RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Teman Tapi Setan

Rena seorang mahasiswi. Ia punya sahabat karib bernama Susi, Rena, dan Susi berteman sejak SMA. Mereka sama-sama merantau untuk kuliah. Rena dan Susi sering bertukar cerita. Tapi kisah persahabatan ini bukan cerita biasa.

Kisah Rena dan Susi mirip dimulai sejak mereka SMA. Mereka sangat dekat, sering main dan mengerjakan tugas bersama. Mereka tak terpisahkan. Hingga ketika kuliah mereka pun memilih jurusan yang sama.

Dari kampung mereka naik bis berdua. Pontang-panting mereka kesana kemari memgurus daftar ulang dan berbagai persaratannya. Tapi bersama, semua jadi lebih mudah.

Di kampus mereka menemukan teman-teman baru, tapi perasaan senasib sepenanggungan membuat mereka tetap dekat. Mereka tinggal di kosan yang sama walau kamar mereka berbeda.

Di semester tiga, ada sesuatu yang membuat hubungan persahabatan mereka memburuk. Ada jebakan bernama “jatuh cinta ke orang yang sama”.

Rena yang pertama kali mengenal Doni. Senior dari jurusan yang berbeda. Rena mengenalnya di sebuah UKM kampus. Doni si senior yang terkenal petakilan itu menarik hati Rena.

Susi kenal Doni karena sebuah tugas kampus. Ia memerlukan sebuah buku. Setelah kesana kemari mencari info, salah satu temannya yang merupakan adik tingkat Doni menyarankan Susi meminjam ke Doni. Dari sms-an untuk pinjam meminjam berunjung sms panjang lebar bertukar cerita.

Seperti kebanyakan sahabat, mereka saling bertukar cerita tentang lelaki yang mereka suka.

“Kemarin dia nganterin aku pulang” kata Rena.

“Progress yang bagus”

“Kamu gimana?”

“Masih sekedar sms-an. Tapi minggu ini dia ngajak keluar”

“Wah mantap!”

Oh ya lupa, kejadian ini tahun 2008 ya.

Malam senin, Rena sedang di kamarnya menonton drama di laptopnya. Sesekali ia membalas pesan dari Doni. Padahal hari itu, Doni jalan berdua sama Susi. Pintu kamar Rena diketuk. Rena melepas headset lalu berjalan ke pintu.

Di depan pintu, Susi tersenyum sumringah.

“Jadi!” Kata Susi.

“Jadi bagaimana?”

“Aku sama Kak Doni udah jadian”

“Kak Doni?”

“Itu cowok yang sering aku ceritain. Tadi dia nembak aku di depan” kata Susi senang. Wajah Rena langsung berubah.

“Kak Doni yang jurusan Fisika?”

“Iya. Oh ya aku belum pernah nyebut nama ya?”

“Iya hehe. Selamat ya Sus”

“Tinggal kamu yang semangat! Biar bisa double date kita!” Kata Susi memegang tangan Rena. Rena tampak tak bersemangat.

“Kamu kok lemah gini? Kamu sakit?”

Tanya Susi.

“Iya nih, aku mau istirahat”

“Mau aku cariin obat?”

“Gak usah aku mau tidur aja” kata Rena.

“Yaudah, aku mau balik ke kamar dulu. Mau mandi. Kalau kenapa2 kabarin ya Ren”

“Iya” sahut Rena lemah. Ada yang remuk tapi bukan mie instan.

Ketika pintu tertutup, Rena langsung terduduk di depan pintu. Ia dan Doni memang masih PDKT saja, tapi perasaannya terlanjur dalam. Ia sudah terlalu berharap. Tak ada yang lebih menyedihkan dari harapan yang terpaksa mati. Susi adalah sahabatnya, ada sedikit kesal dalam hatinya.

Sejak hari itu Rena berubah. Ia mulai menjauhi Susi. Rena tahu Susi tak berniat mengambil Doni darinya. Tapi orang yang jatuh cinta kan biasanya jadi goblok. Nah Rena tetap merasa marah dengan Susi.

Rena berpikir, apakah dia yang baperan? Diperiksanya lagi smsnya dengan Doni, ah Doni memang semanis itu padanya. Memang Doninya juga yang brengsek.

Tapi namanya goblok ya goblok. Kalian mungkin pernah di posisi ini. Kesal sama orang walau tahu dia gak salah. Logikanya mati. Segalanya disetir oleh perasaan.

Pernah Rena bertanya. “Kok Kak Doni sms manis gitu dulu sama aku? Padahal kan lagi pdkt sama Susi?”

Terus Doni cuma jawab “Aku gak tahu kamu sahabat Susi. Lagipula aku baik ke semua cewek kok”

Deng, dasar fucekboi

Suatu malam sekitar pukul 2 Rena terbangun. Tiba-tiba ie kebelet pipis. Kebetulan kamar mandi kos itu ada di luar. Jadi Rena berjalan keluar. Dan alangkah kaget Rena ketika melihat Doni keluar kamar Susi dengan mengendap-ngendap. Doni hanya menoleh lalu memalingkan muka.

Menurut kalian Doni abis ngapain?

Dua bulan setelah Rena menjauh. Di kantin kampus Susi menemuinya.

“Kayaknya kita perlu ngomong deh” kata Susi.

“Kayaknya kamu berubah banget akhir-akhir ini Ren”

“Kamu yang berubah Sus. Sejak punya pacar kamu lupa kan sama aku”

“Bukannya kamu yang menghindar?”

“Aku gak kuat Sus, aku gak kuat” kata Rena menahan tangis.

“Ada apa Ren? Ada apa?”

“Kamu ingat orang yang dulu sering aku ceritain?”

“Iya”

“Itu kak Doni Sus” kata Rena. Susi kaget. Ia kini mengerti kenapa Rena menjauh.

“Tapi aku gak tau Sus”

“Iya Kamu gak salah. Cuma aku yang gak kuat liatnya. Aku terlanjur suka sama kak Doni Sus” kata Rena. Ia menyeka air mata.

Susi serba salah. Ia sayang ke Doni, tapi ini menyangkut persahabatannya. Sore itu, ketika hujan mulai turun rintik, Susi pulang dengan sepeda motornya. Perasaannya tak nyaman.

Malam itu ketika hujan turun dengan derasnya. Pintu kamar Rena diketuk. Rena membuka pintu. Susi di depan pintu. Wajahnya kusut. Bukan Susi yang Rena kenal. Bajunya basah kuyup. Ia hanya menunduk.

“Kamu kenapa Sus?” Tanya Rena.

“Boleh pinjam handuk? Aku mau mandi. Kunci kamarku hilang” kata Susi. Bagaimanapun juga, Susi temanmya. Diambilkannya handuk dan pakaian ganti.

“Pakai pakaianku aja”

“Gak usah” sahut Susi. Ia lalu pergi ke kamar mandi.

Rena mencium aroma melati.

Setelah itu Susi tak muncul lagi. Tapi Rena berpikir Susi sudah dapat kunci cadangan dari ibu kos.

Pagi ketika Rena keluar kamar hendak mandi, handuk itu tergeletak di depan kamar.

Sekitar 3 hari Susi tak masuk kuliah. Teman-teman menanyakan kabar Susi ke Rena. Mereka tahunya Susi dan Rena begitu akrab. Tapi Rena tak tahu kabar Susi. Pesan yang ia kirim juga tak ada balasan.

Malam pukul 9, Rena baru pulang dari kampus. Ia melalui kamar Susi. Dari dalam kamar terdengar suara “Ren, tolong! Ren, Tolong!” Itu suara Susi. Rena berusaha membuka pintu tapi terkunci.

“Kamu kenapa Sus?” Tanya Rena.

“Ren, tolong!” Hanya itu suara yang terdengar.

Rena mencari Ibu kos, tapi ibu kos lagi keluar. Rena sedikit panik. Lalu ia ingat, Mereka pernah bertukar kunci cadangan. Ia saking dekatnya mereka dulu, mereka sampai begitu. Ia ke kamar dan mencari kunci di lemari.

Kunci itu ia temukan di laci lemari. Maka ia lalu berlari ke kamar Susi dan buru-buru membuka pintu.

Lampu kamar mati. Rena menyalakan lampu. Tak ada siapapun di sana?.

Apakah Susi mengerjainya? Pikiran itu muncul di kepala Rena. Bisa saja Susi pergi saat Rena sibuk mencari kunci. Tapi untuk apa? Untuk apa Susi iseng begitu?

Rena malam itu tak dapat tidur. Ia yakin sekali itu suara Susi. Tapi kenapa kosong?. Pikirannya campur aduk.

Lalu pintu kamarnya terdengar ada yang mengetuk.

3 kali ketukan itu, membuat Rena melek lagi setelah mulai mengantuk.

Pintu dibuka. Tak ada siapa-siapa. Hanya aroma melati yang menusuk-nusuk. Bulu kuduk Rena mulai merinding. Ia ingat cerita salah satu penghuni lama. Pernah ada penampakan di kosan itu.

Dan seminggu lamanya, Susi tak ada kabarnya. Dihubunginya temanmya di kampung. Apakah Susi pulang? Tidak juga. Susi tidak pulang ke kampung.

Ah Itu bukan Susi yang Rena kenal. Susi selalu cerita ke Rena apapun yang terjadi. Tapi, gara-gara Rena menjauh juga hal ini terjadi. Rena mulai merutuki diri.

“Ah Kak Doni harusnya tahu dimana Susi” pikir Rena. Maka ia mencoba menelpon Doni. Disembunyikan semua sakit dan perih luka hatinya, sahabatnya lebih dari apapun. Harusnya ia begitu sejak awal.

Ditelpon tak bisa, disms tak dibalas.

Esoknya Rena mencari Doni di kampus.

Sudah seminggu Doni tak masuk kata teman-temannya.

Rena mulai menyesal mencari Susi. Palingan Susi sedang bersama Doni pergi entah kemana. Pacaran atau liburan berdua. Rena ingat saat Doni mengendap2 keluar kamar Susi malam-malam.

Sialan, dia ena ena Rena yang panik. Rena mulai kesal lagi.

Tapi malam itu. Rena melihat Susi. Pakaiannya persis saat susi datang ke kamarnya untuk meminjam handuk. Susi berjalan masuk ke kamarnya. Rena menyusul.

“Sus! Sus!” Susi hanya menoleh. Pandangannya kosong. Ia lalu masuk ke kamar.

Rena menyusul Susi. Tapi pintu keburu ditutup.

Saat Rena hendak membuka pintu, pintu terkunci. Lalu terdengar tangis dari dalam. Tangis yang menyayat.

“Susi, kamu kenapa?” Tangisan itu perlahan menghilang. Rena kembali ke kamarnya. Itu jelas Susi. Kenapa ia tampak aneh?

Dua hari kemudian. Koran memberitakan. Mayat seorang wanita ditemukan. Tak utuh. Dari kondisinya polisi menduga sudah meninggal paling tidak 5 hari.

Besoknya, Polisi datang ke kosan. Memeriksa kamar Susi. Rena juga dibawa ke kantor Polisi, untuk dimintai keterangan. Mayat itu adalah Susi. Rena kehabisan akal. Jelas sekali ia melihat Susi tadi malam.

Mengingat kejadian beberapa hari terakhir, Rena menggigil takut.

Polisi sempat mencurigai Rena karena ditemukan sidik jari Rena di pintu kamar Susi. Tapi setelah diintrogasi beberapa lama, Rena jelas bukan pelakunya.

Rena pulang ke kos, diiringi hujan deras. Karena basah, Rena langsung mandi. Ketika mandi ia merasakan sesuatu di belakangnya. Dingin. Rena berbalik, dan Susi berdiri di sana. Menatap Rena dengan mata sayu.

“Mau apa kamu sus?” Bisik Rena lirih. Sekujur badannya kaku. Aroma melati menyergap. “Tolong aku Ren” kata Susi.

“Minta tolong apa Sus?”

“Tolong aku Ren” kata Susi lirih. Ia tampak menangis.

Ah Rena melihat sahabatnya menangis, ingin memeluknya. Rena mendekat. Ah hatiny seperti teriris. Lalu saat Rena mendekat, Susi menghilang dari hadapannya.

Perasaan rena bercampur aduk. Antara Sedih dan Ngeri. Malam itu, Rena tak dapat memejamkan mata. Apa maksud Susi meminta bantuannya?.

Kabar duka juga telah menyebar di kampusnya. Teman-teman Rena menghibur Rena. Namun saat di Kantin, Fahmi salah satu teman sekelasnya duduk di depan Rena.

“Aku mau kasih tahu kamu sesuatu” kata Fahmi.

Fahmi ini anaknya pendiam. Kuliah cuma kupu-kupu. Kuliah pulang kuliah pulang.

“Aku sudah seminggu liat Susi ngikutin kamu. Tapi aku gak berani mgomong?”

“Maksud kamu?”

“Iya aku tahu Susi udah gak ada dari seminggu lalu”

“Bagaimana bisa?”

“Aku bisa liat yang ghaib Ren”

“Terus kenapa kamu ngomong baru sekarang” tanya Rena

“Susi nyuruh aku Ren”

“Gimana caranya?”

“Dia tahu aku bisa liat dia”

Jadi Fahmi ini gak suka dengan kemampuannya. Tiap liat yang ghaib2 dia pura-pura gak tahu. Soalnya kalau ketahuan dia bisa liat dia jadi repot. Ada yang minta tolong, ada yang ngajak ngobrol, ada juga yang usil.

Nah tadi pagi ketika Rena masuk Fahmi gak sengaja menatap Susi yang ngikutin Rena dengan tatapan yang beda. Arwah Susi jadi sadar Fahmi bisa lihat. Terus arwah itu minta tolong sampain sesuatu ke Rena.

“Dia bilang kamu jangan sedih gak dapat Doni. Doni orang yang salah. Dia bersyukur Dia yang jadi korban, bukan kamu”

“Tunggu, sebenarnya apa yang terjadi sama Susi?”

Lalu Fahmi menceritakan ulang cerita dari Susi.

Apa yang terjadi sebenarnya? Kita lanjutkan setelah pesan pesan berikut ini!

Sambil nunggu, kalian liat foto ini dulu yang fokus.

Jadi hari itu ketika hujan turun rintik, Susi menemui Doni di kosannya. Kalau dulu Doni deketin Rena dan Susi di waktu bersamaan maka jelas Doni itu brengsek. Susi mau minta putus.

Sesampai di rumah Kontrakan Doni, Doni marah besar mendengar Susi mau minta putus. Doni memukul Susi dengan keras.

Sebenarnya Beberapa waktu terakhir Susi menyadari Doni itu tempramental. Tapi Susi berusaha memaklumi.

Doni memukul wajah Susi berkali-kali hingga Susi pingsan.

Malam itu Susi dibawa Doni ke sebuah tempat terpencil. Di situlah Doni menghabisi Susi. Kepala Susi dipenggal, badannya ditinggalkan dan kepalanya dibawa dengan bungkusan kain berwarna kuning.

“Dia datang ke aku, minta tolong” kata Rena.

“Minta tolong apa?”

“Gak tau, dia cuma bilang minta tolong”

“Kayaknya itu terkait kepalanya yang belum ditemukan” kata Fahmi.

“Dimana kepalanya?”

Lalu Fahmi menyebut sebuah tempat. Sebuah hutan yang cukup jauh. Rena tahu apa yang harus dilakukan. Sore itu ia melapor pada polisi. Malamnya, bersama polisi Rena meluncur ke hutan yang dimaksud. Fahmi ikut, dia yang tau gambaran lokasinya.

Malam itu juga, dibantu warga lokal polisi langsung menyisir hutan sesuai petunjuk Fahmi. Dari informasi warga lokal polisi menemukan Mobil Doni terparkir di sebuah rumah kosong. Sudah seminggu teronggok di sana.

Malam sekitar pukul 9, mereka menemukan sesuatu. Tepat di bawah pohon besar, kepala Susi diletakkan di atas nampan dengan taburan bunga melati yang sudah layu.

Melihat kepala sahabatnya teronggok di sana Rena merasa mual dan sedih secara bersamaan. Kepala itu sudah dipenuhi belatung. Baunya menusuk hidung.

Fahmi menarik Rena menjauh. Rena menangis kencang. Tak pernah terbayang bahwa sahabat karibnya akan berakhir naas. Pemandangan itu mengerikan. Mimpi paling buruk dalam hidupnya.

Ada penyesalan dari Rena. Seharusnya ia tak menjauhi Susi. Tak ada yang lebih berharga dari persahabatan.

“Ada yang mau ngomong” kata Fahmi ke Rena. Rena mengangkat kepalanya. Samar-samar ia melihat Susi.

“Terimakasih Ren. Terimakasih sudah menjadi sahabat. Terimakasih sudah membantuku sampai titik ini” suata itu Lirih sekali. Rena berusaha menggapai Susi, hanya ada hawa dingin.

“Sus, maafin aku sus. Aku jahat jauhin kamu”

“Sudah selesai Ren. Baik-baik ya kamu” kata Susi. Sekejap kemudian hanya ada aroma melati yang menguap di udara. Fahmi memegang pundak Rena.

Shubuhnya, Doni ditemukan polisi hendak melarikan diri dari daerah itu. Kondisinya lusuh. Sudah seminggu ia di hutan itu.

Karena hal-hal ghaib tentu tidak dapat diperhitungkan dalam penyelidikan, Rena dan Fahmi sempat diperiksa karena dapat mengetahui lokasi kepala Susi. Mereka diduga berkerjasama. Tapi sama sekali tak terbukti.

Kata Fahmi kalau melihat bagaimana kepala Susi diletakkan dan Doni yang tetap berada di hutan itu, tampaknya Doni menganut sesuatu. Susi jadi semacam tumbal, dan Doni di situ untuk menyelesaikan ritual.

Tapi itu hanya asumsi. Bisa saja Doni memang psikopat saja.

Begitulah kisah Rena, ia dihantui oleh temannya yang menjadi setan. Tapi dalam wujud setan pun temannya itu masih percaya padanya untuk memohon bantuan. Begitulah persahabatan seharusnya, saling percaya.

Dengan ini, cerita TEMAN TAPI SETAN saya nyatakan selesai.

⛔️⛔️⛔️⛔️⛔️

Terimakasih untuk yang sudah menyimak. Sampai jumpa di thread selanjutnya.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *