RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Terjebak Dikampung Ghaib

Oke, pengalaman ini aku ambil dari kejadian yang memang dialami langsung oleh sahabat kerabatku. Memang ya, aku slama ini gak pernah menceritakan pengalaman yang berbau gunung kecuali urban legend.

Kali ini kisah pendakian horor pertama kalinya akan aku tulis disini.. 

Sebut saja angga dan bayu. Mereka datang ke kota gandrung untuk berlibur. Mereka berniat untuk mendaki salah satu gunung disana. Katanya, keindahan kawah yang berada di kawah tersebut bisa dinikmati ketika dini hari.

Ini pengalaman pertama mereka untuk mendaki. Mereka memilih gunung tersebut lantaran jalur dan kondisi disana sangat aman untuk pendaki pemula seperti mereka.

Angga dan bayu menginap di rumah saudara bayu disana. Kebetulan jarak rumah ke lokasi memerlukan perjalanan satu jam setengah.

Saat itu, bayu berniat untuk naik mobil pakdenya namun, angga tidak berniat untuk naik mobil dan menolak ajakan pakde bayu yg berniat ingin mengantar sampai post pembelian tiket masuk. Angga memilih untuk meminjam sepeda trail milik pakdenya dan berniat menaikinya untuk pergi kesana.

Akhirnya, setelah mendapat ijin Angga dan bayu berangkat. Saat itu mereka berangkat pagi hari sekitar pukul 8. Iya, karena mereka berniat untuk menikmati suasana disana selama mungkin. Tetapi entah mengapa, bayu saat itu sudah merasa tidak enak badan. Karena tidak ingin mengecewakan angga, bayu memaksakan diri untuk tetap berangkat.

Motor menyala. Angga dengan semangatnya mengecek perlengkapan apa saja yang akan dia bawa. Bayu memperhatikan dengan santai kawannya itu. Entah mengapa, ada firasat yang tidak bisa dia terjemahkan didalam pikirannya. Hanya perasaan tidak enak yang menyelimuti hati hingga terasa sesak didadanya.

Hingga suara angga terdengar jelas di telinganya. Membuat lamunan bayu menjadi pecah dan memukul lengan temannya itu.

“Ojo ngageti, nglamak !” Ucap bayu

(Jangan membuat terkejut, gak sopan) 

“ayo bro, ndang digass tah. Kancane iki selak kepingin ngerti wujud e.” Ucap angga

(Ayo bro, cepat jalan. Temannya ini sudah ingin tahu penampakannya).

Bayu hanya tersenyum dan memandangi temannya dengan pikiran yang cukup bingung. Dia kemudian mengangguk dan segera mengambil tasnya.

“Ayo wes ngga, ndang teko ndang uwes.”

(Ayo, cepat datang cepat selesai)

Mendengar jawaban dari bayu, angga memperhatikannya dengan heran. Namun, angga bukan tipe anak yang gampang mikir. Jadi ketika ada yang tiba² aneh, dalam sedetik akan segera dia lupakan.  Berangkatlah mereka dengan berbekal petunjuk arah dan juga gmaps, mereka dengan santai menaiki motor.

Menurut angga, karena waktu itu suasana masih pagi dan juga masih banyak waktu untuk mereka gak kesusu (terburu-buru). Angga banyak berhentinya. Hingga disalah satu tempat yang sudah jauh dari rumah penduduk dan hanya melewati perkebunan sepanjang itu.

Angga berhenti disalah satu tikungan jalan. Suasana lumayan sepi sekali dan hampir tidak ada orang lewat saat itu kecuali warga yang hendak pergi ke kebun. Bayu hanya clingukan saat itu karena meskipun rumah saudaranya berada disana, dia jarang sekali main dan berkunjung kemanapun untuk berwisata.

Bayu anak yang gemar sekali duduk manis dan membaca buku dirumah. Tdk ada raut wajah bosan untuk hal itu. Menurutnya, suasana rumah adalah tempat paling aman baginya beda dengan angga, angga anak yang senang sekali menjelajahi tempat-tempat wisata yang baru. Jangankan suasana rumah, melihat kamar semenit saja dia sudah tidak tahan. Baginya, dengan datang ke tempat² yg belum dia kunjungi adalah healing baginya. 

Hingga perjalanan mereka sampailah di tmpt parkir. Angga kemudian memarkirkan motornya. Bayu menunggu didepan loket pembelian tiket. Angga menghampirinya dan kemudian mengajak bayu untuk segera membeli tiket ke loket.

“Ngga, aku pokok opo jaremu loh. Ora tatag aku metu dewe” 

(ngga, yang terpenting aku apa katamu loh. Gak yakin aku keluar sendiri)

Bayu tetap dengan sikap bingungnya ditempat baru. Angga yang melihat bayu hanya memperlihatkan tatapan muka yang datar. Bayu kemudian melihat wajah angga yang fokus menatapnya.

“aku ora wedi ngga, 

Mek aku iki rodok parno karo panggon anyar. Opo maneh bareng wong slengekan koyok awakmu. Buyar dadi yakinku.”

(Aku tidak takut ngga, cuma aku ini agak takut sama tempat baru. Apalagi bersama orang maunya sendiri seperti kamu.)

Angga cuma tersenyum mendengar perkataan bayu seperti biasa, angga hanya merangkul bahu bayu dan menyuruhnya utk tdk berpikir keras. Bayu memang orang yg gampang gupuh (panik) banyak sekali yang dia pikirkan jika kemana-mana bersama angga. Bayu memang kenal betul dengan Angga. Karena, memang mereka sudah bersama dari SD. 

“tenda e lak nok awakmu seh bay ?” Tanya angga.

(Tendanya kan dikamu ya bay ?)

Bayu hanya memberi kode dengan tangannya “Ok” dan mengangguk santai. Angga tersenyum mengerti bahwa bayu mencoba santai dan tenang. Karena mereka berniat untuk menuju puncak saat dini hari, maka mereka berniat untuk istirahat dan menikmati pemandangan sekitar.

Waktu kemudian berlalu, jam menunjukkan pukul 11 malam dan mereka memutuskan untuk berjalan ke puncak. Ini pengalaman pertama mendaki bagi ayu dan Angga di gunung tersebut. Bayu yang sebentar berjalan sudah mengeluh kakinya sakit dan kaku. Tidak henti hentinya angga menyemangati bayu agar tetap kuat untuk berjalan.

Sepanjang perjalanan angga mengajak bayu berbicara untuk mengalihkan pikiran bayu agar tidak mudah mengeluh. Tetapi sudah sifat bayu, tidak akan lepas dengan keluhan demi keluhan ketika merasa lelah dan capek. Beda dengan angga, dimana dia lebih memilih diam dan berhenti sejenak dan mengatur nafas dengan baik.

Dingin menyelimuti saat itu. Bayu sudah lelah bukan main. Namun, angga yang berjalan dengan cepat dan baik menunggunya didepan dengan sesekali dia meminum air dari botol kaca kecil. Bayu yang berjalan pelan melihat temannya dari kejauhan menatap tajam ke botol kaca yang dipegang oleh angga.

Bayu mulai cemas, panik dan juga berpikir macam-macam. Hingga, saat langkah kakinya sudah dekat dengan raga temannya tersebut. Bayu tidak bisa menahan lagi.

“Ngga, tenan loh yo ! Kon lek sampek mendem trus karepe dewe nok panggon e uwong. Aku wegah nanggung resiko loh.” Ucap bayu panik.

(Ngga, beneran loh ya ! Kamu kalau sampai 

Mabuk trus seenaknya sendiri di tempat orang. Aku gak mau menanggung resikonya loh.)

Angga hanya tertawa tanpa menjawab.

Perasaan bayu kemudian menjadi tidak nyaman. Dia was-was karena kebiasaan angga yang satu ini tidak bisa dihilangkan jika pergi kemana-mana. Sesampainya di puncak, angga mual dan mutah disembarang tempat. Bayu yang memperhatikan dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepala. Dia rasa perjalanan ini sia-sia lantaran yang memiliki niat menggebu-gebu untuk datang kesini itu angga bukan dirinya.

Namun, karena dia tidak enak hati dengan angga maka dia mau diajak untuk melihat keindahan yang berada di gunung ini saat itu. Angga tetap tertawa terbahak-bahak dan memandangi bayu dengan tatapan yg tidak biasa. Angga bertanya kepada bayu “Bay, awakmu iki goblok tibak e yo, gaiso ngerti cara  menikmati alam.” Ucap angga yang entah sadar atau setengah sadar.

(Bay, kamu ini bodoh ternyata ya, gak bisa tahu cara menikmati alam)

Bayu hanya melihat temannya yang otaknya sudah sedikit klenger itu. Menyebalkan sekali baginya jika angga sudah dalam kondisi seperti ini ucapan demi ucapan semua dia lontarkan tanpa memperdulikan perasaan yang mendengarkannya.

“Mbahmu kui ! Goblak goblok la dikiro koe iki sopo ngilokno aku. Cah edan, utek wes ra kebek kok kakean cangkem ae.” Ucap bayu menggerutu.

([Ucapan meledek] ! Bodah bodoh kau kira kamu ini siapa, ngeledek aku. Anak sinting, pikiran sudah gak penuh kok kebanyakan mulut saja)

Angga tetap denga tertawanya dan masih bisa berjalan sendiri walau sedikit sempoyongan. Bayu yang memperhatikan apapun yang dilakukan oleh temannya dari belakang hanya bisa mendengus kesal.

Batinnya :

Tahu angga melakukan kebiasaan buruk seperti itu lagi, aku gak mau ikut. Memang, moment buruk sebelumnya dialami bayu saat mengunjungi salah satu wisata di jogja.  Tindakan angga sangat tidak bisa dimaafkan dan sungguh kurang ajar sekali. Karena kebanyakan minum dan dia menjadi lupa. Tindakan mencium wanita tak dikenal ia lakukan tanpa sadar. Akhirnya, dia menjadi sasaran amarah warga sekitar yang mengetahui langsung tindakannya. 

Kali ini, bayu tidak ingin terjadi kesalahan lain uang dilakukan angga saat dirinya sudah tenggelam dalam kendali air setan itu. Dirinya hanya ingin, jika memang berwisata. Berwisata saja yang normal. Ngobrol layaknya dua orang teman yang suka sekali bercanda dan jangan ada tindakan yg akan membuat dirinya malu lagi akibat tindakan angga yg sudah tidak sadar.

“Ngga, awas loh yo. mariki mari ndelok nok isor langsung gas balek. Aku seng nyetir.” Ucap bayu

(Ngga, awas loh ya.. habis ini setelah melihat kebawah langsung cpt kembali. Aku yg menyetir) 

Angga menoleh dengan tersenyum dan mengangguk. Tidak ada yg terjadi saat itu. Moment melihat keindahan gunung tersebut saat dini hari sudah mereka lalui. Bayu sangat terpesona dengan warna yang dipancarkan oleh semburan gas belerang tersebut.

Dirasa cukup dan khawatir akan kondisi angga. Akhirnya, setelah cukup baginya menikmati pemandangan tersebut. Bayu dan angga segera turun dan menuju parkiran untuk mengambil sepeda dan pulang.

Bayu sekarang yg menyetir. Angga diam mematung diujung jalan. Bayu heran, biasanya dia sudah kencing sembarangan. Tetapi saat itu hanya wajah melamun dan diam yang sangat aneh terlihat diwajahnya.

Bayu berpikir mungkin hawa dingin yang sedang menyelimuti tempat tersebut membuat angga kedinginan. Tapi alasan tersebut terdengar mustahil. Akhirnya, motor trail berjalan mendekati angga. Angga hanya terdiam melihat bayu. Bayu juga hanya terdiam dan mereka berdua saling bertatapan.

“ndang munggah, timbangane engko awakmu nemu masalah anyar nok kene. Aku ra kate golek resiko ngga.” Jelas bayu

Angga hanya membuang muka dan kemudian naik dengan tingkah kesal sepanjang perjalanan angga tidak seperti biasanya. Banyak diam dan tidak banyak bicara. Bayu menjadi heran dengan tingkah angga yang tidak seperti biasanya. Lontaran kata kata kurang sopan biasanya slalu keluar ketika dirinya mabuk.

Tp entah saat itu angga seperti orang yang tenang dan tidak banyak tingkah. Saat sepeda motornya melaju cukup cepat. Bayu seketika mengerem secara cepat. Hal itu dia lakukan lantaran terlihat seekor ular besar dan panjang sedang berjalan melintas di tengah jalan. Angga tidak berkata apa apa selain menunduk diam. Bayu yang histeris melihat ular sebesar itu sedang menyeberang hanya berniat menunggu sampai ular itu hilang.

Dia mencoba menunggu. Angga yang turun dari motor terlebih dahulu sudah diam terpaku melihat kebawah dasar jurang. Bayu yang cukup heran karena angga banyak diam hanya melongo melihat temannya tiba-tiba seperti itu.

“Kesambet setan opo arek iki” ucap bayu dalam hati

(Kesambet setan apa anak ini)

Bayu cemas lantaran takut jika selain ular yang berada didepannya ada hewan lain yang berada disekitarnya. Dia menoleh kanan kiri dan juga  Memperhatikan betul sekitar. Lama hampir 10 menit dirinya menunggu namun ular tersebut belum juga nampak ekornya. Bayu mulai ketakutan dan juga khawatir. Lain dengan angga yang bersikap aneh saat itu. Hingga angin kecil datang dan membawa kabut tipis menyelimuti tempat itu. 

Bayu sudah menyalakan haedlamp agar bisa melihat sekitar. Namun, semakin lama semakin tebal dan jarak pandang semakin sedikit. Bayu terkejut lantaran sudah tidak melihat angga. Hanya kabut dan lampu headlamp yang tidak menembus jauh kabut tersebut.

Tiba-tiba..

Dengan perlahan kabut tebal sedikit demi sedikit hilang. Bayu dengan kaget melihat suasana sudah berubah. Sepeda motor yang dikendarainya dijalan beraspal menjadi jalan setapak. Hanya kabut tipis dan juga pohon pohon yang menjulang besar tampak disamping kiri dan kanannya. Bayu bingung lantaran angga tidak ada. Dia mulai panik dan tidak dapat mengontrol emosi dengan baik. Hanya sepeda dan dirinya yang entah sekarang berada dimana. Dia tidak paham betul daerah itu.

Mengambil handphonenya bayu sedikit gemetar dan panik bukan main. Sinyal hilang dan fix, banyu tersesat sendiri tanpa ada angga. Kemudian, terdengar langkah kaki seseorang dari kejauhan. Bayu melihat handphonenya lagi. Dia terkejut lantaran layarnya menunjukan jam 00.01 dini hari. Dia masih ingat betul bahwa dirinya tadi turun dengan angga pukul 03.15 pagi. 

Bayu tidak menganggapnya sebagai masalah yang besar. Mungkin setelan jam di handphonenya sedang error. Dia mulai menyalakan motornya namun tidak bisa. Mencoba berulang-ulang menyalakan dan nihil untuk bisa dinaiki. Suara langkah kaki tersebut semakin mendekat dan benar saja terlihat tiga orang nenek-nenek yg membawa keranjang dipunggungnya, dililit kain dan diikat didadanya. Tiga nenek tersebut membawa bawaan yang berbeda. Kemudian langkah kaki mereka berhenti didepan bayu.

“Nyaopo le ? Kok ketok e awakmu bingung ?” Tanya salah satu nenek tersebut 

(kenapa nak ? Kok kelihatannya kamu bingung ?)

Bayu dalam ketakutan yang luar biasa dan berpikir aneh saat itu hanya bisa memandangi ketiga nenek tersebut dengan penuh penasaran.

“Gak popo le, aku mbah ira, iki mbah sukmo lan iki mbah dwipo. Aku manggon nok kampung wurung”. 

Ucap mbah ira dengan menunjuk ke arah suatu tempat.

(Tidak apa apa nak, aku mbah ira, ini mbah sukma dan ini mbah dwipo. Aku tinggal di kampung wurung.)

Bayu hanya bisa mengangguk dan menyapa pelan dengan senyum kepada nenek² tersebut.

“Awakmu sakjane ora oleh ono kene. 

Sopo sing melbu alas kene lek niate wes gak apik ora bakal iso balek.” Ucap mbah dwipo kepada bayu.

(Kamu seharusnya tidak boleh ada disini. Siapa yg masuk hutan sini kalau niatnya sudah gak baik tidak akan bisa kembali)

Bayu yang mendengar ucapan mbah dwipo seketika menunduk 

“sakdurunge tekone srengenge, awakmu kudu metu soko alas iki. Lek sampek durung metu sampek srengenge teko. Awakmu bakalan nok kene sampek selawase.” Ucap mbah dwipo

(Sebelum datangnya matahari, kamu harus keluar dari hutan ini. Kalau sampai belum keluar sampai matahari dtng. Kamu akan disini selamanya).

Bayu kemudian terdiam sesaat. Dalam hatinya sudah yakin bahwa dirinya masuk ke alam lain. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan saat itu adalah bisa keluar bersama sahabatnya yaitu angga dengan selamat.  Namun bayu kebingungan karena dia saat itu tersesat tanpa adanya sosok angga. Entah kemana angga saat itu.

Seketika mbah ira menepuk pundak bayu dan berkata “koncomu kui pasti onok nong pendopo. Awakmu bakalan diterno mbah dwipo sampek dalan ngarep. Iling pesenku le, ojo gowo Opo opo teko kene.” Jelas mbah ira.

(Temanmu itu pasti ada di pendopo. Kamu akan diantar oleh mbah dwipo sampai jalan depan. Ingat pesanku nak, jangan membawa apapun dari sini)

Bayu melihat mbah ira dengan serius. Antara percaya dan ragu² masih menyelimuti hatinya. Mbah ira dan mbah sukma kemudian mengambil keranjangnya kemudian mereka gendong kembali dan diikat dengan kain didadanya.

Kini tinggal mbah dwipo dan bayu ditempat itu. Entah, bayu harus bagaimana menyaksikan kejadian yang diluar nalarnya. Mbah ira dan mbah sukma dengan sekjap hilang dari pandangannya.

Tinggal mbah dwipo saja yang memperhatikan bayu dengan senyum teduh diwajahnya. Bayu memperhatikan baju yang dipakai oleh mbah dwipo. Kebaya dan jarik yang tidak kotor dan sangat bersih sekali.

Anehnya, kranjang yang dipikul oleh mbah dwipo berisi sedikit singkong yang masih terbalut banyak tanah.

“Ayo, gak apik lek awakmu kesuwen ndek kene. Cekelen pundakku lan ojo tolah toleh.” Ucap mbah dwipo.

(Ayo, tidak baik kalau kamu kelamaan disini. Pegang pundakku dan jgn tolah toleh)

Bayu mengikuti anjuran mbah dwipo kemudian mereka berjalan. Namun, langkah bayu terhenti lantaran dia lupa bahwa ada sepeda motor pakdenya yang juga ada disitu. Dengan cepat mbah dwipo langsung menyuruh bayu untuk meninggalkan apa yang ada disana. Hati bayu sangat berat sekali untuk meninggalkan sepeda motor milik 

Pakdenya disana. Bagaiman nanti dia akan menjelaskan kepada pakdenya bahwa sepeda motornya tertinggal di dunia lain ?

Hal itu jelas akan menjadi bahan lelucon dan alasan saja bagi pakdenya. Mbah dwipo tetap menyuruh bayu utk tetap meninggalkan apapun barangnya yg berada disana dengan berat hati, bayu meninggalkan sepeda motor tersebut dan mengikuti langkah mbah dwipo yang berjalan lurus di jalanan setapak..

“Iki ngunu kudu nyusul koncomu disek le, arah pendopo kudu ngliwati kampung wurung disek. Awakmu kudu ati². Wkeh seng bakalan gudo ati lan nafsumu mergo, kampung kui uduk kampung soko kalanganmu.” Ucap mbah dwipo.

(Ini itu harus menyusul temanku dahulu nak, arah pendopo harus melewati kampung wurung dahulu. Kamu harus hati-hati. Banyak yang akan menggoda hati dan nafsumu. Karena, kampung itu bukan kampung dari kalanganmu.) 

Bayu mengangguk dan tetap memegang pundak mbah dwipo. Saat berjalan, bayu hanya melihat jalanan setapak dibawah. Dia mengingat pesan yang tadi bahwa dirinya dilarang untuk menengok kiri dan kanan. Entah apa yang terjadi, penasaran bayu akan sesuatu yang sedang berubah di sekitarnya tidak bisa langsung dilihat olehnya. Bayu tetap melihat kebawah dan tetap mengikuti langkah kaki mbah dwipo yang menuntunnya.

Angin kecil berhembus ditelinganya. Kemudian terdengar suara alunan musik gamelan dan juga riuh suara laki-laki. Bayu mendengarkan suara itu dengan teliti. Nampak terdengar suara yang sangat dia hafal. Suara itu nampak berteriak tidak karuan. Diiringi dengan tawa dan juga riuh orang sedang bersenang-senang. Disaat itu langkah mbah dwipo terhenti.

“Le, awakmu nok kene oleh ndelok sekitarmu. Sawangen lan golek ono koncomu. Ajaken balek. Wektune wes ora akeh le.” Ucap mbah dwipo

(Nak, kamu disini boleh melihat sekitarmu. Lihatlah dan carilah temanmu. Ajak kembali. Waktunya sudah tidak banyak nak.)

Mendengar tutur mbah dwipo, bayu dengan cepat melihat kearah suara yang dia dengar tadi. Nampak sebuah pendopo kecil dengan penerangan lampu berwarna kuning dari banyak cempluk menghiasi suasana pertunjukkan disana.

Bayu melihat seorang wanita, satu satunya wanita yang menari yang mana hanya terlihat membelakanginya. Menari dengan lihay dan menjiwai rambut panjang hampir menyentuh tanah membuat kesan seram dalam hati bayu akan sosok wanita itu. Baju kuning keemasan dan mahkota kecil diatas kepalanya membuat kesan elegan dan terhormat terpancar walau bayu tak melihat secara jelas wajah aslinya.

Tiba-tiba berjalanlah seorang laki-laki yang menari yang sedikit kaku menghampiri wanita tersebut. Tergantung dilehernya kain kuning menyala. Bayu menyipitkan mata dan berkata

“Mbah, kui koncoku, angga. Nopo kulo langsung marani mbah ?” Ucap bayu panik.

(Mbah, itu temanku, angga. Apa aku langsung menghampiri mbah ?)

Mbah dwipo menoleh ke bayu dan menatapnya dengan tatapan yang sedih.

“Koncomu saiki kenek gudo nyai galuh. Kui penungguk nok alas iki gawe menungso seng gowo sifat lan tutur elek nang kene. Bengok en koncomu. Lek sampek peng telu koncomu ora noleh. Dekne kudu ditinggal.” Jelas mbah dwipo

(Temanmu skrng kena goda nyai galuh. Dia penunggu di alas ini untuk manusia yang membawa sifat dan perkataan jelek kesini. Teriaki temanmu. Kalau sampai tiga kali temanmu tidak menoleh. Dia harus ditinggal.) 

Bayu sempat takut dan bingung bukan main, hampir semua alasan dan juga tanda tanya muncul bersamaan begitu banyaknya. Kemudian mbah dwipo dengan cepat menepuk pundaknya. Memberi isyarat bahwa bayu harus segera mungkin melakukan apa yang telah dia jelaskan kepadanya. 

Dengan pelan bayu berjalan kearah pendopo tersebut, kemudian langkahnya sudah dekat dengan angga. Angga dengan santainya menari dengan sosok wanita tersebut. Dari leher wanita tersebut kemudian muncul kepala ular yang lumayan besar. Bergerak mendekat ke tubuh angga dan dengan pelan melingkar di bahu angga. Bayu terkejut dan sedikit takut dengan ular yang melilit bahu angga.

“Anggggaaaaaaaa.”

Teriakan bayu yang sungguh nyaring itu tidak terdengar oleh angga. Saat itu suara bayu sangat kecil sekali lantaran suara gamelan disana juga sangat keras sekali.

Bayu menoleh ke mbah dwipo. Mbah dwipo mengangguk pelan dengan maksud menyuruh bayu untuk meneruskan memanggil angga kembali seperti petuahnya tadi. Bayu menoleh ke arah angga kembali.

Dalam batin bayu, apa yang terjadi kepada mereka berdua sehingga bisa masuk kedalam dimensi lain seperti ini. Apakah ada kesalahan fatal yang dilakukan mereka sehingga harus menerima hukuman sang penguasa alam lain dihutan tersebut. Bayu hanya memegang dadanya dan berusaha untuk tidak goyah dan takut dengan apa yg sedang dia hadapi saat ini. 

“Bismillahirahmanirachim..” Ucap bayu pelan.

“Anggaaaaaaaa, iki aku bayu. Sadar o.. aku nok kene nggaaa…” Ucap bayu setengah teriak.

(Angga, ini aku bayu. Sadarlah.. aku ada disini ngga..)

Kemudian, angga yang sedang menari itu berhenti dan berdiri mematung. Bayu yg melihat temannya yang terdiam tersebut kemudian semakin semangat untuk memanggilnya untuk yang terakhir kali.

“Ya Allah gusti, ngga mugo ae awakmu noleh nang aku dan krungu suoroku. Awakdewe gak due wektu akeh ngga.” Ucap bayu pelan.

(Ya Allah tuhanku, ngga semoga saja kamu menoleh dan mendengar suaraku. Kita tidak punya waktu banyak ngga)

Bayu dengan yakin memanggil angga kembali.

“Anggaaaaaa, aku bayuu.. aku ndek kene.” Teriak bayu.

(Angga, aku bayu.. aku disini…)

Kemudian, angga menoleh dan melihat bayu. Namun, dengan bersamaan sosok wanita tersebut menoleh dan bayu terkejut lantaran wajah wanita tersebut bersisik dan lidah menjulur seperti ular. Tatapan marah dari wanita tersebut membuat bayu ketakutan. Pukulan sebuah tangan dibahi bayu terasa keras olehnya. Rupanya mbah dwipo sudah berada dibelakang bayu dan menarik tangan bayu dan mereka berdua berlari.

“Le, wektune wes kate entek. Awakmu kudu tak tokno soko kene. Ayo, tutno mlakuku.” Ucap mbah dwipo kepada bayu.

(Nak, waktunu sudah mau habis. Kamu harus aku keluarkan dari sini. Ayo, ikuti jalanku)

Bayu mengikuti jalan mbah Dwipo yang sedikit cepat. Jalanan setapak dan juga angin kencang mulai mengganggu perjalanan bayu saat itu. Kemudian, jalan mereka sampai disebuah kampung yang bayu melihat baju yang mreka pakai tidaklah sama dengan model baju yang dipakainya. Bayu tetap berjalan cepat mengikuti jalan mbah dwipo.

Namun, rasa penasaran akan kampung tersebut membuat bayu memperhatikan secara detail apa saja yang menghuni disana. Mata bayu mulai menyipit lantaran, dipinggir sebuah warung terlihat tentara belanda yang diam mematung dengan senjata ditangannya.  Bayu semakin takut dan tidak percaya dengan apa yg dilihatnya.

Setelah melewati warung tersebut. Angin sangat kencang mulai datang kembali. Suara gemuruh di kuping bayu semakin terdengar dan membuatnya tdk nyaman. Tatapan bayu sangat ketakutan, lantaran diujung kampung tersebut  Telah berdiri beberapa orang penduduk yang sosoknya menyeramkan.

Satu diantaranya matanya hampir copot dan lainnya terdapat darah ditubuhnya yang mengucur deras. Nafas bayu terengah-engah. Antara jantung yang berdebar sangat cepat dan ketakutan yang sedang melanda tubuhnya. Mbah dwipo kemudian berhenti diikuti langkah bayu yang juga terhenti. Mbah dwipo kemudian menoleh ke arah bayu dan berkata

“Mlaku o, melok o dalan. Gausah tolah toleh. Nok ngarep iku dalanmu mbalek.”

Ucap mbah dwipo kepada bayu.

(Jalanlah, ikuti jalan. Tdk perlu menoleh. Didepan itu jalanmu kembali)

Bayu kemudian mengangguk dan pelan berjalan. Kemudian langkahnya semakin cepat lantaran kondisi angin dan kabut yang datang membuatnya takut dan juga berlari. Daun daun yang lebat saat itu, bergoyang cepat lantaran hantaman angin yang datang. Bayu terjatuh dan kemudian suara hening terdengar di kupingnya. Mata bayu terlihat redup dan juga berat sekali.

Nampak seseorang meraih tangannya dan menggendongnya.

“Alhamdulillah selamat.” Ucap laki² tak dikenal berteriak.

Entah mengapa pergelangan kaki bayu saat itu sangat sakit sekali. Kemudian dia tak sadarkan diri. Setelah siuman. Dia melihat sudah berada di kamar rumah sakit. Terlihat orang tua dan juga pakde disampingnya. Bayu segera bertanya kepada pakdenya tentang kondisi angga.

“Lek, angga yokopo ? Nangdi angga ?” Tanya bayu bingung. 

(pakde, angga bagaimana ? Kemana angga ?)

Pakdenya yg melihat bayu panik kemudian segera berdiri dan menenangkan keponakannya itu.

“Sabar le, sabar.. angga selamet. Saiki sek dirawat nok kamar sebelah. Wes gausah khawatir le.” Jelas pakde bayu.

(Sabar le, sabar. Angga selamat sekarang masih dirawat di kamar sebelah. Sudah gausah khawatir le).

Mendengar penjelasan dari pakdenya, bayu kemudian bernafas lega. Dia merebahkan tubuhnya kembali dan tenang. Pakdenya melihatinya dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Hari berlalu, bayu ingin segera melihat kondisi angga. Pakdenya yang membantu bayu bersiap dan merapikan apapun yg berada disana mendengus panjang. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada bayu terkait kejadian kemaren lusa.

“Awakmu karo angga opo mendem toh le pas balek ?” 

Tanya pakdenya pelan.

(Kamu sama angga apa mabuk saat pulang ?)

Bayu menggelengkan kepala.

“Angga pakde yang mabuk.” Jawab bayu pelan.

“Tapi, pas balek aku sing nyetir sepedah.” Lanjut bayu.

(Tetapi, waktu pulang aku yg nyetir sepeda)

Pakdenya mendengus dengan pelan lagi. 

“pakde kaget lan mikir awakmu karo angga wis gaiso ketulung. Soale kejadian e seng eruh pas kejadian, sepedamu wes ditemokno gletak nok pinggir jurang. Pakde wes mikir ora karuan.”

(Pakde kaget dan mikir kamu sama angga sudah tdk bisa ditolong. Soalnya kejadian yg menjadi saksi 

Sepedamu sudah ditemukan tergeletak dipinggir jurang.)

“Aneh e nok lokasi kejadian, seng ditemokno iku awakmu ora karo angga.” Jelas pakdenya.

(Anehnya di lokasi kejadian, yang ditemukan itu kamu tanpa angga) 

“angga ditemokno nok pinggir kali seng jarak e iku uadoh teko dalan dan lokasimu. Seng paling gaiso dipikir maneh, angga ora gawe klambi opo opo selain mek gawe clono njero.” Jelas pakdenya.

(Angga ditemukan dipinggir sungai yang jaraknya itu juauhh dari jalan dan lokasimu. Yang tidak bisa dipikir lagi, angga tidak memakai baju apa² selain cuma memakai celana dalam.)

Bayu yang mendengar cerita dari pakdenya tersebut hanya bisa terdiam. Kemudian tanpa berkata apa² bayu berjalan pelan menuju ruangan angga. Sesampainya diruangan angga, bayu melihat temannya itu masih belum siuman. Wajah penuh sesal dari bayu tidak bisa dia tahan utk keluar. Bayu menunduk dan melihat temannya yang tidak berdaya itu. Berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali. 

Sekian cerita ini.

Jika terdapat kesamaan nama dan juga kesalahan tulisan mohon dimaafkan.

Sekian dan salam horor.

SELESAI. 

Thread By @siskanoviw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *