RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

RUMAH SAMPING MAKAM

Ini adalah thread horor pertama saya setelah sekian lama tidak menulis. Jadi mohon maaf apabila penulisan alur cerita agak-agak berantakan. Anyway, cerita ini saya tulis berdasarkan kisah nyata yang pernah saya alami sendiri beberapa tahun yg lalu. 

Waktu itu aku baru resign dari pekerjaan di batam dan pulang ke Jawa. Selama +/- 2 bulan menganggur. Kakak pertamaku yang memang seorang wiraswasta sebut saja “Tika” tiba-tiba menawari pekerjaan sementara. 

Yakni menjaga salah satu cabang tokonya di kecamatan “P”. Kebetulan toko tersebut adalah rumah lama peninggalan salah satu nenek kami. “Na… mbak mau buka cabang toko lagi nih. Kamu mau jagain ga, daripada harus merekrut pegawai lagi.” 

“Lah aku PP dong mbak ntar. Mayan nih motoran setengah jam bolak balik”.

Mbak Tika menggeleng “Gak usah lah. Nginep aja”

“Nginep di rumah pean?” tanyaku.

“Gak usah. Kamu jaga toko sekalian tidur di rumah e mbah.” 

Aku melongo dong gaes. Mau tau sebabnya? Karena rumah mbah yg mau dibuka cabang toko itu, persis sebelahnya terdapat sebuah makam keluarga. Aku jelasin persis biar kalian bisa punya sedikit bayangan tentang rumah mbah. 

Meskipun terletak di wilayah yg msih kota dan lumayan rame. Tapi ketika malam wilayah pertokoan di jalanan ini termasuk sepi dan jarang toko yang buka. Rumah mbah termasuk satu-satunya bangunan tua yang ada di jln tersebut. Tepat di sebelah timurnya ada sebuah makam keluarga. 

Yah meskipun bukan hanya yg masih kerabat yang dimakamkan di sana. Bisa dibilang itu adalah pemakaman tua. Dari jaman belanda memang sudah ada. Disisi timur makam terdapat masjid Jami’. Di utara makam terdapat sekolah TK. 

Jadi makam tua ini memang diapit beberapa bangunan. Di bagian selatan dibangun tembok yg tdk terlalu tinggi (2.5m mungkin tingginya). Jadi dari jalanan kalo melewatinya, kalian masih bisa melihat beberapa bunga kamboja berwarna merah. 

Rumah mbah terbagi menjadi dua sisi. Sisi barat & timur. Sisi barat ditempatin oleh kakak sepupuku yg jg dibuat jd tempat usaha lebih dahulu. Panggil saja kak “Lisa”. Nah sisi timur inilah yg akan kutempati, persis sebelah makam tua tersebut 😒. 

Okay, back on story. Aku sempat ragu menerima penawaran dari mbak Tika. Mengingat rumah sisi timur dibiarkan kosong selama bertahun-tahun sejak mbah meninggal.

“Gimana Na? Mau kan? Ntar mbak emang ga bisa gaji banyak. Gak usah khawatir. Soal makan mbak yg tanggung.” 

Mengingat situasi dan kondisi keuangan yg sudah menipis karena masih belum mendapatkan pekerjaan. Belum lagi harus menghidupi kedua anak kaki empatku yg harga dry foodnya lumayan. Akhirnya aku terpaksa menerima tawaran tersebut. 

“Yawes mbak gak apa2. Tak jagain. Mumpung aku belum dapat panggilan kerja lagi.” jawabku.

“Nah gitu dong. Minggu depan siap-siap boyongan yah. Besok tak mulai nyuruh arek-arek (*pegawainya mbak Tika) bersih2 dan mindahin barang2 dagangan.” ucapnya semangat. 

Aku cuma bisa meringis gaes. Dalam hati membatin “Gak apa-apa. gak apa-apa. Rumah mbahku sendiri ae.”

Sehari sebelum pindahan mbak Tika ngadain selamatan dan doa bersama di rumah mbah, dengan hanya mengundang kerabat terdekat. 

“Semoga Toko Kurnia rame dan laris seperti toko satunya.”

“Aamiin.” ucap kami serentak.

Kami sekeluarga sedang duduk mengitari sebuah nasi tumpeng yang cukup besar di atas sebuah karpet. Aku memandangi sekeliling rumah. Tidak ada yang berubah sejak 12 thn terakhir. 

Cat tembok berwarna putih dan atap rumah yang sangat tinggi khas rumah bangunan tua. Kulihat sarang laba-laba berwarna pekat di sudut2 pojok tembok yg tinggi. Tentu saja siapa yg bisa menggapai utk membersihkannya. Kecuali dengan sapu plafon dgn panjang diatas rata-rata. 

Tiba-tiba mbak Tika menarik tanganku pelan.

“Yuk Na, aku tunjukin kamarmu.”

Aku pun berdiri lalu mengikuti langkahnya dari belakang, menuju ruangan dengan dua pintu kayu tinggi berwarna hijau muda. Mbak Tika membuka salah satu sisi pintu tersebut. Tampak sebuah ruangan 

berukuran 5×5 dengan kamar mandi dalam. Kamar itu lumayan gelap dengan hanya sedikit penerangan cahaya dari ventilasi kecil disana. Itu adalah kamar utama mbah dulu sebelum meninggal.

Di sisi utara kamar tersebut tampak sebuah jendela berpintu kayu tanpa kaca dan teralis besi. 

sebagai penghalangnya. Memang sudah cukup bersih, hanya saja udara di dalamnya sedikit pengap. Mbak Tika akhirnya membuka kedua pintu jendela kayu tersebut.

Aku hanya bisa menghela nafas pelan mendapati sebuah pemandangan yg pasti membuat siapapun sedikit …. merinding. 

Dibaliknya terdapat sebuah pemakaman tua dengan beberapa pohon kamboja berbunga merah. Meskipun masih siang, suasana makam itu tetaplah senyap dan dingin.

“Na, jangan pake kamar mandi dalam yg ini ya. Pke kamar mandi di belakang aja.”

“Kenapa mbak?” tanyaku 

“Kran dan saluran pipanya rusak. Ga sempet diperbaiki. Lagi emang kamu gak tkut apa make kmar mandi ini. Sering dipake mbah dulu loh. Hiiii ” ucapnya setengah bercanda

“Ojo ngunu tow..”

(Jangan ngomong gitu lah).

Jujur aku gak begitu senang dgn candaan mbak Tika. 

Mbak Tika akhirnya meninggalkanku sendirian setelah ada yg memanggilnya.

Aku duduk di tepi ranjang yg mmg disediakan sambil kembali memandang sekitar.

‘Ceklek’. Aku mendengar suara kusen pintu. Dan mataku pun mengarah ke pintu kmar mandi yg sedikit terbuka. 

“Loh? kok buka? Perasaan td masih tertutup”.

Akhirnya aku berjalan ke arah kamar mandi dan melongok ke dalamnya. Temaram dan pengap. Cat berwarna hijau muda tampak mengelupas di sana-sini. Kotor dan tentu saja banyak sarang laba2. Tidak ada ventilasi sedikitpun dari  luar. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan semilir angin dingin keluar dari dalam kamar mandi mbah. Tiba-tiba tengkuk leher terasa merinding. Jujur meskipun bukan indigo, tapi dari kecil aku adalah orang yg sangat sensitif dg hal-hal semacam itu. 

Hari ini adalah malam ketiga menempati rumah mbah. Karena di dua malam sebelumnya aku masih ditemani mama menginap di sini. 

Tidak terjadi gangguan apa-apa, of course. Karena tiap habis shubuh-maghrib mama sering mengaji dan shalat tahajud tiap malam. I really feel safe. Secara aku orangnya belum bisa sekhusyuk mama dalam melakukan ibadah2 sunnah :'( . 

Karena itu bisa dibilang dihari ke-3 ini adalah malam pertamaku tidur di rumah mbah SENDIRIAN! Ok fine, mungkin terdengar sedikit berlebihan. Karena di rumah sisi barat masih ada kak Lisa (sepupuku) yang menempati. Kami hanya terpisah tembok & satu pintu yang saling berhubungan. 

Hanya saja pintu itu digembok dan tertutup lemari kayu tua yang besar di baliknya.

Ah iya satu lagi, aku jg membawa serta kedua kucing kesayanganku. Kuletakkan kandang mereka di ujung belakang dekat dgn kamar mandi.

Seusai shalat isya’ aku bersantai di kamar sambil bermain hp. 

Kemudian tercium aroma wangi yang melintas melewati hidungku. ‘Ah mungkin itu bau bunga kamboja yg terkena angin melewati ventilasi’. hiburku.

Padahal bunga kamboja kan nggak ada bau wangi-wanginya sama sekali πŸ™ . 

Tak lama setelahnya kedua kucingku mengeong keras dan saling bersahutan. Cukup lama mereka bersuara. 

Padahal beberapa kali sudah kucoba tenangkan dengan menyahutinya. Biasanya mereka akan terdiam jika demikian. But not tonight.

Bukannya tak merasa, hanya saja aku mencoba mengabaikan keganjilan ini dengan bersikap tdk terjadi apa2. 

Berpura-pura berani merupakan salah satu cara agar mereka yg sengaja ingin mengungkap entitasnya, tidak menangkap ketakutan kita.

Meoooooong… meoooooong.

‘Oke ini sudah gak baik.’ batinku. 

Makin lama atmosphere di dalam kamar juga makin tak mengenakkan. Bau wangi makin menjadi dan suara kucing2ku pun melengking.

Aku bangkit dari posisi dan mengambil langkah cepat menuju ke arah kandang. 

Momo dan Mimi (nama anak2 kaki empatku) terlihat resah di dlm kandang besinya. Apalagi Momo, si kucing jantan berwarna hitam putih. Tampak bolak-balik naik turun tangganya. Kebetulan kandang kucing ku memang model tingkat dan berukuran cukup besar. 

“Momo… momo.. hey!.” Ucapku sambil membuka slh satu pengait pada pintu lalu memasukkan tanganku, mencoba mengelus manja kucing besarku yg satu ini.

Meooow… meow.

Momo memandangku aneh. Namun kini suaranya terdengar lebih pelan. 

Keduanya pun terdiam. Bukan hal aneh lagi, kalau kucing juga hewan yg cukup sensitif dalam merasakan suatu keganjilan. Aku lupa menjelaskan, kalo kamar mandi di rumah ini terpisah dgn wc nya. 

Sebelah kanan kandang kucing letak kmr mandi, sedangkan sebelah kirinya adalah wc (toilet).

Tepat pada saat itu aku merasakan sebuah bayangan hitam melintas cepat keluar dari dalam wc. Aku benar-benar tak berani menoleh saat itu. Jantung rasanya sudah ingin melompat dari tempatnya. 

Kulihat Momo dan Mimi menoleh bersamaan. Kedua mata besar mereka tampak melihat sesuatu, tp mereka tdk mengeong sama sekali. Tak lama setelahnya mereka mulai bersikap biasa lagi. Seperti tidak terjadi apapun. 

Akhirnya kuberanikan diri menoleh dan mengintip lorong menuju kamar sambil membaca istighfar berulang kali. Tentu saja sepanjang lorong itu tak ada siapapun.

Aku berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasiku, karena terlalu parno tgl sendiri. 

Meskipun dlm hati kecil aku yakin sih, mungkin para penghuni lama di rumah ini sedang melakukan salam perkenalan pada penghuni baru seperti aku. 

Sebelumnya perkenalkan ini yang namanya momo & mimi (*nama kucing2 pun harus ikut disamarkan. Hahaha). Mereka adalah saksi keganjilan yang terjadi di rumah mbah.

Hari-hari berikutnya aku masih mengalami gangguan yg lain2. Hanya saja sudah mulai terbiasa. Karena menurutku gangguan2 itu tdk terlalu ekstrim. Seperti bau wangi bunga sedap malam, sekelebat bayangan yg mondar-mandir atau suara pintu yang diketuk sesekali. 

Tentu saja hal-hal itu tidak terjadi setiap hari. Hanya di hari-hari tertentu saja. Atau ketika aku melakukan suatu kekhilafan. Dan akan kuceritakan di thread kali ini. Semoga hal ini jadi pelajaran buat kita semua. 

Entah kenapa malam itu badan kerasa capek bgt. Rasa kantuk sudah tak tertahankan. Padahal masih jam 20.00 wib. Akhirnya kuputuskan buat rebahan sebentar. Niat hati pengen merem-merem dulu setengah jam an. Dan ternyata kebablasan :v 

Aku gak tau waktu itu udah jam berapa. Udah bangun sih sebenarnya. Cuma mata belum kuat melek.

Tiba-tiba terdengar suara air mengucur dari kran. Awalnya kukira suara air hujan. Tapi kalo hujan kan pasti suara airnya kedengeran dari atap jg dong. 

Aku dengerin lebih seksama. Beneran eh suara air kran yg mengucur. Dan arahnya dari kamar mandi dalam. Lah kran & pipa kamar mandi dalam kan lom diperbaiki!?

Deg deg an lagi dong ah. Kali ini beneran udah sadar tapi gak berani melek. 

Gak beberapa lama kedengeran orang kek lagi ambil air pake gayung. Bukan suara kyk org mandi sih. Tapi kyk suara aktifitas org yg lg berwudhu gt.

Sayup-sayup ada suara org lagi make sandal, trus jalan kyk rada diseret-seret. Berharap bgt waktu itu aku masih dlm mode mimpi gaes. 

Tiba-tiba aku nge jingkat kaget, karena ada yg narik kaki kananku kuat banget.

Aku ya langsung kebangun, tapi ya gt gak ada siapa-siapa.

Sumpah badan lgsg getar kenceng sambil beristighfar. Trus baca ayat kursi dan surat2 pendek lain. 

Kondisi kamar masih sepi dan pintu kmr mandi juga masih tertutup bahkan terkunci. Aku raba2 hape, trs ngeliat layar ternyata udah jam 03.00 pagi gaes. 

Satu hal yg baru kusadari. Ternyata aku memang belum sempat melaksanakan shalat isya’ tadi πŸ™ . 

Lanjut lagi gak?

Kali ini bkn dr pgalamanku sendiri. Tapi cerita dari pgalaman tante & om ku (adiknya bapak). Mereka jg sempat tinggal di rumah mbah. Sebelum akhirnya rumah ini dibiarkan kosong bbrapa tahun kmudian. 

Siang itu tante Erin gak sengaja mampir ketempatku. “Sekalian pengen liat toko cabang baru mbak Tika” katanya.

“Kamu berani tinggal sdrian tow disini?” tanya tante Erin.

“Berani lah. Lha ini ada Momo dan Mimi. Hehe.” 

“Kendel men tow.”

(Berani bener)

“Ya berani. Lha wong gak ada apa2 kok.” Ngeles aku.

“Ah mosok?”

(Ah masa?)

Tiba-tiba tante Erin berjalan ke kamarku.

“Awakmu turu kene?”

(Kamu tidur di sini?)

Aku mengangguk. 

“Ehh .. Eh.. mau kuceritain gak?”

Wah hawa-hawa gak enak sih kalo uda ngomong kek gini. Kebiasaan jelek tante Erin itu suka nakut-nakutin. Jahil bgt orangnya. Mukaku pun lgsg berubah jadi masam.

Kali ini aku akan bercerita menjadi sudut pandang org ketiga. 

Hari itu tante Erin usai menidurkan anaknya yg masih

berusia 5 bln yg bernama ‘Rama’ dan meletakkannya di box bayi. Ia melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam.

Rasa lelah dan kantuk mulai menghinggapi. Akhirnya ia memutuskan kembali ke kamar utama (kmr mbah). 

Dilihatnya om sudah tidur terlelap. Tante Erin pun segera membaringkan tubuh disamping suaminya. Malam itu ntah kenapa atmosphere di dlm kamar tdk begitu mengenakkan. Pengap namun udara terasa dingin. Ia akhirnya mencoba memejamkan mata. 

Sudah hampir sejam tante Erin belum benar2 bs tidur. Suara detik-detik jarum pun terdengar sgt jelas di telinganya.

“DOKKK DOKK DOKK.”

Terdengar suara pintu yg diketuk sangat keras. Tante Erin yg kaget jelas lgsg terbangun.

“DOKKK DOKKK DOKKK!!”

Suara ketukan itu berbunyi lg 

dan trnyata berasal dari kamar mandi dalam. Kala itu kamar mandi dlm memang msih bisa digunakan dan belum rusak.

Ia menoleh dan mengguncang2 tubuh suaminya. Pasalnya dirumah itu hanya ada mereka bertiga saja. 

“Mas… mas…bangun mas! Suara apa itu?”

Tapi om tidak bergeming sama sekali. 

BRAKK BRAKKK! BRAKK BRAK!

Suara ketukan yg keras itu berubah menjadi suara pintu yg digedor dari dalam. Seolah2 ada ‘sesuatu’ yg ingin mencoba keluar dr dalam sana.

Tante Erin makin ketakutan, hingga badannya terasa membeku.

Tiba-tiba terdengar suara org berdeham. 

Suara itu terdengar berat dan dalam. Ntah kenapa mata tante Erin malah menoleh ke arah ventilasi kecil di tembok atas.

Tampak dua bola mata berwarna merah mengintip dr sana. Tante Erin lgsg memejamkan mata sambil melantunkan doa2 yg dihapalnya. Sampai2 ada beberapa ayat yg 

salah ia ucapkan saking takutnya. Setelah itu suara gedoran pintu berhenti. Hening begitu saja.

Tanpa membuka mata, akhirnya tante Erin segera berbaring dan membungkus tubuhnya dgn selimut. 

“Mosok se?”tanyaku meyakinkan

(masa sih?)

“Kandani kok. Bien omah iki kan jek tak panggoni kabeh. Jek bablas kebon mburi san.”

(Dibilangin kok. Dulu rumah ini -sisi barat & timur- masih aku tempatin semua. Hingga halaman rumah belakang) 

“Kadang yo Na. aku sering mambu kembang melati sliwar sliwer. Kyak mbah lewat. Terus bengi-bengi jam 2 opo 3 isuk, aku krungu suara wong mlaku gae bakiyak lewat.”

(Kadang ya Na. Aku sering mencium bau bunga melati. Kayak mbah lagi lewat. Terus jam 2 atau 3 pagi, aku sering denger 

orang lewat jalan pake sandal bakiyak).

Wagelaseh! Bunga melati emang bunga favorit mbah dulu pas masih hidup. Tiap mbah lewat pasti bau bunga melati.

Bunganya srg ditaruh diatas sajadah sih. Bahkan beliau aja sampe nanem bunga melati di halaman depan. 

Pas masih kecil dulu melatinya srg aku petik. Paling mbah cm bilang

“Waduhh kembangku..”

Bandel bener dah πŸ˜‚. 

Gara2 cerita dr tante Erin. Akupun jadi parno tiap kali ngeliat lubang ventilasi dan pintu kamar mandi dalam πŸ™„.

“Gimana Na. Kerasan gak tgl dirumah sebelah?”

Tanya mas anto, suami dari kak Lisa.

Kamis malam setelah isya’ aku biasa nongkrong di rumah kak Lisa. Numpang nonton tv. 

“Ya gitu deh.”

“Toko rame gak?”.

“Ya ga mesti mas. Kdg rame kdg sepi. Lha saingan depanku Distr**** loh.” Jawabku sambil ngunyah camilan.

“Awakmu gak dikethok i opo ngunu nk sebelah?”

(Km ga diliatin apa gt d rumah sbelah). 

Aku sempet terdiam.

“Gak sih. Paling cuma bau2 wangi kembang gt. Tp ya gak ada apa2.”

Paling males lah kalo bahas ginian. Tiba-tiba mas Anto nyeletuk.

“Ngerti gak. Aku tau ngalamin kejadian gak ngenakin pas di halaman belakang.”

“Opo mas?”

Aku takut tapi kepo dong. 

“Kejadiane ya pas malam jum’at gini.”

Oke kali ini aku akan kembali menceritakan dr sudut pandang orang ketiga lg. 

Kamis malam jum’at legi. Mas Anto baru dtg dr kota Surabaya tempatnya bekerja. Setelah meletakkan tas dan berganti pakaian, ia pun duduk bersantai sambil menyalakan TV.

“Hon.. aku oleh jaluk tlong ga?”

(Hon *singkatan dr honey**, aku boleh minta tlg ga?)

ucap kak Lisa tiba2 

sambil membawa nampan cetakan kue.

“Duh. Aku jek tas teko. Jek kesel ndaa.”

(Duh. Aku baru dtang. Masih capek nda.)

“Ayolah hon. Aku arep bungkusi jajan ki. Gak iso ditinggal.”

(Ayolah hon. Aku mau bungkus kue-kue psenan orang. Gak bsa ditinggal. 

“Jaluk tlg opo?”

(Minta tolong apa?)

“Angkatin jemuran baju. Takut e ntar basah gegara kena embun kalo ga sgera diangkat.”

“Ck.. iyo iyoo.”

Akhirnya mas Anto bangkit dr tempatnya dan berjalan menuju halaman belakang. 

Aku jelasin dikit sebelumnya tentang gambaran di halaman belakang.

Jadi rumah mbah ini memang modelnya memanjang ke belakang. Di halaman belakang selain untuk tempat menjemur, juga berfungsi sebagai tempat menanam bbrpa jnis sayur dan buah2an. 

Bisa dibilang halaman belakang sperti kebun kecil. Tak hanya berfungsi sbg kebun, tpi dulu mbah juga memelihara bbrapa binatang. Diantaranya ayam kalkun, doang (angsa), burung, dan ayam.

Dulu pas waktu kecil, aku sama kakak2ku langganan dikejar soang klo pas lg maen 

di halaman belakang. Biasanya utk menghalau sosoran soang, kami siap sedia bawa tongkat bambu kecil yg sudah dibelah. Panjangnya +/- 1.5 meter.

Karena itu jika kita pergi ke halaman belakang. Kita bakal ngeliat bekas kandang binatang yg terbuat dr kayu dan jaring2 kawat. 

Lanjut ke cerita mas Anto.

Mas Anto akhirnya sampai di halaman belakang. Suasana saat itu katanya dingin banget, tapi gak ada sama sekali.

Mas anto mulai melepaskan penjepit dan mengangkati jemuran satu persatu.

Setelah hampir separuh ia mengambil sisa jemuran, tiba2 ada 

yg melemparinya batu kerikil. Mas anto menoleh dan gak ada siapapun. Ia pun kembali melakukan aktifitasnya.

“Kratakkk… kratakkk…”

Kali ini malah ia dilempar pasir.

Mas anto yg kaget langsung menoleh ke arah bekas kandang. Terdengar suara berat org yg sdg tertawa 

terkekeh-kekeh. Ia pun memicingkan mata mengamati dgn seksama sesuatu di balik pohon asem yg berada di depan kandang.

Tampak ‘sesuatu’ bertubuh tinggi besar dan berbulu berdiri di sana.

“Jiampuuuut!” Serapah mas anto kemudian. Tanpa pikir panjang ia pun segera berlari masuk 

dan menutup pintu rumah belakang. Tak dipedulikannya sisa jemuran yg msih tertinggal di sana.

Antara pgn ketawa dan takut jg sih dengerin cerita dr mas Anto.

“Sampean sih mas. Gak dungo2 dhisik.”

(Mas Anto sih gak baca2 doa dulu). 

“Wedi aku. Ndredeg tenan pas delok genderuwo iku. Aku ki baru nyadar nek waktu iku malam jum’at legi trnyata. Wes kapok aku nk kudu nak kebun mburi mari isya’. Wegah!”

(Takut banget aku. Badan gemeteran pas ngeliat genderuwo itu. Aku juga baru ingat kalo pas kejadian itu 

ternyata malam jum’at legi. Kapok lah aku, ga berani lg kalo hrs ke halaman belakang setelah waktu isya’. Ogah!) 

Dulu kata mbah, memang kebun belakang merupakan jalan lewatan bagi genderuwo. Jadi kalo pun ada org yg berdagang/ berjualan di dekat halaman belakang rumah mbah. Kebanyakan dagangannya akan sepi dan jrg laku. 

Udah beberapa bln aku stay di rumah toko mbah dan Alhamdulillah jrg terjadi gangguan2 lg. Mungkin ‘mereka’ rada2 capek kali ya, karena aku srg bersikap pura2 tak peduli.

Kebetulan ini hari kedua aku lagi ‘dapet’ alias haid. Badan terasa sakit semua dan mood lg ga bagus bgt. 

Hampir seharian aku menyalakan musik dr laptop dgn suara sound system yg cukup keras. Beberapa kali juga ada ada sekelebat bayangan lewat di sepanjang lorong, bau wangi bunga, bahkan beberapa suara aneh lain namun tak ku hiraukan.

Anehnya kalo mood lg jelek, aku jadi org ygΒ super berani. Gak takut dgn apapun dan malah terkesan nantangin. Suara musik pun semakin ku naikkan volumenya (*please jgn ditiru gaes. Ini jg ganggu tetangga πŸ˜…).

Malam harinya aku melepaskan Momo dan Mimi dr kandang. Seringnya mereka kulepas di malam hari memang, kalau 

sudah masuk jam tidur baru kumasukkan kembali ke kandang.

Kali ini mereka bermain2 di kmar, sedang aku bersantai sambil rebahan di ranjang. Waktu itu aku memang lg asik chat dgn pacal (*sekarang jd mantan by the way dan udah nikah ma org lain :v ) 

Tiba-tiba Momo dan Mimi mengeong dgn suara keras secara bersamaan. Tapi suara mereka sdikit menggeram seperti sdg melihat musuh. Pandangan keduanya pun mengarah ke atas langit2 kamar.

Kupikir diatas sana mereka sdg melihat cicak. Mereka memang suka berburu cicak, kdg serangga. 

Setelah selesai bermain2 lalu mati, mereka akan membawa bangkai2 hewan itu kepadaku -_- .

Sekali lg ku lihat langit-langit kamar, namun tak ada apapun di sana. Kosong melompong. 

Ku panggil keduanya bergantian, bahkan ku coba alihkan perhatiannya. Namun Momo & Mimi masih bergeming. Aku tau mereka melihat sesuatu yg tak beres. Karena sejak itu, bulu roma dibelakang tengkukku berdiri.

Aku mulai melantunkan ayat kursi dan surat2 pendek pengusir jin yg lain. 

Mataku juga mengarah ke langit2 kamar. Udara makin dingin. Tiba-tiba kudengar sesuatu merayap didinding. I mean.. suara merayapnya bener2 kedengeran. Kyk seekor serangga raksasa berjalan dgn cepat di sana. Hanya saja kasat mata.

‘KRATAK KRATAKKK KRATAK’ 

Momo dan Mimi masih terdiam, hanya saja kedua bola mata hitam mereka makin membesar. Sayup2 aku mendengar suara cekikikan anak kecil. Pelan sih tapi terdengar jelas sekali di telinga. 

Tak beberapa lama leherku terasa panas dan berat.

“Astaghfirullah.” gumamku

Kalo sudah begini tandanya makin ga bagus. Mgkin ‘mereka’ ada yg ingin mencoba masuk. Sialnya lg, aku dlm kondisi sdg tidak suci.

Bagaimana aku bisa tau? Yah karena sebelum2nya aku pernah 

beberapa kali membantu proses org rukiyah.

Segera kunyalakan lantunan murrotal ayat2 suci Al-Qur’an. Sekitar hampir 10 menit aku bergulat dgn mereka scara mental-batin dan ikut membaca beberapa ayat. Ini bener2 gak mudah. Serius πŸ™ 

Pernah suatu ketika aku baru selesai mengambil wudhu dan akan melaksanakan shalat Isya’. Kalau ga salah waktu itu sekitar pukul 21.00 . Tiba-tiba terjadi pemadaman listrik dari pihak PLN.

Posisi waktu itu tepat lg didepan kandang kucing. Aku kaget ehlah. Baru kali ini menghadapi 

situasi mati listrik di rumah mbah. Orang pas rumah lg terang dgn lampu aja rajin digangguin, apalagi kalau dlm posisi gelap2 an gini.

Nahh, dr dulu Momo dan Mimi jg gak suka dgn situasi gelap gulita gini. Mereka jg ikut auto panik. Wkwkwk. 

Akhirnya kuberanikan brjalan pelan2 menuju kamar sambil meraba2 sekitar. Takutnya nabrak lemari atau kursi kan ya lumayan sakitnya.

Niat hati segera mengambil hp sbg lgkah pertama penerangan.

‘SREKKK SREKKK’

Tiba-tiba ada suara langkah kaki yg stgah diseret tepat dibelakangku 

Aku spontan berhenti gak berani noleh dong, gelap lagi. Emg setan bisa keliatan jelas ya klo pandangan jg gelap?

Sumpah otomatis deg deg an, bener2 ga siap batin ngehadapin mereka dlm kondisi skrg ini.

Aku pun kembali melangkahkan kaki. Suara itu makin cepat mengikuti, aku pun 

jg ikut stegah berlari yg berakibat jempol kaki kananku nabrak pintu.

‘SREET SRETT’

Aku juga merasakan ada hembusan nafas dingin tepat di tengkukku.

“Allahuu Akbar.”

Kutahan rasa nyeri jempol, bodo amat. Rasanya klo gelap gini ntah knp napas jg ikut sesak. 

Akhirnya ku raih hp yg berada di atas meja kamar. Tanganku gemetar gaes, sampe2 pas mo nge swipe layar hape aja kagak bisa2 πŸ˜‘ .

Tepat saat mau ngidupin mode senter, tiba-tiba ada yg niup kuping kiriku kenceng bgt. Untung ga ada riwayat jantung Ya Allah. 

Seperti yg kubilang sebelumnya. Makhluk2 seperti mereka bisa memakan rasa takut kita menjadi suatu energi.

Makanya pas kejadian mati listrik, ‘mereka’ berhasil melakukan kontak lbih intens dgnku. Karena aku bener2 lemah scara mental saat itu. 

Anyway saat kuarahkan senter ke sekitar, aku jg bisa melihat jelas beberapa anak kecil botak sdg berlari2 lewat gt aja.

Hanya itu saja. Selanjutkan ku hbiskan semua stok lilin yg kupunya, dan kunyalakan di seluruh rumah. 

Saya akhiri dulu thread tentang rumah mbah yg disamping makam. Sebenarnya masih ada cerita2 lain ttg gangguan di rumah ini. Hanya saja ntar threadnya malah jadi ratusan πŸ˜….

Anyway selama aku tinggal di rumah samping makam ini. Sebenernya mereka gak 

ada yg jahat juga sih. Lebih ke usil mgkin.

Selalu diingat bahwa dunia kita dan dunia ‘mereka’ saling berdampingan. Usahakan jgn pernah takut, karena derajat kita lebih tinggi dari mereka. Kita manusia adalah ciptaan yg lbih sempurna dari kaum Jin dan syaitan. 

Kuatkan iman dan jangan sampai meninggalkan ibadah. Percayalah, mereka benar2 gak berdaya dgn manusia yg memiliki iman yg kuat. 

Semoga pengalaman nyata yg saya share di thread kali ini, bisa diambil bbrapa pelajaran didalamnya.

Bagi yg tdk percaya, it’s okay kalian bisa menganggap sbg thread horor biasa 😁.

Wassalamu’alaikum.

Sampai jumpa di thread horor selanjutnya. 

Source Thread: Twitter @chillbanana313

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *