RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

TALI GAIB KEMAMANG

Siang itu keadaan gudang di salah satu kawasan ibu kota tampak semrawut. Tensi kerjaan terasa sesak mengisi seantero ruang pengap tak bertuah, seiring dengan lalu lalang sopir dan petugas packaging yang akan melakukan rutinitas bongkar muat.

Ditengah aktivitas para pekerja, samar terdengar suara gaduh yang seketika mengheningkan aktivitas saat itu. Seorang pria baya bernama Asep mencoba menegur partner kerjanya dalam mengantarkan barang. 

Selama ini Asep sudah cukup sabar dan makan hati dalam menghadapi Darto yang selalu bekerja seenak jidat, dan memang terkenal di cap sebagai pemalas oleh rekan sejawat di kerjaannya. 

Malang bagi Asep tegurannya pada saat itu malah memantik emosi Darto, Darto merasa dipermalukan dan langsung melayangkan bogem mentah di hidung Asep, dan menghujani Asep dengan pukulan yg membabi buta. 

Anjing Lo..

Teriak Darto kearah Asep.

Sama sama cari makan aja belagu.

Kita sama sama kerja jangan seenaknya bicara. Teriak Darto semakin kencang ke arah Asep yang sudah tersungkur jatuh. 

Sontak kejadian itu membuat karyawan berhamburan ke arah mereka. Pekerja lainnya bergegas menahan Darto yang masih belum puas menganiaya Asep. Mulut nya masih terus mengeluarkan kata kata kasar ke arah Asep. 

Gw mampusin lo anjing teriaknya kembali ke areh Asep. Asep hanya terdiam sambil terus menatap tajam penuh dengan rasa dendam. 

Sementara dari ujung terlihat seorang pria berlari ke arah kerumunan itu, pria itu adalah Koh Junyai, dia merupakan owner dari PT tempat Asep dan Darto bekerja. 

Ada apa ini? Tanya nya kepada seluruh karyawan pada saat itu.

Saya tidak suka ada yang ribut ribut di tempat kerja, kalian berdua kalau tidak minat lagi bekerja silahkan angkat kaki dari sini. 

Dia yg mulai pak kata Asep.

Eh si Anjing….

Lo masih aja ya sep sela darto kepadanya secara sinis. 

Sudah sudah kalian berdua masuk keruangan saya, yg lain kembali bekerja perintah Koh Junjay yang langsung dipatuhi oleh semua pekerja. 

Singkat cerita, akhirnya Asep Lah yang menjadi orang pesakitan, dia mendapatkan teguran. Kinerja Darto yang disampaikan oleh Asep, dapat dibalikan Darto dengan membongkar aib Asep yang curang dalam pengisian bahan bakar. 

Hari itu Asep tidak langsung pulang sebagaimana kebiasaan nya selepas bekerja.

Asep tampak melamun di smoking area yang ada di kawasan pergudangan itu. 

Woi… Sep.. diam diam bae Magrib gini, awas kesambet Setan Darto.

Teriak salah 1 karyawan lain bernama Yudo kerah Asep.

Sudahlah baru juga SP 1. Lo tau kan gw pernah dapat 2 tapi aman aman aja, canda Yudo kepadanya 

Ga usah dipikirkan penjilat kayak dia, yang ada buat pusing, hibur Yudo untuk mencairkan suasana. 

Mungkin Darto lebih baik mati saja ya Yud. Kata Asep yang seketika mengangetkan Yudo.

Husss…

Istighfar…..

Ngucap men…… 

Asep hanya tersenyum, mendengar ucapan Yudo, dia berdiri dari duduk nya, hanya bercanda kata nya sembari meninggalkan Yudo.

Melihat tingkah Asep, membuat Yudo menggelengkan kepala, berharap benar itu hanya lelucon nya saja. 

3 minggu pasca kejadian tersebut semua tampak berjalan normal, kecuali hubungan Darto dan Asep. mereka tidak lagi terlihat bertegur sapa, bila Asep ada maka Darto akan memilih menjauh, begitu juga sebaliknya. 

Dilain sisi, perubahan kinerja juga terlihat pada diri Darto, dia menjadi sosok yang lebih rajin, namun tetap saja dia selalu menyempatkan diri untuk mengungkit persoalan dengan Asep dan selalu memprovokasi rekan lain untuk mempercayai perkataan nya. 

Hanya saja Darto tidak mengetahui segala perkataannya akan ada harga mahal yang harus dibayar, bahwasanya malapetaka besar sedang menanti nya diluar sana. 

Hari itu tepat di tgl 13, malam Kliwon, Darto dan Yudo menjadi rombongan terakhir yang kembali ke pergudangan, suasana terasa sepi, didalam gudang hanya tersisa 3 orang saja, 1 fakturis, 1 caker dan seorang security. 

Setelah memberikan laporan dan bongkar muat, akhirnya mereka dan karyawan lainya menyelesaikan tugas hari itu. Lo mau kemana Yud, ngopi dulu yuk kata Darto kepada Yudo.Udah kemalan, setengah 11, Lo enak rumah dekat, nah gw?

Halah paling lo mau kelonin bini dirumah balas Darto. 

Serah jawab Yudo kembali, udah ga usah ngopi ngopian, Lo tau kan angkernya gudang ini, mending balik rumah saja, kasian anak istri Lo.

Ah Lo masih aja percaya begituan, tar kalau kuntilanak/suster ngesot datang biar tak perkosa, balas Darto sesumbar. 

Yudo hanya menghela nafas, dan berlalu meninggalkan Darto yang masih asik dengan kopinya. 

Selang kepergian Yudo, Darto kini hanya sendiri di area smoking, dia merogoh rokok di kantongnya, dinyalakan rokok tersebut sembari jari satu nya khusyuk menonton video di Hp nya. 

Malam semakin hening, dia masih terlihat asyik dengan dunianya, walau sudah beberapa kali security menegur untuk segera meninggalkan area kantor, malah arahan tersebut dibalas dengan olokan oleh Darto. Jam telah menunjukan angka 1, ah Hp malah mati lagi gerutunya dlm hati 

Dipandangi nya sekitar, terlihat sepi bak kuburan, keadaan juga terlihat remang, dimana hanya beberapa titik saja lampu masih dinyalakan.

Sudah lah mari pulang katanya 

Dia berjalan menuju parkiran, namun darto merasa aneh, bulu kuduknya merinding, kenapa ada suara langkah lain yang mengiringi ya, pikirnya dalam hati, sejenak Darto berhenti dan menilik ke seluruh arah, tidak ada seorangpun disana. 

Dalam perasaan takut, Darto masih memaksa berpikir positif.

Setan itu tidak ada katanya dalam hati, namun baru saja dia menghibur diri, kini dia pahami ada yang aneh di malam ini, kaki kanan nya terasa berat, seperti tersangkut sesuatu. 

Astagfirullah…

Darto kaget dan terjatuh, sambil terus menghentakan kaki nya, di hadapan nya seorang wanita mengesot, dgn wajah yang hancur penuh luka lebam dan borok, satu matanya terlepas, wajah itu menyeringai tersenyum, tangannya menggenggam erat kaki Darto. 

Darto semakin histeris, dia terus berteriak dan menghentakan kakinya untuk melepaskan cengkraman sosok itu, dia berdiri kembali dan berhasil melepaskan cengkraman itu. Sosok itu kembali menyeringai, tertawa khas kuntilanak.

hi..hi..hi…

Suara itu bergema seantero pergudangan. 

Darto semakin panik, dia berlari sekuatnya, dengan wajah yg sangat pucat, nafasnya terengah engah menahan rasa takut yg semakin menjadi.

Sial teriak nya, baru beberapa langkah dia berlari, kini tubuhnya kembali ambruk, dia menghantam seseorang yang berdiri di depannya. 

Aseep…..

Ngapain Lo malam malam kesni,

Lo mau apa teriak Darto. Asep tidak membalas dan hanya memandangi Darto. Darto semakin terlihat ketakutan, keringat membasahi sekujur tubuh nya. 

Darto merasakan hal yang aneh, tak kala matanya memandang sosok asep dengan teliti, Asep terlihat berbeda, tubuhnya tampak lebih besar dan tinggi, wajahnya pucat seperti mayat. Darto meyakini sosok ini bukanlah Asep.

Siapa kamu tantang Darto.

Asep tertawa….

Hahahaha 

Aku adalah Karmamu, seketika sosok Asep menghilang dari hadapan Darto. 

Darto merasakan panas di dalam tubuhnya, seperti kobaran api yang sedang menyala, matanya terasa kabur melihat sekitar, samar dia merasakan ada sosok makhluk berwarna merah yang memutari diri nya sembari melilit tali. 

1.2.3 ..

Tiga kali makhluk itu memutari Darto dan melilitkan tali itu.

Sesak itulah yang dirasakan Darto, seluruh tubuh nya tidak dapat digerakan. Makhluk itu kini berdiri tepat di belakang Darto.

Nikmati hari hari kematian mu, mulai dari malam ini, bisik makhluk itu kpd Darto. 

Ampun ….

Maaf Sep….

Teriak Darto memelas dengan suara terputus seperti kehabisan nafas. 

Brakkk…..

Tubuh Darto kembali ambruk, dia merasakan kepalanya seperti dipukul dengan sangat keras.

Darto terkapar pingsan di dinginnya malam itu. 

*madang ngaso sek*

jam 8 kita gas tipis tipis lg ya. 

Sejak peristiwa malam itu, segala berubah drastis, hal mistis kian merusak aspek kehidupan Darto, Darto sering terlihat linglung, gampang sakit, namun satu hal yang paling menganjal, dia tidak dapat mengingat Asep 

Semula tidak ada yang mengetahui akan hal itu, karena memang sejak pertikaian antara keduanya, mereka tidak pernah saling bertegur sapa, namun anehnya Darto tidak lagi pernah menjelekan Asep, banyak karyawan yang beranggapan mungkin Darto sudah bosan dan bertobat. 

Hingga suatu kejadian, Yudo dan Darto yang bergegas keluar mengantarkan kiriman seperti biasanya, berpapasan dengan mobil yg dikendarai oleh Asep. Yudo menegur Asep sembari berbasa basi, sementara Darto hanya terdiam memandangi Yudo dengan serius. 

Selang percakapan itu antara Yudo dan Asep, Yudo kembali memacu mobilnya, menuju tempat pengantran yg sudah ditentukan oleh kantor.

Lo masih musuhan ama Asep Dar, tanya nya kepada Darto. 

Asep. Asep siapa Yud?

Ah lo setelah nabok orang pura2 amnesia, ketus yudo.

SUMPAH,

Asep siapa tanya Darto kembali.

Tadi kita papasan sama siapa? Terus gw ngobrol ama siapa? 

Ngobrol?

Lo bercanda Yud, justru gw bingung lo ngapain tadi lama ngetem ga jalan jalan, terus mobil tadi kenapa parkir sembarangan disitu? malah ngomong sendiri.

Tanya Darto kembali 

Yudo sedikit kesal dan merasa Darto mempermainkannya karena mengungkit soal Asep.

Sudahlah tidak perlu dipikirkan Dar, jawab Yudo mengakhiri pembicaraan mereka. 

Dilain hari, kejadian yang sama acap kali terjadi, ada keanehan dalam diri Darto, dimana hanya Yudo dan beberapa rekan saja yang mengetahui bahwasanya Darto seperti tidak pernah lagi mengingat akan Asep. 

Beberapa kali Darto tampak menyambangi keberadaan Asep, hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Hingga puncaknya Yudo melihat Darto asik merokok di smoking area, namun bukan itu yang menjadi pokok utama, karena disana terlihat Asep juga asik merokok di depan Darto. 

Asep tampak sumringah memandangi Darto, sementara Darto terlihat linglung dengan pandangan kosong, sembari menghisap rokok yg digenggamnya, Darto seperti merasa tidak ada orang lain di area itu. 

Melihat itu, Yudo berinisiatif untuk join bersama mereka.

Begitu donk, baikan kata Yudo. Darto tampak kaget, dan tersadar dari lamunannya seiring mendengar perkataan Yudo.

Taik Lo kaget gw, lg asik sendiri juga kata Darto.

Sendiri … ? Tanya Yudo sembari menatap kearah Asep. 

Asep hanya cengengesan, dia berdiri menghampiri Yudo sambil menepuk pundak Yudo.

Karma berlaku bro, katanya pelan sambil meninggalkan Yudo dengan Darto. 

Dilain kisah ketika senja mulai datang, saat itu pula penderitaan Darto dimulai, kejadian yang sama berulang terjadi hari lepas hari. Darto seperti kehilangan akal sehatnya bila magrib telah menyongsong. 

Sosok makhluk itu selalu hadir dimanapun Darto berada, bak ritual, Darto selalu merasakan hembusan angin di telinga kanannya, sebelum sosok itu muncul dihadapannya. 

Seperti biasa makhluk itu akan memutari Darto 3 x dan melilitkan tali sebelum memukul belakang kepala Darto, yang diakhiri pingsannya Darto di setiap harinya. 

Unik bin Ajaib, Darto tidak akan pernah mengingat kejadian itu ketika dia sadar. Baik rekan kerja, Istrinya, keluarga selalu menceritakan hal itu, namun tidak pernah digubris oleh Darto, dan dia menganggap omongan mereka ngelantur dan hanya ingin memojokan hidupnya. 

Hingga sebulan berlalu Darto semakin bersikap aneh, bila sebelumnya dia hanya pingsan, namun memasuki bulan ke 2, setiap senja mulai hadir, Darto seperti orang kerasukan, dia berteriak sejadinya melempar apa saja yang ada didekatnya. 

Lebih parah lagi, beberapa kali istri maupun rekan kerja mendapati Darto memakan cacing, cicak, kecoa makanan mentah, bahkan melahap tikus tikus busuk yang entah dari mana dia mendapatkannya. 

Dibulan ke dua ini juga Darto semakin jarang masuk, sifatnya kembali tempramental, dan yang jelas tampak tubuh kekarnya semakin kurus, Darto juga mulai jarang masuk kerja. 

Puncaknya 3 bulan pasca kejadian itu berlangsung, tubuh darto akhirnya tumbang juga, dia kehilangan kontrol akan dirinya, selama seminggu dia tidak dapat menggerakan tubuhnya dan hanya berbaring diranjang rumah, sambil terus meraung kesakitan. 

Selepas magrib teror terus berulang, bila senja telah berlalu maka akan terdengar suara raungan, tubuh Darto kembali sehat dia kembali berjalan dan melempar benda benda yang ada disekitarnya. 

Tak lama berselang dapur menjadi tujuannya dan entah dari mana asalnya, tikus tikus busuk selalu tersedia disana dan siap untuk disantap Darto, seolah ada yg orang yg selalu telah menyediakan bangke itu kepadanya. 

Sang istri beserta seluruh keluarga sudah berusaha menyembuhkan Darto, dari membawa ke dokter, psikiater hingga metode ruqyah, namun minim hasil. 

Hingga suatu ketika ditengah rasa frustasi mereka akhirnya membawa Darto ke salah satu daerah pedalaman di Jawa Tengah, menemui seseorang yg terkenal akan ilmu hitamnya. 

Entah benar atau tidak, sosok Mbah Nayan, orang pintar yang mereka datangi mengatakan Darto sudah disantet.

TALI GAIB Kemamang, kata Mbah Nayan kepada mereka 

Mbah Nayan berhasil menetralisirkan sementara seluruh pengaruh dari santet itu, hanya saja Mbah Nayan berkata tidak sanggup untuk membebaskan Darto dari santet Tali Gaib. 

Bahwasanya santet Tali Gaib ini adalah santet pengikat, antara pelaku dan korbannya, pelaku bisa memantau korbannya tapi korbannya tidak akan pernah mengenali pelaku, sekalipun dulunya korbannya ini sangat mengenal pelaku. 

Aspek yg diserang santet ini adalah kejiwaan seseorang, dengan kata lain orang yg terkena santet ini akan mati perlahan seperti orang gila. 

Terlalu berat, Aku ndak sanggup cu, sekali santet ini dilepas, hanya ada dua pilihan, korbannya menjadi tumbal Kemamang, atau pelaku membatalkan perjanjian dan menumbalkan dirinya sendiri. jelas Mbah Nar pada mereka. 

Cara mu untuk lepas hanya itu, pelaku harus melepaskan ikatan Tali Gaib itu dari kamu, dengan nyawanya sebagai pengganti. 

Kamu mungkin tau siapa pelakunya tapi begitu kamu keluar dari pintu rumah ini, setan itu akan kembali menggerogoti mu, dan kau tidak akan mengingatnya lagi. 

Seketika Wajah Asep terpampang. Dia mengingat Asep, tapi semua sudah terlambat, Asep tidak mungkin mau mengorbankan diri pikir Darto di dalam hatinya. 

Apa kamu mau membalas kelakuan teman mu itu, tanya Mbah Nayan kembali, Aku bisa mengirimkan hal serupa kepada dirinya, tapi ingat dengan perjanjian yang sama. 

Darto murung jiwanya seperti ingin membalas, namun jauh didalam hati kecilnya, dia menginginkan semua diakhiri, dia ingin berdamai dengan hidupnya.

Sudah Mbah, Saya ikhlas.

kata Darto. 

Air mata pecah mengisi sudut ruangan itu, seluruh keluarga yg ikut mengantarkan Darto menangis mendengar perkataannya. 

Untuk saat ini hanya memohon maaf yang ingin Darto lakukan kepada Asep, Darto berusaha menghubungi Asep, namun Asep tak sekalipun mengangkat tlp Darto. Beberapa kali SMS dan WA berisi permohonan maaf tidak juga direspon oleh asep. 

Ditengah rasa frustasi, Darto berusaha menceritakan akan hal ini kepada Yudo, karna dia tau bila dia keluar dari rumah Mbah Nayan, maka dia tidak akan mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi. 

Darto menelpon Yudo, diceritakan semua tentang apa yang dialaminya, dan diakhir percakapan Darto dengan Yudo, wajah Darto tampak berkaca, air mata jatuh menetes di wajahnya.

Sampaikan permohonan maaf ku ya Yud.

Aku tau salah. Aku menerima segalanya, ini karma ku. 

Hanya seminggu selang pengobatan yang dilakukan Mbah Nayan, Darto kembali dihantui oleh dahsyat nya teror tali gaib. Dipagi hari dia sadar namun tidak dapat mengerakan tubuhnya, sebentara malam hari ini dia tampak sehat namun kehilangan kontrol akan diri nya. 

Mau tidak mau sang istri terpaksa menggadaikan seluruh aset yang ada demi menyambung hidup Darto. Apalagi semenjak keadaan Darto yang sudah tidak dapat berbuat apa apa, Darto pun kehilangan pekerjaan, kantor tempat dia bekerja akhirnya memutus sepihak kontrak dengan Darto. 

Sang istri sempat memohon kepada Yudo agar diantarkan meminta maaf kepada Asep, namun dendam Asep sepertinya sudah berkarat, dia tidak mau menanggapi segala ucapan istri Darto. 

Tapi diluar peran antagonis yang ditunjukan Asep, sebenarnya Asep juga sudah memaafkan Darto,nmn dia tidak dapat membatalkan santet tali gaib karena takut nyawanya yang akan menjadi tumbal, Acap kalI Asep menitipkan uang kepada Yudo untuk diberikan kepada istri Darto. 

Tepat 6 bulan dari santet itu dilepas, keadaan Darto semakin parah, tubuhnya kurus kering, tidak sampai disitu dia sudah tak dapat mengenali siapapun, tingkahnya semakin menjadi dan meresahkan. 

Darto pun dibawa ke kampung halamannya, disana dia dipasung agar tidak melakukan hal hal berbahaya, dan setelah 8 bulan harus mengalami derita, Darto akhirnya menghembuskan nafas terakhir, seiring dengan palung gantung yang muncul. 

Saat itu sebenarnya sudah jauh hari diprediksi oleh Mbah Nayan, bila nanti kalian melihat bola api terbang, tandanya semua telah berakhir, dan malam itu semua keluarga berdoa agar Darto terlepas dari segala siksanya. 

Teriak Darto menggelegar keras, entah rasa sakit seperti apa yang diderita nya sampai suara teriakan itu sangat menyayat hati. Hampir berjam jam teriakan itu menggelar, hingga riuhnya malam itu, tiba hening bak larut pada kesedihan. 

Darto Pun akhirnya sampai pada sakaratul maut, di akhir hayatnya dia berulang kali mengucap terima kasih, terima kasih.

Entah untuk siapa kata itu diucapkan, tapi di akhir hayatnya Darto mati dengan wajah tersenyum. 

kisah ini sendiri saya dapat dari Yudo, yg merupakan teman dari Darto dan Asep, dari penuturan Yudo selang kematian Darto, Asep juga seperti terpukul dan menjadi lebih pendiam.

*tamat* 

Thread By @nyata74042956

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *