan tanya mungkin karna Susan dan diana masih baru di sini.

“Lho bu Bidan” sapa ibu warung antusias.

Ibu itu adalah, ibu yang sempat susan tanya saat pengenalan proker. Ah kebetulan yg menyenangkan batin Susan.

“Lho ibuk” Jawab Diana antusias.

“mau nyari apa bu bidan?” tanya Ibuk ramah.

“Kopi nya satu bu, teh panas nya satu” jawab Diana. Mengingat Susan memiliki riwayat maag.

“Tunggu ya, silahkan masuk”

Diana dan susan pun masuk, sembari memasang telinga baik-baik. Tatapan dari orang” sudah memudar, kembali fokus dengan obrolan masing.

“njenengan pun adol wedus pak?” (bpk sudah jual kambing?)

“Ues, ndek nane sore ndek kampung kulon. saiki desone adewe mung iso ternak, 

ora iso tandur. wes 20 taun kepungkur. kesalahan titik ae dadi dowo urusane” (sudah, kemarin ke kampung sebelah. Sekarang di desa cuman bisa ternak, ga bisa buat nanam. sudah 20 tahun berlalu. Kesalahan sedikit saja bisa panjang urusan)

Diana mengurut dahinya. tak satupun perkataan yg dia mengerti.

“Ini bu minumnya”

“Makasih Bu, duduk di sini saja Bu sekalian ngobrol” tawar Susan.

“Boleh” jawab ibu itu duduk, setelah mengembalikan nampan.

“ibu ngerti mereka ngomong apa?” tanya Susan

“Ngerti dong, ibu dulu kecil di sini. Lalu merantau karena sawah gagal panen terus, mau di jual juga tanah warisan, pamali. jadi merantau”

“padahal tanah pedesaan ya bu, harusnya subur” jawab diana.

“Dulu sangat subur, walau warga desanya sedikit perekonomian di sini tergolong maju, sayur, kopi, dan hasil kebun melimpah. Tapi sejak 20 tahun yg lalu, mulai berubah” jawab ibu itu dengan tatapan menerawang mencoba mengumpulkan memori” di masa lampau.

“Berubah karna apa bu?” tanya Susan

“Dulu sempat ada orang kota datang kesini, melakukan semacam perjanjian dengan penunggu desa. Syaratnya bayi yg wetonnya selasa wage. Waktu itu hanya ada satu bayi

orang tuanya di bayar mahal, agar anaknya bisa di jadikan tumbal. Uang sudah di kasih, namun ibu dari bayi itu tidak tega. Dibawanya bayi itu ke desa seberang lalu ditolong oleh Ndoho, sesepuh desa seberang. Namun perjanjian dengan penunggu sudah dilakukan dan betapa marahnya penunggu itu saat tumbal yg di janjikan tidak ada. Dan yg terkena imbas desa kami. Hasil panen selalu buruk, padahal sudah kita usahakan untuk mengganti tumbal itu dengan hewan ternak. Namun tak pernah berhasil” kata Ibu itu dengan suara sekecil mungkin.

“Jadi hal itu bu yg membuat, tak ada akses jalan ke desa seberang” tanya Susan

“benar. Saat itu semuanya marah. Walau sebenarnya bukan salah desa seberang melainkan salah orang kota dan sesepuh desa kami. Namun orang kampung di hasut kalau bayi itu jadi di tumbalkan dan tidak dibawa kabur, sudah pasti panen desa kita semakin besar. Toh penunggu desa yg menjaga desa kita sedari dulu” begitu kata sesepuh desa kami.”

“lalu kabar ibu bayi tersebut bagaimana bu?” tanya Diana

“dipasung warga hingga tewas, sedang suaminya dijadikan ganti tumbal. Namun bukanya senang, penunggu desa bahkan semakin marah. Anak itu sudah ditandai, nasib baik jika anak itu jauh dari desa tetapi kalau sampai kembali, sudah dipastikan dia tak akan selamat”

Kalimat terakhir seperti menusuk jantung Diana. Jika memang benar yg ada di kepalanya, nasib buruk sudah ada padanya.

“ojok kok terusne cerito iku Sri, bocah iku gak perlu ngerti” (jangan km teruskan cerita itu sri, anak iu tidak perlu tau) kata laki-laki Tua dengan tatapan tajam.

Ibu itu kaget, lalu menunduk ke lelaki tua itu.

“Sepurane mbah” (maaf mbah)

“Eyang Kakung” kata lelaki tua itu

“sepurane eyang kakung” (maaf eyang kakung) jawab ibu itu gemetaran. Sebelum akhirnya pergi.

“Sudah tau kan? Kamu sudah ditandai. Jadi lebih baik diam dan jangan sampai warga desa tau. Karena kalau mereka tau, habis kamu sum” 

“Biadab” kata Diana dingin

Matanya memanas. mengetahui bahwa dia sudah disambut oleh penunggu di desa ini. Hal yg dianggap tabu bukan semacam kebetulan karena desa ini angker, tapi karena memang dia sudah ditandai.

“Lasmini itu bodoh! kalau saja dia membiarkanmu jadi tumbal, dia tidak akan dipasung sampai mati pelan2”

“Cukup mbah, anda kelewatan” kata Susan tajam.

“Lasmini?” tanya Diana lebih ke dirinya sendiri.

Susan menarik tangan Diana dengan paksa setelah menyelipkan selembar 50 an di bawah gelas, membawa Diana kembali ke rumah.

Langit hampir gelap saat Susan sampai ke rumah,  waktu masuk Susan mendapati rantang makanan. Berarti tadi anak pak Kades sudah sempat kesini.

Diana duduk dengan tatapan kosong.

“San? kalau bayi tumbal itu aku, yg kita liat di rumah itu? ibukku?”

Brakkkkk, pintu terbanting.

“Km jangan ngomong sembarangan. Semakin km tau, mungkin saja semakin cepat penunggu itu datang” jawab Susan dengan suara bergetar.

“Sebentar lagi gelap, apa lagi yg akan terjadi?” tanya Diana pucat.

Diana berlari menaiki tangga. Meninggalkan Susan yg masih terpaku karena bantingan pintu tadi. Dibongkarnya seisi tas dengan kasar.

“Keetemu!” kata Diana mengalungkan kalung yg sempat di berikan suster marry

“Diiiiiiiiiiiii” teriak Susan dari lantai bawah. Membuat Diana buru” menuruni anak tangga.

Namun betapa terkejutnya Diana saat separuh anak tangga dia turuni. Terlihat sosok besar tinggi dengan rambut menjuntai sampai ke tanah. Tanganya menjulur ke kepala Susan, menjambak sebagian rambutnya lalu mengangkat rambut itu sampai kaki susan tak menapak ke tanah. Sosok itu menatap Diana dengan matanya yg merah menyala. Sedangkan taringnya keluar dari bibirnya yg berwarna merah darah.

“Wes tak enteni tekomu 20 taun suwene. bareng awkmu teko awkmu arep dolanan karo aku Sum?” (sudah ku tunggu 20 tahun lamanya, setelah km datang km mau main” denganku sum?)

Diana membeku, nafasnya kian memburu melihat sosok itu mulai menjulurkan lidahnya. menjilat seluruh muka Susan dan setelahnya tertawa nyaring.

“Harghargharg. wes akeh nyowo ilang mergo lakumu. mundak awkmu mlayu, mundak akeh seng ilang. MATI” (hahaha sudah banyak nyawa hilang karenamu, semakin kamu lari, semakin banyak yg hilang. MATI)

“Diiiii” Rintih Susan, mengalihkan pandangan sosok itu.

“Nyapo nduk? goro”kancamu. awakmu bakal dadi salah sijine” (kenapa nak? gara”temanmu kamu akan jadi korban selanjutnya) 

“Mati? siapa saja yang sudah kamu buhuh iblis?” Tanya Diana dengan penuh emosi.

“Siapa? semua yg berhubungan denganmu. Bahkan temanmu yg dalam perjalanan pun sudah mati. Ku tuntun hingga masuk ke jurang menjadi satu dengan kaum kami”

“Biadap. iblis sialannnn” teriak Susan membuat Sosok itu semakin memelototkan matanya.

“Yg iblis adalah orang yg membuat perjanjian aku hanya mengambil bagian”

“Siapa??? siapa?” tanya Diana kalap.

“Kalung itu kau berfikir itu jimat?”

“Itu adalah pengikat, sekali kau pakai tak akan bisa lepas. Sejatinya km ditumbalkan untuk menjadi baturku. Salahkan weton betapa km sangat digandrungi bangsaku karna weton mu selasa wage”

“Sialannnn iblis kalian semua” teriak Diana Frustasi.

“Diiii” rintih Susan yg ikut Frustasi.

“Lepaskan dia, kalau yg km mau aku, cukup bawa aku saja” jawab Diana pasrah.

“Hahahahaha, manusia” kata Makhluk itu sembari melepas rambut Susan.

“Kamu tentu masih ingat petuahnya” kata makhluk itu mendekatkan wajahnya pada Susan.

“Lariii san” teriak Diana.

Tanpa harus disuruh dua kali Susan berlari sekencang” nya, menembus rimbunya pohon.

“Tak ada yg gratis, kalau bukan bagian tubuhmu untuk membayar,  sudah bisa di pastikan separuh warasmu akan hilang” Petuah itu terus terngiang seiring langkah kaki yg melemah.

Susan terjatuh badanya sudah tak kuat berjalan, dirasakannya tanah basah itu. Dia hanya seorang diri tanpa tau dimana jalan yg akan membawanya pulang.

“Sann tolong aku sannnn” Suara itu begitu familiar. 

“hik hik. astaga rasanya memang separuh warasku akan hilang. Bahkan aku bisa mendengar suaramu Naaaa. Jika memang km menjadi kaumnya seengaknya biarkan aku hidup”

“gak akan ku biarkan kamu hidup sendirian” teriak suara tepat di telinga Susan. 

“hahahahahahahahahahah”

“kamu mati”

“kamu harus mati”

“batur”

“batur” 

Susan memegang kepalanya. Suara itu seperti berasal dari segala arah. semuanya seperti sedang menertawainya. walau hanya suara semua seakan lebih dekat dari angin.

“San kertas” Suara itu membuat Susan meraup sadar.

“Kertas” dirogohnya kertas yg selalu Susan bawa. dengan jantung yg seakan ingin keluar dari tempatnya Susan kembali mengamati kertas itu.

“gak bisa baca gelapppppppppp” teriak Susan frustasi 

“jangan noleh kebelakang” kata seseorang dengan lembut.

“Siapa?” tanya Susan

“Lasmini! kertas itu berisi penawaran. Baca dan lakukan penawaran itu. Dengan begitu warasmu akan tetap utuh, ku bantu. ikuti” 

“ing jagat lelembut. nyuwun pengasih. tak tawarno awak kanggo pulih saka kebutekan pikir. pulihno kanggo bagian awak seng kok pingin. saiki aku Susan nimbali awkmu kanggo rerembug” 

“Di tengah” mahluk aku minta dikasihani,  ku tawarkan badan agar pulih dari pikiran keruh. Pulihkan dengan bagian badan yg km mau. Sekarang aku susan memanggilmu untuk bicara”

Susan mengulangi dengan nada bergetar lambat laun satu persatu wujud mulai terlihat. Dari anak kecil berkepala besar, wewegombel, pocong, kuntilanak, perempuan setengah ular, sosok tinggi yg menjulang melebihi pohon, kakek tua berbahu putih, banyak seseorang berbaju hijau. dan sesosok asap yg membentuk wujud manusia dan yang terahir adalah Sosok Nina

Semua wujud terlalu nyata untuk Susan yang sekalipun tak pernah melihat hal semacam itu. Susan yg kaget terduduk, menangis hingga suaranya habis. Bahkan dia sendiri tidak tau apa yg sudah dia ucapkan. 

“omongono bocah iku. aku njalok suarane” (bilang anak itu aku minta suaranya)

“dia minta suaramu” kata sosok lasmini

Susan tak mampu berbicara yg bisa dia lakukan hanyalah mengangguk. 

Llambat laun satu persatu, hilang hingga ahirnya gelap. Susan terbangun di pinggir jalan setapak, di temukan oleh Dimas yg hendak mencari makanan kambing.

“Lhoo mbk mbk mbk Susan” 

Susan membuka matanya, dia selamat dan saat Susan hendak mengatakan sesuatu tak ada sepatah katapun yg keluar dari mulutnya.

“Yg penting Mbk selamat” kata Dimas membopong Susan untuk mencari pertolongan 

TAMAT 

Thread By @jikumunya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *