RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Teman Ngobrol

TEMAN NGOBROL

Berdasarkan dari sebuah kejadian nyata

Malem sob!

Kisah yg akan ane tulis di bawah ini merupakan sebuah peristiwa yg pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Nama-nama tempat dan tokoh yg bersangkutan akan akan ane samarkan demi kenyamanan bersama. 

 Aku tersentak dari tidurku yang terasa begitu lama. Barusan aku bermimpi. Tapi mimpinya mengerikan sekali. Sekujur tubuhku masih bergidik, seolah-olah mimpi tersebut bukan sekedar mimpi buruk biasa. 

Kudapati cuma ada diriku saja yang berada di dalam mushola kecil yang terletak di SPBU tempat kusinggah tadinya. Saking lelahnya aku dalam perjalanan, tak sadar aku terlelap saat menumpang beristirahat. Bergegas aku keluar untuk membasuh muka agar pikiran bisa sedikit segar. Lokasi sekitar SPBU ini juga sudah lengang, hanya terlihat beberapa karyawan yang masih bertugas. Rasa kantuk ku benar-benar hilang setelah tertidur cukup lama. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan pulang saat itu juga.

Mobil box yang kukemudikan berjalan pelan menembus gelapnya malam. Aku tak berani melarikan mobil ini dengan cepat, selain lokasi yang minim penerangan, aspal yang melapisi jalannya juga tidak begitu mulus. Terlalu berisiko kalau harus mengebut. Padahal jalan yang kulalui ini satu-satunya akses penghubung dari satu kecamatan menuju kecamatan yang lain.

Kulihat jam hampir menunjuk ke angka sepuluh. Masih sekitar lima jam kedepan barulah aku sampai di kota tempat rumahku berada. Seandainya saja aku tidak ketiduran lama tadi, mungkin aku sudah berada jauh dari daerah ini. Jalanan ini terlalu gelap, sekitarnya masih banyak pohon-pohon besar dan semak belukar seperti hutan. Rumah-rumah penduduk pun sepi senyap, seperti tak ada yang menghuni. Kuputar musik agak kerasan untuk mengatasi rasa sepi, sementara mobil meluncur dengan kecepatan perlahan.

Ada seorang wanita sedang berjalan sendirian ditepi jalan. Melihat mobilku, ia melambaikan tangannya. Mungkin sedang butuh tumpangan. Sebelumnya, jarang sekali aku menumpangkan seseorang apalagi perempuan. Yah kali ini bolehlah, tolongin orang sesekali, pikirku. Lumayan juga kan buat teman ngobrol. Tanpa pikir-pikir lagi, ku pinggirkan mobil dan membuka pintunya seraya kepalaku melongok melihat perempuan yang hendak menumpang tersebut. Ia berlari-lari kecil menuju ke mobil. 

Perempuan itu mengenakan kaos minim berwarna putih dan bawahannya berupa celana jins biru yang ketat, ia juga membawa sebuah tas tangan mungil yang mungkin isinya kosmetik.

Suit.. suit.. aku bersiul pendek. 

“Makasih lho mas udah mau numpangin”, katanya ketika sudah duduk di dalam mobil.

Aku tak menjawab, masih sibuk memperhatikan rupanya. Manis juga ni cewek, kata hatiku.

” Lha kok bengong toh mas? “, serunya dengan aksen medok yang kental.

Aku jadi tergagap. 

“Oh iya.. iya.. Kita jalan ya! “, ucapku, sedikit gugup.

Lalu, kami pun meneruskan perjalanan bersama-sama.

“Makasih lagi ya mas udah mau numpangin saya”, katanya, membuka obrolan.

” Sama-sama! “, jawabku sambil melempar senyum kepadanya.

Timbul rasa penasaranku dengan perempuan ini. Aku jadi ingin mengenalnya lebih dekat. 

“Mbak ini siapa namanya? “, tanyaku.

” Aku Kartinah,mas! Kalo mas sendiri namanya siapa toh? “, ia berkata dengan cepat.

” Nama saya Wibowo, mbak. Tapi panggil aja Charles, biar akrab. Hehe! “, jawabku, sok kenal. 

Sudah kebiasaanku memakai nama palsu saat berkenalan dengan seseorang , supaya kedengarannya keren saja. Haha! Kartinah manggut-manggut, ia lalu tersenyum sedikit. Wajahnya ayu dengan rambut sepanjang bahu. 

“Mbak darimana dan mau kemana, malem-malem buta kok begini malah keluyuran? “, tanyaku yang sedari tadi penasaran dengan tujuan si mbak ini.

” Mau pulang ke rumah ibuk, mas”, jawabnya singkat. 

“Ooh, mau ke rumah ibuknya toh? Kirain saya tadi mbaknya itu demit yang ngelintas”, ucapku sambil tertawa.

Kartinah diam, tak merespon gurauanku. Mungkin ia tersinggung dengan omonganku barusan. 

“Mbak Kartinah.. “, panggilku saat melihat ekspresi mukanya yang kaku.

Tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara mengikik.

Kik kik kik kik..

Sontak saja aku terpekik.

” MBAK!! “

Kartinah masih terkikik-kikik dengan pandangan menatap lurus ke depan. Hampir saja kuinjak pedal rem secara mendadak karena terlalu paniknya, ketika kikikan Kartinah berubah menjadi tawa pecah. 

“Hahahaha.. maaf ya mas maaf..

Hahaha.. “.

Aku menarik nafas lega, sadar kalau aku baru saja dikerjai olehnya.

Asem!!

” Mbak ini gimana sih? Bercandanya kira-kira ngapa! Bahaya tauk! “, rutukku.

Ia masih tertawa, merasa puas berhasil menakutiku yang memang agak penakut ini. 

“Salahnya mas dong, kok tega banget gitu aku disamain dengan demit. Setan mana coba yang punya bodi bahenol kayak aku? “, pungkasnya sambil bergaya menggoda.

Iya deh, kamu memang bahenol, ucapku, di dalam hati. 

“Udahlah, lupain aja!

Ngomong-omong saya belum tau rumah ibuknya si mbak itu dimana tepatnya?”.

Ia menjawab, “itu di jalan Maju Mundur lho mas. “

“Hah? Jalan Maju Mundur yang di kecamatan Jungkir Balik itu kan?! “, tanyaku.

” Ho-oh! “, jawab Kartinah lagi. 

Yang benar saja, ucap batinku.

“Jalannya itu masih sangat jauh dari sini mbak. Pake kendaraan aja bisa tiga jam-an baru nyampe. Lha ini mbak malah mau jalan kaki kesana,nyampenya kapan? “. 

Wajar kalau aku agak kaget mendengar penuturannya,karena tentang nama-nama jalan yang ada di kecamatan dan kabupaten serta estimasi jarak tempuhnya tentu aku telah hapal luar kepala. Soalnya aku sudah sering melintasi daerah-daerah tersebut saat mengantarkan barang dari kota satu ke kota yang lainnya.

“Kenapa gak besok pagi aja mbak pulangnya? Kan rawan jam segini perempuan jalan sendiri. Ntar kalo ada yang ngebegal kan repot urusannya.. “, kilahku. 

“Yahh, mau gimana lagi mas. Akunya udah gak kuat, gak tahan.. “, ucap Kartinah, nada suaranya jadi agak sedih.

Hmm, kayaknya problem rumah tangga nih, tebakku. Sebenarnya aku tak begitu suka ikut campur urusan orang, tapi demi melihat mimik mukanya yang sendu, aku jadi tergelitik ingin mencari tahu lebih dalam lagi.

“Emangnya ada masalah sama suaminya ya mbak? “. 

“Kok mas tau? *, tukas Kartinah, merasa heran.

” Hehe, nebak aja ini.. “, jawabku sekenanya.

Ia menunduk dalam, jarinya disapukan ke bagian matanya. Ia menangis. 

“Sejujurnya iya mas. Tadi aku berantem sama suami. Akunya udah gak sanggup, mending minggat aja sekalian.. “, tukasnya dengan terisak.

Malang sekali, kata batinku. 

Suami apaan punya istri semok macam Kartinah yang seharusnya disayang-sayang tapi malah ditindas sedemikian rupa.

“Untung aja aku ketemu sama mas di jalan tadi, kalau enggak, aduh..gak taulah aku harus ngapain! Makasih ya mas atas tumpangannya”, ucapnya sambil tersenyum manis. 

“Sama-sama mbak. Dari tadi perasaan nyebut makasih terus, hehe.. “, kataku.

Mobil masih melaju pelan dengan lancarnya. Kami membisu selama beberapa saat.

” Mbak sering ribut dengan suaminya ya? “, tanyaku memecah kesunyian. 

Kartinah tak langsung menjawab, ia memejamkan matanya sejenak.

“Sering mas. Sering banget malahan.. “, katanya.

” Saya suka dipukulin mas! “

Wah, KDRT nih!

“Beneran, mbak?! “, tukasku, agak memekik.

” Laporin polisi dong! “. 

Air matanya mengalir lagi.

“Gimana saya mau lapor mas, kalo dia udah keburu matiin saya duluan mas..”.

” Eh, maksud mbak? “, tanyaku agak deg-degan dengan kalimatnya barusan.

Kartinah melanjutkan sambil meraba perutnya. 

“Aku udah mati dibunuh suamiku mas! Perutku ini ditusuknya pake pisau sampe aku mampus lho mas.. “

Hah? Aku berusaha mencerna omongannya. Tapi belum selesai aku berpikir, lagi-lagi Kartinah mengikik persis seperti sebelumnya.

Kik kik kik kik…. 

“Plis deh mbak jangan becanda mulu dong! “, pintaku dengan suara agak keras.

Tapi ia tetap terkikik sambil badannya menghadap ke arahku. Matanya melotot lebar. 

Kali ini, sumpah aku merinding. Siapa tahu jika si Kartinah memang perempuan jadi-jadian. Apalagi baru saja ia mengaku bahwa ia sudah mati akibat dibunuh sang suami. Dalam keadaan sepanik ini, aku hendak meminggirkan mobil dan berencana untuk kabur. 

Namun sebelum sempat rencanaku terlaksana, Kartinah sudah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Dadanya yang membusung sampai ikut bergoyang-goyang.

“Hahahaha… ” 

Kurang asyemm!!! makiku.

Ternyata, lagi-lagi aku sukses dikerjai untuk yang kedua kali.

“Hahaha maaf ya mas.. maaf.. “.

Gemas juga rasanya dijadikan objek becandaan kayak gini. 

“Tega amat si mbak ngerjain saya mulu! Gak lucu ah! “, marahku.

Ia malah berkilah dengan entengnya, “maaf mas, gak lagi deh! Biar suasananya lebih santai, gak tegang-tegang amat gitu, hihi.. ” 

Hehh, santai-santai ndasmu!

Hampir saja jantungku ini copot dari tempatnya.

“Iya, tapi jangan diulang lagi! Awas lo sekali lagi! “, ancamku, dengan nada kubuat agak serius. 

Dia menggangguk.

“Makanya mas juga jangan banyak tanya-tanya lagi, fokus aja ke jalannya!” ucapnya.

“Berarti bohong dong kalo mbaknya dipukulin sama suami? “, tanyaku,yang mulai merasa jengkel sedari tadi jadi korban pembodohannya. 

“Ehhh iya! Kita cuma ribut-ribut biasa aja kok mas.. “, jawab Kartinah sambil tersenyum malu-malu.

Cewek edan! gumamku.

Untung aja cakep, kalau tidak mungkin sudah kutinggalkan di pinggir jalar sekarang juga.

Jarum jam menunjuk ke angka satu lebih sedikit saat mobil memasuki kecamatan Jungkir Balik. Langit yang tadinya cerah dipenuhi dengan taburan bintang, mendadak berubah menjadi gerimis yg ringan. Suhu udara seketika dingin mencekam. Kartinah memeluk erat dirinya sendiri. 

“Kedinginan ya mbak? “, celetukku iseng.

Ia mengangguk lemah, perjalanan yang jauh mungkin membuatnya letih.

” Nyantai aja. Gak lama juga kita sampe di rumah ibuknya si mbak! “, kataku menenangkannya. Kali ini ia tak menggubris ucapanku. Sejurus kemudian, tercium aroma wangi yang sangat semerbak. Begitu pekat baunya sampai-sampai aku agak kesulitan untuk bernafas.

“Lha, mbaknya pake parfum ya? Wangi amat! “, tukasku sambil menggosok-gosok hidung agar penciuman kembali normal. 

“Mas gak suka? Maaf deh kalo gitu.. “, jawab Kartinah.

” Ehh, suka sih! Cuma wanginya agak aneh gimana gitu.. “

Memang jika mau jujur, aku sedikit terganggu dengan aromanya yang menurutku agak janggal. Dan juga belum pernah aku mencium bau parfum yang serupa. 

“Agak aneh gimana? Masnya aja yang gak tau! “, sahut Kartinah.

” Gak tau gimana mbak? “

Ia menjelaskan, “ini kan wangi kembang taburan untuk makam, mas! Yang biasanya dipake di kuburan itu lho.. “, pungkasnya, lalu ia terkikik geli. Hihihihi.

Kudukku berdiri mendengar tawanya. Bayangkan saja, hanya sendiri di jalan yang gelap gulita disertai rintik-rintik tengah malam dan ditemani seorang wanita asing yang hobinya cekikikan tak jelas.Oh nasibku benar-benar apes malam ini. Ingin rasanya cepat sampai di tujuan dan buru-buru menurunkannya agar semua ini lekas selesai.

“Mbak tolong becandanya udahan! Ini tengah malem buta, ntar ada demit beneran lewat gimana? “, keluhku. 

“Hihihi, masnya lucu sih! Ini yang ku pake parfum aroma melati biasa. Sampean aja yang parno duluan. Dadi wong lanang kok takut sama demit, takut tuh sama Tuhan mas.. “, jawab Kartinah dengan panjang lebar. 

“Bener! Tapi kalo becanda tuh liat waktu dan tempat juga kale! ” sanggahku , tak mau kalah.

“Tenang aja mas. Setan gak bakalan nyakitin kok, malahan manusia sifatnya bisa lebih mengerikan dibanding setan itu sendiri”, tukasnya dengan mimik serius. 

Halah, pake berdiplomasi segala, pikirku. Bodo amatlah, aku capek dan bosan di kerjai terus.

“Udahlah! Saya mau konsen ke jalannya dulu. Udah gak seberapa jauh lagi ini.. “, pungkasku, akhirnya. 

Si mbak yang cantik tapi aneh ini merapatkan matanya. Ia mengantuk. Kasihan-kasihan juga, tapi mengingat kelakuannya yang suka iseng, bikin hati jengkel jadinya. Tak lama kemudian, kami pun sampai di jalan Maju Mundur, lokasi di mana rumah ibunya Kartinah berada. Ia menyebutkan kalau rumah tersebut terdapat di dalam sebuah gang. Pelan-pelan kususuri jalan mencari gang yang ia maksud. Di sepanjang jalur ini terdapat bukit-bukit tinggi di bagian kanan dan kirinya. Pada bukit-bukit tersebut, berjejer banyak sekali kuburan-kuburan tua. Agak ngeri juga kalau melewati daerah ini sendirian bila malam. Biasanya aku selalu agak ngebut ketika melintasi jalan yang terkesan horor ini. Bahkan teman-teman sesama pengemudi banyak yang bilang jika jalan ini termasuk wilayah angker, walaupun aku sendiri belum pernah mengalami kejadian mistis ditempat ini. Kepalaku masih celingak-celinguk berusaha menemukan gang tersebut. 

“Mana nih mbak gang nya, udah setengah jalan blom keliatan juga.. “, keluhku.

” Dekat lagi kok mas”, jawab Kartinah, polos.

Kumajukan mobil sedikit lagi, tak jauh di sana, tepat di sebelah kanan jalan kulihat ada sebuah gerbang bercat biru dengan penerangan seadanya. 

“Nah itu dia gangnya, mas! “, seru Kartinah sambil menunjuk ke arah gang tersebut.

Syukurlah, sampai juga, ucap batinku yang kelelahan. Kutepikan mobil di sebelah kiri jalan ketika tiba tepat di depan gerbang masuk gang itu. Kartinah tinggal menyebrang dan ia pun akan sampai ke rumah ibunya dengan aman.

Tapi, serasa ada yang ganjil. Gang itu lokasinya terlalu gelap dan tak nampak ada satupun rumah yang terlihat di dalamnya. Dengan bantuan sinar lampu yang pas-pasan, kubaca penuh seksama tulisan yang terpampang di gerbangnya.

KOMPLEK PEMAKAMAN UMUM 

Aku terlonjak begitu kagetnya.

“Gak salah tempat ini , mbak?! “, ucapku, langsung menoleh pada Kartinah.

Wanita itu terduduk dengan posisi badan ditegakkan dan menghadap ke diriku. Senyumnya aneh, ia menyeringai seram. 

“Bener itu mas. Makasih ya udah mau anterin.. hihihi… “

Mendadak ia cekikikan untuk yang kesekian kalinya, namun untuk yang sekarang suaranya jauh lebih melengking. KIK KIK KIK KIK… 

“Mbak, udah dong! Saya capek! “, bentakku dengan kemarahan yang memuncak. Tapi saat melihat perubahan Kartinah pada penampilannya yang begitu drastisamarahku berbalik menjadi ketakutan yang luar biasa. 

Rambut Kartinah memanjang secara tak beraturan. Dua matanya menonjol seolah-olah biji di dalamnya akan mencuat keluar. Wajah yang tadinya begitu ayu, menjadi keriput bersamaan dengan mulutnya yang menganga lebar dan meneteskan liur dari lidahnya yang menjuntai. 

Astaghfirullah!! pekikku kuat-kuat.

Rupanya, Kartinah memang setan sungguhan. Tololnya, kenapa tak kusadari semenjak ia naik ke mobil ini. Ah, setan memang penuh tipu muslihat. Tubuhku kaku tak dapat kugerakkan. Aku hanya sanggup mematung dan menonton setan alas itu menyiksaku dengan rupanya yang menakutkan.

Ia terkikik-kikik dengan raut muka seram tepat di depan wajahku. Sekonyong-konyong, hidungku diterpa dengan bau busuk yang amat sangat menyengat. Aromanya begitu memualkan, sampai-sampai membuatku muntah seketika.

HOOEEKK!!! 

“Lha kebauan toh mas?

Hihi enak kan.. enak kan.. “, ucap setan Kartinah dengan suara cempreng.

Ia mengusap-usap perutnya yang berlumuran darah. Sempat kuperhatikan ada banyak belatung dan ulat-ulat kecil berkerumun di lubang yang ada di perutnya. Terlalu menjijikkan.  Kubaca dalam hati doa-doa keselamatan yang ku hapal, memohon pada Tuhan agar teror ini segera berlalu.

Tenagaku sendiri sudah habis, hingga penglihatanku pun mulai samar. Namun aku masih sadar saat setan itu berkata, ” aku mau pulang dulu ya mas. Lain kali aku numpang lagi. Makasih lho mas udah nganterin.. “

Ia berucap seperti itu sambil kepalanya bergoyang-goyang kekanan dan kekiri. 

Pandanganku semakin memburam tapi telingaku bisa mendengar kalimatnya yang ia sebut secara berulang-ulang.

“Makasih lho mas.. “

“Makasih lho mas.. “

“Makasih lho mas.. “

Dan semuanya pun menjadi gelap total.

Aku tersentak dari tidurku yang terasa begitu lama. Barusan tadi aku bermimpi. Tapi mimpinya mengerikan sekali. Sekujur badanku masih terasa bergidik, seolah-olah mimpi tersebut bukan sekedar mimpi buruk biasa. Kudapati hanya ada diriku saja yang berada di dalam mushola kecil yang terletak di SPBU tempat kusinggah tadinya.

Setelah membasuh muka, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang sekarang juga. 

Kulihat jam hampir menunjuk ke angka sepuluh ketika mobil box yang ku kendarai mulai berjalan menembus malam. Di depan sana, ada seorang wanita sedang berjalan sendirian. 

Melihat mobilku yang lewat, ia segera melambaikan tangannya. Kemungkinan ia butuh tumpangan. Kutepikan mobil, lalu segera kubukakan pintunya agar ia dapat masuk.

Lumayanlah, buat teman ngobrol, gumamku. 

“Makasih ya mas udah mau numpangin”, kata perempuan tersebut, setelah ia berada di dalam mobil.

” Salam kenal ya mas, namaku Kartinah! “

Selesai 

Thread By @adelbert_rusty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *