RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Warung Ghaib Tepi Jalan”

Selamat malam dan berjumpa lagi denganku malam ini. Aku suguhkan cerita horror untuk menemani kalian dimalam minggu ini. Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar bahkan mengalami kisah ini dalam sebuah perjalanan. Selamat membaca. 

WARUNG GAIB TEPI JALAN

Aku adalah mahasiswa disalah satu perguruan tinggi yang ada Jawa Tengah. Tiap hari kalo dari kampus selalu pulang larut malam. Bukan ada mata kuliah tambahan, melainkan nongkrong nongkrong gak jelas untuk refreshing dengan teman teman. 

Melihat jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam, aku dan 3 teman, sebut saja namanya Ivan, Rizki dan Soni memutuskan untuk pulang. Dan seperti biasa aku dan Soni selalu bareng, karena jalur rumah kami hampir searah. Kami berdua menggunakan sepeda motor masing masing. 

Di awal perjalanan menuju pulang, kami menjalankan motor beriringan satu sama lain. Malam kali ini ditemani hujan rintik-rintik yang dinginnya cukup menembus jaket dan membuat saya menggigil. 

Tiba tiba Soni meminggirkan motornya dan mengajakku untuk mampir bila ada warung nanti, karena kami memang belum makan sejak tadi siang. Setelah saya menyetujui, kita pun kembali jalan, dan saya jalan di belakang Soni. 

Di perjalanan yang sepi dan sangat sunyi. Namun malam ini sangat berbeda, biasanya saya pulang jam 00.30 saja tak sepi seperti ini, walaupun hujan rintik rintik, masih ada orang yang berlalu lalang. Namun saya tepiskan pikiran itu, mungkin itu hanya perasaan saya saja. 

Sialan, malam ini memang begitu dingin sekali. Aku kurangi kecepatan motor karena dingin yang membuat konsterasi menjadi buyar saat mengendarai motor. Tiba tiba Soni yang di depanku berhenti. 

“Kenapa Son motor lu? tanyaku kepada Soni.

“Tadi gue gak liat ada polisi tidur gede banget, gue hantam aja. Makanya gue berhenti untuk ngecek takut kenapa kenapa nih motor”, jawab Soni. 

“Polisi tidur?? Setau gue ini jalan gak ada polisi tidurnya dan gue dari tadi di belakang lu juga ga liat lu ngehantam apapun”, seru saya.

Aku berusaha meyakinkan diri dengan apa yang aku dengar dengan memeriksa lingkungan sekitar. Dan hal ini membuat kacau pikiran saya, apa yang terjadi dan apa mungkin Soni hanya bercanda? Soni ga mungkin bercanda karena setau saya dia itu orangnya kalem dan untuk bercanda pun jarang sekali. 

Setelah Soni mengecek motornya, kita kembali berjalan. Saya melihat lihat sekitar, ternyata hanya aku dan Soni saja yang berada di jalan malam itu, dan itu yang membuatku heran dan penasaran. Tak lama dari kejauhan samar samar lampu 5 watt dan begitu semakin dekat, itu ternyata sebuah warung. Warung itu tepat di sebelah kiri sebuah baleho atau papan iklan besar yang masih kosong, belum ada iklan yang terpampang. 

Akhirnya kami berhenti dan mampir ke warung tersebut. Saat aku turun dari motor, tiba-tiba kakiku tersandung papan kilometer yang tingginya selutut & cukup membuat kaki menjadi sakit. Sudahlah, faktor dingin & sedikit kecapekan membuatku gak melihat adanya papan kilometer itu. 

Kami berdua masuk ke warung tersebut. Tersedia bangku dan meja, kami pun duduk. Setelah kami duduk, keluarlah seorang ibu ibu dan seorang bapak, sepertinya mereka suami istri, dan menyapa dengan ramah sambil tersenyum.

“Pesan apa mas”, tanya ibu warung itu sambil tersenyum. 

“Pesan kopinya dua bu. Kalo ada makanan ringan, seperti roti juga pesan 2 ya bu..”, jawab Soni.

Ibu itu pun tersenyum dan kembali masuk ke warung untuk membuatkan kopi. Sambil menunggu, saya pun iseng iseng bertanya kepada suami si ibu warung. 

“Warungnya buka 24 jam pak”, tanyaku.

“Iya mas. Saya berjaga bergantian dengan istri saya”, jawab bapak itu.

“Malam ini dingin sekali pak dan jalan begitu sepi sekali”, ujarku.

Dan bapak itu hanya tersenyum kepadaku. “Ini mas kopi sama rotinya’, ujar Ibu. 

“Oiya, terima kasih ya bu’, jawab Soni.

“Saya buatkan tahu isi juga. Dingin dingin begini enak Iho mas untuk isi perut mas mas ini, masi hangat Iho mas”, ujar ibu warung.

“Iya bu, terima kasih”, jawabku. 

Lagi lagi ibu itu hanya tersenyum kepada kami. Lalu aku ambil tahu isi itu, kebetulan memang sangatlah lapar karena menerjang dinginnya malam ditambah rintik hujan. Hal yang luar biasa ketika mencicipi hidangan yang sangat enak dan tak pernah kutemui kala itu. 

Seperti biasa, sehabis makan saya bakar sebatang rokok sambil menyeruput kopi hitam hangat. Beberapa saat kemudian… “Semua tadi berapa bu? Kopi 2 roti 2 dan tahu isi kita berdua habiskan, hehehe’, ujar Soni sambil tertawa. 

“Semuanya 20 ribu mas”, jawab ibu warung sambil tersenyum.

Setelah kami membayarnya, kami pun segera melanjutkan perjalanan pulang. Saat kami menuju motor, lagi-lagi aku tersandung papan kilometer. Oke, kali ini aku benar-benar meleng. Penasaran dengan papan kilometer yang membuat kaki saya tersandung, aku pun melihatnya, disana tertulis ‘KM 12’. Setelah rasa penasaran saya hilang, akhirnya kami pun memulai perjalanan pulang. 

Jalanan masih sepi, hujan rintik2 sepertinya tak mau berhenti juga. Di pertigaan jalan, aku berpisah dengan Soni dan rumahku masih agak jauh sedikit. Anehnya, di jalan yang menuju ke rumahku tidak sepi seperti tadi, ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. 

“Sialan, malam ini sangat aneh, mungkin karena gue kelelahan”, gumamku.

Sesampainya di rumah, aku sholat isya dan membersihkan diri. Mata pun belum mau menutup alias belum ngantuk. Aku pun mendengarkan lagu. Tiba-tiba hape saya berdering ada panggilan masuk, ternyata itu Soni. 

“Tadi lu ngerasa aneh ga selama perjalanan pulang Dit?’, tanya Soni melalui telpon.

“I-i-iiya sih”, jawabku.

“Kirain gue doang Dit. Motor gue pas dicek di rumah, ternyata gak ada yg rusak, padahal tadi gue hantam polisi tidur gede banget cuy’, ujar Soni. 

“Iya syukur deh Son. Sorry, gw cape banget nih, gw tutup dulu ya. Besok di kampus saja ngomonginnya’, jawab saya.

“Oh, oke oke Dit’, ujar Soni.

Karena perjalanan tadi membuatku bingung, akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan menutup telpon dari Soni.

—————- 

Seperti biasa alarm hapeku pukul 5 pagi berdering untuk membangunkan sholat Subuh. Mata terasa berat untuk melek. Namun betapa kagetnya saya karena terlihat samar samar bapak dan ibu warung itu sekarang tengah berdiri di sudut kamar saya dengan muka pucat dan tanpa berekspresi. 

Aroma busuk seketika menyelimuti seluruh ruanganku. Aku mencoba fokus pada penglihatanku dan netapa terkejutnya aku saat melihat sebuah piring yang ada di tangan sosok si Ibu. Sebongkah daging dengan belatung menggeliat terlihat didepan mata. Tubuhku terasa lemas dan tak bisa teriak sama sekali. Perlahan sosok Bapak itu melambaikan tangannya kepadaku tanpa berkata apapun.

“T-t-tolooong” dengan sekuat tenaga aku teriak namun suara tak bisa keluar.

Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan bukan. Aku mencoba untuk membaca ayat2 yang aku bisa sambil memejamkan mata, berharap sosok itu pergi. Dan memang benar saja ketika adzan subuh berkumandang aroma busuk pun menghilang dan sosok itu juga. 

Pagi pun menjelang. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku pun bergegas untuk berangkat ke kampus. Saya berencana berangkat melewati jalan semalam dan melihat apa benar ada warung di situ, teringat ada papan iklan besar dan papan kilometer 12 di sana. 

Akhirnya aku sampai di jalan yang kemarin saya lewati, ternyata jalan ini tidak sesepi malam hari. Dari kejauhan terlihat papan iklan besar. Setelah aku dekati, disana juga terdapat papan kilometer bertuliskan ‘KM 12’ yang membuat saya tersandung semalam. 

Ya tidak salah lagi, ini tempat kami semalam mampir ke sebuah warung. Dan betapa kagetnya, karena tepat di sebelah kiri papan iklan besar yang masih kosong itu, ternyata hanya sebuah kebun kosong yang ditumbuhi rumput ilalang dan semak belukar, tidak ada satu pun warung di situ. 

Namun, di dalam kebun terlihat dari kejauhan ada sebuah rumah kosong yang nampak tua. Rumah itu atapnya sudah runtuh sebagian. Entah aku berhalusinasi atau tidak, di sana terlihat sosok perempuan melambaikan tangan dari dalam rumah tua itu. 

Dengan jelas aku melihat rambutnya panjang, bergaun putih. Wah, itu membuatku geemetar dan saya cepat cepat starter motor untuk segera pergi dari tempat itu.

Karena aku belum sarapan dan gemetaran akibat hal sialan tadi, akhirnya aku berhenti di tempat jualan nasi uduk. 

“Bu, nasi uduknya satu ya’, ujarku.

“Ya mas…” jawab ibu itu.

“Jalan sekitar sini pun sangatlah ramai, apa mungkin bila malam hari sepi sekali ya?”, gumamku dalam hati. 

“Ini mas nasi uduknya’, ibu itu memberikan nasi uduk pesananku.

“Iya, terima kasih bu’, jawabku.

Rasa penasaran membuatku bertanya kepada ibu itu.

“Bu, apa kalo malam jalanan ini sepi sekali? Tidak ada kendaraan yang lewat sama sekali”, tanyaku. 

“Oh, tidak dik. Kalo malam, di sini lumayan rame, apalagi ditambah truk truk bermuatan yang diperbolehkan jalan di atas jam 10 malam’, jawab ibu itu.

“Oh begitu ya bu..?!” ujarku.

“Kenapa mas? Kok mas pucat begitu? Sedang sakit ya?’, tanya ibu itu. 

Dan akhirnya saya pun menceritakan kejadian yang semalam saya dan Soni alami. Dan ibu itu kemudian menjelaskan.

“Dulu di kilometer 12 itu ada sebuah truk yang menabrak warung, dan warung itu hancur tak berbentuk, menewaskan pemilik warung tersebut, yaitu pasangan suami istri. 

Rumah di dalam kebun itu adalah rumah pemilik warung yang tewas itu. Jadi yang mas makan semalam itu hanyalah tipuan mata saja. Mas itu sebenarnya gak makan apa apa’, ungkap Ibu itu.

“Aku sering melewati jalan sini, tapi baru kali aku merasakan hal seperti semalam”, kataku 

“Ya, kemana-mana banyakin doa ya mas” Ibu itu memberi saran.

Setelah mendengar penjelasan ibu warung itu, saya pun rasanya ingin pingsan. Berarti penampakkan di kamarku tadi pagi .

itu bukan halusinasi saja, melainkan penampakkan hantu pemilik warung itu. 

Beberapa hari kemudian, aku menceritakan kejadian yang aku alami ke Soni dan ia juga mendapat gangguan yang sama. Semenjak saat itu, kami sebisa mungkin pulang kuliah sebelum maghrib.

TAMAT. 

Thread By @penjahatklausa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *