RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Terima Kost Putri

3 perempuan, 1 Kosan, malam-malam penuh Teror menakutkan.

Hanah, Putri, dan Dayang tinggal di kosan milik seorang ibu tua yanh sudah lama ditinggal anak-anaknya. Tapi ada yang aneh di kosan itu.

Jadi ini yang cerita ke saya itu Si Dayang. Dayang ini mahasiswi di salah satu kampus di Pontianak. Dayang itu aslinya dari Ketapang. Dan iya sejak kecil dianugerahi kelebihan. Bisa ngerasain hal-hal yang janggal. Kayak selalu dapat kode gitu.

Kalau kata keluarganya, itu karena Dayang ada yang jagain. Jadi dia selalu ngasih tahu Dayang kalau ada yang gak beres.

Ceritanya sekitar tahun 2008. Itu semester awal Dayang merantau ke Pontianak buat kuliah. Dayang gak punya keluarga di Pontianak. Jadi dia berangkat sendiri dan cari rumah kosan di Pontianak.

Nah Dayang ini merasa gak nyaman kalau tinggal di kosan yang ramai. Apalagi dia agak introvert. Jadi dia nyarinya kosan rumahan yang kamarnya di sewain.

Karena waktu itu internet belum semudah sekarang aksesnya jadi Dayang sama bapaknya yang nganterin, keliling sekitaran kampus buat nyari kosan yang sesuai. Yang harga cocok, kenyamsnannya juga cocok. Maklum keluarganya gak berada berada amat.

Setelah keliling Dayang dan bapaknya gak juga nemu kosan yang cocok.
“Kita coba cari satu lagi, kalau gak cocok baru besok kita cari lagi” kata Bapak Dayang. Mereka berjalan ke tempat yang jauhan dikit lagi. mereka menemukan sebuah rumah dengan tulisan “Terima Kos Putri”

“Assalamualaikum” seru Bapak Dayang.
Seorang ibu tua keluar rumah berjalan tertatih-tatih.
“Walaikumsalam” kata Ibu itu.
“Cari kosan?” Tanya Ibu itu.
“Iya, untuk anak saya.” Jawab Bapak Dayang.

Dayang dan bapaknya diajak masuk.
“Di sini cuma ada 3 kamar saja. 2 sudah terisi. Kalau mau, ada 1 kamar yang kosong” kata ibu itu sambil menunjukkan kamar yang dimaksud. Kamar itu tampak bersih. Ada jendela yang cukup besar di sana.

Rumah itu sederhana saja. Tipikal rumah tua yang dibangun tahun 80an. Dindingnya dari semen, tak berbata. Tiang-tiangnya berwarna hijau dari kayu. Atapnya juga dari kayu. Halamannya cukup luas, ada bunga kertas, juga bunga-bunga kecil yang tak Dayang tau namanya.

“Dulu ini kamar2 anak saya. Perempuan semua. Tapi sekarang sudah tak di sini. Jadi saya sewakan saja” kata Ibu itu pada Bapak Dayang. Dayang suka rumah itu, Bapak Dayang juga cocok dengan harga sewanya. Deal, Dayang akan tinggal di sana.

Nah, Bapak Dayang langsung bayar untuk setahun. Karena kalau sewa setahun ada potongan. Tidak apa-apa bayar sekalian. Walau harus berjalan sedikit jauh, dayang senang bisa mendapat kosan yang sesuai dengan keinginannya.

Dayang baru mulai tinggal di kosan itu besok harinya. Malam itu ia menginap di penginapan bersama bapaknya. Dayang tak tahu, itu adalah awal hari-hari buruknya.

Oke mulai ramai. Mau cek dong, kalian pembaca baru thread bujang bangket atau pembaca lama?

Besoknya Dayang masuk ke kosan. Dayang disambut Ibu pemilik rumah. Bu Sum, begitu dia dipanggil. Saat Dayang datang ia dikenalkan dengan Putri.
“Ini Putri, dia di kamar yang belakang” kata Bu Sum. Putri sedang makan siang di ruang makan saat Dayang datang.

Jadi di rumah itu semua penghuni rumah dapat berinteraksi bebas seperti rumah sendiri. Mereka bebas menggunakan semua fasilitas di rumah itu mulai dari dapur hingga televisi yang disaksikan bersama di ruang tamu.

Putri baru dua bulan tinggal di situ. Sejak anak-anaknya tidak lagi tinggal bersamanya, Bu Sum menganggap anak-anak kos di situ seperti anaknya sendiri. Ia tak perhitungan soal makanan. Ia selalu memasak untuk dimakan bersama anak-anak kos.

Penghuni kamar paling depan adalah Hanah. Dayang baru melihatnya saat malam hari ketika ia ikut menonton TV di ruang depan. Hanah tak menyapa siapapun di rumah itu, ia langsung masuk ke kamarnya.
“Siapa?” Tanya Dayang.
“Hanah, udah lama di sini” kata Putri.

Malam itu Dayang tidur sekitar pukul 11. Esok harinya ia berencana ke kampus untuk mengurus administrasi. Namun tengah malam ia terbangun. Ia mendengar suara ketawa kecil namun nyaring. Bulu kuduk Dayang merinding.

Ia keluar kamar dan menyalakan lampu, seisi rumah sudah tidur. Tapi suara itu terdengar jelas. Lalu sekian detik kemudian, suara itu menghilang. Dayang terdiam beberapa saat. Ia baru bisa tidur satu jam kemudian.

“Mbak Put, dengar suara ketawa enggak tadi malam?” Tanya Dayang. Wajah Putri sedikit berubah.
“Ketawa? Ndak tuh” kata Putri sambil mengangkat piring sarapannya yang belum habis. Ia membuang makanan ke tempat sampah lalu mencuci piring bekasnya.

Sore sepulang dari kampus, Dayang duduk di ruang tamu bersama Bu Sum.
“Bu Sum sudah lama buka kosan?” Tanya Dayang.
“Baru setahun”
“Sebelumnya?”
“Ya dulu ada anak-anak ibu. Lalu mereka pergi. Ibu kesepian. Jadi ibu putuskan untuk jadiin kamar mereka kamar kosan”

“Maaf nih bu, tapi saya penasaran. Apa di rumah ini ada yang jaga?”
“Jaga bagaimana? Yang Jaga rumah ini ya saya!” Kata Bu Sum terkekeh.
“Tapi tadi malam saya dengar suara tertawa”
“Kadang suara kucing kelahi pun terdengar seperti orang tertawa Dayang”

Malam itu Hanah pulang dengan tergesa-gesa. Sama seperti malam sebelumnya, ia masuk ke kamar dan tak keluar lagi.
“Dulu pas pertama saya masuk, dia ndak begitu” kata Putri pada Dayang. Putri tahu Dayang penasaran.

Malam harinya Dayang kembali bangun. Ia mendengar suara mesin jahit. Suaranya cukup mengganggu hingga membuatnya sulit tertidur. Ia keluar kamar. Putri juga mengintip dari pintu kamarnya. Mereka bertatapan. Putri buru-buru menutup pintu kamarnya.

Suara itu masih terdengar. Dayang mengetuk pintu kamar Bu Sum.
“Bu, ibu” kata Dayang.
Setelah beberapa lama Bu Sum mengulurkan kepalanya keluar.
“Kenapa?”
“Ibu dengar suara mesin jahit?”
“Maaf kalau berisik. Saya sedang menjahit” kata Bu Sum. Anehnya suata itu masih terdengar.

Logikanya, kalau Bu Sum yang jahit. Harusnya pas Bu Sum keluar, suara mesin berhenti. Dayang baru menyadari besok harinya keanehan itu. Maklum, pas malam pikirannya lagi antara sadar dan enggak.

Oh ya, Hanah itu kerja di sebuah laundry. Kalau Putri itu kerjaannya ganti-ganti. Gak betahan anaknya kalau kerja. Ada aja ngeluhnya.

Malam ketiga dan malam seterusnya Dayang tidak mengalami pengalaman aneh. Cuma dia mimpi aneh. Jadi Dayang kayak ada di ruang kosong putih gitu. Ada sesosok pria, Dayang gak ingat wajahnya. Cuma sosok itu bilang ke Dayang “Kamu harus pergi, Dayang”

Setelah malam itu, Dayang merasakan aura rumah itu benar-benar gak nyaman. Setiap pulang kuliah Dayang selalu was was sepanjang jalan pulang. Pokoknya kayak gak pengen pulang gitu rasanya.

Sebulan tinggal di sana Dayang benar-benar gak nyaman. Ia gak pernah ngobrol dengan Hanah, ia juga gak pernah ngobrol dengan Putri lagi. Hanya Bu Sum yang kadang menemani Dayang di ruang depan. Itu juga tak banyak bicara.

Suatu hari, Dayang baru pulang dari kampus. Ketika ia mulai dekat dengan rumah, ia dicegat Hannah.
“Dayang, kita perlu ngobrol”
“Kalau begitu ayo jalan bareng ke rumah”
“Jangan di rumah. Ikut aku” kata Hanah. Dayang mengikuti Hannah. Itu pertama kali Hannah mengajaknya bicara.

“Kau tahu Dayang, aku sudah lama ingin keluar dari kosan neraka itu?”
“Kosan Neraka?”
“Kau pasti merasakan keanehannya juga Dayang. Suara tangisan, ketawa, dan suara mesin jahit di malam hari. Itu sering terjadi di rumah itu”

“Jadi rumah itu ada setannya?”
“Bukan, rumah itu dikutuk”
“Kak Hannah jangan berlebihan” kata Dayang.
“Percaya padaku Dayang”
“Lalu kenapa kakak tidak pindah kosan?”
“Kakak takut”
“Takut apa?”
“Kutukan” kata Hannah.

Hannah cerita. Ia orang kedua yang ngekos di rumah itu. Orang pertama namanya Fatimah. Fatimah adalah pegawai Bank. Fatimah dan Hannah akrab. Mereka sama-sama merasakan keanehan di rumah itu. Fatimah memutuskan pindah. Hannah belum punya uang waktu itu.

Hannah berencana pindah sebulan kemudian. Tapi setelah pindah, Fatimah tewas dengan tiba-tiba. Bunuh diri di kamar kos barunya.
“Aku ndak mau mati” kata Hannah.
“Jadi kita harus apa?”
“Waspada saja” kata Hannah.

Hannah menasihati agar Dayang tak banyak berhubungan dengam Bu Sum dan menghindari makan makanan yang diberikan Bu Sum. Jaga-jaga takut makanannya ada apa-apanya.

Suatu malam Dayang mendengar orang menangis. Kali ini Dayang tak berani keluar. Tapi tangis itu semakin kencang. Dayang memutuskan keluar. Asap mengepul dari kamar Bu Sum. Aroma dupa menyebar.Putri keluar dari kamar Bu Sum.
“Ada apa?” Tanya Dayang.
“Sudah, masuklah” kata Putri.

Dayang kembali masuk ke kamarnya. Di rumah itu seolah-olah ada dua kubu. Kubu Hannah dan Dayang, juga kubu Putri dan Bu Sum. Dayang tak tahu apa yang harus ia perbuat.

Tenang teman-teman. Saya nulisnya santai sambil mengerjakan hal lain. Tapi saya pastikan malam ini selesai. Silahkan kembali sekitar pukul 11 kalau mau baca sampai selesainya.

Atau kalian bisa baca thread lain yang sudah selesai di sini

3 malam kemudian seisi rumah Heboh. Hannah teriak kencang. Itu sekitar pukul 3 pagi. Dayang, Putri, dan Bu Sum keluar kamar bersamaan.

“Persetan kalau Ibu mau bunuh saya. Besok saya keluar dari rumah ini!” Seru Hannah.
“Bunuh? Siapa yang kau Bunuh kamu?” Takua Bu Sum heran.

“Saya tahu ada iblis di rumah ini. Selama ini saya takut untuk pindah, tapi sekarang saya menyerah. Saya tidak peduli kalau saya harus mati” kata Hannah.
“Ngomong apa kamu Hannah?” Bu sum tampak kaget.

Putri membawa gelas berisi air.
“Minum dulu Kak Hannah, tenangin Kak Hannah dulu” kata Putri.
“Halah, kamu sudah bersukutu sama Ibu Sum. Kamu beri apa minuman saya ini?”
“Astagfirullah Hannah. Ngomong apa kamu?” Bu Sum tampak emosi.
“Sudah Kak, ayo duduk dulu” kata Dayang.

Jadi ini yang dialami Hannah.

Kalau cuma suara-suara bukan hal yang baru untuk Hannah. Tapi gangguan yang ia alami malam ini berbeda.

Malam itu Hannah tak dapat tidur. Sejak membaringkan badan, ia merasa sangat gelisah.

Setiap ia berusaha tidur, ia merasa ada sesuatu yang memperhatikannya. Apalagi di langit2 kamarnya ada triplek yang jebol. Membuat lubang segiempat itu terlihat semakin menyeramkan.

Pukul 12 malam Hannah mendengar tawa dari lubang itu. Ia melihat sepasang mata mengawasinya. Lalu dari langit-langit kamarnya menetes sesuatu.

Warnanya merah seperti tetesan darah. Tapi anehnya tak ada genangaj darah di lantai. Yang bisa Hannah lakukan hanyalah melawan ketakutan. Ia percaya Bu Sum dalang dari semua ini, ia tak mungkin mengadu ke Bu Sum.

Maka Hannah merapatkan selimut dan berharap ia bisa tidur. Tapi ia tak juga tidur. Ia seperti mendengar suara bisikan di telinganya. Tak jelas, tak dimengerti.

Hannah sempat tertidur sebentar. Namun ia tiba-tiba terbangun merasakan tubuhnya terasa berat. Ketika ia membuka mata, di depannya tampak makhluk paling mengerikan yang pernah ia lihat. Rambutnya mengembang, mukanya gelap, matanya merah, lidahnya menjuntai.

Sekian detik Hannah merasakan makhluk itu menekan badannya. Hannah berusaha merafal doa yang ia bisa. Ia menutup mata tapi saat dibuka makhluk itu masih di sana. Ia meraung, berusaha melawan.

Lalu saat meraung, mahkluk itu hilanh begitu saja. Hannah berlari keluar.

Malam itu Hannah terbuka soal praduganya kepada Bu Sum. Bu Sum mendengar dengan saksama.
“Meninggalnya Fatimah tidak ada urusan dengan saya” kata Bu Sum. Tapi soal rumah ini, sepertinya saya perlu bercerita.

Jadi rumah itu diwariskan mendiang suaminya kepada Bu Sum. Bu Sum adalah istri keduanya, jarak usia mereka cukup jauh. Dari istri sebelumnya yang sudah meninggal, dia punya 3 anak. Perempuan semua.

Bu Sum memberlakukan anak2 itu dengan baik. Tapi saat suaminya meninggal, ketiga anak itu tidak terima rumah itu diwariskan ke Bu Sum.

Bu Sum tak punya keluarga, ia yatim piatu sejak kecil. Rumah itu satu2nya tempat ia tinggal. Tapi ketiga anaknya yang sudah berkeluarga bersikeras rumah itu mau dijual saja.

Nah ketiga anak itu gak mau menghidupi Bu Sum. Sedangkan Bu Sum sudah tak dapat berkerja.makanya ia buka kosan.

Tapi ternyata ada anaknya yang kirim “sesuatu” ke rumahnya. Gangguannya bukan fisik, tapi mental. Bu Sum mendengar semua gangguan itu, tapi ia gak mau kehilangan penyewa, ia pura-pura gak tahu.

Kalaupun ia kasih tahu ke anak kosan, pasti pada pindah semua. Bu sum gak tahu cara menyambung hidup.

Intinya gangguan itu dikirim biar rumah itu dikosongin dan bisa dijual. Bu Sum gak mau nyerah. Rumah itu haknya. Peninggalan suaminya yang ia sayang.

“Saya mencintai rumah ini seperti saya mencintai suami saya, dan anak-anak saya” kata Bu Sum.
“Mereka merendahkan saya karena saya hanya ibu tiri, tapi kasih sayang saya pada mereka seperti menyayangi anak sendiri” kata Bu Sum lagi.

Hannah, Putri, dan Dayang menyimak cerita Bu Sum. Putri sudah tahu cerita ini duluan, Jadi dia tak kaget.

“Ibu gak usaha buat ngelawan “kiriman” itu bu?” Tanya Dayang.
“Sudah, saya sudah cari orang pintar. Tapi serangannya terlalu kuat. Dan semakin menjadi-jadi” kata Bu Sum.
“Lalu apa yang mau Ibu lakukan?”
“Saya menyerah. Biarlah rumah ini dijual. Saya mau ilut putri ke kampung”

Jadi asap dupa waktu itu adalah upaya Bu Sum dan putri melawan swsuai saran orang pintar. Tapi gagal. Dan merela berdua sudah sering diskusi, Bu Sum akhirnya sepakat buat ikut ke kampung Putri. Putri capek di kota, mau bertani.

Tiga bulan mereka masih mendiami rumah itu. Dayanh cerita semua hal yang terjadi ke bapaknya. Bapaknya bilang sebenarnya bisa dilawan. Tapi akan percuma kalau nanti juga dikirim santet lagi.

Mereka masih menghadapi gangguan, tapi sudah lebih siap. Semua gangguan mereka acuhkan. Hannah yang gak kuat, pindah duluan.

Bapak Dayang gak minta kembali uangnya, dia ngerti keadaannya. Dayang menemukan kosan baru. Fan rumah itu benar-benar ditinggalkan.

Jadi secara kejadian memanh tak terlalu menyeramkan. Tapi cukup mengganggu mental. Karena sebenarnya penghuni rumah itu sering dibuat ketempelan setan.

Setahun setelah Kosong, rumah itu dirobohkan dan dijadikan ruko. Sepertinya benar sudah berpindaj tangan. Tapi anehnya, setiap melewati ruko itu, Dayang masih sering merinding.

Begitulah cerita dayang ke saya. Cerita yang sederhana, tapi cukup membuat saya ngeri membayangkan serakahnya manusia atas harta. Dilakukan apa saja walau harus berlaku licik pada orang tua.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *