RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Teluh Gantung Jodoh

Darto marah semakin menjadi-jadi lantaran dirinya kesal, nastiti yaitu anaknya sering sekali beradu mulut dengan dirinya.

Niatnya, ingin memberikan sedikit nasehat dan bimbingan supaya anaknya mau segera menikah.
Darto sudah capek menunggu, diusinya yang sudah masuk usia 70 tahun belum juga dia merasakan indahnya menikahkan anak gadis semata wayangnya dan harapan menimang cucu.

Nastiti adalah seorang guru sekolah dasar disalah satu desa, kabupaten Malang.
Kesehariannya setelah mengajar, nastiti membantu mengajar mengaji di Masjid yang begitu terkenal namanya.

Lewat masjid ini, Kabupaten Malang memiliki keunggulan pariwisata religi. Mistosnya, masjid ini dibangun oleh jin.
Namun, jawaban akan misteri itu akan terjawab bagi siapapun yang berkunjung kesana dan berziarah ke makam pendiri masjid.

Sesekali, nastiti meratapi nasibnya yang semakin memilukan. Entah mengapa, di usinya yang telah masuk kepala 3 nastiti belum juga diamanahi jodoh
dan melakukan kewajiban menikah.

Terkadang dirinya menangis sejadi-jadinya dikamar usai bertengkar dengan bapaknya.

Nastiti hanya ingin semua yang dikeluhkan masih memiliki ruang didalam hati bapaknya agar bisa ditampung, nastiti juga perlu didengar sebagai anak.
“Kamu iki, gak mikir apa ? Udah mau uban tapi gak ada niatan mau menikah ?” ucap ayahnya kesal.

Nastiti yang baru saja pulang mengajar kesal dengan ocehan bapaknya setiap hari menanyakan hal yang sama.
“mikir opo pak, Mbok kiro aku gak kepengen opo rabi ? Due anak ! Koyok liane ?! Aku due perasaan pak ! Ojo mung atimu ae seng dirungokno, aku yo butuh pengertian !” saut nastiti sembari menangis sembari melempar gelas kaca ke arah tembok.
( berpikirlah pak, apa kau kira aku tidak ingi menikah ? Punya anak ! Seperti yang lain ? Aku punya perasaan pak ! Aku juga butuh pengertian ! ).

Hari-hari berlalu seperti itu. Ibu nastiti, minah hampir putus asa untuk hidup.
Lelah menyaksikan antara bapak dan anak selalu bertengkar setiap hari. Hingga malam tiba, nastiti hendak pulang ke rumah sehabis mengajar ngaji.

Kebetulan ada wandi, tetangga desa yang baru pulang membeli rokok disebuah warung.
Nastiti hanya mendengus saat berpapasan dengan wandi, dimanapun.

Wandi menyapanya, namun nastiti hanya melempar sedikit senyum kepada wandi.

Wajah wandi yang tersenyum kemudian berubah menjadi kesal lantaran balasan nastiti selalu seperti itu.
Hal itu menjadi terbiasa lantaran sudah sering sekali nastiti seperti itu kepada seseorang yang ditemuinya.

Saat itu, wandi menawarkan tumpangan untuk mengantar nastiti sampai rumah. Namun, nastiti menolak. Dia memilih untuk jalan kaki saja.
Melihat nastiti tidak bisa dipaksa dan ketus. Wandi hanya mengajaknya bersalaman dan pamit pulang.

Kali ini nastiti mau dan mengulurkan tangannya ke arah tangan wandi. Kemudian mereka berpisah
Nastiti keheranan, sejak kapan wandi memakai minyak wangi seperti itu. Baunya seperti bau dupa, merisihkan sekali.

Berkali-kali dia menciumi tanganya dan menghilangkan bau dari minyak wangi wandi tetap saja tidak bisa.
Nastiti mencuci tangan berkali-kali namun bau itu semakin pekat dan kuat sekali hingga seisi rumah termasuk bapak dan ibunya mencium bau aneh itu.

Nastiti sudah lelah dan membiarkan bau itu bertahan di dalam rumahnya.
Angin malam berhembus pelan dan meniup tirai jendela nastiti di kamar. Kali ini, terdengar suara jilatan lidah yang sedang menelan sesuatu.

Nastiti terbangun dalam heningnya malam. Dia menyipitkan mata dan mendengar suara yang menggelikan itu.
Saat terbangun, nastiti merasa gatal seluruh badan. Dia mulai berjalan untuk menyalakan lampu kamarnya.

Dia perhatikan tangan, leher dan kakinya didepan kaca. Tidak ada tanda-tanda kukitnya kena penyakit.
Tidak ada bintik merah, ruam ataupun lainnya. Kulit tubuhnya bersih dan tidak ada bercak penyakit sama sekali.

Namun, dirinya merasakan gatal sangat luar biasa sekujur tubuh. Gatal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Suara jilatan lidah itu semakin keras dan geli.
Nastiti Yyang tetap menggaruk sekujur tubuhnya, hanya bisa mencari suara itu.

Ketika dirinya melihat kearah jendela, alangkah terkejutnya, dibalik jendela telah berdiri sesosok perempuan besar yang melotot dan lidah panjang yang berlumuran darah menjulur kebawah.
Sosok perempuan itu tersenyum lebar kearah nastiti. Nastiti yang terkejut kemudian pingsan.

Keesokan harinya, nastiti membuka kedua matanya. Dia menyadari bahwa sudah berada diruangan yang berbeda.

Bukan lagi kamarnya, tetapi kamar rumah sakit.
Kemudian terdengar suara langkah yang mendekat kepadanya.

Ternyata itu ibu nastiti, ibunya yang melihat nastiti sudah siuman segera memanggil suaminya dan memberitahu bahwa nastiti sudah siuaman.

Nastiti heran dan semakin bingung, karena seluruh badannya sangat sakit sekali.
Hal terakhir yang dia ingat hanya kejadia dikamarnya semalam dan rasa gatal yang menyerang sekujur tubuhnya.

Bapak nastiti kemudian berjalan cepat menghampirinya. Nastiti semakin bingung dengan sikap ayahnya yang kemudian menangis sesenggukan.
“Bapak minta maaf ti, bukan bermaksud ingin menyakiti hatimu saat ini. Jadi bapak mohon, lupakan semua yang pernah bapak katakan padamu.

Hingga membuatmu sakit hati dan berusaha bunuh diri. Maafkan bapak.” Ucap bapak nastiti menyesal.
Nastiti justru bingung dengan ucapan bapaknya yang seperti itu.

Ternyata, terdapat kejadian yang sama sekali tidak diingat oleh nastiti.

Dia baru menyadari ada kejadian janggal yang menimpanya.
Nastiti melihat pergelangan tangan kirinya sudah terbalut kain putih dan terlihat sedikit darah yang terlihat jelas dikain itu.

Nastiti curiga, apa sebenarnya yang terjadi. Bukan hal yang pertama untuk kejadian hal yang seperti ini.
Tetapi, bapak dan ibunya juga pernah dulu berkata bahwa nastiti hendak gantung diri dan juga hendak membakar tubuhnya sendiri.

Tetapi hal itu tidak disadari oleh nastiti.

Hari itu, nastiti diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisinya sudah membaik.
Di perjalanan nastiti tetap menyimpan seribu pertanyaan itu didalam hatinya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya selama ini. Sungguh nastiti ingin mengetahui jawabannya.

Nastiti sudah mulai beraktivitas seperti sedia kala. Mengajar, ditengah waktu istirahat.
Dia didekati oleh salah satu temannya mengaja, Wati. Wati adalah teman seprofesi dengan nastiti.

Wati mengobrol soal kondisi nastiti yang sedikit berat melewatinya. “Aku sendiri tidak mengerti wat, mengapa aku seperti ini.
Bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang aku lakukan ini.” Jelas nastiti kepada Wati.

Wati kemudian mengingat temannya yang punya keahlian untuk melihat sesuatu yang gaib, hingga akhirnya menyuruh nastiti untuk bertanya kepadanya.
Keesokan harinya, nastiti dan Wati berboncengan hendak pergi ke suatu tempat.

Ternyata, mereka berjanjian untuk bertemu dengan teman Wati itu, Novi namanya.

Mereka telah mengatur janji untuk bisa bertemu dengan Novi di taman kota.
Novi yang sibuk kuliah membuat mereka susah mengatur jadwal bertemu.

Sesampainya di taman kota, nastiti mencoba duduk di kursi di ikuti dengan Wati.

Selama 10 menit mereka menunggu kedatangan novi. Akhirnya, pertemuan mereka berlangsung.
Novi yang melihat sesuatu yang aneh di dalam diri novi hanya bisa terdiam dan tidak banyak mengeluarkan suara.

Tidak banyak perbincangan saat itu, novi hanya memberi pesan bahwa akan datang ke rumah nastiti minggu depan.
Saat itu hanya berbincang soal kabar dan seputar kesibukan mereka masing-masing.

Namun, ada yang berbeda dengan nastiti saat itu. Dia sebebas itu meluapkan emosi dan apa yang sedang dia rasakan saat ini, tertawa menangis semudah itu dia luapkan kepada novi dan wati.
Hari pun berlalu, tiba waktunya nastiti kedatangan tamu dirumahnya. Iya, novi yang saat itu berjanji untuk datang ke rumah nastiti.

Nastiti sebelumnya tidak tahu dan mengerti apa niat novi sehingga dia ingin sekali berkunjung ke rumahnya. Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Akhirnya terdengar suara motor dari luar. “Assalamualaikum wr wb. Selamat pagi mbak. Mohon maaf mengganggu.” Ucap novi.

Nastiti yang senang dengan kedatangan novi akhirnya mengenalkan novi kepada seluruh keluarganya.
Nastiti merasa ada yang berbeda dengan rumahnya saat itu. Angin segar masuk secara pelan kedalam dan menembus seluruh raga yang hidup di dalamnya.

Novi kemudian duduk dan memegang lantai ruang tamu rumah nastiti. Seluruh keluarga yang menyaksikan,
termasuk wati merasa berdebar karena belum pernah mereka menyaksikan hal semacam ini selama ini. Novi kemudian berjalan ke arah kamar nastiti. Disana novi melihati sebuah foto yang terletak disamping jendela kamar. Nastiti dan keluarga mengikuti di belakang dan memperhatikan novi
Novi berjalan cepat dan mengambil foto nastiti itu. Ketika diambil, kejadian menyeramkan terjadi.

Nastiti yang awalnya biasa, tiba-tiba tubuhnya seperti terhantam sesuatu dari belakang. Dia tersungkur di tanah dan matanya kemudian melotot.
Novi yang mengetahui hal itu kemudian berlari dan memegang tangan nastiti.

Bapak dan ibu nastiti juga membantu nastiti untuk membawa nastiti ke tempat tidur. Nastiti mengerang dan tertawa cekikikan tidak jelas.
Novi yang mengetahui bahwa nastiti sudah kesurupan akhirnya membacakan doa agar sosok yang bersemayam diraga nastiti segera keluar.

Namun, ketika hendak memegang kepalanya. Tangan novi digigit sejadi-jadinya oleh nastiti.
“hihihi, ngaliho kon menungso laknat ! Tugasku nutup rejekine arek iki durung mari !” (Pergilah kamu manusia laknat ! Tugasku menutup rejekinya anak ini belum selesai !) ucap nastiti yang kesurupan.
Novi mencoba kembali untuk menetralkan tubuh dan berusaha mengeluarkan sosok kuntilanak itu dari raga nastiti. Hingga sebelum novi melepas kuntilanak itu, dia menanyakan sesuatu kepadanya. “Sopo jenengmu ? Knopo kok arek iki seng mbok tutup rejeki dan jodoh e arek iki,
sopo seng ngongkon awakmu ?” tanya novi. (Siapa namamu ? Kenapa kamu tutup rejeki dan jodoh anak ini, siapa yang menyuruh kamu ?)

Nastiti melotot dan mengeluarkan lendir darah dari mulutnya. Kemudian tertawa sekencang-kencangnya. Kemudian menangis sejadi-jadinya.
aku galuh, aku perawan seng dikongkon nutup jodoh e arek iki. Ngelekno wajah e cek gak payu. Onok seng seneng arek iki dan ngongkon aku ben supoyo nastiti gak payu rabi.

Lek ora dilaksanakno, aku bakalan disikso.” (aku galuh, aku perawan yang disuruh nutup jodohnya anak ini.
Menjelekkan wajahnya biar tidak laku. Ada yang suka anak ini dan menyuruh aku agar nastiti tidak laku menikah. Kalau tidak aku laksanakan, aku akan disiksa.)

Mendengar hal itu, novi tidak tinggal diam. Dia kemudian menarik sesuatu dari celah antara jempol kakinya.
Ternyata terdapat benang gaib yang dipasang agar nastiti tirikat dalam kiriman teluh gantung jodoh.

Kemudian membakar kertas yang bertulis penggalan tulisan aneh didalam-Nya.

Sejak saat itu, nastiti sembuh dan kemudian beberapa bulan setelah kejadian tersebut.
Nastiti dipersunting oleh salah satu murid lulusan pesantren yang juga mengajar di sekolah Kabupaten Malang.

Seminggu setelah pernikahan nastiti, terdengar kabar yang memprihatinkan. Wandi dikabarkan meninggal dunia. Anehnya, wandi ditemukan meninggal di gubuk tengah sawahnya
Warga menemukan perlengkapan yang sangat aneh. Terlihat sesajen dan tiga buah dupa yang masih mengepul.

Di bawah sesajen itu terdapat foto nastiti. Warga yang mengetahui itu kemudian membongkar gubuk itu dan membakar peralatan tersebut tanpa sisa.
Nastiti sekarang sudah dikarunia tiga orang anak yang lucu dan hidup bahagia dengan suaminya. Ceritapun selesai.
Darto marah semakin menjadi-jadi lantaran dirinya kesal, nastiti yaitu anaknya sering sekali beradu mulut dengan dirinya.

Niatnya, ingin memberikan sedikit nasehat dan bimbingan supaya anaknya mau segera menikah.
Darto sudah capek menunggu, diusinya yang sudah masuk usia 70 tahun belum juga dia merasakan indahnya menikahkan anak gadis semata wayangnya dan harapan menimang cucu.

Nastiti adalah seorang guru sekolah dasar disalah satu desa, kabupaten Malang.
Kesehariannya setelah mengajar, nastiti membantu mengajar mengaji di Masjid yang begitu terkenal namanya.

Lewat masjid ini, Kabupaten Malang memiliki keunggulan pariwisata religi. Mistosnya, masjid ini dibangun oleh jin.
Namun, jawaban akan misteri itu akan terjawab bagi siapapun yang berkunjung kesana dan berziarah ke makam pendiri masjid.

Sesekali, nastiti meratapi nasibnya yang semakin memilukan. Entah mengapa, di usinya yang telah masuk kepala 3 nastiti belum juga diamanahi jodoh
dan melakukan kewajiban menikah.

Terkadang dirinya menangis sejadi-jadinya dikamar usai bertengkar dengan bapaknya.

Nastiti hanya ingin semua yang dikeluhkan masih memiliki ruang didalam hati bapaknya agar bisa ditampung, nastiti juga perlu didengar sebagai anak.
“Kamu iki, gak mikir apa ? Udah mau uban tapi gak ada niatan mau menikah ?” ucap ayahnya kesal.

Nastiti yang baru saja pulang mengajar kesal dengan ocehan bapaknya setiap hari menanyakan hal yang sama.
“mikir opo pak, Mbok kiro aku gak kepengen opo rabi ? Due anak ! Koyok liane ?! Aku due perasaan pak ! Ojo mung atimu ae seng dirungokno, aku yo butuh pengertian !” saut nastiti sembari menangis sembari melempar gelas kaca ke arah tembok.
( berpikirlah pak, apa kau kira aku tidak ingi menikah ? Punya anak ! Seperti yang lain ? Aku punya perasaan pak ! Aku juga butuh pengertian ! ).

Hari-hari berlalu seperti itu. Ibu nastiti, minah hampir putus asa untuk hidup.
Lelah menyaksikan antara bapak dan anak selalu bertengkar setiap hari. Hingga malam tiba, nastiti hendak pulang ke rumah sehabis mengajar ngaji.

Kebetulan ada wandi, tetangga desa yang baru pulang membeli rokok disebuah warung.
Nastiti hanya mendengus saat berpapasan dengan wandi, dimanapun.

Wandi menyapanya, namun nastiti hanya melempar sedikit senyum kepada wandi.

Wajah wandi yang tersenyum kemudian berubah menjadi kesal lantaran balasan nastiti selalu seperti itu.
Hal itu menjadi terbiasa lantaran sudah sering sekali nastiti seperti itu kepada seseorang yang ditemuinya.

Saat itu, wandi menawarkan tumpangan untuk mengantar nastiti sampai rumah. Namun, nastiti menolak. Dia memilih untuk jalan kaki saja.
Melihat nastiti tidak bisa dipaksa dan ketus. Wandi hanya mengajaknya bersalaman dan pamit pulang.

Kali ini nastiti mau dan mengulurkan tangannya ke arah tangan wandi. Kemudian mereka berpisah
Nastiti keheranan, sejak kapan wandi memakai minyak wangi seperti itu. Baunya seperti bau dupa, merisihkan sekali.

Berkali-kali dia menciumi tanganya dan menghilangkan bau dari minyak wangi wandi tetap saja tidak bisa.
Nastiti mencuci tangan berkali-kali namun bau itu semakin pekat dan kuat sekali hingga seisi rumah termasuk bapak dan ibunya mencium bau aneh itu.

Nastiti sudah lelah dan membiarkan bau itu bertahan di dalam rumahnya.
Angin malam berhembus pelan dan meniup tirai jendela nastiti di kamar. Kali ini, terdengar suara jilatan lidah yang sedang menelan sesuatu.

Nastiti terbangun dalam heningnya malam. Dia menyipitkan mata dan mendengar suara yang menggelikan itu.
Saat terbangun, nastiti merasa gatal seluruh badan. Dia mulai berjalan untuk menyalakan lampu kamarnya.

Dia perhatikan tangan, leher dan kakinya didepan kaca. Tidak ada tanda-tanda kukitnya kena penyakit.
Tidak ada bintik merah, ruam ataupun lainnya. Kulit tubuhnya bersih dan tidak ada bercak penyakit sama sekali.

Namun, dirinya merasakan gatal sangat luar biasa sekujur tubuh. Gatal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Suara jilatan lidah itu semakin keras dan geli.
Nastiti Yyang tetap menggaruk sekujur tubuhnya, hanya bisa mencari suara itu.

Ketika dirinya melihat kearah jendela, alangkah terkejutnya, dibalik jendela telah berdiri sesosok perempuan besar yang melotot dan lidah panjang yang berlumuran darah menjulur kebawah.
Sosok perempuan itu tersenyum lebar kearah nastiti. Nastiti yang terkejut kemudian pingsan.

Keesokan harinya, nastiti membuka kedua matanya. Dia menyadari bahwa sudah berada diruangan yang berbeda.

Bukan lagi kamarnya, tetapi kamar rumah sakit.
Kemudian terdengar suara langkah yang mendekat kepadanya.

Ternyata itu ibu nastiti, ibunya yang melihat nastiti sudah siuman segera memanggil suaminya dan memberitahu bahwa nastiti sudah siuaman.

Nastiti heran dan semakin bingung, karena seluruh badannya sangat sakit sekali.
Hal terakhir yang dia ingat hanya kejadia dikamarnya semalam dan rasa gatal yang menyerang sekujur tubuhnya.

Bapak nastiti kemudian berjalan cepat menghampirinya. Nastiti semakin bingung dengan sikap ayahnya yang kemudian menangis sesenggukan.
“Bapak minta maaf ti, bukan bermaksud ingin menyakiti hatimu saat ini. Jadi bapak mohon, lupakan semua yang pernah bapak katakan padamu.

Hingga membuatmu sakit hati dan berusaha bunuh diri. Maafkan bapak.” Ucap bapak nastiti menyesal.
Nastiti justru bingung dengan ucapan bapaknya yang seperti itu.

Ternyata, terdapat kejadian yang sama sekali tidak diingat oleh nastiti.

Dia baru menyadari ada kejadian janggal yang menimpanya.
Nastiti melihat pergelangan tangan kirinya sudah terbalut kain putih dan terlihat sedikit darah yang terlihat jelas dikain itu.

Nastiti curiga, apa sebenarnya yang terjadi. Bukan hal yang pertama untuk kejadian hal yang seperti ini.
Tetapi, bapak dan ibunya juga pernah dulu berkata bahwa nastiti hendak gantung diri dan juga hendak membakar tubuhnya sendiri.

Tetapi hal itu tidak disadari oleh nastiti.

Hari itu, nastiti diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisinya sudah membaik.
Di perjalanan nastiti tetap menyimpan seribu pertanyaan itu didalam hatinya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya selama ini. Sungguh nastiti ingin mengetahui jawabannya.

Nastiti sudah mulai beraktivitas seperti sedia kala. Mengajar, ditengah waktu istirahat.
Dia didekati oleh salah satu temannya mengaja, Wati. Wati adalah teman seprofesi dengan nastiti.

Wati mengobrol soal kondisi nastiti yang sedikit berat melewatinya. “Aku sendiri tidak mengerti wat, mengapa aku seperti ini.
Bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang aku lakukan ini.” Jelas nastiti kepada Wati.

Wati kemudian mengingat temannya yang punya keahlian untuk melihat sesuatu yang gaib, hingga akhirnya menyuruh nastiti untuk bertanya kepadanya.
Keesokan harinya, nastiti dan Wati berboncengan hendak pergi ke suatu tempat.

Ternyata, mereka berjanjian untuk bertemu dengan teman Wati itu, Novi namanya.

Mereka telah mengatur janji untuk bisa bertemu dengan Novi di taman kota.
Novi yang sibuk kuliah membuat mereka susah mengatur jadwal bertemu.

Sesampainya di taman kota, nastiti mencoba duduk di kursi di ikuti dengan Wati.

Selama 10 menit mereka menunggu kedatangan novi. Akhirnya, pertemuan mereka berlangsung.
Novi yang melihat sesuatu yang aneh di dalam diri novi hanya bisa terdiam dan tidak banyak mengeluarkan suara.

Tidak banyak perbincangan saat itu, novi hanya memberi pesan bahwa akan datang ke rumah nastiti minggu depan.
Saat itu hanya berbincang soal kabar dan seputar kesibukan mereka masing-masing.

Namun, ada yang berbeda dengan nastiti saat itu. Dia sebebas itu meluapkan emosi dan apa yang sedang dia rasakan saat ini, tertawa menangis semudah itu dia luapkan kepada novi dan wati.
Hari pun berlalu, tiba waktunya nastiti kedatangan tamu dirumahnya. Iya, novi yang saat itu berjanji untuk datang ke rumah nastiti.

Nastiti sebelumnya tidak tahu dan mengerti apa niat novi sehingga dia ingin sekali berkunjung ke rumahnya. Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Akhirnya terdengar suara motor dari luar. “Assalamualaikum wr wb. Selamat pagi mbak. Mohon maaf mengganggu.” Ucap novi.

Nastiti yang senang dengan kedatangan novi akhirnya mengenalkan novi kepada seluruh keluarganya.
Nastiti merasa ada yang berbeda dengan rumahnya saat itu. Angin segar masuk secara pelan kedalam dan menembus seluruh raga yang hidup di dalamnya.

Novi kemudian duduk dan memegang lantai ruang tamu rumah nastiti. Seluruh keluarga yang menyaksikan,
termasuk wati merasa berdebar karena belum pernah mereka menyaksikan hal semacam ini selama ini. Novi kemudian berjalan ke arah kamar nastiti. Disana novi melihati sebuah foto yang terletak disamping jendela kamar. Nastiti dan keluarga mengikuti di belakang dan memperhatikan novi
Novi berjalan cepat dan mengambil foto nastiti itu. Ketika diambil, kejadian menyeramkan terjadi.

Nastiti yang awalnya biasa, tiba-tiba tubuhnya seperti terhantam sesuatu dari belakang. Dia tersungkur di tanah dan matanya kemudian melotot.
Novi yang mengetahui hal itu kemudian berlari dan memegang tangan nastiti.

Bapak dan ibu nastiti juga membantu nastiti untuk membawa nastiti ke tempat tidur. Nastiti mengerang dan tertawa cekikikan tidak jelas.
Novi yang mengetahui bahwa nastiti sudah kesurupan akhirnya membacakan doa agar sosok yang bersemayam diraga nastiti segera keluar.

Namun, ketika hendak memegang kepalanya. Tangan novi digigit sejadi-jadinya oleh nastiti.
“hihihi, ngaliho kon menungso laknat ! Tugasku nutup rejekine arek iki durung mari !” (Pergilah kamu manusia laknat ! Tugasku menutup rejekinya anak ini belum selesai !) ucap nastiti yang kesurupan.
Novi mencoba kembali untuk menetralkan tubuh dan berusaha mengeluarkan sosok kuntilanak itu dari raga nastiti. Hingga sebelum novi melepas kuntilanak itu, dia menanyakan sesuatu kepadanya. “Sopo jenengmu ? Knopo kok arek iki seng mbok tutup rejeki dan jodoh e arek iki,
sopo seng ngongkon awakmu ?” tanya novi. (Siapa namamu ? Kenapa kamu tutup rejeki dan jodoh anak ini, siapa yang menyuruh kamu ?)

Nastiti melotot dan mengeluarkan lendir darah dari mulutnya. Kemudian tertawa sekencang-kencangnya. Kemudian menangis sejadi-jadinya.
aku galuh, aku perawan seng dikongkon nutup jodoh e arek iki. Ngelekno wajah e cek gak payu. Onok seng seneng arek iki dan ngongkon aku ben supoyo nastiti gak payu rabi.

Lek ora dilaksanakno, aku bakalan disikso.” (aku galuh, aku perawan yang disuruh nutup jodohnya anak ini.
Menjelekkan wajahnya biar tidak laku. Ada yang suka anak ini dan menyuruh aku agar nastiti tidak laku menikah. Kalau tidak aku laksanakan, aku akan disiksa.)

Mendengar hal itu, novi tidak tinggal diam. Dia kemudian menarik sesuatu dari celah antara jempol kakinya.
Ternyata terdapat benang gaib yang dipasang agar nastiti tirikat dalam kiriman teluh gantung jodoh.

Kemudian membakar kertas yang bertulis penggalan tulisan aneh didalam-Nya.

Sejak saat itu, nastiti sembuh dan kemudian beberapa bulan setelah kejadian tersebut.
Nastiti dipersunting oleh salah satu murid lulusan pesantren yang juga mengajar di sekolah Kabupaten Malang.

Seminggu setelah pernikahan nastiti, terdengar kabar yang memprihatinkan. Wandi dikabarkan meninggal dunia. Anehnya, wandi ditemukan meninggal di gubuk tengah sawahnya
Warga menemukan perlengkapan yang sangat aneh. Terlihat sesajen dan tiga buah dupa yang masih mengepul.

Di bawah sesajen itu terdapat foto nastiti. Warga yang mengetahui itu kemudian membongkar gubuk itu dan membakar peralatan tersebut tanpa sisa.
Nastiti sekarang sudah dikarunia tiga orang anak yang lucu dan hidup bahagia dengan suaminya.

Sumber: @siskanoviw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *