RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Sihir Pemisah

Cerita berdasarkan pengalaman dari seseorang yang tidak ingin di sebutkan namanya. Sehingga nama semua tokoh dalam cerita ini om rubah demi keamanan privasi narasumberšŸ™)

“Jadi huju nyelu kawin, tapi dada manak2 beh lagi ketuh due tuh. Baubat kanih kante tapi dada hasil, tatap beh dada batihi2. Ingkeh sawam kau ji mandul. (Sudah 7 tahun menikah, tapi kalian berdua masih belum punya anak. Berobat kesana kemari tapi tidak ada hasil. Tetap saja tidak hamil2. Bisa jadi istrimu itu yang mandul.)”ujar seorang wanita paruh baya pada seorang laki2 yang sedang mencuci mobil

“Hinday rajaki lagi cu, lamun sawan ulun te sehat beh. Cuma iyenah tuhan hinday percaya lagie manitip akan anak dengan iki due. (Belum rejeki. Kalau istri saya itu sehat, cuma ya itu, tuhan belum memberi kepercayaan untuk menitipkan anak pada kami berdua.)”jawab laki2 itu 

“Iyenah kih, kueh lah umur sasar babakas, sangsi uma’um te handak banar kia gitangkuh maensu. (Iya itu. Mana umur semakin tua. Kasian ibumu itu ku lihat sangat ingin mempunyai cucu.) ” 

“Naray hinday kau nah, karena ensu2 auhum. Bagi yaku te, ji terpenting anak minantungkuh sanang bahagia, jadi beh. Lamun pasal ensu te malang ampie tuhan beh manenga atau jida. Taluh ji maha kuasa kia ji maatur. (Apalagi maksudmu? Segala2 cucu katamu. Bagiku yang terpenting anak menantuku bahagia, sudah cukup. Kalau masalah cucu itu, lihat bagaimana kehendak yang maha kuasa saja mau memberi atau tidak. karena semuanya Dia yang mengatur.” ujar seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah. Ucu bastiar memonyongkan bibirnya mendengar perkataan saudaranya tersebut.

“Bujur beh tuhan ji maatur nah ka, tapi arep bakaluarga te kih jalas beweyah handak karen manak babuah. Anak akan maurus arep lamun bakas kareh. Dada anak, naray arti barumah tangga?? 

(Memang benar tuhan yang mengatur kak, tapi kita berumah tangga itu tentunya ingin mempunyai keturunan, anak jugalah yang akan mengurus kita di kala sudah tua nanti. Tanpa anak apalah arti sebuah rumah tangga??)” 

“Tuh lah yaku mamander dengam. Jituh kan lah rumah tangga anakkuh. Buhen maka ikau ji repot? Ada anak sama jida, te biar jadi urusan awen. Yaku ji melay ije kahuma gin dada bagaduh karen taluh te. Tapi mahining pander ayum kau jida paduli anak minantungkuh tau tasinggung ampie! 

(Aku katakan padamu, ini kan rumah tangga anakku, kenapa kau yang repot? Ada anak atau tidak itu urusan mereka. Aku yang tinggal serumah dengan mereka saja tidak mengurusi hal2 seperti itu. Tapi mendengar omonganmu itu sepertinya tidak peduli anak menantu ku tersinggung!)” 

“Tersinggung apa? Kan memang benar?” ujar ucu bastiar

“Kalau kau terus berbicara yang tidak penting seperti ini, sebaiknya kau jangan pernah singgah di rumahku lagi!” bentak ucu mastah pada adiknya tersebut Cu bastiar bergegas beranjak dari duduknya dan berjalan pergi sambil menghentakkan kakinya. Cu mastah menghela nafas panjang, ia menggeleng2kan kepalanya menatap punggung sang adik yang berjalan menjauh. Dari dalam, keluarlah seorang wanita yang merupakan menantu cu mastah. Wanita itu memeluk ibu mertuanya dengan hangat. Ada setitik air bening yang mengalir di pipinya. 

“Maaf ya ma. Kami belum bisa memberikan mama cucu.” ucapnya lirih

“Sudah, jangan memikirkan hal itu. Mama selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua. Ada anak ataupun tidak, mama harap rumah tangga kalian tetap bahagia. Mama dan arwah babah mu pun dulu begitu. Bahkan 11 tahun pernikahan kami berdua belum juga di karuniai anak. Sekalinya diberi anak, malah dapat kembar.”

Yadi yang melihat keakraban ibu dan istrinya itu tersenyum.

Akhir2 ini keadaan cu mastah kurang begitu sehat, beliau sering batuk2 dan mengeluhkan pundaknya sakit seperti di cengkeram dan di pukul. 2 hari yang lalu, beliau juga bercerita telah mendengar suara benda jatuh di atas kamar tidurnya. Namun anak dan menantunya tak ada yang curiga, dan hanya menganggap itu semua mungkin ulah kelelawar atau binatang malam lain nya. 

Semakin hari sakit cu mastah makin parah, bahkan kini setelah 2 minggu berlalu, beliau hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, wajahnya pucat dan semakin kurus. Hanya menantunya yang merawatnya setiap saat, karena Yadi selalu sibuk bekerja, sementara saudara kembarnya tinggal di kota lain.

“Dina.” panggil lirih cu mastah seraya berusaha meraih tangan menantu kesayangan nya itu.

“Iya ma.”

“Mama rasa mama sudah tidak kuat din. Kalau mama sudah tidak ada, tolong jangan tinggalkan yadi ya nak. Walau apapun yang akan terjadi nanti.” 

Dina menggenggam erat tangan ibu mertuanya yang sangat baik itu, raut wajahnya nampak sangat sedih menatap sang ibu mertua.

“Ma. Jangan bicara seperti itu. Aku yakin mama pasti sembuh.” ucapnya mulai terisak 

Uhukk.. Uweeeekkk.. Darah kental berwarna hitam keluar dari mulut cu mastah. Dina segera membersihkan darah tersebut dengan tissu. Perutnya mendadak mual karena bau darah itu sangat busuk. Beberapa kali cu mastah menarik nafas tersendat2 lalu beliau mulai kehilangan kesadaran. Dina sangat ketakutan, ia takut kalau2 ibu mertuanya sudah meninggal. Panik dan gugup membuat tubuhnya gemetar. Dengan air mata yang berlinang, dina berusaha menghubungi suaminya yang masih berada di tempat kerja.

“Mama..” ucapnya terbata ketika telepon tersambung 

“Mama? Mama kenapa?”

“Pulang sekarang juga. Aku tidak tau mama kenapa. Mama tidak bergerak lagi.” isaknya penuh dengan kepanikan

Paham dengan apa yang terjadi, Yadi lantas mematikan telepon dan langsung pulang menuju ke rumahnya. Dina terduduk lemas sambil terus memegangi tangan sang ibu mertua, air mata tidak juga berhenti mengalir di pipinya. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil Yadi yang baru saja datang. Begitu keluar dari mobil, ia langsung berlari masuk kedalam rumah 

“Mama.” panggilnya dengan bibir dan suara yang bergetar

Ia mencoba memeriksa denyut nadi sang ibu, dan kemudian yadi menghela nafas lega. 

“Ma. Mama bisa mendengarku?”

Cu mastah sudah tidak menanggapi pertanyaan itu, helaan nafasnya pun sudah mulai melemah bahkan hampir tidak terlihat lagi naik turun dadanya. Yadi lalu menelepon seorang teman nya yang bekerja di sebuah rumah sakit. Dan sekitar 5 atau 10 menitan, orang itu datang. Pertama2 iamelakukan pengecekan pada denyut nadi dan kemudian hembusan nafas cu mastah dengan sebuah cermin. Orang itu menatap yadi dan dina bergantian.

“Beliau sudah tidak ada.”

“Tidak, tidak mungkin. Tadi denyut nadinya masih ada.” sanggah yadi tak terima 

“Sidin sudah balapas yad ae.(beliau sudah pergi/meninggal)”

Tangis dina semakin menjadi, tubuhnya bahkan sampai lemas dan muntah2. Kerabat2 dekat yang tinggal satu kampung pun mulai berdatangan, mereka membacakan Yasin di dekat jenazah yang sudah di tutupi dengan tapih bahalai(jarik). Sementara dina masih terus menangis di dalam kamar, matanya juga membengkak. Dan yadi, meski sedih, ia juga sibuk untuk menyiapkan pemakaman ibunya besok. 

Keesokan harinya, keadaan dina sudah mulai tenang. Ia bahkan juga ikut membantu memandikan sang ibu mertua. Membersihkan bagian yang tersulit pada jenazah. 

Setelah di kafan, Dina dan Yadi bergantian mencium almarhum cu mastah.

“Jangan sampai air mata mu mengenai mayat.” tegur ibu2 yang bertugas mengkafan mayat

Lekas2 Yadi menyapu air matanya, dingin sekali pipi ibunya ia rasa. Namun wajahnya begitu berseri dan terlihat seperti orang yang sedang tidur, nampak sangat tenang. Beberapa keluarga jauh mengobrol dan memberikan semangat pada dina, kecuali cu bastiar yang menatapnya dengan tatapan sinis dan penuh kebencian. 

“Yang kuat ya din. InsyaAllah ibu mertuamu meninggal dalam keadaan baik dan tenang.”

Dina mengangguk, namun setitik air matanya kembali jatuh. 

Seminggu sudah selepas kepergian mertuanya. Rumah itu terasa menjadi sangat sepi bagi dina. Apalagi kalau suaminya tidak ada di rumah. Kini tidak ada lagi ibu mertua yang selalu mendengarkan semua keluh kesah dan curhatan dina. Tidak ada lagi yang akan memasak kan kari ayam dan bastek kesukaan nya.

Tok tok tok… Tiba2 terdengar suara ketukan di pintu rumah.

Beberapa kerabat datang untuk mengikuti acara 7 harian malam itu. Dina menyalami mereka semua satu persatu dengan sopan.

“Beruntung sekali arwah punya menantu seperti dina ini, orangnya sopan dan sangat baik memperlakukan mertuanya.”

“Iya din, mertuamu juga sering sekali menceritakan tentang kamu kalau sudah kumpul2 keluarga. Sekalipun tidak pernah lupa dia menyebutkan nama mu.” sambung yang lain

Dina tau ibu mertuanya memang orang yang baik, sangat baik. Dan itulah yang membuat dina merasa sangat amat kehilangan sosok ibu mertua terbaik nya itu. Tak terasa air matanya mulai menetes lagi. Beberapa ibu2 itu saling senggol, dan kemudian salah seorang di antaranya mengusap2 punggung dina. 

“Maaf din.”

Acara 7 harian malam itu berjalan lancar, namun di akhir acara ketika beberapa ibu2 membantu dina mencuci piring dan wadah2 kotor bekas makanan lain nya, cu bastiar ikut ke dapur, lalu mulai berkata yang tidak2. Beberapa ibu2 yang ada di sana sudah berusaha menegurnya, namun cu bastiar ini mulut nya seperti api disiram bensin, yang bila di tegur malah semakin menjadi. Ocehan jahatnya itu terhenti ketika Yadi masuk ke dapur dan menegurnya dengan nada suara tinggi. 

1 bulan berlalu. Dina mulai merasakan perubahan yang tidak biasa pada suaminya. Namun dina masih bersangka baik dan tidak ingin menumbuhkan rasa curiga pada sang suami. Yadi akhir2 ini juga sering marah2 bahkan dengan hal kecil pada dina. Semisal ketika rasa kopi yang di suguhkan kurang gula atau kurang panas, ia sampai melempar gelas tersebut lalu pergi dalam keadaan marah. Hawa rumah pun terasa panas, padahal di rumah itu sudah terpasang AC.

“Tinggal di rumah tanpa anak, tidak ada yang mengganggu, kok sholatnya terlambat?” tegur yadi yang saat itu sudah akan berbaring di kasur .

“Aku sudah sholat tadi. Ini ku siapkan untuk kamu.”

“Kamu kira aku ini sudah melupakan kewajiban sholatku kah?! Kalau aku belum sholat, aku akan mengambil sajadahku sendiri!”

Dina menghela nafas lalu, kembali melipat sajadah yang ia gelar tadi. 

“Kalau di kantormu ada masalah, kamu bisa ceritakan semuanya sama aku. Kita hadapi semuanya bersama2 ya.” ucap dina lembut seraya duduk di dekat suaminya

“Gak ada masalah. Aku ngantuk, mau tidur.” ujar yadi ketus 

Dina menggeser tubuhnya ketika Yadi tidur membelakanginya.

Begitulah keadaan rumah tangga dina dan yadi akhir2 ini. Tidak ada lagi percakapan hangat antara keduanya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Yadi. 

“Ya Allah Ya Tuhanku. Hamba memohon kepada-Mu, lindungilah rumah tangga hamba dari kehancuran. Dan titipkan lah malaikat kecil di keluarga kami Ya Allah.” terisak dina dalam doanya .

Braaaakkkk… Pintu kamar terbanting dengan sangat kencang, hingga membuat dina begitu kaget. Ia beranjak dari sajadah, dan bergegas berjalan ke arah pintu. Ia menengok kiri dan kanan mencari2 penyebab kenapa pintu itu bisa terbuka dengan sendirinya. 

Namun dina tidak menemukan apapun. Lalu kemudian dina membalikkan badan. Ia melepaskan mukenanya namun di saat yang bersamaan terdengar krontang (kaleng yang di isi batu/kelereng) dari arah luar rumah, tepat di samping kamarnya. 

“Ehemm.. Siapa itu??”

Hening.. Tapi beberapa menit kemudian suara krontang itu kembali terdengar.

“Jangan macam2 ya! Ku siram air panas kau nanti!”

Lagi2 hening.. 

Dina melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Suaminya sebentar lagi mungkin akan pulang. Dina langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan. Di saat sedang asyik menggoreng ayam, dina kembali memikirkan perkataan suaminya semalam. 

“Aku juga sangat ingin memiliki anak, dan aku sudah berusaha untuk itu. Segala macam obat untuk kesuburan pun sudah aku coba semua. Tapi mau bagaimana lagi, Allah belum percaya untuk menitipkan janin di rahimku.” gumamnya lirih 

Pikiran nya kembali menerawang jauh ketika ibu mertuanya masih hidup. Orang yang selalu memberikan semangat untuknya bahkan di kala keluarga suaminya yang lain terus menyudutkan nya. 

“Kenapa orang sebaik mama meninggal secepat itu.”

Karena kebanyakan melamun, alhasil ayam yang ia goreng menjadi gosong. Cepat2 dina mengangkat ayam itu lalu menaruhnya kedalam piring. Dina juga membuatkan sambal dan tumisan kangkung untuk suaminya. Kemudian ia duduk manis seraya menunggu suaminya pulang. Sinetron yang biasa di tonton dina dan ibu mertuanya kini terasa sangat membosankan. Ditambah lagi keadaan hatinya sedang tidak baik2 saja.

Sekitar pukul 10 malam, suaminya baru pulang dengan keadaan baju yang sudah acak2an. Bekas merah mirip lipstik menempel di punggung bajunya. Membuat hati dina terasa sakit seketika. Namun perasaan itu seketika ia tepis, ia tak mau menaruh curiga pada suaminya. 

“Kamu baru pulang? Sepertinya akhir2 ini kamu selalu sibuk ya.”

Tak ada jawaban dari suaminya. Laki2 itu berjalan memasuki kamar mandi, sementara dina berjalan menuju ke meja makan untuk menyiapkan hidangan makan malam. 

“Makanan sudah siap. Kita makan sama2 ya. Aku juga belum makan.”

“Ya.”

Mereka beriringan ke arah meja makan. Nasi yang masih panas nampak masih mengepulkan asap. Yadi mengambil ayam goreng itu kemudian menggigitnya. Tapi baru saja ayam itu masuk kedalam mulutnya, Yadi lantas meludah dan melempar ayam goreng tersebut ke tempat sampah.

“Di rumah cuma sendirian, tapi masakan sama seperti orang yang mengurus 8 anak bayi!” 

“Maaf. Tadi aku sedikit melamun. Kalau ayam nya gak enak, aku bisa gorengkan telur untukmu. Sebentar ya.”

“Tidak usah!”

Dina menghela nafas panjang,

“Mau mu apa sih hah?! Akhir2 ini aku selalu salah di matamu! Kalau memang kau ada masalah katakan saja! Kau kira aku ini tunggul kayu yang bisa kau perlakukan seenaknya?!!” ujar dina dengan suara meninggi.

Yadi seperti orang yang baru saja tersadar dari hipnotis begitu mendengar perkataan istrinya. Ia nampak kaget bahkan tubuhnya sempat ‘telambung’ (sama seperti gerakan seseorang ketika di kagetkan).

“Sayang, maaf. Aku benar2 minta maaf. Tidak seharusnya aku memperlakukan mu dengan sangat buruk akhir2 ini.” ucap yadi dengan raut menyesal.

Dina mengerutkan alisnya, kemudian ia mendekati suaminya. Menciumi punggung tangan sang suami dengan lembut. 

“Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku meninggikan suaraku seperti tadi.”

Malam itu, sikap yadi kembali seperti biasa.

4 bulan telah berlalu, hari itu dina pergi ke apotik terdekat untuk membeli alat tes kehamilan, karena ia sudah tidak datang bulan sejak 2 bulan yang lalu. Tapi ia juga tidak merasakan tanda2 kehamilan seperti mual2 ataupun muntah2 sebagaimana kebanyakan yang dialami oleh ibu2 muda di awal kehamilan. Sesampainya di rumah ia langsung melakukan tes, dan setelah menunggu beberapa saat dengan berdoa agar hasilnya positif, tapi ternyata yang ia lihat hanyalah 1 garis yang berarti negatif. Sesak dadanya terasa, begitu tau bahwa ia tidak sedang hamil.

Malam hari pun tiba, selepas sholat isya, dina bergegas untuk tidur, karena ia merasa sangat mengantuk sekali. Baru saja ia terlelap, dina mulai terhanyut kealam mimpi. Ia bermimpi melihat dirinya sendiri sedang berbaring dengan kaki yang mengangkang dan di sela2 kedua kakinya terlihat seorang perempuan dengan wajah pucat mengerikan, rambutnya panjang dan acak2an. Dina meringis begitu tangan wanita itu mulai mengorek2 kem**uan nya dengan kuku2 yang panjang dan terasa sangat menyakitkan. Lalu wanita itu menarik tangan nya yang sudah di penuhi darah, kemudian mulai menjilatnya.  Dina berteriak dan berusaha memberontak, namun tubuhnya terasa berat dan kaku tak bisa di gerakkan. Saat itu dina hanya bisa meringis, menangis tanpa bisa melawan. Untungnya di saat yang bersamaan, dina berhasil terbangun dari tidurnya.

Nafasnya tersengal. Ada rasa nyeri di bagian perutnya. Begitu ia bangun dari tempat tidur barulah ia sadar kalau ternyata ia datang bulan. Darah haidnya ada di sprei. Lekas2 dina ke kamar mandi membawa pembalut dan celana ganti. Lalu kemudian ia mengganti spreinya. Sekitar pukul 11 malam, Yadi datang membawakan martabak dan 2 bungkus nasi goreng, ia mendapati istrinya yang saat itu terus2an memegangi perut 

“Kamu kenapa?”

“Biasalah, sakit datang bulan.”

Yadi menghela nafas panjang,

“Ya sudah, aku mau buatkan jamu untukmu dulu ya.” ujar Yadi lalu berjalan ke dapur dan mulai mengupas rempah untuk membuat jamu seperti kencur dll 

Sudah 10 hari berlalu, tapi haid nya belum juga berhenti. Dina mulai resah, ia takut kalau saat itu ada penyakit yang ia derita. Namun ia masih berusaha untuk menutupi semuanya dari sang suami. Hari itu saat ia sedang melakukan panggilan telepon dengan teman lamanya di kampung, tiba2 cu bastiar datang dan langsung masuk kedalam rumah tanpa permisi. 

“Aku mau pinjam uang, tadi sudah bilang sama yadi. Katanya suruh ambil di rumah.”

Dina meletakkan hpnya di atas meja, lalu menyalami cu bastiar. 

“Mau pinjam berapa?” tanya dina

“2 juta.”

Dina mengerutkan keningnya.

“Saya gak pegang uang sebanyak itu. Kalau di atm ada, tapi saya sedang malas keluar rumah.” ujar dina 

“Kau itu cuma orang luar, sementara yadi itu keponakan kandungku. Ibarat pepatah kau itu hanya getah yang menempel di daun! Jadi jangan berlagak!” 

“Saya memang orang luar, tapi sekarang saya masih lagi berstatus istri sah nya yadi, dan rasanya selama ini cu bastiar lah yang selalu mencari2 kesalahan saya.” 

Tanpa memperdulikan perkataan dina, cu bastiar mengeluarkan hp dari dalam kantong dasternya. Ia menelepon yadi dengan suara yang sangat nyaring.

“Kau tau kan, aku tidak pegang uang sebanyak itu. Mana sekarang cuaca sedang panas2nya. Aku malas untuk keluar rumah.” ujar dina 

“Ya sudah, cu, nanti malam saya antar uang nya ke rumah ya.” ujar yadi dari seberang telepon.

Cu bastiar mematikan telepon dan kemudian berlalu pergi. Dina menggeleng2kan kepalanya menatap punggung wanita itu. 

“Andai mama masih ada, pasti dia sudah mengusir cu bastiar tadi.” gumam dina

“Kak din, kemarin malam aku melihat cu bastiar di sekitar rumah kakak. Kaya mengorek2 tanah.” ujar Ajin, anak tetangganya yang sering keluyuran malam dan terkenal sebagai pecandu lem fox

“Masa sih? Ngapain dia ya?”

Ajin menggeleng, lalu kemudian pergi tanpa berkata apa2.

Saat yadi pulang, dina menceritakan apa yang di katakan ajin tadi. Dan yadi cuma tertawa mendengarnya. 

“Ah, paling cuma halusinasinya. Dia kan sering ngelem. Ingat gak waktu dia menjual tabung gas sama celana milik orang tuanya waktu itu? Apa kamu masih percaya sama dia.?”

Dina menghela nafas, ia membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Sudah hampir 40 hari berlalu, tapi darah haid nya belum juga berhenti keluar. Entah penyakit apa yang sedang ia derita, bahkan bidan yang sering jadi tempatnya berkonsultasi tentang kesuburan pun tidak mengetahui pasti apa penyakit yang dina derita saat ini. Dan sudah selama itu pula lah dina selalu menolak jika diajak berkebun oleh suaminya(pemahaman hanya untuk yang sudah berumah tangga saja.) Hubungan mereka yang awalnya sudah mulai membaik, akhirnya kembali merenggang. Namun kali ini yadi tidak lagi marah2, melainkan semakin lupa waktu dan sering pergi bersama teman2nya.

Seperti malam itu, dina menunggu suaminya sampai ketiduran di depan tv, tapi yadi belum juga kembali. Selama menderita haid yang berhenti2 itu, dina tidak pernah sekalipun menceritakan pada suaminya. Ia lebih memilih untuk diam dan menolak jika di ajak berkebun. Bahkan dina juga sering bermimpi hal2 yang mengerikan, seperti mimpi bertemu hantu, memuntahkan janin bayi, dan makan bersama dengan orang2 asing yang memiliki wajah menyeramkan. Mimpi itu terus datang setiap ia memejamkan mata. Tubuh dina kini menjadi kurus dan sangat pucat.

“Kamu kurusan din, wajahmu juga pucat. Apa darah itu masih keluar?” tanya husna(teman sekampung nya yang saat itu sudah bekerja di daerah tersebut 

“Iya. Tubuhku rasanya lemas, makan pun akhir2 ini sudah tidak nafsu.”

“Aku takut kalau penyakitmu ini bukan sakit medis din. Bukan penyakit yang bisa di sembuhkan oleh obat.” 

Dina menatap husna,

“Maksudmu aku kena santet?”

“Ya bisa jadi. Mungkin ada seseorang yang tidak menyukaimu atau iri, Lalu mengirimkan penyakit padamu.” 

“Tapi aku tidak punya masalah sama orang na.”

“Kau tidak punya masalah sama orang, belum tentu orang beranggapan sama tentang dirimu. Lagi pula yang namanya santet, bukan cuma di tujukan untuk orang yang saling bermusuhan, tapi bisa juga karena si pelaku membenci korban nya, atau ada rasa iri, semacam persaingan usaha atau bahkan rumah tangga.”

Deg..

Jika benar begitu, rasanya aku tau siapa orangnya. Batin dina. 

“Kalau kau mau, aku bisa ambil cuti dan menemanimu ke kampung. Kita ke rumah orang yang memberikanku pelancar berurusan.”

“Hah? Kau menggunakan yang seperti itu?”

“Din, persaingan sekarang semakin ketat, sementara skil ku tidak seberapa. Kau kira dengan cara apa aku bisa bekerja dan menempati kedudukan ku saat ini dengan gaji yang sangat lumayan itu, kalau bukan karena campur tangan.. Mm. Kau tau sendiri maksudku kan.” ujar husna tergelak 

Dina mengangguk,

“Tapi aku takut musyrik.”

“Din, kita kan berikhtiar, semuanya Tuhan juga atas izin Tuhan. Kau berobat ke mantri saja kan juga berikhtiar bukan?” 

“Aku..”

“Aku kasian padamu din, kamu adalah temanku satu2nya yang paling baik sama aku. Bahkan kau juga membantuku di saat aku susah dulu. Jadi sekarang aku juga ingin membantumu dengan caraku.” potong husna sembari meletakkan tangan nya di atas punggung tangan dina. Dina mengangguk, ia lalu memeluk husna dengan erat.

Dina yang di temani oleh husna, saat itu telah menaiki getek(transportasi air, mirip perahu), untuk menuju ke kampung nya yang berjarak tidak begitu jauh. Sekitar hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai di kampung. Dina menghirup udara segar disana, hawanya tenang dan damai. Beberapa orang menyapa mereka dengan antusias, mereka mengobrol hangat sampai kemudian tiba di halaman rumah yang memiliki ketinggian 2 meter dari tanah tersebut. Husna mengucapkan salam, dan dijawab oleh seorang gadis berusia 17an yang sedang berada di pelataran.

“Amange ada beh lah? (Amang nya ada?)”

“Ada beh kak, lagi sumbahyang awen. (Ada kak, mereka sedang sholat.)” jawab gadis itu dengan sangat ramah.

“Hehe, ku rasa kita datang lebih awal, padahal biasanya kalau berobat itu sekitar pukul 1 atau 2 siang din.” bisik husna

“Tau begitu mending kita berangkat sehabis sholat zuhur tadi na. Mmm kamu ini.” 

Husna tersenyum

“Tau beh kak, lamun pian handak umba sumbahyang, iki ada mukana dengan sajadah ji inyadia, akan uluh maja mikeh handak umba sumbahyang. (Kakak bisa kok ikut sholat kalau mau, kami ada menyediakan mukena dan sajadah untuk tamu 

Yang barangkali ingin ikut sholat.)” ujar gadis itu menyela obrolan keduanya

“Tidak, terima kasih dik, kakak sedang berhalangan.” jawab dina tersenyum

“Oh.. Inggih.” 

Tidak berapa lama menunggu, keluarlah seorang laki2 paruh baya mengenakan baju kaos partai dengan celana panjang yang sudah lusuh. Meski penampilan beliau terlihat biasa saja, tapi dina merasakan sesuatu yang luar biasa padanya. Semacam dina langsung menunduk dan segan saat melihat beliau. Wibawanya tidak main2.

“Ada apa husna?”

“Begini mang, sebelumnya kenalkan dulu, nama teman saya ini dina. Nah dia ini haid sudah dari beberapa bulan yang lalu dan sampai sekarang tidak juga berhenti. Iya kan din?” 

“Ikau tuh anak arwah tanti iyelah? Soale wajahum te ada ehus2 arwah. (Kamu ini anaknya almarhum tanti kan? Soalnya wajahmu itu ada mirip2nya dengan almarhum.)”

“Inggih mang, bujur auh pian te. Ulun muna anak arwah tanti. (Iya mang, anda benar, saya memang anak almarhum tanti)” 

“Bah, kasene banar beh yaku dengan kuitam te. (Bah, Kenal sekali aku dengan orang tuamu itu.)”

Setelah mengobrol kehulu kehilir, akhirnya mereka sampai juga ke intinya. Amang dirman mengangguk, dan menatap kasian pada dina.

“Maras yaku mahining kabelum ayum tu nah kih ken. (Kasian sekali aku mendengar tentang kehidupan mu ini nak, (aken artinya anak keponakan).” 

Setelah itu, dina di berikan segelas air putih yang sudah di doakan.

“Jika setelah meminum air itu tubuhmu bereaksi, maka kau harus ku obati.” ujar beliau 

Dan sekitar setengah jam setelah meminum air tersebut, dina mulai merasakan sakit di bagian perutnya, ia bahkan sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Amang dirman menghela nafas dan mengangguk, dina dibaringkan di atas lantai yang di alasi dengan tikar purun, sebiji kelapa muda dibelah di atas perutnya, dan aneh sekali, air kelapa itu langsung terlihat berubah miyar(berminyak) begitu jatuh ke lantai setelah mengenai 

Perut dina.

“Muna inggawi uluh iye tuh(memang kena kerjakan orang dia ini.) ” ujar amang dirman 

“Astaga, benarkan dugaan saya. Saya minta tolong mang, tolong obati dina.” ujar Husna

“InsyaAllah. Amang akan bantu sebisanya.” 

Alhasil hari itu dina dan husna tidak diperbolehkan pulang, mereka disuruh menginap di rumah tersebut sampai dina benar2 sembuh.

“Bagaimana suamiku na?” tanya dina saat sakit di perutnya sudah mulai mereda 

“Sudah ku telepon din, dia bilang gak papa. Jadi kamu jangan risau, sekarang fokus saja sama penyembuhan mu.”

Sekitar pukul 9 malam itu, amang dirman mulai melakukan ritualnya. Di hadapan nya juga sudah ada dina dengan wajah yang mulai pucat. 

“Rumah tanggamu ini terkena sihir pemisah. Biasanya rumah tangga yang terkena sihir ini akan menjadi tidak harmonis lagi. Bisa karena pertengkaran yang selalu terjadi setiap saat, suami istri mulai tidak rukun. Atau salah satu di antara keduanya jatuh sakit, biasanya yang sakit adalah yang paling balemu hambaruan/lamah bulu(om tidak tau ini mengartikan ke dalam bahasa indo nyašŸ™. Lemah iman kayanya juga bukan. Pokoknya rentan terhadap hal2 gaib). Dan yang paling parah adalah ketika batas waktu sihir itu sudah mencapai puncaknya, tapi rumah tangga orang yang dihancurkan ini masih baik2 saja. Maka salah satu di antara keduanya akan meninggal. Dan yang kamu alami sekarang ini sudah hampir mencapai batas waktunya. Kalau terlambat sedikit saja, bisa jadi kau yang mati.” 

“Lalu sekarang saya harus bagaimana?”

“Kita obati kau dulu, baru nanti kita ke rumahmu. Seperti pengalaman ku, sihir pemisah itu bisa dikirimkan atau di tanam dalam bentuk buhalan di depan rumah atau bahkan di dalam rumah (jika pelaku adalah orang terdekat) si korban.” 

Deg.. Pikiran dina melayang ke waktu di mana ajin mengaku melihat cu bastiar yang seperti orang sedang mengorek2 tanah.

“Apa amang tau siapa orang yang sudah mengirimkan sihir ini?”

“Bukan orang jauh. Tapi juga tidak terlalu dekat dengan kalian.”

“Berarti memang dia pelakunya.” gumam dina

Dina di berikan air di dalam sebuah gelas yang terbuat dari kayu, di dalam gelas itu sudah terdapat akar kecil yang menggeliat2. (Bukan rumput yang mirip buluh perindu) 

Saat air itu melewati tenggorokan nya, dina merasa sensasi dingin yang berjalan, bahkan rasa dingin itu terasa sampai ke perutnya. Gluruukkk.. Perut dina berbunyi, rasanya antara sakit menyayat dan seperti ingin buang air kecil. 

“Saya permisi sebentar mau buang air kecil mang.” ucap dina yang langsung ditanggapi anggukan oleh amang dirman

“Kenapa din?”

“Kebelet kencing, gak tau kenapa, tiba2 saja kebelet. Sudah ya.” ujar dina bergegas menuruni anak tangga dan berjalan menuju wc yang berada di luar rumah. Bluuukkk.. Darah kental berbentuk aneh keluar begitu dina jongkok di wc tersebut. Ia saja bahkan sampai kaget dan ketakutan melihat darah yang tidak mau di siram tersebut. 

Darah kental itu berputar2, seperti ingin naik kembali. Cepat2 dina menaikkan celana nya lalu berlari, di tangga rumah sudah ada husna yang sedang memainkan ponselnya. 

“Kenapa din?”

Dina tak langsung menjawab, terlebih dulu ia mengatur nafasnya dan kemudian barulah mulai menceritakan apa yang baru saja dia alami tadi. Husna mengerutkan alisnya, ia menuruni tangga dan berjalan ke arah wc untuk memastikan apa yang di katakan oleh dina tadi. Tapi sesampainya di wc, husna tidak menemukan apapun, bahkan setetes darah. 

“Gak ada apa2 din.”

Dina terdiam, tangannya perlahan2 mengelus perut, rasa sakit itu sudah tidak terasa lagi sekarang. Husna menggandeng tubuh dina untuk mengajaknya masuk kedalam rumah. 

Bau semerbak kemenyan dan aroma wewangian aneh menjadi satu di ruangan tersebut.

Amang dirman menyuruh dina kembali duduk. Lalu setelah itu mang dirman mendekati dina dengan membawa sebuah cupu(wadah antik, biasanya tempat induk minyak mistis dengan jenis tertentu).

Mang dirman membacakan doa dan lalu di tiup ke bagian punggung dina sampai bawah, di iringi dengan pengusapan sesuatu yang di ambil dari dalam cupu. Rasanya dingin, seperti es yang di letakkan di atas kulit. Sampai2 membuat seluruh tubuh dina merinding. Doa2 terus diulang2 dalam bahasa yang tidak jelas dan susah untuk di mengerti, namun di setiap ujung atau awalnya selalu terselip nama2 Allah(asmaul husna).

Rasa dingin yang sebelumnya dina rasakan, perlahan2 mulai berubah menjadi hangat(normalnya suhu tubuh manusia). Seakan tau apa yang dina rasakan, amang dirman pun berhenti. Amang dirman terlihat berkeringat sangat banyak, sehingga baju yang ia kenakan pun basah oleh keringat.

Malam itu, dina dan husna di suruh untuk tidur sementara amang dirman dan istrinya masih mengobrol di teras rumah. Keesokan harinya. Dina bangun dengan perasaan yang jauh lebih baik, tubuh nya juga terasa segar dan ringan.

“Alhamdulillah, na. Haid ku sudah berhenti.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya.” 

Mereka berkumpul di ruang dapur yang luas untuk sarapan. Namun mang dirman tidak ada di sana. Wajah istrinya juga tidak secerah hari kemarin. Beliau nampak murung dan diam. 

“Amang nya kemana cu?”

“Dia sakit. Tadi malam badan nya panas. Hampir tidak bisa tidur. Begitulah kalau dia memaksakan diri untuk mengobati orang. Sekarang ini amang mu itu sebenarnya sudah tidak bisa lagi mengobati orang yang sakitnya parah, setelah sebelumnya dia pernah hampir mati karena terlibat perkelahian halus dengan dukun orang dalam tewei/teweh.

Dina yang semula nampak ceria, mendadak jadi sedih mendengar jawaban istri mang dirman. “Ya Allah. Kasiannya amang, gara2 saya beliau sampai jatuh sakit.” lirih dina

“Doa kan saja semoga dia lekas sembuh. Sekarang kalian makanlah. Ucu mau membuatkan kopi panas dulu untuk amang kalian.” 

Selesai makan, dina dan husna pun berpamitan untuk pulang. Mereka menaiki getek lagi untuk kembali. Namun baru saja ketika dina sampai di rumah, Yadi sudah menunggunya dengan raut wajah yang penuh kemarahan. Berdiri di sebelahnya ucu bastiar dengan senyum sinis.

“Istri macam apa kau ini hah? Pergi tanpa izin suami! Jangan2 kau pergi bersama laki2 lain.”

Dina menggeleng, ia menjelaskan apa yang terjadi tapi sudah terlambat. Yadi sudah termakan omongan cu bastiar. Dan saat itu juga, tanpa pikir panjang ditambah hasutan dari cu bastiar, Yadi menjatuhkan talak pada dina. Seketika dunia rasanya runtuh dan hati dina hancur berkeping2 mendengar apa yang baru saja yadi katakan. Ia terduduk, menangis sesenggukan. Sakit, sedih, tentu saja.

“Bagus di, kau sudah membuat keputusan yang tepat. Setelah ini aku yakin kau pasti akan menemukan istri yang jauh lebih baik dari perempuan ini, dan yang pasti nya tidak mandul!!”

Husna yang mendengar kabar itu langsung menemui dina di rumahnya. Barang2 dina sudah di keluarkan semua oleh yadi dan cu bastiar.

“Kau tidak bisa mengusir dina begitu saja di! Kalaupun ingin bercerai, kalian harus membagi harta! Dimana rasa tanggung jawab mu hah?!” bentak husna seraya menunjuk tepat ke wajah yadi

“Heh!! Harta2. Harta apanya?!! Kau pikir si dina selama ini bekerja hah?? Dia asik menghabiskan uang keponakan ku saja!”

“Kau gila di! Kau lebih percaya omongan wanita tua mulut sampah ini ketimbang istrimu yang jelas2 selama ini ssudah tulus hidup merawat kau dan ibumu!”

“Ayo din, kita pergi ke rumahku. Kau tidak akan mati hanya karena bercerai dengan laki2 egois ini. Akan ku pastikan kau mendapatkan suami yang jauh jauh lebih baik ketimbang bajingan gila ini!!” Ujar husna seraya menarik tangan dina untuk membawanya pergi

Sekilas husna melihat wajah cu bastiar nampak tersenyum puas menatap kepergian mereka. 

“Aku tidak bisa bercerai begitu saja dengan suamiku na. Pesan ibu mertuaku belum aku tunaikan.”

“Pikirkan perasaanmu din. Untuk apa kau mempertahankan laki2 yang bahkan tidak mau mempertahankanmu.” 

Sepeser pun dina sama sekali tidak menerima harta perpantangan dari yadi, tapi itu bukan masalah besar bagi dina. Ia juga tidak menginginkan harta tersebut. 2 minggu setelah perceraian nya, dina mulai menjalani hidup baru. Meskipun ia masih ikut tinggal di rumah husna(pinjaman dari bosnya), dan baru beberapa hari ini dia bekerja di tempat husna. Hingga 6 bulan berlalu, dina sudah mulai dekat dengan seorang laki2. Sementara Yadi kabarnya sudah menikah dengan anak cu bastiar. Kini dina dan husna tau maksud dan tujuan dari cu bastiar mengirimkan sihir pemisah itu, rupanya dia ingin anaknya menikah dengan yadi yang memang sudah mapan. Dina sudah ikhlas dengan semuanya, ia juga mendoakan agar mantan suaminya bahagia dengan istri barunya. 

“Selamat ya din.” ucap Husna setelah dina dan boy resmi menikah

“Terima kasih ya na, sudah mau menampungku selama ini. Mau memberiku makan gratis dan membantuku dalam segala hal.”

“Ih. Apa sih. Kebaikan mu padaku pun apa kurang nya. Aku hanya membalas kebaikan mu din.” 

7 bulan setelah menikah dengan boy, dina mengandung. Mereka sangat gembira, terlebih2 dina yang sudah dicap mandul oleh mantan suami dan keluarganya. Pekerjaan boy pun semakin bagus, mereka juga sudah bisa membeli mobil, walaupun bekas.

“Din, kau tau tidak. Si yadi kemarin menemuiku, dia menanyakan tentang kamu. Dia juga cerita, katanya istrinya selingkuh. Dan mobil juga motornya sudah di jual oleh cu bastiar. Hmm. Puas nya aku din.” ujar husna

“Hush.. Apa2an kamu ih.” tegur dina

“Walau bagaimana pun itu bukan kesalahan dia na.”

“Lalu kalau dia minta rujuk, apa kamu mau menerima nya??” ujar boy dengan segelas susu untuk ibu hamil di tangan nya.

“Aku cukup berdoa untuk kebahagiaan nya. Dan untuk menerimanya kembali, rasanya sudah tidak ada ruang di hatiku. Karena di sini, sudah penuh terisi kamu dan bayi kita.” 

Boy tersenyum, ia memberikan segelas susu itu pada istrinya. Husna ikut tersenyum melihat keromantisan keduanya.

“Selamat ya din.” ucapnya.

—-SELESAI—-

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *